Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 145. Alan gila?


__ADS_3

Sahira terdiam saja, rasanya ia masih belum percaya dengan kata-kata Alan kalau ternyata Saka berselingkuh di belakangnya. Apalagi Saka dikatakan memiliki hubungan dengan Floryn, ya tentu saja sulit bagi Sahira untuk percaya, sebab Sahira yakin Saka tidak akan begitu. Selama ia mengenal pria itu, tak ada sedikitpun ciri-ciri yang membuatnya yakin bahwa Saka adalah orang yang mudah terpikat oleh wanita.


Namun, Sahira juga tidak yakin jika Alan sedang berbohong. Menurutnya, tak ada gunanya bagi Alan untuk membohongi dirinya karena diantara mereka juga tidak ada keinginan apa-apa. Sahira pun dihadapkan pada kebingungan yang amat sangat, ia tidak tahu harus percaya dengan perkataan Alan atau tetap yakin pada kekasih yang ia cintai itu.


"Eee yaudah ya, kalo gitu aku permisi dulu? Aku gak enak sama ibu kamu kalau lama-lama disini, kamu juga kan mau sarapan," ucap Alan pamit.


"Hah? Kenapa buru-buru banget? Kamu ikut masuk aja dulu, kita makan sama-sama!" ucap Sahira.


Alan menggeleng, "Enggak, mana berani aku ikut kamu sarapan bareng. Nanti yang ada ibu kamu malah semakin marah loh sama kamu, jadi mending aku pergi aja deh," ucapnya menolak.


"Hm okay, biar aku antar sampai ke mobil kamu!" ucap Sahira.


Kali ini pria itu mengangguk setuju, dengan perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu menuju mobilnya. Sahira pun mengikuti dari belakang, tapi kemudian Alan justru berhenti melangkah secara mendadak dan nyaris membuat Sahira menabraknya. Untung gadis itu masih sempat menghindar, kini Sahira bahkan berdiri di sebelah Alan dan menatapnya bingung.


"Lan, kamu kenapa malah diam? Ada yang lagi kamu pikirin ya pasti? Kamu cerita aja sama aku kalau emang gak keberatan, insyaallah aku bisa bantu kamu kok!" ucap Sahira cemas.


Alan melirik Sahira dengan dingin, "Gak kok, yang aku lagi pikirin ya kamu aja," ucapnya santai.


Deg!


Seketika Sahira terbelalak mendengar pengakuan Alan barusan, namun ia masih berusaha tenang dan menganggap semua itu hanya gurauan saja. Sahira yakin kalau Alan tak mungkin serius mengatakannya, terlebih yang ia tahu saat ini Alan sedang dekat dengan seorang gadis cantik yang kala itu ia temui di cafe.


"Apa sih Lan? Kamu mah hobinya bikin aku kaget aja deh, serius kamu sebenarnya ada masalah apa?" ucap Sahira.


Bukannya menjawab, Alan justru mendekat dan meraih dua tangan Sahira untuk digenggam. Jujur jantung Sahira langsung berdetak tak karuan saat Alan menyentuhnya dari jarak dekat, padahal ini bukan kali pertama pria itu melakukannya. Dan juga Sahira sudah sering berpegangan tangan dengan lelaki, termasuk Saka.


"Aku serius Sahira, buat apa aku bohong? Aku emang selalu mikirin kamu di dalam kepala aku, aku gak bisa lupain kamu sampai detik ini. Aku masih cinta sama kamu, dan selamanya akan terus begini Sahira!" ucap Alan dengan serius.


"Apa??" Sahira tersentak mendengarnya, tak ada sedikitpun ia mengira kalau Alan masih mencintai dirinya sampai sekarang ini.


"Iya Sahira, kali ini aku jujur sama kamu. Aku cinta dan sayang banget sama kamu, aku belum bisa ikhlas kamu pacaran dengan bang Saka. Maka dari itu, aku mau kamu jadi milik aku!" tegas Alan.


Sahira menggeleng perlahan, "Gak, itu gak mungkin Alan. Kamu jangan ngada-ngada deh!" ucapnya.


"Kenapa? Apa karena kita saudara? Atau karena kamu cinta sama bang Saka?" tanya Alan.


Gadis itu terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Jika ingin jujur, maka Sahira memang juga mencintai pria di hadapannya itu. Tetapi, Sahira pun perlahan-lahan sudah mulai mencintai Saka yang statusnya kini adalah kekasihnya. Lagipula, tak mungkin jika Sahira akan meninggalkan Saka begitu saja.


"Bukan begitu Alan, tapi emang kita gak mungkin bisa saling memiliki. Kamu mending lupain itu deh, dan cari perempuan lain!" ucap Sahira.


"Gimana bisa aku cari yang lain Sahira? Sedangkan yang ada di dalam pikiran aku itu cuma kamu, gak ada yang bisa menggantikan kamu di hati aku!" ucap Alan dengan tegas.


"Kamu gausah lebay, buktinya kemarin kamu bisa dekat sama dua wanita sekaligus. Kenapa sekarang kamu malah balik ke aku?" ucap Sahira.


Alan menghela nafasnya sesaat, "Ya justru itu Sahira, aku balik kesini karena aku gak bisa lupain kamu dari pikiran aku," ucapnya.


"Kenapa bisa gitu? Udah deh Alan, kamu gausah akting di depan aku! Aku tahu kamu gak mungkin jatuh cinta sama aku, mending sekarang kamu pulang sana!" ucap Sahira ketus.


"Hey Sahira! Buat apa aku bohong sama kamu? Aku emang serius cinta sama kamu dan belum bisa lupain kamu, percaya dong!" ujar Alan.


Gadis itu menggeleng cepat dan melepas paksa genggaman tangan Alan darinya, ia berbalik memalingkan wajah serta melipat kedua tangannya di depan. Alan terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu, dirinya tampak bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Sahira agar gadis itu mau percaya padanya kalau memang selama ini dia mencintainya.


"Kalau memang begitu, kamu berarti harus ikhlas melepas aku ke lelaki lain, Alan!" pinta Sahira.


Alan mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu gimana? Kenapa aku justru harus melepas kamu? Aku ini cinta sama kamu, mana bisa aku lepasin kamu gitu aja!" ujarnya heran.

__ADS_1


"Itu artinya kamu belum paham makna cinta yang sebenarnya, Alan. Sebaiknya kamu pergi dan cari tahu dulu semua tentang itu!" ucap Sahira.


"Enggak, intinya aku gak akan ikhlasin kamu sama siapapun itu, termasuk bang Saka! Kamu itu milik aku, Sahira. Dan selamanya akan terus begitu!" tegas Alan.


"Terserah kamu, tapi aku gak bisa jawab sekarang. Aku ini statusnya masih kekasih dari abang kamu, jadi kamu harus tahu diri!" ucap Sahira.


"Aku tahu diri kok, buktinya kemarin-kemarin aku gak gangguin kalian kan. Tapi, sekarang hubungan kalian itu lagi meredup dan ini kesempatan aku buat dapetin kamu seutuhnya!" ucap Alan.


"Kamu gila Alan! Gimana nasib dua perempuan yang kamu dekati itu nanti?" ujar Sahira.


"Aku gak perduli sama mereka, terutama Floryn. Dia itu sudah asyik dengan bang Saka, dan harusnya kamu percaya sama aku!" ucap Alan.


"Gimana aku bisa percaya? Kamu aja gak ada buktinya tuh," tanya Sahira.


Alan terdiam, membuat Sahira yakin kalau pria itu hanya asal bicara tanpa memiliki bukti apa-apa. Dan Sahira juga tidak ingin mempercayai ucapan Alan begitu saja, sebab ia tahu kalau Saka tidak akan mungkin berkhianat darinya. Sahira juga tahu Saka sangat mencintai dirinya, dan ia lebih percaya pada lelaki itu dibanding Alan.


"Kenapa diam? Gak ada buktinya kan? Udah deh, kalau cuma asal bicara lebih baik kamu pergi aja sana!" ketus Sahira mengusirnya.


"Okay, aku akan pergi dari sini sekarang juga. Asal kamu mau terima cinta aku dan jadi pacar aku," ucap Alan.


Deg!


Sahira sungguh bingung saat ini, apa yang diminta Alan tentunya tidak mungkin bisa ia turuti karena saat ini ia masih merupakan kekasih dari Saka yang tak lain ialah kakak dari pria itu sendiri. Namun, Alan seolah tak perduli dengan hal tersebut dan tetap memaksa Sahira.




Saka dan Floryn pun pergi dari sana untuk menanyakan mengenai Sahira kepada orang-orang di kampung itu, jujur Saka sangat panik dan tidak bisa tinggal diam begitu saja setelah tahu Sahira pergi dari tempat tersebut. Sedangkan Floryn memang sengaja ingin menemani Saka, sebab hari ini gadis itu tidak memiliki kegiatan apa-apa di hidupnya.


Keduanya terus jalan-jalan mengelilingi kampung sampai menemukan orang yang bisa mereka tanyakan mengenai keberadaan Sahira, dan ya betul saja tak butuh waktu lama akhirnya mereka berhasil bertemu dengan salah seorang warga disana yang ternyata adalah Awan serta Wati. Tentunya Saka mengenal mereka, sebab ia pernah beberapa kali bertemu dengan keduanya.


"Eee iya, kamu tuh kalau gak salah pacarnya Sahira kan? Ngapain kamu disini, terus kamu mau tanya apa sama kita? Emangnya kita pernah punya urusan ya?" heran Awan.


"Eh enggak kok, bukan gitu. Saya cegat kalian karena saya mau menanyakan soal Sahira," ucap Saka santai.


"Hah? Kenapa sama Sahira?" kaget Wati.


"Iya, jadi saya tadi ke rumahnya. Dan ternyata Sahira udah gak tinggal disana lagi, kira-kira kalian tahu gak dia pindah kemana?" tanya Saka.


"Ohh, emangnya kamu belum tahu kalau Sahira udah pindah?" ucap Awan.


Saka menggeleng sambil tersenyum, "Enggak tuh, saya malah baru tahu sekarang ini dari kamu. Makanya tadi saya kaget banget waktu ke rumah Sahira dan ternyata disana kosong," ucapnya.


"Ah iya, Sahira kan pindah kemarin lusa sama ibunya. Dadakan banget lagi," ucap Awan.


"Oh ya? Terus, kalian kira-kira ada yang tahu gak Sahira dan bu Fatimeh pindah kemana? Kalau ada, tolong kasih tahu ke saya ya!" ucap Saka.


"Waduh, saya sih gak tahu dah tuh mereka kemana. Tapi, barangkali nih pacar saya tau," ucap Awan sembari menunjuk ke arah Wati.


Sontak Wati terkejut dan membelalakkan matanya, "Eee aku juga gak tahu Sahira dimana, dia gak ada bilang apa-apa sama aku," ucapnya berbohong.


"Masa sih? Kemarin bukannya kamu abis ketemuan sama Sahira ya?" ujar Awan.


Deg!

__ADS_1


Seketika Wati panik dibuatnya, gadis itu sangat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa. Ia sebenarnya tidak ingin menyembunyikan ini dari Saka, namun semua itu ia lakukan atas perintah Sahira dan tidak mungkin ia menolaknya. Kini Wati pun sangat bingung, terlebih Saka yang terus saja mencecarnya meminta untuk diberitahu.


"Gimana Mira, apa benar kamu kemarin bertemu dengan Sahira? Kalau iya, ayolah tolong kamu kasih tahu saya dimana dia!" ucap Saka panik.


"Eee a-aku gak ketemuan sama Sahira kok, kamu salah sangka deh bang. Aku aja belum tahu Sahira ada dimana sekarang, dan kemarin itu aku sama Cat lagi usaha buat cari dia," bohong Wati.


"Oh gitu, kirain kamu udah ketemu sama Sahira. Maaf ya bang Saka, saya salah kira? Ternyata pacar saya ini gak tahu dimana Sahira," ujar Awan.


Saka mengangguk lesu, "Iya gapapa, yasudah terimakasih ya atas waktunya? Kalo gitu saya permisi dulu, have fun!" ucapnya pelan.


"Iya bang, semoga ketemu sama Sahira ya! Nanti kalau ada info, insyaallah kami akan kasih tahu kamu," ucap Awan.


"Baiklah, terimakasih!" singkat Saka.


Setelahnya, Awan dan Wati pun pergi meninggalkan Saka serta Floryn disana. Wati merasa lega karena Saka percaya pada apa yang diucapkannya tadi, dan bahkan pria itu juga tak lagi bertanya padanya mengenai Sahira. Padahal tadi Wati sudah merasa sangat panik saat Saka menanyakan perihal Sahira kepadanya.


"Huh untung aja Saka gak banyak tanya lagi!" ucap Wati bernafas lega sembari mengusap dadanya dengan santai.


"Loh kamu kenapa sayang? Kok kayaknya lega banget gitu abis lepas dari mas Saka tadi?" tanya Awan keheranan.


"Eee enggak kok gapapa," jawab Wati berbohong.


Awan manggut-manggut paham, kemudian fokus melanjutkan perjalanan mereka. Meski ada sedikit rasa ragu pada Wati dari penjelasan gadis itu tadi, akan tetapi Awan memilih diam karena tak ingin mencari masalah dengan kekasihnya yang terkadang suka berubah-ubah.




Kini Saka terlihat kebingungan dan tak tahu harus mencari Sahira kemana lagi, ia bersama Floryn masih terus menyusuri jalan kampung demi bisa menemukan gadis itu. Tampak wajah Saka yang amat lesu kali ini, pria itu berulang kali mengacak rambutnya sendiri sebagai bentuk penyesalan karena ia anggap dirinya telah gagal membuat Sahira tidak pergi dari rumah tersebut.


Floryn yang berada tepat di sebelahnya, bermaksud untuk menghibur pria itu dengan cara menaruh tangan di pundaknya. Floryn mengusap lembut pundak lelaki itu sambil tersenyum tipis, ia juga mengatakan pada Saka untuk bersabar dan meyakinkan Saka kalau mereka akan berhasil menemukan Sahira.


"Bang, udah ya jangan sedih terus! Kita kan lagi usaha buat temuin Sahira, jadi abang sebaiknya semangat aja dan gak boleh nyerah gitu! Aku yakin Sahira pasti bisa kita temukan!" ucap Floryn.


"Ya Floryn, tapi kita mau cari kemana lagi coba? Orang-orang sini aja pada gak tahu dia kemana, gimana cara kita bisa temuin dia?" ujar Saka.


"Emang sih susah, tapi aku yakin kok kalau kita bisa temuin Sahira! Udah ya abang semangat aja, aku bakal temenin abang terus kok buat cari Sahira!" ucap Floryn.


"Thanks ya Floryn! Tapi, apa kamu gak ada kegiatan lain hari ini?" tanya Saka.


Floryn menggeleng pelan, "Gak ada kok bang, makanya aku bisa kesini temenin abang. Selama ini tuh aku cuma luntang-lantung gak jelas, atau ketemuan sama Alan," jawab Floryn.


"Nah itu, kamu kenapa gak temuin Alan lagi? Apa dia masih ada di kostan gadis gak jelas itu?" tanya Saka penasaran.


"Entahlah bang, aku sampai sekarang belum berkabar sama Alan lagi. Dan aku juga gak perduli sih mau dia masih disana atau enggak, toh diantara kami kan gak ada apa-apa karena aku sama dia cuma pura-pura," ucap Floryn.


"Iya saya tahu, yaudah lebih baik kita pergi pake mobil aja. Percuma juga kita keliling-keliling disini tapi gak ada hasil, lagian Sahira kan udah gak ada di tempat ini," ucap Saka.


"Aku ngikut abang aja deh," singkat Floryn.


Saka mengangguk, kemudian berbalik bersama Floryn dan melangkah menuju mobil mereka yang terparkir di depan rumah Sahira. Namun tanpa disadari oleh mereka, rupanya ada Cat yang tak sengaja melihat keberadaan Saka serta Floryn disana. Cat pun bersembunyi dari jarak jauh dan memantau mereka, gadis itu sungguh heran melihat Saka bersama wanita lain.


"Loh itu kan Saka pacarnya Sahira, dia kok sama cewek lain sih? Siapa coba tuh cewek? Ah gue gak bisa tinggal diam nih, harus gue foto terus kirim ke Sahira!" gumam Cat lirih.


Cekrek

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2