Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 98. Kedatangan mama


__ADS_3

Alan tampak melepas pelukannya setelah dirasa Sahira lebih tenang dibanding sebelumnya, tapi ia masih menatap wajah gadis itu dan menangkup wajahnya menggunakan dua tangan. Tak lupa Alan menghapus air mata dari wajah sang sekretaris, ia tidak tega melihat kesedihan yang dialami Sahira karena mengingat kembali momen sedihnya dahulu kala bersama sang ayah.


Sahira sendiri memang paling sulit menahan tangis jika sudah menyangkut ayahnya, karena jujur saja ia sangat kehilangan sosok ayah di dalam hidupnya. Ya meski saat ini ia masih memiliki ibu, tetapi hanya sebatas ibu tiri yang tidak bisa menyayanginya dengan tulus, sebab sang ibu tiri merasa Sahira adalah penyebab atau biang masalah dari semua yang terjadi di keluarganya.


"Sahira, sudah ya jangan nangis lagi! Saya paling gak bisa loh lihat perempuan menangis, mending kita bahas yang lain aja!" pinta Alan.


"Maaf pak, saya gak bisa tahan kesedihan saya. Saya terlalu rindu dengan ayah saya, karena dulu ayah lah yang selalu ada buat saya. Bahkan, ibu juga dulu gak seperti sekarang sewaktu ada ayah," ucap Sahira sambil terisak.


"Kamu yang sabar ya Sahira! Ayah kamu sudah tenang di alam sana, kamu doakan aja yang terbaik buat ayah kamu supaya ayah kamu selalu bahagia disana!" ucap Alan menenangkan gadis itu.


Sahira mengangguk, "Iya pak, saya pasti selalu mendoakan ayah saya," ucapnya.


"Yasudah, kita lanjut jalan sekarang aja yuk! Hujannya udah agak reda nih, bisa lah saya lihat jalan kalau kayak gini," ajak Alan.


"Bapak yakin?" tanya Sahira memastikan.


"Iyalah, mana pernah saya gak yakin? Udah ayo kita masuk ke mobil!" jawab Alan mantap.


"Iya pak," singkat Sahira.


Akhirnya Alan membawa Sahira masuk ke mobilnya, lalu pria itu bergegas menancap gas pergi meninggalkan tempat itu. Sesekali Alan menoleh ke arah Sahira, dilihatnya gadis itu tengah melamun seolah membayangkan sesuatu atau mungkin masih bersedih.


"Kamu kenapa Sahira? Masih mikirin soal yang tadi ya? Sudahlah, kamu lupakan aja semua itu Sahira! Kita fokus ke masa sekarang aja!" ujar Alan.


"Eee saya gapapa kok pak, iya betul kata bapak kalau saya harus kuat dan tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Makasih ya pak udah mau dengerin curhatan saya?" ucap Sahira.


"Gak masalah, waktu itu juga kan saya pernah curhat ke kamu. Jadi, kalau kamu pengen curhat ya silahkan aja!" ucap Alan.


"Iya pak, untuk sekarang sih saya sudah lega. Insyaallah saya akan jadi pribadi yang lebih kuat lagi, supaya ayah saya bangga disana," ucap Sahira.


"Aamiin, saya yakin kamu pasti bisa! Oh ya, ini saya antar kamu ke rumah aja ya? Soalnya udah sore dan mau buka puasa juga, gak ada gunanya kalau kita balik ke kantor," ujar Alan.


Sahira mengangguk, "Iya pak, saya mah nurut aja sama perkataan bapak," ucapnya.


Alan pun tersenyum lebar dan menambah kecepatan mobilnya menuju rumah gadis itu, ia sungguh bahagia dapat menikmati momen berdua dengan Sahira seperti ini. Rasanya Alan sampai tidak ingin berpisah dengan gadis itu dan ingin selalu bersamanya, tapi tentu semuanya hanyalah angan-angan sebab Sahira sudah menjadi milik dari abangnya walau status mereka masih pacar.


"Sahira, seandainya bang Saka bukan jodoh kamu, pasti saya akan jadi yang terdepan untuk merebut kamu dari dia. Saya pastikan itu," batin Alan.


Mereka akhirnya saling diam dan tak berbicara, meski keduanya tampak mencuri-curi pandang satu sama lain disaat salah satu dari mereka sedang tidak memperhatikan.




Akhirnya Alan dan juga Sahira tiba di rumah gadis itu, Alan pun menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Sahira seperti biasanya. Namun, betapa terkejutnya ia sebab ia melihat mobil milik Saka juga terparkir di sebelahnya yang menandakan sang pemilik ada disana.


Tentu saja Alan merasa panik, ia yakin jika Saka pasti akan salah paham padanya nanti. Alan berpikir jika ia harus langsung pergi dari sana dan tidak usah mampir ke rumah Sahira, sebab ia tidak ingin ada keributan antara dirinya dengan Saka di rumah gadis itu.


"Sahira, sudah ya saya langsung pulang saja? Kamu lebih baik turun dan masuk ke rumah kamu, saya gak mau ada keributan karena salah paham nantinya," ucap Alan.


"Kenapa pak? Apa karena ada mobil pak Saka di depan rumah saya? Gapapa kali pak, nanti saya bisa jelaskan ke pak Saka," ucap Sahira.


"Jangan! Saya gak yakin itu akan berhasil, kamu tahu sendiri otak Saka itu sumbunya pendek, dia pasti gak akan percaya sama penjelasan kamu," ucap Alan.


"Yaudah deh pak, kalau itu mau bapak ya saya gak bisa maksa. Bapak hati-hati ya di jalan pulangnya, jangan ngebut!" ucap Sahira.


Alan melongok dibuatnya, perhatian yang diberi Sahira walau hanya sekedar ucapan itu sungguh membuatnya bahagia. Ada rasa senang yang tidak bisa ia utarakan saat mendengar perkataan Sahira barusan, sungguh ia sangat bahagia melebihi segalanya.


"Ya Sahira, kamu juga hati-hati ya sama bang Saka! Dia itu orangnya tempramen, jadi kamu gak boleh asal bicara!" ucap Alan.

__ADS_1


Sahira mengangguk pelan, "Iya pak, insyaallah saya bisa atasi itu nanti," ucapnya.


Setelahnya, Sahira pun turun dari mobil sesudah berpamitan serta mengucapkan terimakasih pada bosnya itu. Sedangkan Alan tetap pada tempatnya dan mengamati sejenak wajah Sahira dari posisinya sembari tersenyum, barulah ia mulai melajukan mobilnya secara perlahan pergi dari sana meninggalkan rumah gadis itu.


Sahira yang berniat masuk ke rumahnya, dikejutkan dengan panggilan dari Saka yang secara tiba-tiba muncul dari dalam rumah itu. Ya Sahira pun bergerak menghampiri pria itu, tampak sekali kalau Saka sangat khawatir padanya dan langsung memastikan bahwa gadisnya itu baik-baik saja.


"Sahira, syukurlah kamu sudah pulang! Kamu tahu gak sih kalau saya ini khawatir banget sama kamu?" ujar Saka cemas.


"Ahaha, iya mas tenang aja gausah cemas gitu! Aku kan baik-baik aja, tadi aku cuma ada meeting sama pak Alan di Bogor. Kenapa kamu sampai secemas ini sih mas?" ucap Sahira.


"Ya saya cemas aja, abisnya kamu gak bisa dihubungi. Kenapa hp kamu mati Sahira?" tanya Saka seraya menangkup wajah gadisnya.


"Ohh, iya tadi tuh kan hujan gede dan ada petir gitu. Makanya aku sama pak Alan kompak matiin hp biar gak terjadi sesuatu yang gak diinginkan gitu," jelas Sahira.


"Bagus deh, tapi beneran kan kamu gak diapa-apain sama si Alan itu? Dia gak bawa kamu jauh-jauh atau punya niat yang buruk ke kamu kan?" tanya Saka panik.


Sahira malah terkekeh kecil, "Apa sih kamu? Ya gak mungkin lah pak Alan begitu," ujarnya.


"Gak mungkin gimana sayang? Si Alan kan orangnya jahat banget," ucap Saka.


Sahira menggeleng saja sambil menahan senyumnya, ia bingung kenapa kedua saudara itu saling menjelekkan satu sama lain.




Alan yang sudah menjauh dari rumah Sahira, tak sengaja melihat Wati tengah berjalan seorang diri sembari menenteng sepedanya. Karena merasa kasihan, Alan pun turun dari mobil dan berniat menghampiri gadis itu untuk membantunya.


Saat mengetahui ada sebuah mobil yang berhenti, sontak Wati penasaran dan melihat seorang pria turun dari mobil tersebut lalu mendekat ke arahnya dengan senyum merekah di wajahnya. Wati dapat mengenali kalau lelaki itu adalah Alan, ya tentu ia masih ingat betul bagaimana wajah si pria.


"Hai Mira! Kamu ngapain dorong-dorong sepeda kayak gini? Kenapa gak dipake aja?" sapa Alan.


"Ohh, mau saya bantuin gak? Kamu naik aja ke mobil saya sekalian sama sepeda kamu, terus kita cari bengkel dekat sini!" tawar Alan.


"Ah gausah pak, saya gak enak sama bapak. Lagian saya mau pulang aja nih, udah dekat waktu buka puasa juga. Bapak sendiri kok ada di daerah sini ya? Habis dari rumah Sahira?" ujar Wati.


"Ya betul, tadi saya habis antar Sahira pulang ke rumah. Udah lah gausah dibahas, mending kamu ikut sama saya aja sekarang biar cepat!" ucap Alan.


"Jangan pak! Emangnya bapak gak mau buka puasa? Kalau bapak anterin saya dulu, nanti bisa telat loh pak," ucap Wati.


"Kita kan bisa buka bersama di luar, kamu mau?" ucap Alan memberi solusi sembari tersenyum ke arah gadis itu.


"Umm.." Wati terlihat menunduk dan berpikir harus menjawab apa, Alan yang tak sabaran langsung memegang lengan gadis itu dengan erat.


"Udah ayo kamu ikut sama saya aja! Nanti sepeda kamu biar saya yang masukin ke bagasi," ucap Alan memaksa.


Akhirnya Wati tak memiliki pilihan lain, tangannya itu langsung ditarik oleh Alan dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Wati pun duduk di kursi depan, sedangkan Alan kembali untuk mengambil sepeda milik gadis itu dan menaruhnya di dalam bagasi untuk dibawa ke bengkel.


Setelah beres, Alan menyusul masuk ke dalam dan duduk di sebelah Wati. Ia tampak menatap sekilas wajah gadis itu sambil tersenyum, Wati yang grogi hanya menunduk dengan wajah memerah karena merasa canggung saat Alan memandang wajahnya, ditambah perlakuan lelaki itu yang memang seolah menunjukkan perhatiannya.


"Kamu ini baru pulang jualan?" tanya Alan memulai obrolan diantara mereka.


Wati mengangguk pelan, "Iya pak, Alhamdulillah dagangan saya habis semua. Makanya saya bisa pulang cepat deh, ya sejak saya nyambi jualan yang lain sekarang pembeli saya jadi banyak," jawabnya.


"Syukur deh, saya ikut senang dengarnya. Semoga dagangan kamu laris terus ya Mira!" ucap Alan.


"Aamiin, makasih banyak ya pak? Saya gak nyangka bapak ternyata sebaik ini, padahal dulu bapak kan sempat marah besar waktu saya senggol bapak," ucap Wati sambil tersenyum.


"Hahaha, yang udah berlalu mah jangan dibahas lagi dong Mira! Waktu itu kan saya lagi kesal aja, makanya saya marah sama kamu," kekeh Alan.

__ADS_1


Wati tersenyum saja seraya memalingkan wajahnya, sedangkan Alan mulai menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala gadis itu secara tiba-tiba, sontak Wati pun semakin dibuat gugup karena ulah pria itu.




Malam pun tiba, Alan sampai di rumahnya setelah puas menikmati keindahan malam bersama Wati. Ya pria itu turun dari mobilnya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah dengan perlahan. Namun, betapa terkejutnya ia saat memasuki rumah dan disambut oleh seorang wanita.


Tentunya Alan sangat mengenal wanita itu, dia adalah Syera sang ibu yang selama ini dirinya rindukan. Alan pun tak menyangka jika ia bisa bertemu lagi dengan ibunya itu setelah sekian lama, sontak Alan bergegas menghampiri ibunya itu dan menatapnya dari dekat.


"Mama? Ini beneran mama? Aku gak salah lihat kan?" ujar Alan masih tak percaya.


Syera tersenyum dan mengusap wajah putranya, "Iya sayang, beneran ini mama. Masa kamu gak bisa bedain muka mama kamu sendiri? Ini nyata kok sayang," ucapnya.


"Hah mama??!" Alan yang terlanjur bahagia langsung memeluk erat mamanya itu untuk meluapkan segala kerinduan yang selama ini terpendam.


"Aku kangen banget sama mama, udah dari lama aku berharap mama pulang! Akhirnya aku bisa ketemu sama mama lagi," ucap Alan penuh haru.


"Iya Alan, mama juga sama kangen banget sama kamu. Mama senang akhirnya kita bisa ketemu dan kumpul kayak gini, kamu baik-baik aja kan sayang?" ucap Syera sembari mengusap rambut putranya diiringi isak tangis.


"Aku baik ma, mama sendiri gimana? Disana mama gak kenapa-napa kan?" tanya Alan seraya melepas pelukannya.


Syera mengangguk lemah, "Mama gapapa, ya tapi mama cuma selalu kepikiran sama kamu dan kakak kamu disini. Mama rindu sekali sama kalian sayang," jawabnya.


"Oh ya, kakak kamu dimana? Kalian kok pulangnya gak bareng sih sayang?" tanya Syera.


"Umm, aku juga gak tahu ma. Aku sama bang Saka kan gak pergi bareng, mungkin aja dia masih di rumah ceweknya," jawab Alan.


Sontak Syera terkejut, "Ceweknya? Maksud kamu pacar? Saka sudah punya pacar?" ujarnya.


"Iya ma, baru beberapa Minggu sih. Dia macarin karyawan kantor aku, aneh kan?" ucap Alan.


"Hah serius? Kok bisa Saka pacaran sama karyawan kamu? Gimana ceritanya sih sayang?" tanya Syera terkejut seolah tak percaya.


"Panjang deh ma, intinya bang Saka emang udah tergila-gila sama tuh cewek dari lama," jawab Alan dengan malas.


"Ada-ada saja abang kamu itu," Syera menggeleng dan beralih merengkuh pinggang Alan dari samping berniat mengajaknya masuk ke dalam.


"Udah yuk kita ke ruang tamu aja! Mama pegel nih berdiri terus," ajak Syera.


Alan pun tersenyum dan menuruti permintaan mamanya, ia lalu melangkah bersamaan dengan sang mama menuju ke ruang tamu tempat dimana Alfian sudah berada. Tampak Alfian langsung tersenyum lebar melihat kedekatan istrinya dengan sang anak, ia juga berharap Saka nantinya mau menerima Syera sebagai ibunya seperti yang dilakukan Alan saat ini.


"Wah wah wah, ada yang udah ketemu nih? Gimana Alan, kamu senang gak sama kejutannya?" ujar Alfian sambil terkekeh.


"Jelas senang banget pa, papa kenapa gak bilang dari awal sih kalau mama udah pulang? Tahu gitu tadi aku kan pulangnya lebih cepat, biar supaya aku bisa ketemu mama," ucap Alan.


"Ya papa lupa, tapi papa udah minta Saka loh buat kasih tahu kamu. Emang kalian gak ketemu sebelumnya?" ucap Alfian.


Alan menggeleng, "Enggak pa, aku gak ketemu sama bang Saka sih. Ya mungkin karena itu kali ya dia gak kasih tahu aku?" ucapnya.


"Bisa jadi," singkat Alfian.


Tak lama kemudian, tiba-tiba saja Saka pulang dan masuk ke dalam rumah dengan santainya. Ia melirik ke ruang tamu dan menemukan keberadaan mama serta papanya disana, tapi bukannya berniat menghampiri mereka justru Saka malah ingin naik ke kamarnya.


Alfian yang melihatnya sontak berteriak memanggil putranya itu, "Saka!" teriaknya lantang yang membuat Saka terhenti.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2