Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 136. Tenangin diri


__ADS_3

Melihat Fatimeh dan Sahira pergi, Syera yang masih syok berusaha mengejar mereka juga. Namun, tiba-tiba Alan menahan tangannya dan mencegah mamanya itu untuk pergi. Syera menatap wajah Alan, tampak pria itu berkaca-kaca menahan sedihnya setelah tahu kalau Syera bukanlah ibu kandungnya.


"Ma, tolong jangan pergi! Aku masih belum percaya kalau mama ini bukan mama kandung aku, mama jelasin semuanya dulu sama aku!" ucap Alan.


"Sayang, mama minta maaf ya sama kamu? Selama ini mama terpaksa menyembunyikan semuanya dari kalian, supaya kamu gak sedih kalau tahu semua ini," ucap Syera terisak.


"Tapi ma, kenapa harus begitu? Padahal aku sudah anggap mama seperti mama kandung aku loh selama ini," ucap Alan.


Syera benar-benar tidak bisa menahan air matanya, ia menangis saat itu juga dan tak kuasa menahan kesedihannya. Bahkan Saka pun turut prihatin melihat itu, tak ada yang menyangka kalau hari ini semuanya harus terbongkar dengan begitu cepat mengenai masa lalu mereka.


"Maafin mama ya sayang? Mama harap, kamu gak akan benci sama mama setelah ini!" ucap Syera.


"Iya Lan, biar gimanapun mama yang udah rawat kita dari kecil. Meskipun gue juga sempat gak mau akuin mama Syera itu mama gue," sahut Saka.


"Ohh, jadi ini alasan lu selalu ketus sama mama ya bang?" tanya Alan memastikan.


Saka menjawab dengan anggukan kecil, lalu tanpa diduga Alan pergi begitu saja menuju mobilnya dan meninggalkan mereka berdua disana. Sontak Syera tampak panik, ia berusaha mengejar pria itu dan menahannya agar tidak pergi, tetapi Alan tak mau mendengar dan malah masuk ke mobilnya serta langsung menyalakan mesin.


"Alan, kamu mau kemana sayang? Jangan pergi, jangan tinggalin mama! Mama nyesel udah bohongin kamu, maafin mama!" rengek Syera.


"Ma, udah ma jangan! Biarin aja Alan pergi, mungkin dia mau tenangin dirinya! Mama sabar ya!" ucap Saka menghalangi.


"Tapi sayang, mama khawatir Alan kenapa-napa kalau dia pergi dalam keadaan emosi! Kita harus kejar dia sayang!" ucap Syera panik.


"Iya ma, tapi mama tenang dulu ya! Aku yakin Alan akan baik-baik saja, dia gak bakal kenapa-napa. Mama percaya sama aku, Alan pasti bisa jaga dirimu sendiri!" ucap Saka.


Akhirnya Syera menuruti perkataan putranya itu, meski di dalam hatinya ia masih merasa khawatir pada Alan saat ini. Terlebih mobil Alan sudah melaju cukup kencang meninggalkan rumah itu, membuat Syera makin was-was dan cemas pada Alan yang berada di dalam mobil tersebut.


"Saka, kira-kira Alan mau kemana ya? Dia bawa mobilnya ngebut begitu," ucap Syera cemas.


"Entahlah ma, mungkin aja dia pengen cari tempat untuk menyendiri. Kita biarin aja dia buat tenangin diri dulu ma, jangan dikejar ya!" ucap Saka santai.


Syera manggut-manggut perlahan mengikuti permintaan putranya, sedangkan Saka merangkul pundaknya bermaksud menenangkan wanita itu agar tidak terlalu panik. Barulah Saka juga mengajak mamanya masuk ke dalam rumah untuk membuatnya lebih tenang, meski Syera masih saja menangis karena memikirkan Alan.


"Ma, udah ya ma? Mama jangan nangis terus! Nanti kalau papa curiga gimana? Emang mama bisa jelasin ke papa semuanya?" bujuk Saka.


"Jelasin apa maksudnya, Saka?" tiba-tiba saja yang sedang mereka bicarakan malah muncul di hadapan mereka dan terlihat kebingungan.


Sontak baik Syera maupun Saka sama-sama terkejut dibuatnya, mereka tak menyangka jika Alfian akan muncul dan mendengar apa yang dibicarakan Saka. Maka Syera pun terlihat panik dan tak tahu harus menjelaskan apa, ia khawatir suaminya itu akan marah padanya nanti.


"Papa??" Saka tersentak kaget, kemudian ia memalingkan wajahnya karena kebingungan.


"Kalian tadi lagi pada bicarain soal apa? Kok papa dengar, kamu sebut-sebut papa tadi? Coba kamu jelasin ke papa sekarang, Saka!" pinta Alfian.


"Umm ki-kita..." Saka terlihat bingung dan tak tahu harus apa.


"Mas, mendingan kita masuk aja dulu yuk! Floryn masih ada di dalam kan? Gak enak lah kita kalau tinggalin dia sendiri gitu aja, apalagi Alan barusan pergi tuh gak tahu kemana," sela Syera.


"Hah? Kok bisa Alan pergi gitu aja tinggalin pacarnya disini? Berarti bener dong ucapan Floryn di dalam tadi," ucap Alfian geleng-geleng.


"Maksud mas?" tanya Syera penasaran.


"Iya, aku sempat tanya ke Floryn soal hubungan mereka. Dan ternyata Floryn ngaku ke aku kalau dia sama Alan cuma pura-pura pacaran, ya supaya Alan gak dijodohin sama Nawal," jelas Alfian.


"Apa? Kok bisa sih mereka tega bohongin kita kayak gitu, mas?" kaget Syera.


"Tuh kan, berarti si Alan selama ini gak punya pacar. Lagian mama sih percaya aja sama dia, udah tahu dia tukang bohong," ucap Saka.

__ADS_1


"Ya itu dia, papa juga kecewa sama Alan!" geram Alfian.


Lalu, Floryn pun muncul dari dalam rumah dengan wajah menunduk dan ketakutan. Tubuhnya bahkan gemetar mencoba melawan rasa takutnya, terlebih ia harus menemui kedua orang tua Alan yang telah ia bohongi itu untuk berpamitan. Kini gadis itu benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi.


"Permisi om, tante!" ucap Floryn lirih yang membuat ketiga orang itu menoleh ke arahnya.


"Eh Floryn, maaf ya gara-gara ada masalah tadi jadinya kita malah tinggalin kamu gitu aja? Ini kamu kenapa keluar? Emangnya kamu mau kemana cantik?" ucap Syera ramah.


"Umm, aku mau permisi tante. Ini udah malam, kayaknya aku gak enak kalau lama-lama disini. Makanya aku pengen pulang," jawab Floryn.


"Yah kok pulang? Alan aja belum kembali loh, siapa dong nanti yang antar kamu? Kamu tunggu aja disini sampai Alan datang ya!" ucap Syera.


Floryn menggeleng pelan, "Enggak deh tante, takutnya kelamaan kalau nungguin Alan. Lagian aku udah pesan taksi, aku bisa pulang sendiri kok tante," ucapnya menolak.


"Oh gitu, yaudah deh tante gak maksa. Tapi, kamu hati-hati ya cantik!" ucap Syera.


"Iya tante, kalo gitu saya permisi? Assalamualaikum," ucap Floryn pamit.


"Waalaikumsallam," jawab mereka bersamaan.


Setelahnya, Floryn pun melangkah pergi dengan perlahan meninggalkan rumah itu. Jujur saja Floryn merasa tidak enak hati pada kedua orang tua Alan, ia sangat menyesal telah mengajak Alan bekerjasama untuk membohongi Alfian dan Syera dalam rangka menghindari perjodohan pria itu.


Sementara Saka kini menghampiri mamanya dan sedikit berbisik, "Ma, aku susul Floryn ya? Aku mau bicara sebentar sama dia," ucapnya lirih.


Syera mengangguk perlahan, "Okay, sekalian aja kamu antar dia pake mobil kamu ya!" ucapnya.


"Iya ma," singkat Saka yang langsung berlalu pergi dengan mobilnya, tentu setelah pamit juga pada papanya disana.


Akhirnya Syera hanya tinggal berdua dengan suaminya, tampak Alfian terus menatap ke arahnya seolah menaruh curiga. Alfian yakin sekali bahwa ada yang tengah disembunyikan oleh istrinya itu darinya saat ini, dan ia ingin tahu apa rahasia Syera yang membuat wanita itu ketakutan.




Tanpa berpikir panjang, ia langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu kamar kost itu sembari memanggil nama Carol. Kebetulan suasana disana sedang sepi, sehingga Alan bisa tenang datang kesana dan berbicara berdua dengan Carol. Tak seperti ketika ia pertama kali datang, karena saat itu ada banyak teman Carol yang menggodanya.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum, Carol bisa kamu buka pintunya? Kamu ada di dalam kan? Ini saya Alan, teman kamu yang paling tampan!" ucap Alan dengan lantang.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki disertai balasan dari dalam kamar itu. Ya tentunya itu adalah Carol, sebab Alan dapat mengenal betul suara tersebut. Setelahnya, Carol langsung membuka pintu dan syok melihat keberadaan Alan di depan matanya.


Ceklek


"Hah Alan??" gadis itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, ia tak menyangka kalau Alan akan datang ke kamar kostnya disaat ia hanya mengenakan celana pendek.


"Kamu kenapa gak bilang dulu kalau mau kesini?" tanya Carol yang kini berusaha menutupi bagian bawahnya.


Alan tersenyum melihat tingkah gadis itu, "Santai aja, saya kesini gak pengen ganggu kamu kok! Saya cuma mau cari hiburan, karena saya lagi ada masalah nih," jawabnya lirih.


"Hiburan? Malam-malam begini? Dengar ya Alan, gak enak tau kalau dilihat sama teman kost aku nantinya! Masa iya ada cowok datang kesini malam-malam lagi?" ucap Carol cemas.


"Eee ya gapapa kali, kan saya cuma mau ngobrol sama kamu. Lagian saya pengennya ajak kamu bicara di luar kok bukan disini," ucap Alan santai.


"Oh gitu, tapi ini udah malam, Lan. A-aku gak biasa pergi selarut ini, dan aku juga udah ngantuk banget sih. Kamu mending cari aja orang lain gitu, misal Floryn," ucap Carol gugup.


"Yah berarti kamu gak mau nih nemenin saya? Parah banget sih kamu, teman macam apa itu?" ucap Alan kecewa.

__ADS_1


"Gak gitu Alan, aku cuma malas aja kalau harus pergi-pergian malam begini. Lagian kamu gak bilang dulu sih sama aku sebelum datang kesini," ucap Carol.


Alan tersenyum dan melangkah mendekati gadis itu sembari menarik dagunya, "Yaudah, saya bicaranya di dalam aja gimana? Biar kamu gausah repot-repot keluar, ya kan?" ucapnya santai.


"Hah? Ih gak boleh lah, nanti malah jadi salah paham tau!" ucap Carol.


"Loh kenapa? Ini kost bebas kan? Berarti gak ada salahnya kalau saya masuk ke dalam kamar kamu, sebentar aja kok," ucap Alan.


"I-i-iya sih, tapi kan..."


"Udah jangan banyak tapi tapi! Saya lagi butuh banget kehadiran kamu tau, saya tuh gak tahu harus ke siapa lagi saat ini!" sela Alan.


"Umm.." Carol benar-benar dibuat gugup, tapi sesaat kemudian Alan langsung menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu tanpa aba-aba terlebih dahulu.


Bahkan, Alan juga menutup dan mengunci pintu kamar itu dari dalam. Barulah ia mengajak Carol duduk disana berdua dengannya, yang membuat Carol hanya pasrah menurut tanpa melakukan pemberontakan apapun itu, karena menurutnya itu sia-sia saja sebab tenaganya kalah kuat.


"Lan, kamu kok nekat banget sih? Aku beneran loh gak bisa temenin kamu, ini sudah malam dan aku harus tidur. Kamu mending pulang deh, gak enak dilihat orang lain nanti!" ucap Carol panik.


Alan mendekat dan mendekap tubuh Carol sembari menarik dagunya, "Kamu kayaknya gak senang banget saya datang kesini, ada apa sih hm?" ucapnya dingin.


"Ih gak gitu Lan, aku suka kamu disini. Ya tapi jangan malam-malam begini, minimal besok pagi atau siang lah gitu!" ucap Carol mengelak.


"Saya butuh kamu sekarang, bukan besok. Kamu cukup dengarkan cerita saya aja disini, udah gitu aja! Masa kamu gak mau sih, Carol?" ucap Alan membujuknya.


"Ya tapi aku—"


"Udah gausah mikirin tetangga kost kamu atau yang punya kost, saya tadi sudah bicara sama mereka dan mereka gak keberatan kok kalau saya menginap disini," sela Alan mempererat dekapannya.


"Apa? Menginap??" tentu saja Carol terkejut, matanya membulat lebar dan berusaha melepaskan diri dari dekapan lelaki itu.


Namun, tenaga Alan yang kuat membuat Carol tidak bisa semudah itu lepas darinya. Alan justru tersenyum dan membawa tubuh Carol ke atas pangkuannya, tak lupa pria itu juga bersandar pada dinding dekat kasur itu sambil terus mendekap tubuh Carol yang tampak tidak bisa diam.


"Ish, Alan lepasin aku please! Aku gak bisa kayak gini nih, ini gak bener tau! Minimal kamu biarin aku lah buat ganti celana, aku beneran deh gak enak sama kamu!" ucap Carol.


"Gausah, saya suka kok kamu kayak gini. Kamu kelihatan lebih seksi tau," goda Alan.


Deg!


Jantung Carol langsung berdetak kencang mendengar ucapan sensual Alan di telinganya, terlebih tangan-tangan pria itu sudah bergerak mengusap tubuhnya dari atas sampai bawah disertai hembusan nafasnya yang terasa jelas pada kulit lehernya.


"Saya itu lagi ada masalah sama keluarga saya, itu makanya saya kesini dan temuin kamu. Kamu mau kan jadi tempat curhat saya?" ucap Alan.


"I-i-iya Lan, aku mau kok. Kamu gak perlu sungkan buat cerita sama aku, pasti aku bakal dengerin semua keluhan kamu kok!" ucap Carol.


"Bagus deh, beruntung banget saya punya sekretaris serba bisa seperti kamu!" puji Alan.


"Eee emangnya kamu ada masalah apa sih sama keluarga kamu? Terus apa mereka itu udah pada tahu kalau kamu kesini?" tanya Carol.


"Jelas enggak lah, saya sengaja kabur tanpa kasih tahu mereka. Soalnya saya mau tenangin diri, dan yang saya tahu ya saya cuma bisa tenang saat lagi sama kamu, Carol!" jawab Alan santai.


"Duh, kamu bisa aja deh Lan! Omong-omong bisa gak sih kamu jangan peluk aku terus begini? Jujur aku risih, Lan!" ucap Carol masih berontak.


"Udah diam aja! Mending begini atau mau saya tindih nih di kasur?" geram Alan seolah mengancam gadis di dekapannya itu.


"Hah??" tentu saja Carol terkejut dibuatnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2