
Risma terbangun dengan merasakan pegal di seluruh badannya, rasanya seperti di hempaskan dari langit ke bumi. Risma menoleh ke samping melihat suaminya menghadap ke arahnya tanpa busana dan selimut hanya menutupi sampai pinggang memperlihatkan atas tubuh yang amat kekar dan sexy.
Risma masih mengenakan lingerie yang sama seperti semalam saat Anton menyentuhnya. Perlahan Anton mulai menghilangkan rasa trauma pada diri Risma yang dulu telah Anton lukis di jiwa dan mental Risma. Trauma yang di lukis oleh pria itu mulai dari mengambil mahkotanya secara paksa dan mengalami rumah tangga yang buruk sampai Risma enggan menjalin ikatan rumah tangga dengan siapapun.
Risma memutuskan bangun dengan menyingkirkan lengan Anton secara pelan-pelan. Risma ingin berendam di air hangat agar bisa menghilangkan nyeri di antara kedua tungkainya mengingat kelakuan Anton semalam, Risma dari semalam memikirkan Karina putrinya.
Risma juga bingung ingin memakai baju apa, lantaran di lemari hanya ada lingerie dan baju-baju sexy yang rupanya sudah suaminya siapkan. Risma bingung jadi ia punya ide untuk memakai kaos kebesaran milik Anton saja. Risma yang sudah selesai mandi dan memakai kaos kebesaran milik Anton membangunkan suaminya.
"Anton!" ucap Risma sambil menguncang-guncangkan tubuh Anton.
"Anton bangun! aku lapar!" keluh Risma tapi Anton menarik tubuh Risma ke dalam pelukannya dan mempererat.
"Anton lepaskan aku!!" maki Risma kesal berusaha melepaskan diri.
Tapi Anton segera membuka matanya tatkala Risma sudah mandi dan tak mengenakan lingerie tetapi kaos miliknya. "Risma!!" ucap Anton tiba-tiba terbangun, "kamu udah pake---" belum sempat Anton mengucapkan sepatah kalimat tapi Risma memotongnya.
Risma mendekat mengelus pipi Anton yang di tumbuhi bulu halus yang membuatnya tajam dan geli lalu Risma mencubit kedua pipi Anton dengan gemas lantaran suaminya yang cabul ini juga bisa kesal. "Aku mau mandi!" Anton turun dari kasur menuju kamar mandi.
Risma kali ini tertawa lantaran sikap Anton juga kena balasannya. Risma lalu tersenyum sambil menatap langit-langit kamar membayangkan wajah Anton yang amat mengemaskan saat sedang merengkut kesal.
Tak berselang lama Anton keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di bagian bawahnya, dan bagian atasnya memperlihatkan roti sobek dan ototnya yang kekar.
Risma menatap suaminya sedang memakai pakaian tatapannya beralih dari ponsel menjadi menatap pria berparas separuh Italia itu.
Selesai Anton memakai baju dengan kaos dan celana training lalu dengan rambut berwarna coklat yang basah membuat tatapan Risma tak berpaling ke manapun. Anton tersenyum lantaran ia mampu membuat Risma terpesona dan jadi tak bergeming.
Risma terkejut tatkala tubuhnya di tarik oleh Anton ke dalam pelukannya membuatnya menyatu lalu mata mereka saling bertatapan, kemudian Anton duduk di bibir kasur tangannya yang kekar berhasil mendudukan tubuh mungil istrinya ke dalam pangkuannya.
"Anton," ucap Risma.
Tapi Anton paham kondisi istrinya yang di **** ************* masih sakit karena semalem ia menyentuhnya tanpa henti dan tak terhitung lagi berapa ronde, Risma melingkarkan tangan kanannya di area wajah Anton yang membelakanginya.
"Mau sarapan pake apa?" tanya Anton dengan lembut pada Risma.
__ADS_1
Risma hanya diam tanda bingung ucapan suaminya dan memilih apa, "kenapa sayang kamu masih ragu? atau takut sama aku?" Anton bicara dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya di balik kaos ke besaran yang di pakai oleh Risma.
"Kenapa kamu gak pakai lingerie atau baju yang sudah saya siapkan?" tanya Anton menggoyangkan pangkuannya.
"Aku gak nyaman, karena gak biasa." Risma bicara terus terang dengan polos.
Anton terkekeh lalu mencium gemas pipi istrinya yang terlampau lugu dan polos ini.
"Kalo begitu kamu harus terbiasa memakainya sayang, saat di kamar denganku." Anton bicara sambil menghirup aroma leher istrinya. Risma mengigit bibir bawahnya karena merasakan geli di area lehernya karena ulah Anton.
"Kapan kita pulang?" pertanyaan Risma membuat Anton menatapnya tajam.
"Kamu jangan mikirin anak mulu, kapan saya dipikirin." Anton berbicara dengan manja meminta hal-hal manis yang di manja oleh istrinya yang muda ini.
"Kamu__emang mau di pikirin ama saya?" tanya Risma tersenyum menatap suaminya.
Anton malah semakin ganas menciumi leher dan area bahu milik istrinya, "mau aku. Mau punya anak lagi," pinta Anton membuat Risma geram.
Risma ingin melepaskan diri tapi malah Anton menahan pinggulnya. Risma mengalihkan topik agar suaminya yang cabul ini melepaskannya. "Anton aku lapar," ucap Risma lalu mata dan telinga Anton mendengar suara perut istrinya yang bergemuruh.
Pria itu menidurkan tubuh istrinya dengan mendorongnya membuat Risma terbuyar dari lamunannya. "Anton tolong menyingkir!" ujar Risma dengan kesal.
Anton malah menindih tubuh lalu pria itu memaksa sang istri merengut ciuman surgawi. Risma dan Anton sarapan dengan masakan khas Jepang dan Italia. Ada sosis panggang, sushi, dan lainnya. Mereka makan sampai di saat makan Risma memikirkan perkataan suaminya untuk memiliki anak lagi.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Di kediaman keluarga Anjaya Karina sedang di ajari membaca dengan Lisi yang perutnya sudah membesar di taman rumah, disitu juga ada Harris yang selalu mengunjungi Lisi.
Entahlah Harris merasa semenjak bertemu Lisi ia harus melindungi wanita itu bukan hanya itu pria itu melihat dalam diri Lisi ada mendiang istrinya.
"Miss. Lisi sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Harris.
"Sudah ingin delapan bulan," ucapnya.
Karina bisa menghirup udara dan masa kecilnya dengan bebas tanpa harus terikat dengan yang namanya Yakuza atau gangster. Lisi tersenyum melihat keponakannya yang ceria ia jadi mengingat dulu pernah menghina bocah itu.
"Tante ini di bacanya apa?" tanya bocah itu.
"Ini r-u-m-a-h. Jadinya Rumah."
Lisi sebagai bininya Karina amat bangga kepada keponakannya itu yang sudah lancar membaca tapi ada satu kelemahannya Karina, yaitu tak bisa berhitung.
"Tante?"
"Kenapa sayang?"
"Mama sama Papa kenapa?" tanya Karina dengan polosnya.
"Emmmm. Mama dan Papa Karina lagi mau bikin adik baru buat Karina," Jelas Lisi yang tak tahu harus menjawab apa.
"Wah asyik jadi nanti Karim punya adik dua dong!" ucap Karina berbinar.
Lisi jadi mengingat ucapan katanya yang ingin rencana memiliki anak kedua dengan Risma, tapi Lisi jadi senyum-senyum sendiri bagaimana melihat tingkah sang kakak yang menurutnya menyebalkan.
"Karina pelan-pelan, luka kamu belum sembuh!" ucap Lisi memberikan peringatan kepada Keponakannya yang mulai aktif.
"Bagaimana dengan Kak Risma?" tanya Lisi kepada Harus.
"Menurut saya Risma itu, pribadi yang sabar, baik, tapi dia masih muda terkadang tak menentu akan dirinya." Harus seolah mengenal Risma selaku teman kantor.
__ADS_1
Lisi mengusap perutnya yang membuncit ia tersenyum berharap anaknya bisa seperti Karina dan berharap menemukan cinta yang sejati seperti Kakaknya.
#bersambung