
Seorang karyawan wanita di kantor Saka yang bernama Silvia terlihat memasuki ruangan HRD dan menemui sang manager disana. Gadis itu terduduk di kursi berhadapan dengan pria berusia sekitar tiga puluhan tahun itu, Silvi sungguh gugup ketika ditatap dingin oleh sang manager di depannya. Apalagi ia tahu kalau kontrak kerjanya sekarang sudah akan berakhir.
Seperti biasa setiap karyawan pasti akan dipanggil menemui manager untuk membahas mengenai kontrak kerja mereka, dan kali ini giliran Silvia lah yang berhadapan dengan managernya itu. Meski sudah berulang kali bertemu, tetapi entah kenapa Silvia masih saja merasa gugup saat dihadapkan pada situasi seperti ini.
"Umm pak, saya harus gimana sekarang supaya kontrak saya bisa diperpanjang? Jujur saya butuh pekerjaan ini pak, saya gak mungkin bisa kehilangan posisi saya yang sekarang," ucap Silvia.
Sang manager yang biasa dipanggil pak Budi itu tersenyum seringai seraya memajukan tubuhnya dengan dua tangan ditaruh di meja, "Mudah saja, saya yakin kamu pasti tahu apa yang saya minta kan Silvi?" ucapnya pelan.
Gleekk
Silvia menelan saliva nya susah payah setelah mendengar ucapan pria itu, "I-i-iya pak, malam ini atau kapan?" tanyanya.
"Kalau bisa sih malam ini, soalnya saya ada jadwal besok," jawab Budi.
"Oh baik pak, yang penting saya bisa tetap terus bekerja di perusahaan ini. Karena saya sudah merasa nyaman disini pak," ucap Silvia.
"Bagus, saya akan segera urus semuanya. Asalkan kamu mau melakukan permulaan kali ini," ucap Budi disertai senyum penuh hasrat.
"Maksud bapak apa?" tanya Silvia tak mengerti.
"Ya kamu kayak gak tahu aja, lakuin dulu pakai mulut kamu sekarang!" jawab Budi seraya membuka resleting celananya.
"Hah?" Silvia melongok lebar saat Budi langsung melepas celananya tepat di hadapannya, pria itu juga bangkit dari tempat duduk dan memberi kode pada Silvia untuk mendekat.
"Ayo puaskan saya, Silvia!" pinta Budi yang sudah sangat bergairah.
Akhirnya Silvia mau tidak mau terpaksa melakukan apa yang diminta oleh Budi, meskipun ia sangat ragu dan jijik untuk melakukan itu. Silvia pun mendekat, lalu berlutut di hadapan Budi untuk melakukan tugasnya. Seketika Budi mengerang saat tangan serta mulut Silvia mulai memainkan miliknya yang sudah mengeras disana.
Beberapa menit berlalu, Silvia keluar dari ruangan Budi dengan keadaan yang sedikit berantakan. Ia coba memperbaiki pakaian serta rambutnya akibat ulah Budi tadi, tampak juga ia sesekali mengusap rahangnya yang terasa pegal karena permainan singkat tadi. Silvia pun berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Namun, tanpa sengaja Silvia justru berpapasan dengan Saka serta Sahira yang berjalan di dekat sana. Sontak saja Silvia tampak panik, gadis itu berusaha menutupi bekas permainan ia tadi dengan Budi dari hadapan kedua atasannya itu. Tentu Silvia tak ingin semua perbuatannya diketahui oleh Saka, maupun Sahira.
"Loh Silvi, kamu abis ngapain?" tanya Saka dengan wajah heran.
"Hah? Eee..." Silvia terlihat bingung dan berusaha menutupi wajahnya agar tidak dicurigai oleh bosnya itu.
"Kenapa kamu gugup gitu? Kamu habis ketemu sama pak Budi?" tanya Saka lagi.
"Ah iya pak, barusan pak Budi panggil saya katanya ada keperluan. Tapi, sekarang semuanya udah selesai kok pak," jawab Silvia.
"Ohh, yasudah kebetulan saya juga mau bertemu dengan pak Budi. Kalo gitu kamu bisa kembali bekerja sekarang," ucap Saka.
"Baik pak!" ucap Silvia dengan tegas.
Tentu saja Silvia memanfaatkan momen itu untuk pergi dari sana dengan tergesa-gesa, Silvia sangat tidak ingin jika Saka dan Sahira tahu mengenai apa yang baru saja ia lakukan dengan Budi di dalam ruangan HRD. Namun, tampak jelas kalau Saka masih menaruh curiga pada Silvia dan terus menatap ke arahnya.
"Silvia kok sikapnya aneh gitu ya, mas?" ucap Sahira pada kekasihnya.
Saka menggeleng pelan, "Gak tahu deh, udah yuk kita ke ruangan pak Budi!" ucapnya.
Sahira pun mengangguk menyetujui perkataan kekasihnya, lalu mereka berdua sama-sama melangkah menuju ruangan HRD untuk menemui pak Budi. Saka mengetuk pintu dengan perlahan sembari meminta masuk, sontak saja Budi memberi izin karena dia tahu yang ada di luar adalah bosnya.
Ceklek
Begitu pintu dibuka, Saka melihat Budi sudah berdiri di hadapannya sambil sedikit membungkuk seolah memberi hormat. Saka tersenyum saja melihatnya, lalu mengajak mereka semua duduk di kursi agar perbincangan bisa lebih nyaman. Ketiganya pun duduk berdampingan di sofa yang tersedia, tentunya dengan santai.
"Eee ada apa ya pak, tumben banget pak Saka datang ke ruangan saya?" tanya Budi.
"Seperti biasa, saya mau minta berkas-berkas karyawan kita yang baru. Kamu masih menyimpan semuanya kan?" jawab Saka.
"Oh iya pak, tentu saya masih menyimpannya. Sebentar ya pak biar saya ambilkan?" ucap Budi.
__ADS_1
"Ya silahkan!" Saka mengangguk pelan membiarkan Budi pergi mengambil berkas yang ia minta.
•
•
Disisi lain, Alan berniat mengajak Carol makan siang bersamanya. Mereka pun memasuki lift untuk menuruni lantai menuju lobi, lagi-lagi Alan kembali teringat pada Sahira saat pertama kali ia melangkahkan kakinya ke dalam lift tersebut. Sungguh Alan memang cukup sulit melupakan gadis itu, apalagi ia sempat memiliki momen bersama Sahira ketika berada di lift.
Melihat Alan yang tampak bersedih sembari mengamati sekitar, tentu Carol dibuat bingung dan keheranan tak mengerti. Gadis itu pun memandangi wajah Alan dari samping tempatnya berdiri sambil sedikit mendongak, ya memang tinggi mereka cukup jauh karena Carol hanya sampai sepundak Alan.
"Lan, kamu kenapa bengong aja kayak gitu? Terus kelihatannya kamu juga lagi sedih, ada apa sih?" tanya Carol penasaran.
Alan pun terkejut mendengar pertanyaan Carol barusan, ia tersadar dari lamunannya dan beralih menatap wajah Carol. "Eh, eee saya gapapa kok. Saya cuma keinget sama seseorang," ucapnya.
"Seseorang? Siapa?" tanya Carol lagi sembari mengernyitkan dahinya.
"Ada deh, dia dulu orang yang spesial untuk saya. Dia pernah mengisi hati saya, bahkan mungkin sampai sekarang juga masih. Ya saya sulit sekali melupakan dia," jawab Alan.
"Yah sedih banget deh jadi kamu, yang sabar ya Alan! Aku yakin kamu pasti bisa lupain dia dan menemukan sosok wanita yang lebih baik dari dia! Contohnya Floryn, dia itu kan cantik terus baik banget," ucap Carol sambil tersenyum.
Alan terkekeh mendengarnya, "Hahaha, ada-ada aja kamu ah. Masa iya saya disuruh sama Floryn? Dia itu cuma sahabat saya," ucapnya.
"Yakin kamu gak mau lebih ke dia? Kalian itu cocok loh, mending kalian jadian aja!" ucap Carol.
"Apa sih Carol? Kalau gitu, kenapa saya gak sama kamu aja?" goda Alan.
"Hah??" Carol terbelalak lebar disertai mulut yang menganga, seolah tak percaya dengan apa yang baru dikatakan pria itu.
"Ahaha, santai aja kali gausah tegang gitu! Saya cuma bercanda," kekeh Alan.
"Haish, kamu mah bikin aku panik aja. Ya tapi emang gak mungkin sih kalau itu beneran, toh kita kan berbeda," ucap Carol.
Ting
Akhirnya pintu lift terbuka, tanpa basa-basi lagi Alan langsung menggandeng tangan Carol dan membawa gadis itu keluar. Carol hanya terdiam membisu tak dapat mencerna apa yang terjadi, dia benar-benar gugup dan tak percaya dengan apa yang dilakukan pria itu padanya saat ini.
"Lan, ka-kamu ngapain sih gandeng tangan aku terus? Lepasin dong, gak enak dilihat sama orang-orang tau!" ucap Carol panik.
"Kamu itu kenapa sih Carol? Saya cuma gandeng tangan kamu loh, apa salahnya?" heran Alan.
"Ya jelas salah dong Alan, aku gak mau ada karyawan kamu yang salah paham sama kita. Aku minta kamu lepasin aku sekarang, please ya!" ucap Carol memohon.
"Kamu diam aja, nanti begitu sampai di resto baru saya bakal lepasin kamu. Ini biar cepat aja, abisnya kamu jalannya lelet banget sih!" ucap Alan.
"Ish, sialan ya kamu! Mana ada aku lelet? Aku tuh jalannya cepet tau, udah deh kamu gausah alasan bilang aja kamu mau modus pegang-pegang tangan aku kan!" sentak Carol.
Alan terkekeh dibuatnya, "Oh ya? Kepedean banget sih kamu Carol!" ujarnya.
"Bukan gitu, tapi emang semuanya sesuai kenyataan. Kamu aja yang gak mau ngaku, ya kan?" ucap Carol.
Alan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Udah lah Carol, kamu gausah bahas yang kayak gitu terus ya!" ucapnya.
"Iya iya, omong-omong kita mau makan dimana sih? Kenapa pake keluar kantor segala?" tanya Carol penasaran.
"Eee saya mau ajak kamu makan di luar, kalau disini tuh menunya bosenin," jawab Alan.
"Ohh, parah ih kamu masa kantor sendiri dibilang bosenin!" kekeh Carol.
"Hahaha.." Alan tertawa lebar begitu juga dengan Carol, mereka lalu sama-sama bergerak menuju mobil yang terparkir di luar.
Namun, langkah mereka terhenti lantaran Nawal kembali muncul di hadapan mereka. Kali ini gadis itu tampak tersenyum lebar sembari membawa kotak makan di tangannya, Nawal terlihat mencegat mereka seolah tak membiarkan Alan serta Carol untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Hai Alan! Mau kemana sih kamu buru-buru amat? Nih aku udah bawain makan siang buat kamu, makan dulu yuk!" ucap Nawal.
"Kamu lagi kamu lagi, beneran ya kamu itu bikin saya emosi terus! Kamu tuh mau apa sih Nawal? Gak bosan-bosan apa kamu begini terus, ha?" geram Alan.
"Hahaha, kenapa kamu marah begitu Alan? Apa karena aku udah ganggu kamu sama pacar baru kamu ini, iya?" ujar Nawal.
"Cukup Nawal! Saya sudah gak bisa menahan diri lagi sama kamu, sekarang kamu pergi atau saya akan minta satpam buat usir kamu!" tegas Alan.
Nawal menggeleng disertai senyuman, "Kamu gak bisa usir aku, Alan. Asalkan kamu tahu, aku udah pegang rahasia kamu soal wanita yang kamu bawa ke rumah saat itu. Dia bukan pacar kamu kan? Dia cuma pacar pura-pura kamu," ucapnya.
Deg!
Alan melotot tajam mendengar perkataan Nawal, ia sungguh heran mengapa Nawal bisa mengetahui semuanya secepat itu. Sedangkan Nawal hanya tersenyum sendiri dengan dua tangan terlipat di depan, membuat Alan yang melihatnya semakin geram dan ingin segera mengusirnya paksa.
•
•
Saka serta Sahira juga telah tiba di salah satu restoran untuk menikmati makan siang bersama, mereka duduk berhadapan dengan makanan yang sudah tersedia di meja. Meski begitu, namun Sahira masih memikirkan perkataan ibunya yang meminta ia untuk menjauh dari Saka demi kebaikan hidupnya.
Entah mengapa Sahira merasa bimbang saat ini, ia tak tahu harus melakukan apa dan bingung perkataan siapakah yang harus ia turuti. Sebenarnya Sahira sangat ingin menuruti kemauan ibunya, tetapi ia juga cukup sulit untuk bisa menjauh dari Saka, pria yang selama ini baik padanya dan selalu membantunya.
"Sahira, kamu kenapa diam aja begitu? Kamu gak suka ya ngobrol sama saya?" tanya Saka dengan wajah bingung dan heran.
"Bukan gitu mas, aku cuma mau makan dengan nikmat. Kalau kita sambil ngobrol, kata ibu tuh nanti makanannya gak bakal jadi daging. Maaf ya mas?" jawab Sahira pelan.
"Ohh, ya iya sih benar juga. Kalo gitu saya gak akan ajak kamu ngobrol lagi deh, kamu abisin aja dulu makanannya ya sayang!" ucap Saka tersenyum.
"Makasih mas, tapi kalau kamu mau ngobrol ya silahkan aja! Aku bakal dengerin kok, dan mungkin juga akan jawab secukupnya," ucap Sahira.
"It's okay, paling saya cuma mau bahas soal rencana pertunangan kita. Kira-kira kamu siap gak kalau saya adakan acara ini besok malam?" ucap Saka memberi usul.
Deg!
Sahira tersentak kaget, seketika makanan di dalam mulutnya berhenti ia kunyah. Matanya menatap ke wajah Saka dengan lebar, sedangkan Saka malah tersenyum penuh harapan dan menanti jawaban dari gadisnya itu. Sahira pun benar-benar bingung saat ini, tidak mungkin tentunya ia bertunangan dengan Saka yang merupakan saudaranya.
"Umm, kamu serius mau ajak aku tunangan mas? Apa kamu gak akan nyesel?" tanya Sahira gugup.
"What? Apa kata kamu? Nyesel? Yang bener aja sayang, masa iya saya nyesel sih tunangan sama kamu?" ujar Saka.
"Ya kan bisa aja, nanti kamu berubah pikiran dan nyesel karena udah tunangan sama aku. Biasanya cowok-cowok kan pada begitu," ucap Sahira.
"Saya gak gitu sayang, saya malahan gak sabar banget buat nikahin kamu. Andai aja kamu mau, pasti saya bakal langsung adain pesta pernikahan kita deh," ucap Saka antusias.
"Hadeh, kamu itu benar-benar deh ya. Tapi maaf mas, kalau besok malam aku gak bisa. Mungkin kapan waktu aja deh," ucap Sahira.
"Yah kenapa gitu sayang?" tanya Saka kecewa.
"Aku gak siap kalau mendadak begini, semuanya kan butuh waktu mas," jawab Sahira.
"Saya bisa urus semuanya kok, kamu tinggal terima jadi aja. Mau ya sayang?" bujuk Saka seraya meraih satu tangan gadisnya dan menciumnya.
"Maaf mas, aku tetap gak bisa. Aku harus diskusiin ini dulu ke ibu di rumah," ucap Sahira.
"Oh gitu, ya oke deh gapapa. Saya izinin kamu buat bicara dulu sama ibu kamu, saya tunggu ya sampai kamu dapat jawabannya?" ucap Saka.
Sahira manggut-manggut perlahan, lalu menarik tangannya dari genggaman Saka. Sontak pria itu terlihat kebingungan dibuatnya, tapi Sahira tak perduli dan malah melanjutkan makannya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1