
Alan masih berada di ruangan Sahira sejak ia mengantar gadis itu kesana tadi, Alan tak mau beranjak dari sana dan malah ikut duduk dengan Sahira sehingga membuat sang wanita merasa gugup berduaan dengan bosnya itu. Alan sangat senang karena ia bisa menikmati momen berdua bersama Sahira yang selalu ia inginkan.
Sahira pun tak leluasa bekerja dengan nyaman sebab kehadiran Alan disana, ia tidak bisa fokus dan gelagapan sendiri saat Alan tak berhenti menatap wajahnya. Jantung Sahira bahkan sudah berdetak lebih kencang dari biasanya, selalu saja ia seperti ini jika berada di dalam ruangan yang sama dan hanya berdua dengan Alan.
"Kamu kok malah diam sih Sahira? Ayo dong dilanjut kerjanya! Kamu gak lupa kan siang nanti kita ada meeting?" ujar Alan.
"Iya pak, saya ingat kok. Tapi, saya sulit bekerja kalau bapak terus ada disini dan ngeliatin saya melulu. Saya kan jadi gak bisa fokus pak," ucap Sahira gugup.
"Oh ya? Apa salahnya kalau saya ngeliatin kamu sih Sahira? Orang saya suka kok," ucap Alan.
Glek
Sahira menelan saliva nya dengan susah payah saat mendengar perkataan Alan barusan, lagi-lagi ia dibuat bingung dengan maksud dari ucapan Alan tentang kata suka. Namun, Sahira coba menetralkan dirinya untuk tidak terlalu berharap bahwa Alan menyukai ia sebagai kekasih.
"Sa-saya gak bisa fokus pak, tolong dong bapak berhenti tatap saya begitu!" pinta Sahira.
"Kamu berani perintah saya Sahira? Disini saya yang bos, kamu itu cuma bawahan saya. Kamu dong yang harusnya nurut sama saya! Apa dunia sudah terbalik ya?" ucap Alan.
"Enggak pak, belum kok. Saya lagian bukan nyuruh bapak kok, saya cuma minta bapak buat gak ngeliatin saya terus," ucap Sahira.
"Terserah saya dong, mata juga mata saya. Mau saya ngeliatin kamu kek atau apapun itu, suka-suka saya lah!" ujar Alan.
"Tapi saya juga punya hak buat larang siapapun supaya enggak tatap saya terus kayak gitu pak, karena kan ini wajah saya. Kalau saya merasa risih, boleh dong saya larang bapak buat tatap saya?" ucap Sahira dengan berani.
Alan langsung menegakkan posisi duduknya dan memberi sorot tajam ke arah Sahira, seketika nyali Sahira kembali ciut mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.
"Sejak dekat dengan bang Saka, kamu jadi makin berani ya sama saya Sahira?" ucap Alan.
"Hah? Gak pak, saya gak berani kok sama bapak," elak Sahira.
"Terus barusan itu apa? Kamu berani menentang saya loh Sahira secara terang-terangan!" ujar Alan.
"Tadi itu saya cuma menyampaikan pendapat saya, apa tidak boleh pak? Lagipun, saya memang punya hak kan untuk melarang bapak menatap wajah saya secara terus-menerus? Kalau bapak gak mau nurut, nanti bapak juga yang rugi," ujar Sahira.
"Saya gak akan rugi Sahira, lihat wajah cantik kamu itu sangat-sangat menyenangkan. Jadi, saya pasti akan selalu untung," ucap Alan tersenyum lebar.
"Haish, susah banget ya bicara sama bapak ini? Terus gimana caranya saya kerja pak?" ucap Sahira.
"Kamu kerja ya kerja aja, gausah perdulikan saya yang ada disini. Kalau gak bisa, berarti kamu gak profesional Sahira!" ucap Alan.
"Lah kok jadi gitu? Saya profesional, tapi saya susah buat fokus kalau ditatap terus sama bapak. Sekarang saya cuma minta bapak buat berhenti tatap saya," ucap Sahira.
"Saya gak bisa Sahira, wajah kamu itu terlalu indah untuk disia-siakan," ucap Alan tersenyum.
Sahira menggeleng sembari memegangi dahinya, ia kembali mencoba fokus untuk bekerja dengan Alan yang masih terus menatap wajahnya.
•
•
Disisi lain, Saka masih berada di dalam mobil bersama Nawal. Ia melirik ke arah gadis yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya, lalu ia menegur gadis itu dan mencolek bahunya. Sontak Nawal terkejut dan menatap wajah pria di sebelahnya dengan bingung.
"Ada apa ya kak?" tanya Nawal keheranan.
"Saya cuma mau bicara sama kamu, abisnya kamu daritadi diam aja sih gak ngomong apa-apa. Kamu malah fokus sama hp kamu," jawab Saka.
"Hehe, iya maaf kak soalnya aku gak tahu harus ngobrolin apa sama kamu," ucap Nawal.
"Gapapa, biar saya yang buka obrolan. Saya itu mau minta bantuan dari kamu, kira-kira kamu bisa apa enggak bantu saya?" ucap Saka.
"Ohh, ya tergantung. Kamu minta dibantu apa nih? Kalau misal aku bisa bantu, pasti aku bantu kok kak," ucap Nawal.
"Saya pengen kamu terus deketin Alan, supaya tuh anak gak gatel lagi sama sekretarisnya," ujar Saka.
"Hah? Emang selama ini Alan suka sama sekretaris dia sendiri ya kak? Kok aku baru tahu sekarang dari kamu dah?" tanya Nawal terkejut.
"Ya Nawal, dia kelihatannya suka sama sekretaris barunya yang namanya Sahira itu," jawab Saka.
"Oh yang tadi datang ke ruangan Alan bareng sama kamu itu ya kak?" tanya Nawal memastikan.
__ADS_1
Saka mengangguk, "Benar Nawal, dia yang namanya Sahira dan dia sekretaris Alan yang sepertinya menarik perhatian Alan," jawabnya.
"Ih pantas aja Alan gak mau baikan lagi sama aku, ternyata gara-gara dia udah suka sama cewek lain yang sekretarisnya sendiri," kesal Nawal.
"Maybe, makanya kamu gak boleh nyerah dan kamu harus deketin dia terus!" ucap Saka.
"Kayaknya gak bisa deh kak, soalnya aku kan udah dijodohin sama laki-laki lain. Gak mungkin dong aku deketin Alan lagi?" ucap Nawal.
"Loh terus kenapa kamu tadi datang dan temuin Alan lagi? Bukannya kamu pengen minta balikan sama dia?" tanya Saka.
"Gak kok, aku cuma mau minta maaf aja sama Alan supaya dia gak marah lagi," jawab Nawal.
"Oalah gitu toh, pantas aja kamu gak mau saya suruh deketin Alan lagi. Emangnya yang dijodohin sama kamu itu siapa sih? Dia lebih ganteng dan kaya dari Alan?" ujar Saka.
Nawal tersenyum malu mendengar pertanyaan Saka, ia reflek menunduk dan ragu untuk menjawabnya.
"Gak tahu deh kak aku bingung," lirih Nawal.
"Kalau emang dia lebih ganteng dan kaya dari Alan sih gapapa kamu pilih dia, tapi kalau malah kurang dari Alan ya kamu rugi dong. Mending kamu balikan aja sama Alan, ya kan? Toh yang kamu cintai itu Alan kan?" usul Saka.
"Aku emang cinta sama Alan, kak. Aku juga gak mau pisah dari dia sebenarnya, tapi ini semua kan udah kemauan orang tua aku. Kalau aku tolak, nanti aku dosa dong kak?" ucap Nawal.
"Kamu coba bicara lagi sama orang tua kamu, siapa tahu mereka berubah pikiran!" ujar Saka.
"Aku udah sempat coba kak, tapi mereka gak mau dengar dan tetap aja kekeuh buat jodohin aku sama laki-laki lain," ucap Nawal.
"Gimana kalau saya yang temui orang tua kamu dan jelasin ke mereka siapa Alan pacar kamu itu?" ucap Saka memberi ide.
Nawal terdiam sesaat, berpikir keras apakah ia harus menyetujui usul Saka atau tidak.
•
•
Yoshi dan Cat kini telah resmi menyandang status sebagai sepasang kekasih, Cat akhirnya mau menerima tawaran Yoshi untuk menjadi pacarnya. Meski, awalnya Cat ragu sebab ia takut Yoshi hanya akan mempermainkannya. Namun, Cat merasa yakin setelah Yoshi berusaha meyakinkan dirinya kalau dia memang menyayangi gadis itu.
"Yos, thanks banget ya lu udah mau bikin gue senang? Gue benar-benar gak nyangka deh kalau gue bisa kayak gini sekarang," ujar Cat.
"Kamu gausah lebay begitu, namanya pacar ya hal kayak gini wajar dong. Apalagi kita baru jadian, jadi aku mau bikin kamu bahagia di hari pertama kita menjalin hubungan sayang," ucap Yoshi.
Cat sedikit terkejut mendengarnya, "Lo serius tuh panggil gue sayang?" tanyanya memastikan.
"Iya dong, kita kan udah pacaran. Kamu juga harus ubah cara bicara kamu, jangan pake kata lu-gue lagi! Gak romantis dong didengarnya," ucap Yoshi.
"Hehe, gue udah terbiasa sih. Gue belum biasa ngomong pake aku-kamu kayak lu gitu," ujar Cat.
"Untuk sekarang gak masalah, tapi aku mau kamu biasakan pakai aku-kamu ya mulai sekarang? Biar lebih kelihatan romantis gitu," ucap Yoshi.
"Iya deh Yos, gue bakal usahain mulai sekarang. Ya tapi kalau gue belum terbiasa nanti, lu jangan marah ya!" ucap Cat.
"Santai aja, aku gak bakal bisa marah sama kamu. Oh ya, kita mau kemana dulu nih sekarang?" ucap Yoshi sambil tersenyum.
"Umm, ke pasar malam itu enaknya main games dulu sih biar asyik," usul Cat.
"Boleh tuh, kebetulan aku jago dan udah khatam sama semua permainan di pasar malam ini. Nanti kamu lihat ya sejago apa aku?" ujar Yoshi.
"Okay, berarti kamu harus bisa dapetin boneka besar yang disana itu ya buat aku? Katanya kamu jago kan?" pinta Cat.
Yoshi langsung beralih menatap boneka besar yang ditunjuk oleh Cat, disana terdapat tempat bermain yang mengharuskan sang pemain menjatuhkan kaleng-kaleng yang disusun dengan bola kecil yang diberikan.
"Oh permainan itu, kecil itu mah. Sambil merem juga aku bisa kok menang," ucap Yoshi pede.
"Dih sombong banget sih kamu!" cibir Cat.
"Hahaha, yuk ah kita kesana langsung sebelum ramai!" ujar Yoshi.
Cat mengangguk setuju, mereka pun berjalan ke arah tempat bermain tersebut dengan penuh riang. Cat sudah tidak sabar ingin mendapatkan boneka besar yang digantung disana itu.
"Pak, saya mau main ya? Bisa dapat boneka itu kan?" ujar Yoshi pada si pedagang.
__ADS_1
"Iya mas, bisa kok. Ini ada tiga bola ya, kalau berhasil baru masnya boleh bawa pulang boneka itu," ucap si penjual.
Yoshi pun menyerahkan selembar uang pada si penjual, lalu ia mulai mengarahkan bola kecil di tangannya ke tempat kaleng-kaleng itu berada. Sedangkan Cat terus menyemangati kekasihnya agar berhasil memenangkan permainan itu.
•
•
Sahira baru hendak keluar ruangannya setelah membereskan barang-barang miliknya, hari sudah malam dan ia baru akan pulang sebab ia harus mengerjakan cukup banyak pekerjaan penting di hari ini yang tentunya atas perintah dari Alan dan mau tidak mau Sahira pun melakukannya.
Disaat ia melangkah ke luar dari ruangan, tanpa diduga Alan sudah menunggunya di depan sana dan membuat Sahira sangat kaget. Hampir saja tas di tangannya itu jatuh ke lantai jika ia tidak cekatan memegangnya, sedangkan Alan terkekeh saja melihat ekspresi kaget di wajah gadis itu.
"Hahaha, kamu kenapa kaget gitu sih ngeliat saya Sahira? Kamu kira saya ini setan? Dengar ya, di kantor saya itu tidak ada yang namanya setan Sahira," ucap Alan.
"I-i-iya pak, maaf. Saya tuh cuma kaget karena gak nyangka aja ada pak Alan disitu," ucap Sahira.
"Oalah, kalo gitu kita pulang yuk! Udah sepi juga nih kantor," ajak Alan.
"Jelas sepi lah pak, orang udah malam begini. Lagian bapak sih pake kasih saya kerjaan banyak banget tadi," keluh Sahira.
"Yeh itu bukan kemauan saya Sahira, tapi emang udah dari sananya begitu," ucap Alan.
"Iya iya, terus kenapa bapak belum pulang? Bapak kan bos harusnya bapak bisa pulang sesuka hati bapak dong?" tanya Sahira.
"Ya saya gak mungkin tinggalin kamu gitu aja lah Sahira, saya mau tunggu kamu supaya kita bisa pulang bareng," jawab Alan.
"Biar apa sih pak?" tanya Sahira keheranan.
"Udah gausah banyak tanya, ayo buruan kita pulang sebelum hantu penunggu bangunan ini datang!" ucap Alan.
"Hah? Ih tadi katanya disini gak ada hantu, kenapa bapak bilang begitu sih?" kesal Sahira.
"Hahaha, kamu takut banget sih Sahira. Saya cuma bercanda barusan, ayolah gausah takut begitu! Lagian kan ada saya disini yang bakal jagain kamu," ucap Alan terkekeh.
Pria itu mendekat dan merengkuh pinggang Sahira, sang empu hanya diam karena tak berani menentang bosnya lagi seperti tadi.
"Yuk kita langsung naik lift! Takutnya kalau kemalaman, nanti liftnya mati," ucap Alan.
"Kita turun lewat tangga aja ya pak? Saya gak berani naik lift malam-malam," ucap Sahira.
"Kamu masih trauma Sahira? Belum hilang juga sampai sekarang?" tanya Alan.
Sahira menggeleng, "Gimana bisa hilang pak? Setiap hari aja saya selalu ketakutan, trauma itu muncul terus di kepala saya. Saya juga bingung harus gimana lagi," jawabnya.
"Tenang aja, selagi ada saya kamu gak bakal kenapa-napa kok!" ucap Alan menenangkan.
Sahira pun tersenyum dan mengangguk kecil.
"Yaudah, kamu jangan takut lagi ya! Saya akan bantu kamu menghilangkan rasa trauma itu dari tubuh kamu, supaya kamu gak takut naik lift lagi!" ucap Alan.
"Makasih pak," singkat Sahira.
Setelahnya, mereka langsung berjalan menuju lift di lantai itu. Alan menekan tombol dan tak lama pintu lift terbuka, tanpa berlama-lama mereka masuk ke dalam sana dengan tangan Alan yang masih melingkar di pinggang gadis itu.
"Pak, kok perasaan saya gak enak ya? Saya lebih takut dari biasanya nih," ujar Sahira.
"Gausah takut, ada saya disini!" ucap Alan sambil mengusap rambut gadis di sebelahnya.
Sahira mengangguk saja sembari berusaha menenangkan diri, meskipun suasana hatinya sangat cemas terutama setelah pintu lift tertutup.
Benar saja, tak lama kemudian lampu di dalam lift mati dan membuat Sahira sangat ketakutan. Gadis itu pun berteriak panik sehingga tak sadar bahwa ia memeluk erat tubuh Alan.
"Pak, gimana ini pak? Saya takut banget pak, saya gak mau kejadian dulu terulang lagi!" ujar Sahira.
Alan pun juga tak tahu harus berbuat apa, ia sama emasnya dengan apa yang Sahira rasakan sehingga ia sangat bingung saat ini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1