Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan

Sebuah Pilu Mencari Jalan Kebahagiaan
Bab 47


__ADS_3

Matahari terbangun dan mulai memperlihatkan sinarnya di langit Bali yang disebut sebagai tanah eksotis dengan keindahan alamnya, Risma terdiam sejenak ia harus pulang sedangkan Karina menolak untuk ia ajak pulang karena bocah itu semakin hari semakin dekat dengan keluarga Anjaya termasuk Anton.


Karina dengan Anton seolah semakin hari semakin dekat dan hubungan mereka semakin terjalin, wajar saja selama ini Karina tak pernah merasakan secercah kasih sayang seorang ayah. Wanita berparas setengah Jepang itu pulang meninggalkan Karina agar bisa mendekatkan diri pada ayahnya.


Risma membuka ponselnya ia melihat seseorang mengiriminya pesan di nomor ponselnya, disitu terkirim sebuah foto saat Hisako secara diam-diam menemui Andria Gilbert. "Apa-apaan ini!" batin Risma melihat sepupunya secara diam-diam menemui sahabat suaminya.


"Andria dan Hisako berada di Bali?!" batin Risma yang bertanya-tanya apa yang di lakukan sepupunya di Bali bukankah Hisako akan bertunangan dengan Tuan El deanon. Risma harus menanyakan semuanya pada Hisako karena dia takut jika dampaknya akan berpengaruh lagi untuk oranglain.


Sesampainya di apartemen milik keluarga Konawa. Risma melihat Hisako dengan santai membaca buku sambil meminum teh dan di meja juga terdapat beberapa camilan, sudah di pastikan Kojiyama adiknya tak ada di rumah karena ada banyak urusan yang harus di selesaikan, apalagi kalo bukan masalah ibu mereka Yukita Konawa dan bisnis mereka.


"Hisako!" panggil Risma gadis Jepang yang setahun lebih muda dari Risma tersenyum sambil mendekat. "Selamat datang, Yumeko." Hisako tersenyum menyambut sepupunya. "Hisako ayo ke kamar aku ingin bicara!" ucap Risma dengan nada judes tanda tak suka melihat tingkah sepupunya yang serampangan begini.


Di kamar Risma menyemprot sepupunya dengan omelan, "Hisako! apa yang kau pikirkan!" tanya Risma dengan nada bariton marah. "Memang apa salahku sampai kau marah seperti ini padaku Yumeko!!" elak Hisako. "Kamu masih bertanya apa salahmu!!" Risma meninggikan inotasi suaranya.


"Kamu berfikir tidak jika Okasan tahu kau kabur ke Bali dan kabur dari pernikahanmu!!!" ucap Risma.


"Aku melakukan yang terbaik untukku!! dan aku tahu yang salah dan benar untukku!!" jawab Hisako menatap sepupunya.


"Ini!!" Risma membuka ponselnya menunjukan foto dirinya bertemu Andria secara diam-diam. "Apa maksudnya!? kau bertemu Andria secara diam-diam!!" ucap Risma. "Kenapa apa kau masih dendam pada pria itu!!" maki Hisako tak terima.


"Bukan soal dendam aku tidak dendam pada siapapun Hisako Konawa!! tapi ini soal nyawa!!" ucap Risma.


"Apa yang kau katakan?!" tanya Hisako sambil mengerutkan keningnya tanda heran.


"Apa Kojiyama tak menceritakannya padamu?!" tanya Risma yang sepertinya inotasi suaranya mulai pelan.


"Suamiku Anton di tembak oleh Okasan sekarang dia berada di rumah sakit Bali!!" jelas Risma pada sepupunya.

__ADS_1


"Apa!!" Hisako membekap mulutnya dengan tangannya ia amat tak menyangka Bibinya bisa berbuat sejauh ini bahkan tak pandang bulu untuk menghabisi seseorang.


"Ceritakan padaku semuanya!" pinta Hisako.


Risma mengehelai nafas berat ia akhirnya menceritakan semuanya pada Hisako saat insiden di taman, Hisako menangis karena takut ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Soal dendam aku tak mewarisi itu dari Okasan, aku khawatir soal satu nyawa yang hampir melayang lagi!!!"


"Kau bisa lindungi Andria keputusan ada di tanganmu!! berhati-hatilah dengan Yakuza!!" ucap Risma.


"Apa yang harus aku lakukan Yumeko!! tolong bantu aku!!" mohon Hisako yang khawatir pada pria yang di cintainya celaka.


Risma malah dengan kasar menghempaskan lengan yang di genggam oleh sepupunya. "Kau pikir aku tak ada masalah!! hah!!" ucap Risma dengan inotasi suara tinggi dan tak lupa linangan air mata. "Kali ini kau belajar dari sesuatu Hisako!!" balas Risma yang langsung berlalu keluar kamar meninggalkan sepupunya menangis seorang diri di kamar.


Risma berharap kali ini tak ada satu nyawa lagi yang hampir melayang karena sudah cukup selama ini ia melihat bagaimana Yukita Konawa berbuat kejahatan dan kekejaman pada siapapun. Hisako menelpon Andria berharap pria itu mengangkat panggilan telpon darinya.


"Ayo Andria angkat."


Hisako berjalan agak sedikit jauh dari area apartemen sampai ia melihat mobil Andria Avanza putih yang terparkir, Hisako masuk ke dalam mobil itu ia langsung menangis memeluk Andria.


"Ada apa baby?" tanya Andria pria berparas Canada itu.


"Ini gawat An, sepertinya kita tak harus bertemu lagi."


"Apa yang terjadi?" tanya Andria yang tak ingin berpisah pada Hisako.


"Ini soal bibiku, aku tak ingin kau bernasib sama seperti Tuan Anjaya." Hisako bicara sambil memeluk pria yang ia cintai itu.


"Aku sudah di tunangkan dengan Emmanuel El Deanon." Hisako tak hentinya menangis sambil memeluk Andria di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku tak apa Hisako tolong jangan tinggalkan aku, aku sudah mencintaimu." Andria berujar sambil menatap manik dalam mata sang kekasih.


"Apa yang kau harapkan dari orang jahat sepertiku," ujar Hisako sambil menatap manik dalam milik Andria yang berwarna hijau seperti batu jamrud.


"Apa maksudnya? kau orang baik dan polos," jawab Andria.


"Tidak Andri aku orang jahat___aku orang yang jahat___aku jugalah yang ikut andil dalam pemisahan antara Yumeko, Pak Anton, dan Karina."


"---Dan aku juga yang ikut andil dalam menjual Nona Bragatsatya ke ayah tunanganku, juga menjadikan secara tak langsung Nona Covrev ****** dengan bermain di video dewasa sampai gadis malang itu terkena HIV."


Seolah Hisako mengakui semua kejahatannya di depan Andria selaku kekasihnya, Andria sedikit tak percaya hingga ia menjauhi gadis yang di cintainya. Tetapi Hisako menggenggam tangan Andria tanda ia menyesali dosa-dosanya.


"Seandainya aku mencintaimu lebih awal, Andri. Mungkin aku tak akan melakukan dosa seperti ini. Aku harap kau yang mengajariku soal kebaikan."


Hisako menangis parau dirinya menyadari kesalahannya dan dosanya kepada sahabatnya Andria, "apa yang kau ingin lakukan padaku aku siap menerima konsekuensinya…," ucap Hisako menatap manik dalam mata sang kekasih.


"Saya tidak percaya---"


"I-iya aku seorang pendosa…hiks…demi api dendam Bibiku, aku rela menjadi lahar yang menghancurkan masa depan setiap gadis…hiks… meskipun aku tahu itu salah…dan Nona Bragatsatya dan Juga Nona Covrev bersalah tapi hukuman keduanya terlalu berat."


Andria tak tahu ia harus bicara apa dirinya memang tak bisa menyalahkan gadis yang ia cintai karena sudah mengakui semua kesalahannya.


"Aku pantas untuk di hukum olehmu___aku juga akan menerima jika kita tak akan saling bertemu lagi___sampai jumpa pangeran impian."


Hisako menarik nafas yang dalam ia keluar dari mobil tapi di susul keluar oleh Andria, yang berhasil menggenggam tangan gadis Jepang itu tanpa Ba-Bi-Bu. Andriaa menarik Hisako ke dalam pelukannya. Sebuah rasa yang ingin saling memiliki antara dua insan itu.


#Besambung

__ADS_1


__ADS_2