Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 24


__ADS_3

Risma baru keluar dari kamar mandi untuk memakai pakaian, ia memakai kimono karena Hisako menyuruhnya mengenakan Kimono untuk makan malam udara yang cukup dingin di tokyo menusuk sampai ke tulang. Risma memakai Kimono warna merah dengan motif bunga sebelum makan malam Risma ingin melihat keadaan Karina, gadis itu bernafas lega lantaran Karina sedang diganti popok dan ditiduri oleh pengasuhnya namun bayi itu terus menangis.


"Bi Ayu?" panggil Risma sambil mendekat. 


"Bibi istirahat soal, Karina biar saya yang tidurin."


"Oh__iya Nona." Risma mengambil alih gendongan Karina. Entah mengapa bayi itu sangat nyaman saat berada di dalam gendongan ibunya.


Risma terus menimang sampai putrinya tidur nyenyak, lalu ia mencium kening putrinya. Mata wanita menatap wajah bayinya ia merasa sangat mirip oleh Anton seperti photo copy hanya bentuk mata yang mirip dengannya agak sipit.


"Sekarang, Karin bobo ya. Mama mau makan dulu." Risma menidurkan bayinya di box bayi, setelah Karina tertidur dengan hati-hati ia menuju ruangan makan.


 


Gambar


Risma makan dengan di temani Hisako, mereka bicara akrab sampai akhirnya selesai makan di saat itu Risma mulai bertanya sesuatu pada sepupunya.


"Hisako, aku ingin bertanya sesuatu?"


"Tanya 'kan saja." Hisako sambil menuangkan teh.


"Apa itu Yakuza?" tanya Risma yang membuat Hisako tersedak.


"Astaga apa kau---" ucapan Risma terputus tatkala Hisako memotongnya, sambil menghawatirkan sepupunya itu.


"Aku tidak apa...," ucap Hisako.


Hisako menarik nafas kemudian mulai menjelaskannya secara pelan-pelan agar sepupunya mengerti, "Yakuza adalah sebuah sindikat yang terorganisir di Jepang, bisa dibilang bahwa Yakuza adalah sebuah kelompok atau organisasi kriminal legal dan diakui pemerintah asal Jepang." Kemudian Hisako menyesap tehnya lagi.


Risma juga ikut menyesap tehnya. "Besok kau akan ganti nama menjadi Yumeko, juga putrimu." Hisako menjelaskan jika hal itu disuruh oleh bibinya.

__ADS_1


"Hisako, aku minta hanya namaku saja yang diubah tapi tidak untuk putriku...," ujar Risma dengan lirih.


"Kenapa seperti itu?" tanya Hisako.


"Aku ingin nama anakku menjadi kenangan dari tanah kelahiranku, aku izinkan jika nama keluarganya di ganti Konawa tapi biarkan bayiku tetap bernama Karina." 


Hisako hanya menghembuskan nafas lelah mendengar permintaan sepupunya. "Baiklah besok kau harus bicara sama Obasan." Hisako menyesap teh di gelas yang terbuat dari bambu.


"Aku harus ke kamar untuk melihat keadaan anakku," ucap Risma langsung berdiri.


"Istirahatlah besok kau harus ubah namamu sekalian mengelilingi kota Tokyo." Hisako memberi tahu sepupunya.


Setelah kepergian Risma, Hisako melamun memikirkan Andrian pria berparas Canada itu amat tampan tapi sayang ia suka bergonta-ganti pasangan yang membuatnya merasa jijik. Hisako menyesap tehnya kemudian ia akan pergi membaca buku sebelum tidur.


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─


 


Pola makan tidak teratur, tidur pun tidak nyenyak karena terus memikirkan anak dan istrinya bahkan setiap hari Anton selalu mengunjungi makan putrinya Kirana. 


"Anton!!" panggil Clara sambil membawa rantang makanan ke ruang kerja Anton di perusahaannya.


"Hmmm." Hanya itu jawaban Anton.


"Makan dulu, semenjak kepergian istri kamu Mama perhatiin kamu telat makan." Clara amat perihatin pada putra sulungnya.


"Mah, Anton sibuk." 


Bisnis dan perusahaan Anton sedang maju pesat lantaran semenjak kepergian Risma pria itu selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. "Mah Anton harus cari anak-istri Anton." 


Anton mengambil jas hitamnya saat sedang berjalan pandangannya kabur kemudian tubuh kekar itu tumbang, "ya allah Anton!!" Clara nampak panik melihat putranya pingsan.

__ADS_1


Anton dibawa ke rumah sakit, Axel yang sudah sembuh datang saat mengetahui sahabatnya sedang terpuruk.


"Tante!" panggil Axel pada Clara.


"Ya ampun Axel," ujar Clara mendekati Axel.


"Sebenarnya bagaimana bisa? dan apa yang terjadi sama Anton?" tanya Axel pada Clara.


Clara menceritakan semuanya pada Axel tanpa terkecuali, di dalam hati pria itu langsung kaget dan menyesal karena telah mencaci maki Risma semua ada balasannya ia di pukuli oleh gangster suruhan ibunya Risma yang membuatnya menderita. Tanpa pikir panjang Axel langsung menelpon seseorang.


"Tante permisi sebentar, Axel mau nelpon dulu."


Clara tersenyum sembari mengangguk lemah lantaran ia sangat khawatir pada Anton, Axel menuju tempat yang sepi untuk menelpon seseorang yang diyakini ada hubungannya dengan istri Anton.


"Hallo."


"Woy, ngapain lo nelpon gua!!" bentaknya dengan rasa tak suka.


"Eh gua ada perlu nih, please tolong banget." Axel memohon pada orang itu tak peduli sejudes apapun orang itu.


"Yaudah, apa mau lo?!" tanya yang di telepon dengan judes.


"Kita bisa ketemuan di KFC?" 


"Jam makan siang," ucapnya.


"Iya, gua kesana ini bentar lagi udah jam makan siang lagian kerjaan gua udah kelar."


"Oke gua tunggu lu di KFC."


Axel pamit pada Clara dengan alasan ia harus menemui teman bisnisnya, pria berparas Spanyol itu langsung keluar dari rumah sakit menuju parkiran agar sampai di KFC.

__ADS_1


__ADS_2