
Sahira tersipu malu mendengar ucapan kekasihnya, wajahnya memerah semu akibat ulah Saka barusan. Saka pun semakin dibuat gemas melihat ekspresi Sahira saat ini, ia terus mencubit dan mengusap wajah gadis itu sehingga Sahira hanya senyum-senyum menahan malu.
"Yaudah, aku mau deh bareng sama kamu. Tapi, bener ya gak ada urusan lain?" ucap Sahira.
"Iya benar sayangku," ucap Saka sembari mencubit gemas hidung gadisnya.
Disaat mereka hendak masuk ke mobil bersama-sama, tiba-tiba Saka tak sengaja melihat seorang lelaki yang tengah jalan berlawanan arah dengan mereka. Saka menatap tajam ke arah pria tersebut, ia seolah mengenali siapa pria yang ada di depannya saat ini.
"Eh tunggu deh sayang," ucap Saka tiba-tiba.
"Hah? Kamu kenapa sih mas? Ngeliat apa kamu?" tanya Sahira keheranan.
"Itu loh, kamu lihat kan laki-laki yang jalan di depan sana?" ucap Saka menunjuk ke si pria.
"Ohh, iya aku lihat kok. Terus kenapa?" tanya Sahira lagi.
"Saya tahu siapa dia, saya masih hafal sama wajahnya," jawab Saka.
"Emangnya dia siapa mas?" tanya Sahira.
"Dia itu laki-laki yang saya lihat di bar bareng ibu kamu, masa kamu gak hafal sih? Saya aja yang cuma lihat sekali masih ingat kok," jawab Saka.
"Oh ya? Tapi itu kan om Bram, temannya ibu. Emang dia juga yang ada di bar bareng sama ibu ya?" kaget Sahira.
"Loh loh, kamu kok bisa tahu namanya sih sayang?" heran Saka.
Sahira manggut-manggut pelan, "Iya mas, jadi dia itu pernah ke rumah bareng sama ibu. Terus aku diminta kenalan deh sama dia," jelas Sahira.
"Terus terus gimana? Dia ngaku kalau dia ada hubungan sama ibu kamu?" tanya Saka.
"Ya mereka bilangnya cuma temen, tapi kayaknya ada yang disembunyiin deh dari aku. Apalagi barusan kamu bilang kalau dia laki-laki yang sama ibu di bar," ucap Sahira.
"Emang iya kok, kamu percaya deh sama saya. Coba aja yuk kita temuin dia!" ajak Saka.
Sahira terkejut, namun menurutnya ada benar juga yang diucapkan Saka karena dengan menghampiri lelaki tersebut maka mereka bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi diantara Bram dan juga Fatimeh. Jujur saja Sahira sangat penasaran dengan hal itu dan berusaha mencari tahu.
"Eh kamu Sahira kan? Ada apa Sahira?" ucap Bram dengan ramah, tampaknya ia masih mengingat betul wajah anak dari simpanannya itu.
Sahira memandangnya dingin dengan tatapan menjurus dari atas sampai bawah, "Om Bram ngapain ada disini? Mau ngapelin ibu aku ya?" ucapnya langsung ke inti.
Bram sontak terkejut mendengarnya, "Hah? Eee i-i-iya, saya emang mau ke rumah kamu. Kebetulan udah ada janji sama dia," ucapnya gugup.
"Ohh, sedekat itu ya hubungan kalian sampai janjian terus mau pergi berdua? Sebenarnya kalian itu ada apa sih?" tanya Sahira penasaran.
"Ah gak ada apa-apa kok, saya sama ibu kamu itu cuma sahabat Sahira. Sudahlah, kamu gak perlu mikir yang enggak-enggak begitu!" jawab Bram.
"Masa sih om? Terus kenapa om harus diam-diam kalau mau ketemu sama ibu? Ini aja sampai om jalan kaki, padahal om kan punya mobil. Coba deh dimana mobil om sekarang?" tanya Sahira.
Deg!
Bram tak berkutik saat ini saat Sahira melontarkan pertanyaan seperti itu.
•
•
Alan tidak bisa lagi menahan abangnya itu, ya Saka sudah terlanjur membuka pintu dan masuk ke mobilnya dengan cepat. Setelahnya, Saka pun memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah karena ia tak mau Alan bertanya lagi mengenai sikap dinginnya pada Syera sejak dulu hingga sekarang.
"Haish, tuh orang kenapa sih ya? Ditanya baik-baik malah gak mau jawab, kalo bukan saudara pasti udah gue abisin tuh dia!" geram Alan.
Akhirnya Alan turut masuk ke mobilnya untuk bergegas menuju kantor, ia mengurungkan niatnya menjemput Sahira karena hari yang sudah siang dan ia yakin jika mungkin saja Sahira telah berangkat ke kantor lebih dulu. Ya meski Alan sangat menyesal karena gagal menemui Sahira.
Akan tetapi, baru saja Alan hendak menancap gas mobilnya, tiba-tiba tanpa diduga Nawal muncul di hadapannya dan menghalangi jalannya. Sontak Alan memaki karena kesal, ia terpaksa turun dari mobil untuk menemui Nawal yang muncul dan membuatnya sangat geram.
"Nawal, kamu ngapain sih berdiri di depan mobil aku kayak gitu? Kalau tadi aku gak nyadar dan nabrak kamu gimana? Pasti aku juga yang repot, terus aku yang disalahin," kesal Alan.
__ADS_1
"Hehe, iya iya Alan. Aku minta maaf ya udah bikin kamu kaget dan kesal?" ucap Nawal tersenyum.
"Gapapa, terus sekarang kamu mau apa? Kenapa sih kamu masih aja datang kesini? Aku kan udah bilang, jangan pernah kesini lagi!" sentak Alan.
"Aku gak bisa Alan, aku terlalu cinta sama kamu. Boleh ya aku temenin kamu ke kantor pagi ini?" ucap Nawal memohon dengan manja.
Alan hanya menghela nafas seraya menggelengkan kepala, ia kembali ke mobil dan diikuti oleh Nawal di belakangnya. Mereka berdua kini sama-sama duduk di kursi depan, Alan sontak terkejut karena Nawal sudah berada di sampingnya dan tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Hah? Kamu ngapain ikut masuk sih Nawal? Emangnya siapa yang izinin kamu ikut sama aku coba?" kaget Alan.
"Umm, aku inisiatif sendiri aja. Abisnya kamu itu nyebelin sih sayang," ucap Nawal cemberut.
"Apa sih kamu? Sana deh kamu turun, aku lagi buru-buru!" sentak Alan.
"Gapapa sayang, aku kan cuma mau temenin kamu ke kantor," ucap Nawal lembut.
"Buat apa kamu ikut aku ke kantor? Mau ngapain coba nanti kamu disana? Jangan aneh-aneh deh jadi orang!" ujar Alan.
"Kok aneh-aneh sih? Emang aku pengen temenin kamu aja sayang," ucap Nawal.
"Tapi aku gak pengen, sana gih kamu turun dan jangan bikin aku kesal!" sentak Alan.
Nawal seketika memasang wajah cemberut, "Kamu kok gitu sih sayang? Kamu gak kasihan apa sama aku? Masa kamu tega ngusir aku sih?" ujarnya.
"Ah yaudah yaudah, kamu boleh ikut aku!" Alan yang kesal akhirnya setuju saja.
Alan pun langsung menancap gas dan pergi menuju kantornya bersama Nawal, meski Alan sungguh kesal dan tak mau jika Nawal ikut bersamanya. Nawal langsung saja tersenyum gembira karena Alan mau membiarkannya ikut bersama pria itu, kini Nawal mendekat dan menggenggam satu tangan Alan dengan lembut.
"Makasih ya sayang, kamu emang yang terbaik deh!" ucap Nawal.
Alan hanya diam dan fokus ke jalanan, ia tak perduli dengan perlakuan serta kata-kata Nawal barusan.
•
•
Sahira terkejut, namun menurutnya ada benar juga yang diucapkan Saka karena dengan menghampiri lelaki tersebut maka mereka bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi diantara Bram dan juga Fatimeh. Jujur saja Sahira sangat penasaran dengan hal itu dan berusaha mencari tahu.
"Eh kamu Sahira kan? Ada apa Sahira?" ucap Bram dengan ramah, tampaknya ia masih mengingat betul wajah anak dari simpanannya itu.
Sahira memandangnya dingin dengan tatapan menjurus dari atas sampai bawah, "Om Bram ngapain ada disini? Mau ngapelin ibu aku ya?" ucapnya langsung ke inti.
Bram sontak terkejut mendengarnya, "Hah? Eee i-i-iya, saya emang mau ke rumah kamu. Kebetulan udah ada janji sama dia," ucapnya gugup.
"Ohh, sedekat itu ya hubungan kalian sampai janjian terus mau pergi berdua? Sebenarnya kalian itu ada apa sih?" tanya Sahira penasaran.
"Ah gak ada apa-apa kok, saya sama ibu kamu itu cuma sahabat Sahira. Sudahlah, kamu gak perlu mikir yang enggak-enggak begitu!" jawab Bram.
"Masa sih om? Terus kenapa om harus diam-diam kalau mau ketemu sama ibu? Ini aja sampai om jalan kaki, padahal om kan punya mobil. Coba deh dimana mobil om sekarang?" tanya Sahira.
Deg!
Bram tak berkutik saat Sahira melontarkan pertanyaan seperti itu, ia bingung harus menjawab apa pada Sahira. Sedangkan Sahira serta Saka tampak terus memandanginya dengan tatapan aneh, membuat Bram salah tingkah dan berupaya menghindar dari tatapan mereka.
"Om emang kesini gak bawa mobil kok, kebetulan mobil om lagi di bengkel," bohong Bram.
"Ohh, yaudah aku antar sampai ke rumah ya?" ucap Sahira menawarkan diri.
"Eee gausah Sahira, bukannya kamu udah mau berangkat kerja ya? Mendingan kamu berangkat aja, nanti kamu telat loh!" ucap Bram menolak.
"Gapapa, saya yang jamin kalau Sahira tidak akan telat." Saka menyela tiba-tiba.
"Kamu itu siapa? Kenapa kamu ikut campur kayak gini?" tanya Bram pada Saka dengan sinis.
"Saya kekasihnya, nama saya Saka. Saya berhak ikut campur karena ini menyangkut keluarga calon istri saya," jawab Saka tegas.
__ADS_1
"Ya okay, kamu boleh ikut saya ke rumah Sahira. Lagipula itu juga tidak berpengaruh pada niat saya kok," ucap Bram mencoba tenang.
Sahira tersenyum lebar, "Baguslah, silahkan om jalan duluan!" ucapnya memberi jalan.
Bram mengangguk dan berjalan lebih dulu menuju rumah gadis itu, meski ia terlihat kesal karena Sahira dan pacarnya harus ikut bersamanya. Padahal tadinya ia ingin bermesraan lebih dulu dengan Fatimeh disana, tapi nampaknya ia harus mengurungkan niatnya itu.
"Sahira, kamu kelihatan curiga banget sama dia. Kenapa memangnya?" bisik Saka.
"Gak tahu mas, aku yakin aja dia punya rencana buruk buat ibu. Makanya aku minta ikut ke rumah, supaya dia gak bisa macam-macam nanti," ucap Sahira pelan.
"Yasudah, ayo kita ikuti dia! Saya akan selalu temani kamu Sahira," ucap Saka.
Sahira tersenyum dibuatnya, lalu mereka pun berjalan menyusul Bram yang sudah lebih dulu melangkah menuju rumah Sahira.
•
•
Sementara itu, Alan telah tiba di kantornya bersama Nawal sang mantan. Ia langsung turun dari mobil dan memasuki kantor diikuti oleh Nawal dari belakangnya, meskipun sudah berulang kali Alan meminta pada Nawal untuk pergi karena ia sedang ingin bekerja tanpa diganggu.
Ya tapi Nawal tetaplah Nawal, ia adalah gadis yang keras kepala dan tidak mungkin mau menurut dengan apa yang dikatakan Alan. Nawal akan tetap berada di kantor itu dan terus mengikuti kemanapun Alan pergi, ia sudah bertekad bahwa ia tak akan melepaskan Alan lagi setelah ini.
"Nawal, kamu kenapa sih ngikutin aku terus? Kamu gak dengar ya tadi aku bilang apa? Aku lagi pengen fokus kerja, mending kamu pergi deh!" kesal Alan.
"Tenang dong Alan, kamu gak boleh marah-marah begitu! Aku disini tuh mau temenin kamu biar kamu gak kesepian, apa salah ya kalau seorang pacar melakukan itu?" ucap Nawal.
"Apa kata kamu? Pacar? Sembarangan aja kamu kalo bicara, aku gak punya pacar kayak kamu ya!" ucap Alan menolak dengan tegas.
Nawal menunduk dengan wajah cemberut, "Jahat kamu mah sayang! Masih aja kamu gak mau akuin aku kalau kita itu pacaran, padahal kan kita sebentar lagi juga bakal nikah," ucapnya.
"Itu gak akan pernah terjadi, aku gak mau nikah sama kamu Nawal. Mending kamu pergi deh, aku pusing dengar ocehan kamu itu!" ujar Alan.
"Ih Alan tunggu!" Nawal kembali menahan pria itu saat hendak melangkahkan kakinya.
"Apa lagi sih Nawal? Kurang jelas kata-kata aku tadi? Pergi Nawal, pergi!" sentak Alan.
Nawal menggeleng dengan cepat, "Aku gak mau pergi, aku mau tetap disini sama kamu. Kalau aku pergi, nanti kamu enak-enakan lagi berduaan sama sekretaris kamu yang kecentilan itu!" ujarnya.
"Emangnya kenapa kalau aku berduaan sama Sahira? Dia itu sekretaris aku, jadi wajar lah kalo kami sering berduaan," ucap Alan membela diri.
"Ya tapi kan—"
"Nawal cukup!" bentak Alan dengan keras dan tegas hingga membuat nyali Nawal ciut.
Gadis itu merengut sembari menatap wajah Alan yang terlihat sangat emosi, Alan mendekatinya dan mencengkram rahangnya kuat sampai Nawal harus berusaha keras melepaskan diri. Alan tak perduli dengan rengekan Nawal, dia terlanjur emosi dan tidak mau mendengar apapun.
"Dengar ya Nawal, kamu pergi sekarang atau aku akan sakitin kamu! Pasti kamu gak mau kan lihat rahang kamu geser atau malah patah?" ancam Alan.
Deg!
Nawal terbelalak kaget mendengar ancaman yang dilontarkan mantannya itu, ia semakin takut dan berusaha keras untuk melepaskan diri. Akan tetapi, Alan yang sudah terlanjur emosi memiliki tenaga yang lebih kuat dibanding Nawal, sehingga gadis itu tidak mungkin bisa melepaskan cengkeramannya karena kalah tenaga.
"Mmppphhh Alan lepasin! Iya iya, aku bakal pergi dari sini. Tapi please, lepasin dulu tangan kamu Alan!" rengek Nawal.
Alan akhirnya menurut dan melepaskan rahang Nawal dari cengkeraman nya, ia melirik sekitar dan banyak sekali karyawannya yang tampak memperhatikan mereka. Sontak saja Alan berdehem, lalu para karyawan itu langsung pergi begitu saja karena takut.
"Sekarang giliran kamu yang pergi Nawal, tepati omongan kamu dan jangan bantah! Atau aku akan dengan mudah mematahkan rahang kamu itu," ucap Alan mengancam.
"Iya ish, sabar dong masih sakit tau!" ujar Nawal yang mengusap-usap rahangnya.
Disaat Alan hendak pergi, tiba-tiba sebuah suara berat meneriaki namanya dari arah belakang yang membuat ia terkejut.
"ALAN!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...