Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 27. Wati kenapa?


__ADS_3

Alan baru kembali dari membeli surabi yang diminta oleh Fatimeh, pria itu kini turun dari mobil membawa sebungkus surabi di tangannya. Ia mulai melangkah ke dekat rumah Sahira, tapi ia sedikit kaget melihat pria yang sempat menegurnya tadi kini ada disana bersama Sahira.


Tentu saja Alan bingung, ia tidak ingin mengganggu lelaki itu saat sedang melakukan pendekatan dengan Sahira. Namun, ia juga harus memberikan surabi tersebut pada Fatimeh. Ia pun terdiam sejenak, ada juga rasa tidak senang di hatinya ketika melihat Sahira dekat dengan lelaki lain, meski ia berusaha menepisnya.


Akhirnya setelah mengumpulkan kekuatan penuh, Alan tidak ragu lagi dan langsung saja bergerak cepat menghampiri serta Yoshi di depan sana. Pria itu menyapa ketiga orang tersebut sambil tersenyum, membuat mereka bangkit dari posisi duduk menyambut kehadiran Alan.


"Eh pak Alan, udah balik? Kok bisa cepet banget sih? Surabi di depan itu terkenal rame dan enak loh, biasanya saya aja kalo beli minimal setengah jam baru dapat," heran Sahira.


"Iya Sahira, saya pake trik tadi pas beli surabi ini. Benar kata kamu, disana emang rame banget sampe sumpek gitu," jawab Alan santai.


"Hah? Trik apa pak? Boleh dong dikasih tau, biar nanti saya bisa pake juga kalau mau beli surabi ini," tanya Sahira penasaran.


"Kayaknya gausah deh, kamu tinggal bilang aja ke saya kalau kamu emang pengen beli surabi ini. Oh ya, tolong kamu kasih ini ke ibu kamu ya! Soalnya saya harus langsung pergi nih," ucap Alan.


"I-i-iya pak, sekali lagi makasih banyak ya. Maaf juga udah bikin bapak repot, ibu saya itu emang suka begitu pak," ucap Sahira.


"Gapapa, sampein juga salam saya ke ibu kamu ya? Semoga setelah ini, hubungan saya dan ibu kamu bisa semakin membaik!" ucap Alan tersenyum.


"Aamiin, terimakasih pak!" ucap Sahira.


Setelah Sahira mengambil bungkus surabi itu dari tangan Alan, tampak Yoshi masih terus menatap sinis ke arah pria di depannya. Alan pun sadar akan hal itu, oleh karenanya Alan memutuskan langsung pamit agar bisa segera pergi dari sana dan tidak membuat keributan dengan Yoshi.


"Yaudah ya, saya izin permisi. Sampai ketemu besok di kantor, okay!" ucap Alan.


"Siap pak! Tapi, beneran ini gak mau ke dalam dulu buat minum sebentar?" tawar Sahira.


"Gausah, nanti saya bisa beli di luar kok. Saya ada urusan penting banget soalnya," tolak Alan.


"Oh gitu, oke deh hati-hati aja ya pak. Titip salam buat pak Saka!" ucap Sahira.


Deg!

__ADS_1


Seketika perasaan Alan seakan teriris mendengar perkataan Sahira, pria itu seolah menebak kalau Sahira memiliki rasa pada Saka alias kakaknya. Ekspresinya saat ini pun berubah, Alan mendadak terdiam menundukkan kepala dan membuat Sahira terheran-heran melihatnya.


"Kenapa ya pak? Apa saya salah bicara? Sa-saya minta maaf deh pak kalau ada kata-kata yang menyinggung bapak," ucap Sahira panik.


"Gak kok, nanti saya sampaikan sama pak Saka salam dari kamu ya?" ucap Alan sambil tersenyum.


"Ah iya pak, makasih. Mari pak, saya antar sampai ke mobil!" ucap Sahira menawarkan diri.


"Eh gausah, udah kamu disini aja temani teman-teman kamu itu. Saya bisa kok jalan ke mobil sendiri," tolak Alan.


"Umm, iya deh saya ngikut apa kata bapak aja. Hati-hati ya pak bawa mobilnya!" ucap Sahira.


Alan mengangguk pelan disertai senyuman tipis, ia kini sudah berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Sahira menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.




Sontak Wati berhenti, lalu menoleh ke arah Awan. Ia bertanya dan ternyata Awan memintanya untuk mampir sejenak ke warungnya, tentu saja Wati menurut sebab ia juga butuh istirahat setelah lelah berkeliling menjajakan bunga yang ia jual. Ya selain bekerja di cafe, Wati juga mengambil part time dengan berjualan bunga.


Wati langsung duduk di warung Awan, dengan baiknya Awan menyediakan minuman untuk gadis itu meski tak diminta. Sangking hausnya, Wati berhasil menghabiskan segelas minuman yang cukup banyak itu hanya dengan sekali tenggak. Sampai-sampai Awan pun terperangah melihat apa yang dilakukan sohibnya barusan.


"Mir, kamu haus apa doyan sih? Minumnya pelan-pelan aja kali, sampe basah tuh baju kamu. Nih deh pake tisu biar gak bikin mata cowok jadi kemana-mana nanti," ujar Awan.


"Hehe, maaf om. Saya emang haus," ucap Wati sambil nyengir.


"Gak masalah. Oh ya, kamu kenapa masih dagang bunga aja sih? Emang gaji kamu di toko roti gak cukup apa buat kehidupan sehari-hari?" tanya Awan penasaran.


"Cukup sih cukup om, tapi aku kan ada kebutuhan yang lain juga. Kalau ngandelin dari gaji toko roti aja, Minggu depan bisa mudik aku," jawab Wati.


"Hahaha, kamu tuh lucu juga ya? Omong-omong, udah lah jangan panggil saya om terus! Saya rasanya jadi mau transfer," sarkas Awan.

__ADS_1


"Ih om bisa aja, tapi gapapa sih kalo emang om mau transfer aku. Dengan senang hati rekening aku siap menerima uang om," ucap Wati.


"Gak gak, saya bercanda doang. Tapi yang soal jangan panggil saya om, itu beneran. Kamu kan bisa panggil yang lain selain om, lagian saya masih muda tau," ucap Awan.


"Iya deh iya, aku gak panggil om lagi. Aku panggil bang Awan aja," ucap Wati.


"Nah, begitu lebih baik." Awan tersenyum puas mendengar panggilan barunya.


"Jadi ada apa nih bang Awan panggil aku? Mau borong bunga dagangan aku ya?" tanya Wati.


"Yeh bangkrut dong saya nanti, bukan itu Mira. Saya panggil kamu karena saya lihat kamu ngelamun terus tadi pas jalan," jawab Awan.


"Ohh kirain," lirih Wati tampak kecewa.


"Kok malah sedih gitu sih? Jawab dong pertanyaan saya, kamu kenapa ngelamun pas di jalan tadi?!" ucap Awan.


"Eee gapapa kok om, eh maksudnya bang," bohong Wati.


"Jujur aja kali, siapa tahu saya bisa bantu. Kamu lagi ada masalah apa Mir?" ujar Awan.


"Ya sebenarnya aku emang lagi mikirin sesuatu yang menurut aku bikin pusing sih, tapi kayaknya untuk cerita ke kamu itu gak bisa deh," ucap Wati.


"Loh kenapa? Emang masalahnya apa Mir? Cerita dong sama saya!" heran Awan.


Wati justru menunduk dan diam, Awan yang melihatnya pun dibuat bingung dan juga penasaran. Namun, Awan tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu wanita itu untuk bercerita lebih dulu, sebab ia juga tak mempunyai hak untuk mengetahui masalah orang lain apabila orang itu tidak mau menceritakannya.


"Maaf ya bang, aku gak bisa cerita. Udah ya aku mau pergi dulu?" Wati pamit dan bangkit dari duduknya.


"Eh eh Mir, bentar Mira!" Awan berusaha menahan gadis itu, tetapi langkahnya terlalu lambat sehingga Wati sudah lebih dulu menggowes sepedanya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2