Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 62


__ADS_3

Risma dan Anton pulang sebelum kembali ke rumah. Mereka memutuskan untuk menjemput Karina yang masih di rumah orangtua Anton, bocah itu sangat bahagia bersama Lisi dan Clara hampir tiap jam Risma menelpon karena khawatir akan putrinya dan takut membuat ibu mertuanya repot.


"Risma," ucap Anton dengan manja sambil menyetir.


"Kenapa Anton?" tanya Risma yang ilfil pada suaminya yang sudah tua dan cabul.


"Di rumah lagi ya," pinta Anton. Tentu saja Risma yang polos mengerutkan keningnya bertanya apa maksud suaminya.


"Lagi apa?"


"Bikin anak." Anton bicara dengan meminta.


Risma mencubit pinggang Anton yang membuat pria itu menjerit kesakitan. "AAAA." Anton berteriak. "Apa waktu di hotel belum puas Anton?" tanya Risma.


"Kurang," jawab Anton manja.


Risma hanya menggelengkan kepala ternyata benar sesuai janji Anton jika pria yang berstatus sebagai suaminya ini, akan membiarkan merasakan batangan jutsu sesuai ucapan Anton di rumah sakit Bali. "Emang kamu mau kasih berapa adik untuk Karina?" tanya Risma sambil mendengus lelah.


"Mungkin dua atau tiga atau kalo bisa lebih." Anton tertawa menatap istri yang di sebelahnya.


Risma terdiam matanya membulat tatkala mendengar ucapan suaminya, apa dia pikir mengandung dan melahirkan itu mudah? apa di pikir melahirkan itu tidak sakit?


"Oke aku mau."


"Nah gitu dong." Anton nampak senang.


"Tapi kamu yang ngelahirin!" ucap Risma ketus namun mampu membuat Anton salah tingkah.


*


*


*


*


*


*


*


Di rumah keluarga Anjaya. Karina sedang di dapur seluruh pelayan dan pembantu juga menyuruh bocah itu untuk ke kamar atau bermain di taman. Tapi Karina yang di ajarkan oleh Risma untuk membaur dengan semua orang asalkan itu baik tak peduli akan usulan pembantu di rumah neneknya.


Bahkan tak segan Karina yang hampir ingin berusia empat tahun meminta salah seorang pembantu di rumah nenek dan kakeknya itu di ajarkan cara membuat kue dan masakan lainnya. "Mbak Nita masak apa?" tanya Karina kecil.


"Eh Non Karin!" ucap Nita yang terkejut melihat Nona kecilnya masuk dapur. "Ngapain kesini, Non?" sambung pembantu lainnya.


"Aku mau masak," ucap Karina polos.


Karina lalu menarik kursi dan duduk dengan susah payah mencapai kursi. "Karina!" suara itu milik Clara yang rupanya wanita paruh baya itu lega melihat cucunya ada di dapur. Clara mengenakan gaun yang terbuat dari bahan rayon.


"Karina ngapain di dapur?" tanya Clara mendekati cucunya yang duduk di kursi dapur sambil membawa boneka.


"Mau masak Oma." Karina menjawab. Clara menghembuskan nafas lelah lalu mengikuti cucunya.

__ADS_1


"Mbak Nita lagi puasa 'kan buat ganti yang bulan lalu?" tanya Karina seolah bocah itu tahu.


Nita dan pembantu lain hanya saling menatap, "kalo begitu aku aja yang cobain daging panggangnya." ucap Karina berbinar. Clara menatap para pelayan dengan anggukan seolah  harus menuruti kemauan cucunya. Nita mengambil garpu untuk mengambil daging yang sedang di panggang di kompor.


Karina meniup daging itu lalu memasukannya ke dalam mulutnya. "Emmmm kurang garam," kritik Karina.


"Masa sih Non?" tanya Nita.


Clara berdiri dari kursi lalu mengambil garpu untuk mencoba potongan daging di atas kompor. "Iya Nita kurang garam." Clara bicara pada pembantunya.  "Benarkan kataku." Karina bicara seolah bangga dengan kritikannya. Nita langsung menambahkan garam ke daging panggang mungkin dia lupa.


"Karina main ke kamar yuk, ama Oma." Clara membujuk cucunya.


"Aku lebih senang di dapur," ucap Karina.


Clara heran dengan cucunya yang mudah membaur dan masih kecil punya pemikiran selayaknya orang dewasa. "Karina mau---" belum sempat Clara menyelesaikan tawarannya mereka di kejutkan dengan Risma yang ada di ambang dapur.


"Mama!" kata Karina antusias turun dari kursi melompat ke pelukan Risma.


"Mana Anton Ris?" tanya Clara kepada menantunya.


"Di depan Mah lagi ngobrol sama Papa."


"Kalo gitu Nita bikin kopi, dan Risma ajak anak kamu keluar." Risma mengangguk ia melihat sepertinya mertuanya ingin bicara hal penting.


Risma di tanyai ini dan itu oleh Clara yang melihat perubahan Karina yang sepertinya tak terlalu ilfil dengan pembantu bahkan menganggap sama. "Karena aku juga pernah ngerasain miskin dan pernah di jadiin pembantu suamiku sendiri." Risma bicara sambil memejamkan matanya mengingat pedihnya masalalu.


Mereka bicara tanpa ada Karina yang sepertinya bocah itu sedang bersama Lisi. Clara rumah tangga menghembuskan nafas tangannya merangkul Risma seperti seorang ibu lalu mengecup kening menantunya. "Mama paham Risma, meskipun kamu bukan anak Mama tapi menantu Mama."


"Tapi aku, akui Anton udah berubah tapi kadang emosinya tak terkendali." Risma bicara.


"Memang itu watak asli, Anton." Clara bicara pada menantunya seolah ia memberikan arahan berumah tangga.


-


-


-


-


-


Kojiyama dan Gani sedang melacak keadaan Emmanuel yang berhasil kabur dari penjara dan menuju Mumbai untuk menjual narkoba, Kojiyama khawatir dia juga akan membebaskan ibunya. "Lalu apa yang kita lakuin sekarang?" tanya Gani.


"Aku tak peduli akan dirinya, yang aku peduli adalah keluargaku!" ucap Kojiyama.


Mereka berdua berjalan sambil berbincang, "aku khawatir akan sepupuku dan ibuku." Kojiyama bicara pada Gani yang sekarang menjadi sekutu.


"Apa lu gak khawatir ama kakak lu, Yumeko?" tanya Gani meledek.


"Soal Kak Yumeko, aku percaya dengan Kak Anton yang akan melindungi keduanya keponakanku sekaligus Kak Yumeko." Kojiyama berucap seolah menaruh kepercayaan kepada Anton untuk melindungi keduanya dari kejaran ibunya.


Gani tersenyum akhirnya masih ada di keluarga Konawa yang pikirannya sehat seperti Kojiyama. Tak lama ada Siska yang datang bersama teman-temannya. "Kojiyama!" teriak Siska menggamit lengan Kojiyama.


"Ini ngapain banyak bocah ingusan sih!" ujar Gani dengan kesal.

__ADS_1


"Eh ada Om Bule," bisik kedua temannya Siska.


Gani sedikit percaya diri lantaran baru kali ini ia di dewakan. "Tapi pilihannya Siska kaya opa-opa Korea."


"Apaan sih lu berdua? dia ini dari Jepang." Jeda "Calon suami gua." Siska semakin mesra dengan Kojiyama.


"Yaudah biar gua ama Om bule aja."


"Dia bule palsu!" ucap Siska.


"Eh onde-onde, sembarangan lu ya!" maki Gani kesal.


"Aduh Om bule kalo lagi marah ketampanannya bertambah ya," ucap salah satu teman Siska.


"Siska kamu ngapain di sini? keadaan gak aman ayo aku antar kamu pulang," ucap Kojiyama yang khawatir dengan sepupu kakaknya. Siska malah kegirangan dengan Kojiyama yang ingin mengatarnya pulang.


"Dah bule palsu!" ledek Siska


"Woy songong banget lu cabe rawit!" ucap Gani pada Siska.


Gani bicara setelah kehilangan Siska yang pergi dengan Kojiyama, pria berusia 28 tahun itu tersenyum melihat tingkah Siska. "Om bule anterin kita pulang dong," pinta kedua teman Siska.


"Adek-adek yang manis, hari ini Om lagi sibuk bisa gak di pending dulu."


Gani langsung pergi dengan mobilnya entah mengapa setiap sehabis berdebat unfaedah dengan Siska sepupu kakak iparnya, pria separuh Italia itu berakhir dengan senyuman gemas. "Dasar bocah!" maki Gani dengan senyuman dan gelengan.


Gani pergi untuk menemui Amara meskipun tak ada hubungan soal bisnis pria itu memilih menemui Amara karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan. "Aku harus menemui Tante Amara, ngomong soal pembangunan restoran pizza." Gani bicara.


Gani jadi mengingat saat Siska sedang di mal untuk masuk ruang ganti dan Gani juga harus masuk ruang ganti yang di dalamnya ada Siska, tentu saat itu Gani tak menyadari ada anak itu di dalam ruang ganti. "AAAAA." Siska berteriak lantaran melihat Ganti untung ia belum berganti pakaian.


Gani dengan sigap membekap mulut Siska dengan tangannya, "eh lo!!" ucap mereka serempak.


"Lepasin gua!!" Siska.


"Kok lu bisa disini!!" ucap Gani.


"Yah bisa lah, ini 'kan mall tempat umum!" maki Siska.


"Eh lu mau ngapain___jangan-jangan lu mau__melecehin gua ya?" tuduh Siska.


"Dih jangan salah paham gua mau nyobain jas ini, gua kirain kosong."


"Keluar lo!" usir Siska.


"Dih lo yang keluar!" maki Gani yang gak mau mengalah.


"Gua yang pertama Om!"


"Lu ngalah ama yang tua!"


"Bukannya ke balik!"


"Keluar atau gua teriakin lu mau perkosa gua!! dan lu masuk kantor polisi!!"


Gani akhirnya mengalah dan keluar saat di luar seulas senyum terbit di bibir Gani membayangkan tingkah lucunya dengan gadis yang berusia 18 tahun. "Ih tuh bule kaya jelangkung heran!" ucap Siska kesal.

__ADS_1


"Datang tak di undang, pulang saat gak di suruh."


#Bersambung


__ADS_2