Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 126. Sekretaris baru


__ADS_3

Ari langsung menggandeng tangan kekasihnya itu dan mengajaknya pergi mencari tempat makan di dekat sana, karena tampaknya Keira juga sudah tidak tahan lagi ingin segera mengisi perutnya dengan makanan. Terlebih sejak tadi pagi makan dengan ketupat, Keira belum makan kembali hingga saat ini.


Begitu sampai di tempat makan yang mereka cari, tanpa berpikir panjang Ari pun meminta Keira duduk menunggu di kursi yang tersedia, sedangkan Ari sendiri akan memesan makanan. Keira menurut saja, gadis itu menunggu disana seorang diri sembari melihat sekitar dan terus memegangi perutnya yang meronta-ronta minta diisi.


Disaat ia sedang asyik melihat-lihat, matanya malah menemukan keberadaan seorang lelaki yang sepertinya ia kenali. Karena penasaran, Keira pun beranjak dari kursi dan bergerak mendekati pria tersebut. Benar saja dugaannya, ternyata memang ia mengenali pria itu dan Keira sungguh tak menyangka akan bertemu dengannya disana.


"Hah? Itu kan Aldi, kenapa dia bisa ada disini? Oh iya, ini kan tempat wisata. Siapa aja pasti bisa datang kesini buat liburan, duh tapi gawat nih kalau aku lama-lama disini! Bisa-bisa nanti dia malah lihat aku juga," gumam Keira lirih.


"Sayang?" gadis itu benar-benar terkejut saat Ari memanggilnya, ia pun reflek berteriak dan membuat sosok pria yang ia perhatikan tadi menoleh ke arahnya.


"Keira?"


Tentu saja Keira amat gugup saat ini, apalagi ketika Ari mendekat ke arahnya dengan wajah bingung. Ya Ari tampak keheranan melihat tingkah pacarnya itu, padahal tadinya Keira tampak biasa-biasa saja dan tidak sepanik ini. Ari pun berusaha menenangkan Keira dan memintanya kembali.


"Sayang, kamu kenapa sampe kaget gitu sih aku panggil? Ngapain kamu disini coba? Kan tadi aku minta kamu buat tunggu disana," ujar Ari.


"Eee iya sayang, aku tadi kayak ngeliat teman aku di sekitar sini. Eh ternyata aku salah lihat," ucap Keira sambil tersenyum.


"Oh gitu, yaudah yuk balik aja ke tempat kita! Itu pesanannya udah dibikin, tapi kayaknya agak lama deh soalnya rame banget. Kamu mau aku ambilin roti buat isi perut?" ucap Ari.


Keira menggeleng perlahan, "Gausah sayang, aku tunggu baksonya jadi aja," ucapnya menolak.


"Okay, tapi kalau nanti kamu gak kuat bilang aja ya sama aku!" ucap Ari.


Keira manggut-manggut setuju, lalu melangkah kembali menuju tempat duduk mereka sembari menunggu pesanan mereka datang. Namun, Keira tampak masih sesekali melirik ke arah Aldi berada. Keira pun dibuat terkejut karena ternyata sedari tadi Aldi juga tengah mengamatinya.


"Duh, jangan-jangan Aldi udah lihat aku disini lagi. Gawat nih kalau sampai dia nekat nyamperin aku, bisa berabe semuanya!" batin Keira ketakutan.


Ari yang merasa janggal saat melihat sikap gadisnya pun mulai bertanya, "Kamu kenapa sih sayang? Ngeliatin apaan sampai cemas begitu?" tanyanya penasaran.


"Eee enggak kok, gak ada." Keira tak mengaku dan malah membohongi kekasihnya.


"Masa kamu gapapa sih? Terus kok kelihatannya kamu cemas banget kayak gitu? Udah lah sayang, kasih tau aja sama aku!" ucap Ari yang masih belum percaya pada ucapan kekasihnya tadi.


"Huft, kamu tuh kenapa sih sayang? Aku beneran gapapa tau, udah lah kamu gausah bahas ini terus!" ucap Keira kekeuh.


"Ya abisnya sikap kamu kayak orang ketakutan gitu, mending kamu jujur deh sama aku ada apa! Biar supaya aku juga gak cemas sayang," ucap Ari.


Keira malah terdiam seraya memalingkan wajahnya, ia berusaha keras mengabaikan tatapan Aldi meski sangat sulit baginya. Ia sungguh khawatir jika nantinya Aldi datang mendekat dan membuat suasana kacau, apalagi ia sedang bersama Ari saat ini.




Floryn malah tertawa lebar diikuti dengan Carol, dua gadis itu tampak senang mengerjai Alan yang memang terlihat lucu itu. Dan Alan pun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua gadis tersebut, entah kenapa Alan mulai merasa tenang setelah bertemu mereka.


"Hmm, sepertinya saya sudah menemukan kebahagiaan saya sekarang ini. Mungkin dengan ini saya bisa semakin melupakan Sahira, terimakasih Tuhan karena engkau telah mempertemukan hamba dengan mereka!" batin Alan.


Akhirnya makanan pesanan Floryn pun tiba, kini mereka dapat menikmati makanan masing-masing tanpa perlu menunggu lagi. Carol yang sudah merasa lapar, langsung saja menyantap semua hidangan yang telah disediakan itu tanpa perduli dengan Alan maupun Floryn yang memandang ke arahnya.


"Gimana rasa makanannya, Carol? Kamu suka atau enggak?" tanya Alan pada gadis itu.


"Eee iya enak banget ini, baru sekarang aku ngerasain makan makanan seenak ini. Makasih banget ya Alan?" jawab Carol dengan bangga.


"Iya sama-sama Carol, syukurlah kalau kamu suka dan makanannya enak!" ucap Alan senang.


Mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik disertai senyum di wajah masing-masing, tampak Alan begitu mengagumi kecantikan wanita di hadapannya itu, sehingga ia sampai tidak ingin berhenti menatapnya dan ingin terus seperti ini selamanya.


"Ehem ehem, udah lah mending kalian berdua jadian aja deh! Tuh kelihatan cocok banget tau kalo lagi pandang-pandangan begitu," sela Floryn.

__ADS_1


Sontak baik Alan maupun Carol pun langsung salah tingkah dibuatnya, mereka sama-sama tersipu malu dan reflek memalingkan wajah mereka yang sudah memerah bak udang rebus itu. Sedangkan Floryn sendiri terus terkekeh sembari menatap wajah keduanya secara bergantian.


"Kamu apaan sih Flo? Yakali aku langsung ajak Carol jadian, padahal kita aja baru kenal hari ini. Ya minimal sehari atau dua hari lagi lah untuk pendekatan," sarkas Alan.


"Hahaha, iya bagus tuh Lan, aku dukung kamu sepenuhnya buat pdkt sama Carol!" ujar Floryn.


"Umm, kalian ngomongin apa sih? Bisa gak kita bahas yang lain aja? Jangan bicara soal jadian atau apalah itu!" pinta Carol yang merasa malu.


"Emang kenapa Carol? Kamu gak suka sama Alan, atau karena dia jelek?" tanya Floryn mengejek.


"Heh sembarangan! Masa cowok setampan saya ini dibilang jelek? Ngaco aja kamu kalo bicara!" sentak Alan terlebih dahulu.


Floryn dan Carol malah kompak tertawa mendengar perkataan Alan barusan, mereka seolah puas karena sudah berhasil membuat Alan terpancing seperti itu. Sedangkan Alan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua gadis di depannya itu, meski kesal namun Alan cukup senang dengan kehadiran mereka di hidupnya.


"Yaudah, kita fokus makan aja gausah ngobrol dulu! Kasihan tuh Carol butuh asupan biar gak lapar, nanti aja ngobrolnya!" ucap Alan.


"Cie cie, perhatian banget sih kamu sama Carol. Ada yang udah mulai jatuh cinta nih kayaknya," ledek Floryn.


"Kamu bicara apa sih Flo? Udah lah jangan bahas yang enggak-enggak gitu! Gak enak tau sama Carol, lebih baik kita makan aja!" tegur Alan.


"Ah kamu pake malu-malu segala, akui aja kali Alan!" goda Floryn.


"Sudah sudah, kalo debat terus kapan kita selesai makannya? Nanti lagi ya kita ngobrolnya?" pinta Carol dengan lembut.


"Hehe iya iya.." Floryn terkekeh dan akhirnya menuruti permintaan Carol.


Mereka pun sama-sama terdiam dan menikmati makanan masing-masing terlebih dahulu, tak ada yang berbicara lagi untuk saat ini sampai makanan mereka habis tak bersisa. Setelahnya, barulah Floryn kembali menggoda dua orang di dekatnya itu tanpa henti.




Meski awalnya Sahira merasa kesulitan untuk melakukan itu, tetapi lambat laun Sahira mulai terbiasa dan tidak lagi ketergantungan terhadap sosok Saka. Ya walau mereka masih tetap sering berkomunikasi baik via chat maupun bertemu langsung, tapi tentu hal itu sangat jarang bahkan bisa dihitung jari.


Sesampainya di kantor, Sahira langsung bertemu dengan Saka yang kebetulan juga baru sampai disana. Tampak pria itu turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Sahira sembari berteriak memanggil namanya, sontak Sahira berhenti sejenak untuk menatap sang kekasih. Mereka pun saling tersenyum dan bertatap muka selama beberapa detik sampai terasa bosan.


"Pagi Sahira! Kamu itu kenapa sih gak mau dijemput sama saya tadi? Padahal biasanya kamu selalu mau kalau saya jemput, apa ada yang saya salah lakuin ke kamu?" tanya Saka heran.


"Umm, gak ada kok pak. Saya cuma gak mau ngerepotin bapak terus," jawab Sahira.


"Loh kamu ini gimana sih? Kita ini kan sepasang kekasih, saya gak merasa direpotkan kok sama kamu," ucap Saka.


"Iya pak, tapi tetap aja saya merasa gak enak sama bapak. Yaudah ya saya masuk dulu?" ucap Sahira.


"Tunggu Sahira!" Saka mencekal lengan gadis itu bermaksud menahannya agar tetap disana.


Dengan terpaksa Sahira menghentikan langkahnya dan kembali menatap wajah Saka, sedangkan Saka tampak melangkah maju untuk lebih mendekati gadisnya itu dan terlihat menatap penuh heran karena sikap Sahira yang menurutnya berubah dari biasanya.


"Kamu itu sebenarnya kenapa sih Sahira? Saya salah apa sama kamu sampai kamu menjauh begini dari saya?" tanya Saka.


Sahira mengernyitkan dahinya, "Bapak gak ada salah kok, dan saya rasa saya biasa-biasa aja. Mungkin itu cuma perasaan bapak aja kali, saya gak merasa menjauhi bapak kok," elaknya.


Saka menggeleng penuh yakin, "Enggak, saya tahu kamu seperti sedang menghindari saya Sahira. Jelasin ke saya ada apa!" ucapnya tegas.


"Pak Saka yang terhormat, beneran deh saya gak pernah punya niatan buat menjauh dari bapak kok. Kalau bapak merasa begitu, berarti bapak yang sedang banyak masalah," ucap Sahira santai.


"Loh kenapa jadi saya yang banyak masalah?" heran Saka.


"Iya, karena bapak menuduh saya yang tidak-tidak. Padahal saya sama sekali gak pernah punya niatan untuk menjauhi bapak, tapi bapak malah bilang seperti itu," ucap Sahira.

__ADS_1


"Masa sih? Tapi serius loh, dari sikap kamu belakangan ini tuh saya merasa kalau kamu seperti sedang menghindari saya," ucap Saka.


"Ya itu dia pak, semuanya cuma perasaan bapak. Saya gak pernah menghindari bapak kok, percaya deh sama saya!" ucap Sahira.


"It's okay, saya percaya sama kamu. Tapi, tolong kamu jangan panggil saya bapak lagi ya! Kita ini kan kekasih, jadi ya seperti biasa aja manggilnya!" ucap Saka.


Sahira manggut-manggut menurut, "Iya mas, maafin saya ya kalau kelakuan saya bikin kamu salah kira?" ujarnya.


"Iya gapapa Sahira, yuk kita masuknya bareng aja biar orang-orang tahu kalau diantara kita tidak ada masalah!" ajak Saka.


Sahira terpaksa menurut kali ini, ia tidak ingin membuat Saka mengetahui rencananya untuk menghindar darinya. Dan untuk sementara ini pula Sahira juga harus bersikap normal seperti biasa pada pria itu, meskipun ia tetap akan menjalankan kemauan ibunya untuk menjauh dari Saka.


"Maafin aku ya mas? Aku emang sengaja menjauh dari kamu karena ibu," batin Sahira.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kantor dengan bergandeng tangan, Sahira tersenyum saja sepanjang jalan berharap Saka tidak lagi curiga padanya. Bahkan mereka terlihat semakin dekat kali ini, dan berhasil membuat orang-orang disana merasa iri pada mereka.




Sementara itu, Alan membawa Carol alias wanita yang sebelumnya pernah ia selamatkan itu ke kantor tempatnya bekerja. Ya sesuai janjinya pada gadis itu, kini Alan berniat mengajak Carol bekerja disana untuk bisa menghidupi dirinya selama tinggal di kost yang lumayan mahal.


Hingga saat ini Alan memang masih belum mendapatkan pengganti Sahira setelah gadis itu memutuskan keluar dari kantornya, itu sebabnya Alan berniat mempekerjakan Carol sebagai sekretaris disana menggantikan Sahira. Meskipun Alan tahu bahwa Carol bukanlah lulusan S1 seperti yang diraih Sahira, namun ia yakin Carol bisa menjalankan semuanya dengan baik.


"Nah, ini dia kantor saya Carol. Di tempat ini saya mencari uang sekaligus menjalani hidup, nantinya kamu juga akan melakukan hal yang sama disini," ucap Alan pada gadis itu.


Carol cukup terpukau melihatnya, "Waw ini luar biasa! Tapi Lan, kamu yakin mau ajak aku kerja disini? Aku ini kan bukan siapa-siapa, aku juga sekolah cuma sampai D3. Mana mungkin aku bisa kerja disini, Lan?" ucapnya lesu.


Alan tersenyum seraya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, "Kamu gausah khawatir, saya yakin kamu punya potensi kok untuk itu!" ujarnya.


"Ta-tapi.." ucapan Carol terjeda karena Alan menaruh jari telunjuk di bibirnya.


"Cukup ya tapi tapi nya! Sekarang saya minta kamu masuk ke dalam dan saya akan perkenalkan kamu sebagai sekretaris saya yang baru," sela Alan.


Carol tersentak mendengar itu, "Apa? Sekretaris? Kamu yang bener aja Alan?" ucapnya terkejut.


"Lah iya benar kok, apa salahnya emang? Saya lagi butuh sekretaris, dan saya mau kamu yang ada di posisi itu!" ucap Alan tegas.


"Ih tapi Lan, aku beneran gak bisa. Gimana kalau nanti aku ngelakuin kesalahan?" ucap Carol.


"Udah tenang aja, saya yang akan bimbing kamu dari awal sampai akhir! Pokoknya kamu harus mau bekerja jadi sekretaris saya, kalau kamu nolak berarti kamu gak menghargai saya!" ucap Alan.


"I-i-iya deh, aku mau kok kerja disini jadi sekretaris kamu. Tapi, beneran ya kamu gak akan marahin aku nantinya?" ucap Carol.


Alan mengangguk sambil tersenyum, "Iya bener Carol, udah yuk kita masuk dan saya akan tunjukkan ke kamu suasana di dalam sana!" ucapnya.


"Okay." Carol terlihat cukup lemas dan mulai melangkahkan kakinya bersama Alan di sebelahnya.


Ya tentunya tangan mereka juga masih menyatu saat ini, Alan seolah sengaja tak ingin melepasnya dan Carol pun tidak menyadari itu karena sangking terharunya dengan kebaikan Alan padanya. Carol sungguh tak percaya kalau dia akan bertemu pria sebaik Alan, padahal mereka baru saling mengenal selama beberapa Minggu.


Mereka pun mulai memasuki kantor, tampak dua orang satpam yang bertugas di depan pintu juga terkejut melihat Alan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang mereka tak tahu siapa. Namun, tentunya kedua satpam itu hanya diam saja membiarkan bos mereka masuk tanpa mengusik mengenai wanita di dekatnya.


Disaat Alan hendak menemui para karyawannya di dalam sana, ia justru dibuat terkejut dengan keberanian Nawal di depannya yang seolah sudah menunggunya sedari tadi. Tampak Nawal langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arahnya, gadis itu juga berjalan menghampirinya dengan tatapan penuh menggoda.


"Wah wah wah, ada yang udah dapat gandengan baru nih!" ejek Nawal dengan sinis.


Seketika Alan terkejut dan baru sadar kalau ia memang masih menggandeng tangan Carol, sontak Alan segera melepas tangannya dan tampak gugup sendiri dibuatnya. Sedangkan Carol juga tampak menjauh dari Alan sembari menundukkan wajahnya karena malu menjadi pusat perhatian orang-orang disana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2