
"Gausah bawa-bawa Sahira, kamu gak tahu apa-apa dan mending kamu diam!" ujar Alan.
"Kata siapa aku gak tahu apa-apa? Aku tahu kok kalau kamu suka sama dia, aku kan dengar sendiri waktu itu. Emang sih kamu ngelak waktu itu, tapi aku yakin kok sama apa yang aku dengar," ucap Nawal tersenyum.
"Terserah, sekarang tolong minggir karena aku mau lewat!" ucap Alan.
"Mau kemana sih kamu? Udah sih sini aja sama aku, masa kamu tega tinggalin aku sendirian? Oh atau kamu mau nyusul Sahira sama abang kamu itu ya?" ucap Nawal.
"Sekali lagi aku bilang minggir, kamu jangan bikin aku emosi deh Nawal! Minggir atau aku akan bertindak kasar ke kamu!" kesal Alan.
"Gak akan!" tegas Nawal.
Alan semakin kesal dibuatnya, Nawal justru tidak ingin berpindah walau sedikitpun dan tetap berdiri di depannya. Akhirnya Alan memilih mendorong tubuh Nawal ke pinggir secara paksa hingga gadis itu terjatuh, sontak suara rintihan Nawal membuat seisi kantor terkejut dan menatap kesana.
Bruuukkk
"Akh awhh!!" pekik Nawal memegangi lengan serta pinggulnya.
Alfian yang melihat itu merasa geram, ia beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Alan serta Nawal. Ia meneriaki putranya yang hendak pergi begitu saja, tentu Alan menghentikan langkahnya karena tak mau membuat Alfian semakin emosi lalu mengambil semua fasilitasnya.
"Alan!" sentak Alfian yang kini berada di dekat Alan dan juga Nawal.
"Kamu kenapa kasar begitu sama Nawal?" sambungnya bertanya pada sang putra.
Alan memutar bola matanya malas, ia yakin apapun yang ia jelaskan pada papanya itu tidak akan mungkin dipercaya olehnya. Apalagi Nawal memang pandai berkata-kata, ia selalu saja bisa membuat Alfian percaya padanya dan tidak mau mendengarkan perkataan Alan.
"Kenapa kamu hanya diam? Jawab Alan!" kesal Alfian.
"Pa, percuma aku cerita ke papa. Pasti papa juga gak akan percaya sama aku," ucap Alan.
"Apapun alasan kamu, seharusnya kamu emang gak boleh kasar begitu sama Nawal! Dia itu perempuan Alan, kamu harus bersikap lembut ke dia!" ucap Alfian.
"Tuh kan, belain aja terus si Nawal ini. Sebenarnya yang anak kandung papa itu siapa sih? Aku atau Nawal?" ujar Alan.
Alfian menggeleng, "Papa bukan belain Nawal, tapi semua yang papa katakan memang benar. Kamu gak boleh kasar gitu sama Nawal, kamu harus baik sama dia!" ucapnya tegas.
"Ya ya ya, nanti aku akan baik ke dia. Tapi, sekarang aku pergi dulu ya pa? Aku harus cepat-cepat keluar dan tolong papa minggir!" ucap Alan.
"Kamu mau pergi kemana emangnya? Kenapa harus buru-buru? Jangan bilang kalau kamu ingin menyusul Saka dan Sahira!" ucap Alfian.
Alan terdiam memalingkan wajahnya, melihat reaksi putranya yang seperti itu membuat Alfian makin yakin jika memang Alan hendak menyusul Saka serta Sahira di luar sana. Tentu saja Alfian merasa tidak senang dan akan menghalangi Alan yang ingin menyusul kedua orang itu.
"Iya om, kayaknya emang Alan mau nyusul Sahira deh. Soalnya tadi dia kelihatan emosi gitu waktu Sahira pergi sama bang Saka," ucap Nawal.
"Diam kamu Nawal! Tidak usah ikut campur ke dalam urusanku, kamu itu bukan siapa-siapa disini!" sentak Alan.
"Kamu yang diam Alan!" geram Alfian.
Sontak seisi kantor dibuat terkejut mendengar suara bentakan Alfian yang menggema, mereka semua sama-sama kebingungan dan menatap ke arah Alfian dengan heran. Alan sendiri juga sangat kaget saat papanya itu membentaknya hanya untuk membela Nawal, ia menggeleng pelan dan memilih pergi begitu saja dari sana.
•
•
Alfian mengiyakan saja ucapan Saka, lalu setelahnya Saka pun mengajak Sahira untuk segera pergi dari tempat tersebut. Sahira menurut saja karena memang ia juga tak memiliki pilihan lain, selain itu Sahira juga ingin pulang ke rumah dengan cepat dan memastikan kalau ibunya ada disana.
Di luar kantor, Saka berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam mobilnya. Ia bertatapan dengan Sahira dan saling tersenyum satu sama lain, tak lupa juga kedua tangan mereka yang bersatu seolah menandakan kalau mereka tidak bisa dipisahkan.
"Saya antar kamu sampai ke rumah ya Sahira? Saya juga mau ngobrol sama ibu kamu disana," ucap Saka.
__ADS_1
"Hah? Kamu mau bicara apa sama ibu, mas?" tanya Sahira sedikit terkejut.
"Eee ya aku pengen bahas tentang hubungan kita, barangkali kita bisa lanjut ke jenjang yang lebih serius kan?" jawab Saka.
"Apa? Kamu serius mau bahas soal itu sekarang? Apa gak kecepatan?" kaget Sahira.
Saka hanya mengangguk disertai senyuman tipis, sedangkan Sahira terus menganga lebar masih tak menyangka dengan ucapan pria itu. Saka pun menghampiri gadisnya itu lalu menangkup wajahnya, ia kecup kening Sahira yang membuat sang empu memejamkan mata.
"Kamu masih ragu sama cinta aku sayang? Aku serius loh mau cepat-cepat lamar kamu dan nikahin kamu, supaya kamu gak diambil orang nanti," ucap Saka.
"Apaan sih mas? Siapa juga yang mau ambil aku coba? Aku kan cuma wanita biasa," ucap Sahira.
"Begitupun dengan saya, kita berdua sama-sama manusia biasa sayang. Tapi, cinta saya ke kamu luar biasa. Saya yakin kamu juga gitu kan?" ucap Saka tersenyum.
"Eee iya mas, kalo gitu aku ngikut apa kata kamu aja deh. Aku juga emang maunya gak terlalu lama pacaran sih," ucap Sahira.
"Nah kan, berarti kita sejalan. Gimana kalau abis lebaran nanti aku lamar kamu dan kita segera nikah?" usul Saka.
Sahira kembali terbelalak kaget, "Abis lebaran? Apa enggak kecepatan itu mas?" ujarnya.
"Loh kenapa? Makin cepat makin bagus dong, katanya kamu gak mau pacaran lama-lama. Lebih baik emang kita langsung nikah tau," ucap Saka.
"Ya tapi enggak abis lebaran juga kali mas, itu mah terlalu cepat. Aku belum siap buat jadi ibu rumah tangga tau," ucap Sahira.
"Kenapa belum siap? Saya lihat kamu udah cocok kok buat gendong anak," ujar Saka.
Sahira memalingkan wajahnya dan tersenyum, Saka pun terus menggodanya dengan cara mencolek pipi serta dagu gadis itu. Entah sudah seberapa merahnya pipi Sahira saat ini, ia sendiri tak mengerti lagi bagaimana cara menghilangkan kemerahan pipinya itu.
Dari arah yang tak terlalu jauh, Alan rupanya telah tiba dan melihat langsung momen kemesraan antara sepasang kekasih tersebut. Alan tampak kesal dengan dua tangan terkepal, ia menahan emosi serta rasa cemburu karena Sahira dan Saka yang semakin mesra saja.
"Sialan! Ini gak bisa dibiarin, saya harus bertindak supaya mereka gak semakin mesra kayak gitu! Biar gimanapun, Sahira harus jadi milik saya dan bukan bang Saka!" gumam Alan.
"Nawal?" lirih Alan dengan tampang terkejut.
•
•
"Keira!" sang pemilik nama tersebut kaget saat ada seseorang yang memanggil namanya, ia menoleh ke asal suara lalu menemukan sosok pria yang tak lain ialah Ari.
Ya Keira baru saja selesai mengikuti acara buka bersama di kantornya, kini ia tengah berdiri di dekat jalan raya menanti taksi online yang ia pesan. Namun, tanpa diduga Ari sang kekasih justru datang kesana menemuinya. Keira pun terlihat tak suka, sebab ia memang masih menyimpan rasa emosinya pada lelaki itu.
Ari saat ini sudah berada di depannya, pria itu tersenyum menatap wajah sang kekasih dan memberikan sebuah coklat padanya. Sontak Keira melongok, jujur sejak mereka pacaran belum pernah sekalipun Ari memberikan coklat seperti itu padanya, dan ini adalah kali pertama pria itu melakukannya disaat mereka sedang bertengkar.
"Sayang, ini coklat untuk kamu. Semoga kamu suka dengan pemberian aku ini ya dan kamu gak marah lagi sama aku!" ucap Ari.
"Thanks, tapi aku gak suka coklat dan aku juga lagi gak mood buat ketemu kamu. Mending kamu pergi deh daripada aku panggil security buat usir kamu dari sini," ucap Keira ketus.
"Kamu tuh kenapa masih kayak gini sih sayang? Aku kan udah jelasin ke kamu, Mira itu bukan selingkuhan aku!" ucap Ari.
"Iya aku tahu, tapi tetap aja aku butuh waktu buat percaya sama kamu. Tolong jangan paksa aku sekarang!" ucap Keira.
"Aku harus apa biar kamu percaya sama aku, Keira? Aku bingung loh kalau kamu kayak gini terus, kasih tau dong apa yang kamu mau biar aku bisa turutin!" ucap Ari.
"Kamu gak perlu ngapa-ngapain kok, cukup kamu pergi aja dan jangan pernah deketin aku lagi!" ucap Keira tanpa melirik kekasihnya sedikitpun.
Ari hanya bisa menghela nafasnya, ia tak mengerti lagi harus melakukan apa untuk bisa membuat gadisnya percaya padanya. Ari pun menunduk lesu dan menatap coklat di tangannya yang ditolak secara terang-terangan oleh Keira, tentu Ari merasa kecewa sekaligus galau saat ini.
"Ini kamu udah mau pulang kan? Kita bareng aja yuk, aku bisa antar kamu sampai ke rumah dengan aman!" ucap Ari.
__ADS_1
Keira menggeleng, "Aku gak mau, aku udah pesan taksi kok," ucapnya menolak.
"Buat apa pakai taksi kalau ada aku disini? Enakan juga bareng aku tau, gratis terus kamu bisa lebih nyaman," ucap Ari tersenyum.
"Nyaman darimana? Justru kalau sama kamu, aku tuh jadi kebawa emosi terus," ucap Keira.
"Ya udah deh, aku gak maksa kamu buat mau pulang bareng aku. Terus sekarang taksinya mana? Udah mau sampai apa belum?" ucap Ari.
Keira tak menjawab, ia malah menatap ke kanan arah jalan untuk mencari dimana taksinya. Lalu, taksi yang ia tunggu-tunggu pun datang dan membuat gadis itu tersenyum. Ia menunjuk ke arah mobil yang melaju disana bermaksud memberitahu pada Ari.
"Itu taksi aku udah sampe, aku pulang duluan ya? Kamu kalau masih mau disini ya terserah, bye!" ucap Keira.
"I-i-iya.." Ari terlihat gugup, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkan gadisnya pergi menggunakan taksi itu.
Keira pun masuk ke dalam taksi, lalu melaju pergi meninggalkan Ari sendirian disana.
•
•
Cat pulang dari toko rotinya bersama Yoshi sang kekasih, mereka memilih berjalan kaki untuk menikmati momen malam sekaligus berniat mampir ke sebuah tempat yang indah. Ya memang selama ini mereka jarang sekali bisa merasakan jalan bersama seperti sekarang ini.
Gadis itu tampak tersenyum menatap wajah kekasihnya dari arah samping, Yoshi pun juga memandangnya disertai senyuman lebar dan tangan yang mengusap lembut wajah gadisnya. Yoshi sadar jika dirinya memang belum mencintai Cat seutuhnya, sebab masih ada rasa untuk Sahira di dalam hatinya. Namun, Yoshi yakin lambat laun cintanya itu bisa terus berkembang.
"Malam ini kita nikmati waktu berdua dulu, takutnya besok-besok kita udah gak bisa kayak gini lagi karena sibuk di tempat kerja. Makanya sekarang mumpung kita bisa pulang cepat, jadi ini waktunya kita berduaan," ujar Yoshi.
"Iya Yos, aku juga pengen berduaan sama kamu kok. Apalagi jarang kita bisa jalan bareng kayak gini, ya kan?" ucap Cat.
Yoshi mengangguk pelan, "Ya sayang, gimana kalau mulai besok kita begini aja terus? Biar kita bisa punya waktu lebih buat berduaan, dibanding naik motor atau mobil," ucapnya.
"Aku sih ngikut kamu aja, calon istri kan harus nurut sama calon suaminya," ucap Cat.
"Hahaha, gak sabar ya kamu buat nikah sama aku? Tenang ya, begitu uangnya terkumpul nanti pasti aku bakal langsung lamar kamu!" ucap Yoshi.
"Gak perlu terlalu buru-buru, aku bisa sabar kok nungguin kamu siap sayang," ucap Cat tersenyum.
"Iya aku tahu kamu setia, tapi tetap aja aku mau buru-buru ikat kamu biar gak ada yang bisa rebut kamu dari aku," ucap Yoshi.
"Ah kamu bisa aja, emang kamu beneran udah cinta nih sama aku?" tanya Cat memastikan.
Yoshi terdiam sejenak, lagi-lagi ia harus berdebat dengan hatinya setiap kali Cat menanyakan hal itu padanya. Meski begitu, Yoshi tetap berusaha tenang agar Cat tidak curiga atau menyangka bahwa dirinya memang belum mencintai gadis itu sepenuhnya.
"Kamu kok pake tanya begitu lagi sih? Jelas dong aku cinta banget sama kamu, cuma kamu perempuan yang ada di hati aku sayang!" ucap Yoshi sambil tersenyum.
"Masa sih? Berarti ibu dan nenek kamu gak ada di hati kamu dong?" ujar Cat.
"Eee ya maksudnya kamu sama ibu dan nenek gitu, tapi kalau selain keluarga ya cuma kamu sayang," ucap Yoshi mencubit pipi gadisnya.
Cat dibuat tersipu dengannya, sesaat kemudian tanpa sengaja dua matanya menangkap sosok Fatimeh yang baru turun dari mobil bersama seorang lelaki berkumis. Cat pun langsung mengajak Yoshi bersembunyi dibalik pohon agar tidak terlihat oleh Fatimeh.
"Eh eh, kamu mau ngapain Cat? Ini bulan Ramadhan tau, gak boleh mesum!" ujar Yoshi.
"Hah? Apaan sih kamu? Aku gak mau mesum, tapi itu tuh disana ada ibunya Sahira!" ucap Cat menunjuk ke depan.
Yoshi mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Cat, ia terbelalak melihat Fatimeh bersama lelaki berkumis itu di dekat mobil. Tentu saja Yoshi penasaran apa yang terjadi, dan siapa lelaki tersebut sampai bisa pergi dengan Fatimeh malam-malam begini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1