Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 23. Membeli perhiasan


__ADS_3

Sahira mengernyit heran, "Umm, bapak kesambet atau apa sih sebenarnya? Kok mendadak sikap bapak ke saya jadi berubah gini?" ujarnya.


"Maksud kamu apa Sahira? Kamu ngatain saya gitu?" ucap Alan tak terima.


"Gak gitu pak, saya cuma heran aja sama perubahan sikap bapak yang drastis ini. Kemarin-kemarin kan bapak galak sama saya, tapi sekarang bapak malah mau antar saya pulang," ucap Sahira.


"Memangnya gak boleh ya kalau saya berubah? Setiap orang itu kan juga berhak untuk jadi lebih baik dari sebelumnya," ucap Alan.


"I-i-iya sih, saya juga gak bilang gak boleh pak. Tapi, kayaknya saya mau pulang sendiri aja deh pak," ucap Sahira.


"Kenapa sih? Giliran bang Saka yang minta, kamu mau-mau aja tuh. Terus kenapa pas sama saya kamu malah gak mau?" ucap Alan.


"Maaf pak, tapi saya—"


"Kamu suka sama bang Saka, iya?" sela Alan.


Sahira terbelalak mendengar ucapan Alan, bisa-bisanya pria itu berkata demikian padanya. Sedangkan Alan sendiri hanya terdiam menatapnya seperti menanti jawaban darinya.


"Bapak bicara apa sih? Mana mungkin saya suka sama pak Alan?" elak Sahira.


"Terus apa? Kok kamu mau-mau aja kalau diajak pulang bareng sama dia? Tapi giliran sama saya, kamu malah gak mau," tanya Alan.


"Eee saya..."


"Sahira pulangnya sama gue!" ucapan Sahira terhenti saat Saka tiba-tiba muncul dan berjalan mendekati mereka.


Sontak Sahira semakin dibuat bingung, kini ada dua pria yang tengah memperebutkan untuk mengantar dirinya pulang. Sahira heran mengapa ini bisa terjadi padanya, ia sama sekali tak menyangka kalau ia akan dihadapkan pada situasi yang begitu membingungkan untuknya.


"Wih ini dia orangnya datang, gue sekarang jadi tau bang kenapa selama ini lu selalu bela Sahira dan gak mau dia tersakiti. Lu suka kan sama cewek ini?" ucap Alan dengan santai.


"Lu ngomong apa sih Alan? Gue sama Sahira gak ada hubungan apa-apa, dan gue juga gak punya rasa sama dia. Tolong lah lu jangan mikir yang enggak-enggak!" ucap Saka.


"Masih aja ngelak lu bang, padahal udah ketahuan banget dari sikap lu yang selalu baik sama Sahira. Udah sih ngaku aja sekarang, mumpung di depan lu juga ada Sahira nih!" ucap Alan.


"Bisa gak lu berhenti bilang yang gak bener kayak gitu? Gue gak suka sama Sahira," ujar Saka.


"Iya iya, kalo gitu sekarang biarin gue aja yang antar Sahira pulang ya? Katanya kan lu gak suka sama dia, jadi biarin gue yang antar dia!" ucap Alan.


"Maksudnya gimana? Berarti lu suka gitu sama Sahira, makanya lu mau antar dia?" tanya Saka.


Kali ini giliran Alan yang dibuat kagok, "Bukan begitu maksud gue, lu masa kayak gitu aja gak paham sih? Udah lah, ayo Sahira kita pulang sekarang!" elaknya.


"Enggak pak, saya mau pulang sendiri aja. Maaf ya pak, tapi saya gak pengen ngerepotin bapak atau pak Saka lagi," tolak Sahira.


"Loh jangan dong Sahira! Kali ini aja deh saya antar kamu, besok-besok enggak. Kamu mau kan?" bujuk Alan.


"Kalau Sahira gak mau, gausah dipaksa!" cibir Saka.


"Lo diem deh bang! Lo pikir gue gak tahu, lu juga suka maksa Sahira kan buat pulang bareng lu?!" sentak Alan.


"Dih apa sih? Sejak kapan gue paksa Sahira? Dia mah emang selalu mau sendiri kali," elak Saka.


"Halah gue gak percaya, lu kan tukang pemaksa bang!" ujar Alan.


Sahira memanfaatkan kesempatan saat dua pria itu sedang berdebat, ia melangkah ke arah lain dan pergi meninggalkan mereka begitu saja. Alan yang sadar, sontak berteriak lalu mencoba mengejar Sahira diikuti oleh Saka dari belakang.


"Eh Sahira, tunggu! Ah gara-gara lu sih nih bang!" ujar Alan yang langsung berlari mengejar Sahira.




Saat Sahira hendak menuruni tangga, Alan berhasil mencekal lengannya lebih dulu dan membuat Sahira terpaksa menghentikan langkahnya. Gadis itu pun menoleh, menatap Alan dengan heran dan sedikit kesal. Sedangkan pria itu tampak tersenyum seolah meminta Sahira untuk ikut bersamanya.


"Sahira, kamu pulangnya sama saya ya? Kali ini aja deh, lain kali mah enggak deh. Kamu mau kan Sahira?" bujuk Alan.


"Bapak ini kenapa sih? Saya heran kenapa bapak pengen banget antar saya pulang? Apa ada sesuatu yang bikin bapak tertarik dari kampung tempat saya tinggal?" tanya Sahira.


"Iya jelas, kamu yang bikin saya tertarik Sahira. Kamu itu ibaratnya seperti kembang di desa tersebut, makanya saya tertarik," jawab Alan.

__ADS_1


Sahira terkejut bukan main, "Apa pak? Bapak serius ngomong begitu tentang saya? Kok bisa sih bapak tertarik sama saya? Ah pasti bapak bercanda doang kan?" ujarnya.


"Udah lah Sahira, itu gak perlu dibahas lagi. Sekarang ayo kamu ikut saya dan kita pulang ke rumah kamu!" ajak Alan.


"Sa-saya..."


"Ayolah Sahira! Saya janji deh akan naikin gaji kamu, kalau kamu mau diantar sama saya!" sela Alan.


"Hah? Sampe segitunya pak? Yakin nih gak nyesel naikin gaji saya?" tanya Sahira.


"Kenapa saya harus nyesel? Toh kerja kamu juga bagus di kantor ini, jadi wajar aja kalau gaji kamu saya naikin," jawab Alan.


"Pak Alan ini udah banyak berubah ya? Sekarang bapak udah mau akuin kalau kinerja saya bagus, padahal sebelumnya gak ada tuh," ujar Sahira.


"Ya iyalah, saya mah orangnya bicara berdasarkan fakta. Kalau emang kamu bagus, ya pasti saya bilang bagus dong," ucap Alan.


"Halah, buktinya waktu itu bapak malah bilang kalau kerja saya jelek," sindir Sahira.


"Karena memang jelek, tapi bukan berarti kamu gak bisa jadi bagus kan? Sudah, ayo kita pulang biar kamu bisa cepat istirahat!" ucap Alan.


"Kenapa bapak jadi perhatian banget sama saya? Sampai suruh saya cepat istirahat segala," heran Sahira.


"Emangnya kenapa sih? Saya gak boleh suruh kamu istirahat gitu?" ujar Alan.


Sahira menggeleng pelan, "Udah deh pak, saya mau pulang ini. Bapak juga pulang gih sana! Pasti bapak capek kan abis kerja?" ucapnya.


Alan tersenyum sembari melangkah mendekati Sahira, gadis itu pun tampak memalingkan wajahnya dan menahan diri disaat jantungnya sudah berdetak cukup kencang. Entah kenapa Sahira merasa gugup ketika Alan berjalan semakin dekat ke arahnya.


"Pak, bapak mau apa sih? Jangan macam-macam ya pak atau saya teriak nih!" ucap Sahira.


"Kamu gausah ge'er, saya gak mau ngapa-ngapain kok. Saya cuma pengen ajak kamu pulang bareng, dan kamu gak boleh nolak keinginan saya Sahira!" ucap Alan dingin.


"Kok bapak maksa sih? Saya kan udah bilang gak mau, kenap—"


Sahira tidak bisa melanjutkan ucapannya, sebab Alan sudah menaruh satu jarinya tepat di depan bibir gadis itu. Sontak Sahira menganggukkan kepala agar Alan puas dan mau melepas jarinya dari sana.




"Cat, sebentar dong jangan pulang dulu! Gue pengen ngomong sama lu berdua," pinta Yoshi.


"Ngomong apa lagi sih Yos? Gue dah capek nih mau balik, lu emangnya gak capek juga apa?" protes Cat.


"Sebentar aja Cat, please ya!" bujuk Yoshi.


"Hadeh, yaudah iya deh. Kita bicaranya di warung bang Awan aja ya? Biar gak pegel gue berdiri terus disini," usul Cat.


"Yah jangan lah! Awan itu saingan gue, masa gue ngobrol di warung dia sih? Nanti yang ada dia bisa dengar obrolan gue sama lu," ucap Yoshi.


"Emang lu mau ngomongin soal apa? Terus maksud lu, bang Awan saingan lu dalam hal apa coba?" tanya Cat.


"Ya apa lagi kalau bukan tentang Sahira? Lu kan tau gue suka sama dia," jawab Yoshi.


"Ohh, emangnya bang Awan suka juga sama Sahira ya? Kok bisa lu anggap dia sebagai saingan lu?" tanya Cat penasaran.


"Iyalah Cat, kalau enggak ngapain gue bilang dia saingan?" jawab Yoshi kesal.


"Yaudah, yuk kita ke warung dekat sini aja, gausah ke warung bang Awan! Ingat loh, lu traktir gue ya nanti di warung!" ucap Cat.


"Banyak maunya ya lu?" kesal Yoshi.


"Ih wajarlah kan lu udah ganggu waktu gue, harusnya gue udah pulang dan rebahan di rumah, eh ini malah harus temenin lu. Jadi, sebagai gantinya lu traktir gue lah!" ucap Cat.


"Oke deh, ayo buruan kita cari warung di dekat sini! Gue harus buru-buru ke rumah Sahira juga, sebelum keduluan sama si Awan," ucap Yoshi.


Cat hanya mengangguk pelan, ia dan pria itu pun pergi dari sana mencari warung makan yang terdekat untuk mengobrol berdua. Mereka akhirnya menemukan warung itu dan memilih masuk lalu duduk berdua disana, Cat memesan beberapa makanan serta minuman yang ia inginkan.


"Mas, saya mau roti bakar satu, kue pancong satu sama gorengannya ya? Terus minumannya es cappucino," ucap Cat pada si pelayan.

__ADS_1


"Baik mbak, ditunggu ya?" ucap pelayan itu.


Yoshi menatap bingung ke wajah gadis di sebelahnya, "Lo apa-apaan sih? Kok mesennya banyak banget? Lo emang habis makan sebanyak itu?" ujarnya.


"Biarin aja, namanya ditraktir ya harus pesan sesuka gue dong. Lo gak terima kalau gue pesan banyak? Gak punya uang ya lu?" kekeh Cat.


"Sialan lu! Bisa-bisanya ngerendahin gue, yaudah terserah lu aja deh. Intinya sekarang gue minta lu kasih tau gue apa kesukaan Sahira! Gue mau bikin Sahira terpikat sama gue," ucap Yoshi.


"Kesukaan Sahira? Eee banyak sih ya, bermacam-macam juga," ucap Cat tersenyum.


"Oh ya? Bagus dong, terus apa aja yang dia suka? Mungkin gue bisa beliin salah satunya," ujar Yoshi.


"Yah elah, masa cuma salah satu? Semuanya dong Yos, biar si Sahira tuh punya alasan buat terima lu jadi pacar dia!" ucap Cat.


"Ya tergantung, semuanya itu berapa banyak. Terus, yang dia sukai tuh apa aja?" ucap Yoshi.


"Gampang, Sahira itu paling suka bakso bom yang ada di deket terminal," jawab Cat.


Yoshi melotot kaget, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Cat. Namun, ia sedikit lega sebab salah satu makanan kesukaan Sahira tidak terlalu mahal dan pas di kantongnya.


"Terus terus, apa lagi?" tanya Yoshi.


"Sushi, steak, burger, pizza, ayam bakar, ramen.."


Cat terus mengatakan semua yang disukai Sahira, sampai-sampai Yoshi hanya bisa melongok disana.




Tanpa diduga, Alan membawa Sahira ke sebuah toko mas di dekat kantornya. Tentu saja gadis itu merasa heran dengan apa yang dilakukan Alan, ia bingung mengapa Alan mengajaknya kesana. Ada sedikit rasa berharap kalau Alan akan membelikan mas untuknya, tapi ia segera menepis jauh-jauh pikiran itu karena menurutnya tidak mungkin terjadi.


"Pak, kita ngapain kesini? Bapak mau beli perhiasan buat siapa? Pacar bapak atau keluarga bapak?" tanya Sahira penasaran.


"Kita lihat aja kesana dulu," ucap Alan dingin yang langsung berjalan ke arah etalase toko itu, Sahira pun mengikutinya dari belakang.


Alan menemui penjaga toko disana dan meminta beberapa contoh gelang serta kalung emas, sedangkan Sahira hanya menunggu di belakang sambil terus berpikir untuk apa sebenarnya Alan membeli perhiasan itu.


"Sahira, kenapa kamu malah disitu aja? Sini maju, pilih mana yang kamu suka!" ujar Alan.


"Hah? Maksudnya? Bapak mau beliin saya gelang sana kalung emas gitu? Gausah pak, saya mah gak pantas pake gituan," ujar Sahira.


"Kamu gausah ge'er, ini bukan buat kamu. Saya cuma minta tolong sama kamu buat bantu pilih mana yang paling bagus!" ucap Alan.


"Ohh, saya kirain bapak mau beliin saya perhiasan," ucap Sahira merasa malu.


"Itu dia, kamu tuh ge'er nya kebangetan. Ngapain juga saya beliin kamu perhiasan? Kamu kan bukan siapa-siapa saya," ucap Alan.


"Hehe, iya pak iya.." Sahira tersenyum renyah untuk menutupi rasa malunya.


"Yasudah, kamu bantu pilih ya? Tapi kalau kamu juga mau, silahkan aja dipilih biar nanti saya yang belikan!" ucap Alan.


"Ah enggak deh pak, saya gak enak. Biar saya bantu pilihin aja ya pak?" ucap Sahira.


Sahira pun bergerak maju dan memilih gelang serta kalung disana, sedangkan Alan terdiam menatap Sahira dari samping. Pria itu seolah tertarik pada gadis di sebelahnya, bahkan sesaat kemudian senyum mengembang di pipinya yang menandakan ketertarikan ia pada Sahira.


"Aih, saya ini kenapa? Saya kan mau bujuk Nawal buat balikan sama saya, harusnya saya gak berpikir begitu soal Sahira. Lagipun, Sahira itu cuma sekretaris saya, dia gak pantas untuk saya!" batin Alan coba menghilangkan pikirannya.


"Nah, yang ini kayaknya cocok deh pak. Bentuknya bagus, terus indah gitu. Menurut bapak gimana?" ucap Sahira menunjuk satu kalung.


"Benar pak, ini memang yang paling bagus diantara yang lainnya. Sangat cocok dipakai oleh siapapun, apalagi calon istri bapak. Saya rasa dia akan suka," ucap si pelayan toko.


"Baiklah, saya pilih yang ini aja. Sama gelangnya juga sekalian ya mbak? Soalnya pacar saya suka sekali pakai gelang," ucap Alan.


"Baik pak!" singkat pelayan itu.


Sahira menunduk dan memundurkan langkahnya, entah mengapa ia merasa sedikit sakit hati saat mendengar Alan menyebut kata pacar di depannya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2