
Sinar matahari masuk melalui fentilasi udara, Risma mengedipkan matanya menyesuaikan cahaya matahari yang masuk. Tenggorokannya terasa kering gadis itu ingin bergerak tapi tak mau membangunkan suaminya yang juga tertidur pulas.
Risma perlahan ingin menyingkirkan tangan kekar dan besar milik Anton yang terasa berat, Risma juga berusaha menyingkirkan kaki besar dan kuat milik Anton yang ada di pahanya. Risma terbangun dengan selimut tipis menuju kamar mandi agar bisa membersihkan diri.
Risma menyalakan shower dengan bingung tapi saat memencet tombol yang di tuju keluarlah air hangat.Saat sedang memejamkan matanya. Risma merasa perutnya bergejolak dan tenggorokannya ada sesuatu yang ingin di keluarkan.
Segera setelahnya Risma menuju wastafel yang menyatu dengan kamar mandi, wanita setengah Jepang itu memuntahkan semua isi perutnya.
Setelahnya Risma mencuci mulutnya dengan keran air, setelah selesai Risma keluar kamar lalu beralih ke lemari untuk mengambil baju.
Risma yang selesai berpakaian ia membangunkan Anton. "Anton bangun kamu tidak ke kantor?" ucap Risma dengan lemah lembut sambil menguncang-guncang tubuh suaminya. Tapi Anton malah menarik tubuh mungil itu untuk di peluk.
Anton juga menciumi tubuh istrinya dengan rakus. "Anton!! lepaskan aku!!" berontak Risma pada suaminya. "Kamu mandi dulu, nanti aku siapin sarapan." Risma bicara dengan sedikit keras.
Pagi ini sudah pasti Anton minta jatah saat di tanya emang yang semalam belum puas? Anton malah menjawab tubuhmu adalah canduku.
"Anton!! lepaskan aku!!" JEDA "Aku lapar." Sudah jelas bunyi suara perut Risma yang pastinya sangat lapar.
"Cium aku dulu," pinta Anton. Tak lama Risma melepaskan pelukan Anton dengan paksa karena ia segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perutnya kembali.
"Sayang!!" teriak Anton yang menghampiri istrinya ke kamar mandi.
"Ueks...Ueks." Sesudahnya Risma mencuci mulutnya.
Anton mendekati istrinya lalu menanyakan dengan lembut. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Anton sambil memijat tengkuk istrinya lalu mengusapkan minyak kayu putih.
"Mungkin aku masuk angin karena semalaman menggunakan AC," keluh Risma yang wajahnya pucat dan hidungnya merah.
"Yaudah ayo ke bawah akan aku suruh Bi Iddah buatin kamu teh hangat," ajak Anton sambil merangkul istrinya. Risma hanya tersenyum kaku merasakan keromantisan suaminya.
"Kamu ke bawah dulu aku biar mandi sekaligus bangunin Karina." Anton bicara karena ia ingin mandi bareng dengan Karina putrinya.
Risma mengangguk kemudian ia turun ke bawah untuk menuju dapur, sedangkan Anton ke kamar Karina untuk membangunkan putrinya sekaligus mandi bersama antara ayah dan anak perempuan. "Karin bangun mandi yuk ama Papa," ajak Anton sambil menguncang-guncang tubuh putrinya.
"Lima menit lagi Pah," ujar Karina sambil menguap.
"Ayo mandi ama Papa, nanti kita di kamar mandi sambil main bareng."
"Gendong Pa." Karina meminta pada sang ayah.
__ADS_1
Anton mengendong putrinya lalu membawanya ke dalam kamar mandi, tak lupa Siska sudah di dapur bersama Risma dan Bi Iddah.
Risma di dapur berbincang dengan sepupunya yaitu, Siska sambil meminum teh hangat agar rasa tak enak dalam perutnya sedikit terobati.
"Emang kapan terakhir kali Kak Risma datang bulan?" tanya Siska sambil mengolesi roti. Risma langsung terdiam menimbang sambil mengingat kapan terakhir kali datang bulan.
"Sudah hampir 20 hari yang lalu," ujar Risma.
"Kak Risma ada testpack?" tanya Siska.
Risma menggelengkan kepala tanda lupa kapan terakhir kali ia menaruh testpack setelah kehamilan pertamanya, "aku lupa Sis." Risma terus terang pada sepupunya.
"Yah siapa tahu aja Kak Risma hamil!" ucap Siska dengan antusias.
Ucapan Siska mampu membuat Risma tersedak saat meminum tehnya. "Apa!!" kata Risma kaget.
Risma langsung terdiam memikirkan apa yang di katakan sepupunya, Karina turun dengan berlari dari atas tangga menuju ibunya yang sedang duduk meminum teh hangat.
"Mama! Kak Siska!" Karina melompat kepangkuan ibunya di susul Anton di belakang yang sudah rapih dengan setelan jas.
"Eh Karina udah mandi, harumnya anak mama!!" ucap Risma sambil memangku putrinya dan memeluk erat putrinya.
"Om Anton!!" panggil Siska yang duduk di sebrang sana.
"Coba Kak Risma di tes pake testpack siapa tahu hamil!" saran Siska sambil menuangkan susunya.
Risma berfikir setelah terakhir kali ia datang bulan setiap malam Anton selalu meminta jatah bahkan tak hanya setiap malam tapi siang hari pun sama saja. Anton langsung menatap Risma dengan senyuman lalu ia berfikir untuk membelikan istrinya testpack.
Karina yang sedang asyik makan sambil menonton kartun tak mau mendengar ucapan ketiga orang dewasa itu. Risma amat tak nyaman dengan ucapan Siska pasalnya ia tak siap untuk hamil lagi karena masih ada rasa trauma yang ia rasakan bersama Anton.
Siska lalu menyalami keduanya karena ada kelas pagi di campus aku duluan ya, "asallamualaikum Kaka dan Om."
"Wallaikumsallam," jawab keduanya serempak saat Siska sedang berlari untuk tukang gojek yang menunggunya ia menabrak Gani yang baru bangun tidur.
"Eh ada embe belom mandi pasti baru bangun," ledek Siska.
"Berisik lu bocah! pagi-pagi bikin gua bad mood!!" maki Gani tak terima.
"Wih Homo sapiens ngamuk!" ucap Siska yang artinya manusia purba.
__ADS_1
"Eh pergi gak lu, gua jadiin osengan lu!" ancam Gani.
"Aku takut."
Siska meledek lalu pergi menuju luar gerbang. Risma dan Anton hanya menahan tawa dan menggelengkan kepala tanda amat sulit melerai keduanya yang selalu berkelahi dan yang pasti amat pusing mendengar keduanya adu mulut.
Risma berdiri untuk meninggalkan Anton menuju Karina tapi saat ingin melewati Anton Risma malah di tarik oleh suaminya untuk duduk di pangkuannya. "Anton lepaskan aku!" ucap Risma.
Tak lama Gani masuk ruang dapur untuk menarik kursi agar bisa duduk. "Pagi-pagi macam romeo juliet pula kalian!" sindir Gani sambil mengeluarkan logat sumatra.
"Sirik aja lo!! makannya halalin tuh Siska!" ucap Anton.
"Apa maksud kalian!" tanya Risma yang heran.
Anton menempelkan dagunya yang di tumbuhi bulu halus antara bahu dan leher istrinya, Risma merasakan sensasi geli dan tajam.
"Begini sayang Mama ama Tante Amara ada rencana mau nikahin Gani dan Siska," jelas Anton.
"Kalian mau menikah? tapi kalian berdua selalu---" ucapan Risma yang belum tuntas di potong cepat oleh Gani.
"Aku juga ogah Kak di nikahin ama onde-onde." Gani bicara dengan malas.
Risma menjadi terdiam ia merasakan tangan Anton terus membelai perutnya, "Anton aku belum tentu hamil." Risma menepis tangan Anton dari perutnya.
"Kak Risma emang hamil?" tanya Gani pada kakak Iparnya.
"Belum tentu Gani!" ucap Risma pada adik iparnya.
"Tapi ada rencana," ujar Anton sambil mendekap Risma menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu istrinya.
"Iya 'kan sayang." Anton semakin menjadi-jadi tatkala tangannya terus meraba dengan nakal sampai Risma menginjak kaki Anton.
"Kok kamu gak ada manis-manisnya."
"Anton!! aku gak nyaman!!" eluh Risma pada suaminya lalu pergi dari ruang makan menuju putri mereka.
Gani memanggil Risma Kakak karena ia menghormati wanita itu sebagai kakak iparnya, meskipun umur mereka terpaut jauh berbeda tapi Gani tetap menghormati Risma sebagai istri dari Kakaknya.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
__ADS_1
BTW, MAAF LAMA UPDATE KARENA BELAKANGAN INI AMAT SIBUK DAN BANYAK KEGIATAN.
#BERSAMBUNG