Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 56


__ADS_3

Risma siang ini akan ke rumah sakit menengok keadaan putrinya sudah empat hari, bocah malang itu tak sadarkan diri setelah insiden yang menimpanya. "Kamu tenang aja, sayang. Putri kita akan sembuh dan sehat lagi," ucap Anton menenangkan Risma sambil merangkulnya menuju mobil.


Di dalam mobil Risma terus menghawatirkan putrinya ia bahkan tak menghiraukan saat Anton bicara tadi. Anton paham keadaan istrinya yang menghawatirkan putri mereka. Di rumah sakit Risma paling buru-buru untuk melihat keadaan Karina yang masih terbaring koma.


Risma heran ia melihat Siska sepupunya yang sedang adu mulut dengan adik iparnya, wanita berparas setengah Jepang itu berdehem untuk menengahi keduanya. "Kalian gak tahu malu!!" ucap Risma kesal. Anton berjalan mendekat.


"Eh Kakak ipar, baru dateng." Gani bicara sambil tersenyum pada Risma tapi Siska malah menginjak kaki Gani dengan sepatu adidas miliknya. "Aduh!!" adu Gani kesakitan.


"Rasain emang enak, makannya Om jangan ngeselin." Siska mengejek sambil tertawa.


Risma dan Anton menahan tawa melihat keduanya berseteru. "Oh yaudah Kak Risma_Om Anton aku mau pergi ada tugas kuliah, Asallamualaikum."


"Walaikumsallam," ucap Anton dan Risma.


Siska menyalami keduanya kemudian ia menjulurkan lidahnya pada Gani lalu pergi berlalu, "bocah ingusan awas aja lu ketemu lagi gua kecilin badan lu ampe jadi minimalis!!" ungkap Gani yang kakinya masih ke sakitan. Risma dan Anton hanya menggelengkan kepala.


Gani kembali duduk di kursi sedangkan Risma dan Anton masuk ke ruang UGD untuk melihat keadaan putrinya,tentu saat masuk keduanya harus memakai pakaian khusus dan masker.


Risma melihat di samping kiri putrinya ada coklat dan boneka mickey mouse lalu ada tulisan yang sepertinya tulisan itu dari Siska. "Ini pasti dari Siska," batin Risma.


Risma memutuskan di simpan agar di berikan untuk Karina saat sudah sadar, Karina sangat senang dengan makanan manis tapi Risma akan terus mengontrolnya jika tidak gigi Karina bisa rusak. Anton tersenyum lantaran ia amat senang banyak yang mencintai putrinya terlepas dari apa yang dulu pernah ia perbuat pada istrinya.


Anton mendekap pinggang Risma dengan tangannya ia menghapus air mata istrinya dengan tangannya, ia sekarang amat senang dan sedih lantaran saat sudah bersama istrinya malah putrinya yang harus jadi korban ibu mertuanya.


Anton melihat dari tangan Karina bergerak dan matanya mulai terbuka, pria itu langsung memencet tombol yang ada di samping nakas untuk memanggil perawat dan Dokter.


Karina sudah membaik dan sadar tapi keadaanya belum begitu pulih, bocah itu di tempatkan di kamar VVIP dengan fasilitas yang elit dan Clara amat senang sampai menangis mendengar jika Cucunya sudah sadar.


"Halo Mah." Anton sambil menempelkan ponselnya di daun telinga.


"..."


"Karina udah sadar dan keadaannya membaik."


"...."


"Iya Mama bisa ke sini kok."


"...."


"Gani lagi di kantor gantiin Anton buat meeting mah," ucap Anton.


"...."


"Asallamualaikum."

__ADS_1


"Wallaikum sallam."


Anton mengakhiri percakapan ponselnya dengan ibunya, wanita berparas Italia itu tak sabar ingin kembali melihat Cucunya. Risma melihat keadaan Karina yang terbaring dengan keadaan lemah matanya melihat kesana-kemari. Anak malang itu tak bisa ceria seperti dulu lantaran tubuhnya begitu lemah.


Seorang perawat berkulit sawo matang masuk untuk menyuntikan obat penghilang rasa nyeri akibat racun peluru. "Nanti suruh makan ya, Bu. Jangan sampai perutnya kosong dan obatnya di minum." Perawat itu bicara pada Risma.


"Iya, Terimakasih suster."


Perawat yang usianya paruh baya itu berlalu keluar ruangan, Risma mendekati Karina lalu memberikan boneka dan coklat dari Siska. "Ini dari Kak Siska...," ujar Risma.


Karina hanya mengambil boneka dan coklatnya tanpa bersuara, "Karin makan dulu ya, biar cepat sembuh." Risma mengambil nampan makanan lalu menyuapi putrinya saat Anton mendekat Karina malah memeluk ibunya entah karena takut atau trauma saat sang ayah mengentaknya.


"Karina kamu kenapa? hey ini papa." Risma berusaha menenangkan putrinya tak lama Karena Anton menyentuh lengan Karina, bocah itu malah menangis sambil mendekap ibunya.


"Karina?" Risma amat bingung tak biasanya putrinya seperti ini.


"Yaudah ayo mama gendong tapi Karina makan dulu ya." Karina makan tapi masih menjauh dari Anton. Mata Risma juga memberi isyarat pada Anton agar menjauh dulu.


Karina selesai makan ia meminum obat berupa sirup anak, agar meredakan nyeri di bagian perutnya  karena di perutlah Karina terkena peluru yang di lepaskan neneknya. Karina perlahan mengantuk lalu terlelap. Risma menyelimuti tubuh putrinya kemudian mengecup kening anak itu.


Risma menatap Anton dengan penuh selidik ia duduk di samping Anton dengan sofa di ruangan itu, "kenapa Karina seperti itu?" tanya Risma menatap suaminya. "Kamu ngom---" belum tuntas Anton menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Clara datang.


"Halo, bagaimana keadaan Karina?" tanya Clara.


"Mama!" panggil Risma.


"Iya, sayang."


"Aku mau tanya, kenapa Karina saat liat Anton tadi kaya ketakutan gitu gak kaya biasannya ia deket ama Anton."


Clara jadi bingung menjelaskannya pada menantunya ini pasalnya jika ia menjelaskan takut keduanya malah tak akur padahal keduanya baru menjalankan bidak rumah tangga. "Mama tolong jelasin!" pinta Risma.


Anton diam lalu pria itu beralasan ingin keluar. "Aku ada pekerjaan mau keluar," ucap Anton meninggalkan ruangan untuk keluar menuju tempat yang sudah di katakan Gani, karena ada meeting tentang pembangunan mall di daerah Bandung.


"Mama...tolong jelasin, aku janji gak akan berantem lagi sama Mas Anton," ucap Risma sambil menyentuh tangan Clara.


"Kamu janji," ulang Clara.


"Iya, mama."


Clara menceritakan semuanya Karina di bentak oleh Anton saat suaminya amat depresi saat kehilangannya untuk kedua kali, "Anton sangat mencintai kamu, Nak." Mendengar penuturan ibu mertuanya Risma langsung terdiam karena sedikit tak percaya jika Anton sangat mencintainya.


Risma masih sedikit belum membuka hati sepenuhnya untuk Anton mengingat kelakuan suaminya di masa lalu, tapi setelah mendengar penuturan Clara . Perlahan luka di hatinya sembuh tapi ia tetap tak bisa menerima perlakuan Anton kepada Karina yang amat tak pantas.


*

__ADS_1


*


*


*


*


Pagi yang indah membuat seorang wanita muda dengan perut besar berjalan di taman setiap mata orang lain melihatnya dengan tatapan berbeda-beda ada juga memandang renda, "anggap aja penawar dosa Lisi." Lisi membatin dalam hatinya ia sekarang merasakan bagaimana kakak iparnya dulu.


Tapi sekarang gadis itu berusaha menjadi lebih baik, saudari kembarnya berjanji akan memberikannya pekerjaan setelah ia melahirkan agar biasa menafkahi anaknya. "Kamu yang sabar ya sayang, Bunda janji akan selalu sama kamu tanpa ayahmu di sisi kita."


Lisi mengusap perutnya sampai ada suara seorang laki-laki di belakangnya. "Hallo Nona." Lisi menjadi merinding mendengarnya itu adalah suara pria yang menghamilinya lalu pergi tanpa mau bertanggung jawab.


"Kamu!! pergi dari sini!!" usir Lisi.


"Apa kamu merindukan sentuhanku!?"


"Pergi!!" usirnya Lisi ketakutan sampai seorang pria membawa putrinya yang berumur lebih tua dari Karina.


"Eh jantan sekali berani ama perempuan!" ucap pria itu.


Mereka berkelahi sampai Harris berhasil mengalahkan Emmanuel wajahnya babak belur, "anda tak apa, Pak?" tanya Lisi.


"Aku tak apa," ucap Harris.


"Tapi bawah bibir anda lebam Pak," kata Lisi melihat bawah bibir pria itu.


"Kemana suami anda?" tanya Harris.


"Di-dia di luar kota sedang bekerja."


Lisi berusaha menutupinya, "baiklah mari aku antar." Harris menawarkan tumpangan pada Lisi.


"Tidak perlu."


"Ayolah jangan menolak, aku tak bermaksud jahat." JEDA "Oh ya, ini putriku namanya Stela."


Lisi mengangguk saat merasa bocah lima tahun itu amat akrab padanya, meskipun orang asing feeling Lisi pria yang bernama Harris ini adalah orang baik.


#Bersambung


*


*

__ADS_1


__ADS_2