Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 141. Pindah?


__ADS_3

Barang-barang milik Sahira yang diangkut menggunakan mobil telah sampai di rumah baru gadis itu. Ya tentu Sahira serta Bayu berjalan keluar rumah untuk memeriksanya, dan benar saja bahwa mobil itu merupakan mobil yang mengangkut barang-barang miliknya.


Tanpa berlama-lama lagi, orang bayaran Fatimeh yang ada di mobil tersebut langsung mengangkut satu persatu barang itu dari atas mobil dan memindahkannya ke dalam rumah. Tentunya Bayu yang memang dimintai pertolongan oleh Fatimeh, turut membantu orang-orang itu saat ini.


"Bay, hati-hati ya! Jangan sampe pinggang lu encok gara-gara angkat tuh barang!" ucap Sahira.


"Hahaha, siap Sahira! Gue gak mungkin lah kayak gitu, gue ini kan kuat. Lu tahu kan gue dulunya tuh rajin olahraga dan sering ikut event nasional gitu," ucap Bayu menyombongkan diri.


Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Iya deh iya, terserah lu aja. Yang penting lu bawa yang bener tuh barang, awas jatuh!" ucapnya mengingatkan.


"Siap bos!" ucap Bayu lantang.


Gadis itu terkekeh dibuatnya, lalu Bayu dan beberapa orang itu mulai berjalan masuk ke dalam rumah dengan membawa barang-barang milik Sahira. Sedangkan Sahira sendiri tetap menunggu di depan sambil memandangi mereka, sampai kemudian sebuah motor datang ke arahnya dan sang pengendara berteriak memanggilnya.


"Sahira!!" ya yang datang itu dan berteriak adalah Cat bersama Wati, mereka berboncengan motor kesana menemui sohib mereka.


Sontak Sahira terkejut bukan main melihat keberadaan sahabatnya disana, "Cat? Wati? Kalian kok bisa ada disini? Siapa yang kasih tahu kalian?" ujarnya tak percaya.


Cat menghentikan motornya dan memarkir tepat di depan rumah Sahira, lalu gadis itu beserta Wati sama-sama turun dan menemui Sahira. Mereka terlihat sangat bersedih, bahkan sampai menarik tangan Sahira dan mencecarnya dengan pertanyaan disertai tangisan kesedihan.


"Huhuhu, Sahira lu kenapa tinggalin kita sih? Kok lu pindah rumah gak bilang dulu sama kita sih?" tanya Cat diiringi isak tangis.


"Eee so-sorry ya guys, gue emang gak sempat buat bilang sama kalian soal ini. Ya soalnya tadi tuh gue sama ibu pindah kesini buru-buru banget, jadi gue belum sempat temuin kalian deh," jawab Sahira.


"Ih lu parah banget sih Sahira! Tega lu sama kita! Lu gak tahu apa kalau kita tuh panik banget pas tahu lu pindah dari kampung itu?" ucap Wati.


"Iya ih, jahat lu Ra!" sahut Cat.


"Kalian apa-apaan sih? Gausah lebay gini deh, iya iya gue minta maaf ya sama kalian! Udah dong jangan pada nangis kayak gini, gue jadi ngerasa bersalah tau!" ucap Sahira.


"Hehe, kita terlalu lebay ya? Abis gimana lagi, kita tuh beneran gak bisa jauh-jauh dari lu tau!" ucap Cat.


"Ah bisa aja lu, Cat. Omong-omong, kalian pada tau darimana kalau gue pindah kesini? Perasaan gue belum pernah kasih tau ke kalian deh soal kepindahan gue ini," tanya Sahira penasaran.


"Umm, tadi kita ikutin mobil ini. Soalnya kita pengen tahu lu pindah kemana," jawab Cat.


"Oalah, pantes. Terus kalian ini kesini emangnya pada gak kerja apa?" tanya Sahira lagi.


Cat dan Wati kompak tersenyum, "Enggak, kita libur demi nyusulin lu kesini," jawab mereka bersamaan.


"Hah serius? Ih ya ampun, harusnya kalian jangan kayak gini lah! Apa kalian gak mau punya uang?" ucap Sahira merasa bersalah.


"Gapapa kali, uang mah bisa dicari. Tapi, sohib kayak lu susah buat ditemuin," ucap Cat.


"Betul tuh, lagian gue sekarang udah mau nikah sama bang Awan. Jadinya gue tinggal nyantai di rumah deh," timpal Wati.


"Apa??" Sahira tersentak kaget saat itu juga.


Sahira benar-benar tak menyangka kalau ternyata sahabatnya itu sudah akan menikah dengan seseorang yang tidak lain adalah Awan, padahal selama ini Sahira mengira kalau diantara mereka hanyalah bersahabat. Namun, nyatanya justru mereka akan melangsungkan pernikahan.


"Serius lu mau nikah sama bang Awan? Kok lu baru bilang sekarang sih?" tanya Sahira terkejut.


"Hehe, iya Sahira serius dong. Makanya nanti lu datang ya ke acara pernikahan gue sama bang Awan, jangan sampai gak datang!" jawab Wati.


"Iya Wati, insyaallah aku bakal datang. Congrats ya buat hubungan kalian!" ucap Sahira.


"Thank you, btw ibu lu mana Ra? Perasaan daritadi yang kelihatan cuma cowok-cowok ini," ucap Wati celingak-celinguk mencari Fatimeh.


"Ohh, ibu ada di dalam kok. Kalian mau ketemu sama ibu?" ucap Sahira.

__ADS_1


Cat dan Wati mengangguk bersamaan, "Boleh Ra, tapi ganggu gak nih?" ucap Wati.


Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Enggak kok, tapi tunggu bentar ya sampai semua barangnya selesai dibawa ke dalam!" ucapnya.


"Oh okay," Wati dan Cat menurut saja.


Lalu, Bayu yang sebelumnya membantu membawa barang-barang itu kembali datang menghampiri ketiga gadis tersebut dan menyapa Sahira seraya berdiri di dekatnya. Sontak hal itu membuat Cat serta Wati terkejut bukan main, mereka belum pernah melihat pria itu sebelumnya.


"Hai Sahira!" sapa Bayu dengan senyuman.




Disaat Alan berbalik dan hendak masuk ke kamar kost Carol, dengan cepat Saka menahannya dan menarik kaos adiknya itu dari belakang. Sontak Alan ikut terpancing, akhirnya pria itu melayangkan pukulan keras ke arah wajah sang kakak yang tanpa bisa dihindari olehnya.


Bugghhh..


"Akh sial!" Saka mengumpat pelan sembari memegangi wajahnya yang terluka.


Floryn pun bergerak mendekat karena khawatir pada pria itu, "Bang, abang gapapa?" tanyanya.


"Gue baik-baik aja," jawab Saka singkat.


"Ohh, sekarang lu sama Floryn udah dekat ya bang? Terus lu mau kemanain si Sahira, hm? Lu pengen berkhianat dari dia? Kurang ajar banget sih lu, bang! Gue udah kasih kesempatan lu buat milikin dia, eh lu malah kayak gini!" ucap Alan.


"Lo jangan asal bicara! Gue gak pernah khianati Sahira!" elak Saka.


"Oh ya? Terus ini apa? Lu aja datang berdua sama Floryn kesini, itu menandakan kedekatan kalian," ucap Alan.


"Alan, kamu jangan salah paham kayak gitu! Aku sama abang kamu gak ada apa-apa kok, tadi kita emang pergi bareng buat cari kamu. Dan kebetulan waktu kamu telpon aku, itu aku lagi sama abang kamu," ucap Floryn menyela.


"Maksud kamu?" tanya Floryn tak mengerti.


"Semuanya udah jelas, aku muak sama kamu Flo! Sekarang juga kalian berdua pergi dari sini, aku gak mau lihat muka kalian ada di depan aku lagi!" sentak Alan begitu emosi.


Floryn mendekati pria itu dengan mata berkaca-kaca, "Apa ini tandanya kamu udah benci sama aku dan gak mau ketemu aku lagi?" ujarnya.


"Ya itu kamu tahu, buat apa juga aku ketemu sama orang kayak kamu? Lagian sekarang aku udah punya Carol, jadi aku gak butuh kamu lagi Flo!" ucap Alan dengan tegas.


"Alan cukup! Lu jangan bicara hal-hal yang bikin Floryn sakit hati! Jaga kata-kata lu!" tegur Saka.


Alan menoleh ke arah Saka dan memberikan senyum seringainya, "Sekarang lu belain dia? Hebat lu bang, kasihan gue sama Sahira karena punya pacar tukang selingkuh kayak lu!" ucapnya meledek.


Tentu saja Saka tak terima dengan perkataan yang dilontarkan adiknya itu, karena sebenarnya Saka memang tidak selingkuh dari Sahira seperti yang dituduhkan Alan padanya. Saka pun berniat maju mendekati Alan disana, namun Floryn justru mencegahnya dan menggelengkan kepala sebagai isyarat agar ia tidak terpancing emosi.


Saka yang sudah semakin tersulut, mencoba menetralkan nafasnya agar segala emosi yang ada di tubuhnya hilang. Benar memang yang dikatakan Floryn, tidak elok rasanya jika Saka harus berkelahi dengan adiknya sendiri disana. Apalagi ini merupakan tempat orang dan pertikaian mereka akan membuat semua orang terusik.


"Lan, kita gak seharusnya ribut kayak gini. Udah ya lu ikut sama gue, dan kita pulang sama-sama temuin mama!" ucap Saka membujuk adiknya.


"Iya Alan, kamu pulang aja ya? Lagian gak baik tau kamu lama-lama nginep satu kamar sama perempuan, apalagi perempuan itu bukan istri kamu," ucap Floryn menimpali.


"Kamu gausah ikut-ikutan deh Floryn, kamu gak tahu permasalahannya apa! Jadi, mending kamu diam aja dan jangan banyak bicara!" tegur Alan.


"Ya aku kan cuma kasih tau," lirih Floryn.


"Udah udah, kamu jangan kayak gitu lah Alan! Ayolah, kamu pulang ya sama aku ke rumah!" ucap Saka meminta.


"Gue gak mau bang, gue belum pengen pulang sekarang. Lebih baik lu aja yang pergi sana, kasihan mama udah nungguin noh! Gue mah disini aja sama Carol," ucap Alan menolak.

__ADS_1


"Lo itu keras kepala banget ya? Oke, kalo emang lu gak mau pulang, yaudah gapapa. Gue gak akan maksa lu lagi," ucap Saka kesal.


"Baguslah, udah sana lu mending pergi deh! Sekalian ajak nih selingkuhan lu, biar dia gak ganggu gue disini!" ucap Alan.


Saka melotot tajam ke arahnya, ingin sekali ia memukul wajah Alan saat itu juga jika tidak ditahan oleh Floryn yang terus mengingatkan padanya untuk bersabar. Akhirnya Saka memilih pergi, meski ia tak tahu harus mengatakan apa nantinya pada Syera karena gagal mengajak Alan pulang.




Singkat cerita, Alan datang ke rumah lama Sahira dengan mobilnya bermaksud untuk menemui gadis itu yang juga merupakan saudaranya. Alan menghentikan mobilnya tepat di halaman depan rumah itu, namun sesuatu yang ganjal membuat dirinya penasaran dan segera turun dari mobil.


Pria itu tampak menatap sekitar, matanya tak menemukan keberadaan siapa-siapa disana. Terlebih suasana di rumah itu begitu sepi dan membuatnya semakin penasaran, maka dari itu ia memutuskan melangkah lebih dekat untuk coba memastikan apakah ada orang disana atau tidak.


"Hah? Beneran gak ada orang ternyata, pada kemana ya ini Sahira sama tante Imeh?" gumam Alan sembari mengintip melalui jendela rumah.


"Woi!" tiba-tiba saja, ada seseorang pria yang meneriakinya dan membuatnya terkejut.


Alan sontak membalikkan badannya sembari mengusap dada karena kaget dengan teriakan tersebut, begitu ia melihat rupanya disana berdiri Yoshi yang merupakan sahabat Sahira. Tentu saja Alan berupaya menetralkan nafasnya karena jantungnya masih berdegup kencang, sedangkan Yoshi tampak bergerak maju mendekatinya.


"Lo Alan kan, bosnya si Sahira? Ngapain lu ngintip disini?" tanya Yoshi curiga.


"Eee i-i-iya benar, saya bosnya Sahira. Ini saya tuh mau cari Sahira dan ketemu sama dia, tapi kok kelihatannya rumah ini kayak sepi banget ya? Anda tahu kemana Sahira?" jelas Alan.


"Ohh, iya tadi gue dapat kabar dari orang kalau Sahira sama bu Fatimeh udah pindah rumah. Makanya sekarang ini rumah kosong," ucap Yoshi.


"Apa? Serius??" Alan tersentak kaget.


"Serius lah, ngapain juga gue bohong? Gak ada gunanya!" ucap Yoshi ketus.


"Okay, terus anda tahu gak kemana Sahira sama tante Imeh pindah?" tanya Alan.


Yoshi menggeleng pelan, "Sayangnya gue gak tahu, lagian lu kan bosnya Sahira tuh, kenapa lu gak coba aja telpon dia terus tanya langsung? Simpel kan?" ucapnya memberi usul.


"Ya ya, terimakasih. Saya kira tadinya anda tahu Sahira kemana, tapi kalau enggak juga gapapa. Saya akan coba cari tahu sendiri nanti," ucap Alan.


"Iya bos, sorry ya gue gak tahu. Soalnya Sahira itu perginya buru-buru sih, jadinya gue gak sempat nanya dia pindah kemana. Coba aja lu telpon deh nomornya!" ucap Yoshi.


Alan mengangguk saja, "Iya, nanti saya akan telpon dia. Tapi, sekarang saya mau pamit dulu. Makasih atas infonya ya?" ucapnya pelan.


"Sama-sama, hati-hati bos!" ucap Yoshi.


Alan tersenyum, kemudian berjalan kembali menuju mobilnya dan masuk kesana. Ia menatap sejenak rumah Sahira dari dalam mobil sebelum melaju pergi, Alan betul-betul menyayangkan kepindahan Sahira dari sana. Apalagi ia juga tak tahu dimana sebenarnya Sahira saat ini berada.


"Hm Sahira, kamu itu kemana sih? Kenapa kamu pindah tapi gak ada ngabarin saya dulu? Apa ini karena semua yang terjadi kemarin?" gumam Alan.


Alan pun mengambil ponselnya untuk mencoba menghubungi nomor Sahira dan menanyakan kemana gadis itu pergi, karena dapat ia sadari kalau hingga kini perasaannya pada Sahira tidak berubah dan ia masih menyukai gadis itu. Walau ia harus dihadapkan pada sebuah fakta kalau Sahira adalah kekasih abangnya.


"Aaarrgghh, kenapa gak diangkat sih Sahira? Kamu itu dimana?" geram Alan.


Disaat ia sedang kesal, tiba-tiba saja ia mendengar suara Yoshi tengah menerima telpon di depan sana dan tampak begitu serius. Karena penasaran, Alan coba terus mendengarkan untuk mencari tahu apa yang sedang dibahas pria itu. Ia pun membuka kaca mobilnya agar bisa mendengar lebih jelas dari dalam sana.


"Apa sayang? Kamu sekarang udah ada di rumah Sahira yang baru? Kok bisa sih? Emangnya kamu tau alamatnya dimana?" ucap Yoshi di telpon yang dapat didengar oleh Alan.


Mendengar Yoshi menyebut nama Sahira, sontak Alan membuka matanya dan langsung ingin tahu apa yang sedang pria itu bahas. Lalu, Alan pun turun dari mobilnya berniat menghampiri Yoshi untuk bertanya secara langsung dimana Sahira dan barangkali ia bisa mendapat informasi darinya.


"Hey, anda sedang membicarakan Sahira? Apa anda dapat informasi dimana dia?" tanya Alan dengan suara yang lantang.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2