
Nawal terbelalak kaget, "Ih kamu kok jahat banget sih jadi orang?!" ujarnya cemberut.
"Biarin aja, abisnya aku kesal banget sama wanita kayak kamu! Kok bisa ya ada perempuan seperti kamu di dunia ini? Aku bingung deh, harusnya kamu tuh dimusnahkan aja!" ujar Alan.
"Gak boleh gitu Alan, gini-gini juga kamu masih cinta kan sama aku?" goda Nawal.
"Hah? Aku gak pernah ya bilang kalau aku masih cinta sama kamu, jadi jangan kepedean deh!" elak Alan.
"Ah masa? Aku yakin kamu sebenarnya masih cinta sama aku, tapi kamu malu aja buat bilangnya ke aku dan papa kamu," ucap Nawal.
"Iyain, yang penting kamu senang. Ini terus sekarang kita mau kemana?" tanya Alan.
"Umm.." saat Nawal sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Alan, tiba-tiba sebuah klakson panjang terdengar di telinga mereka.
Tin tin tin...
Sontak mereka menoleh ke arah kanan secara bersamaan, terdapat sebuah mobil melaju disana yang menyalip mobil mereka dan berhenti mendadak di depan mereka. Tentu saja Alan dengan sigap menginjak pedal rem, untungnya masih tepat waktu sehingga mereka tidak bertabrakan.
"Haish, siapa sih tuh orang?! Lagi puasa mancing-mancing emosi orang aja!" kesal Alan.
"Sabar Alan! Kita coba turun aja dulu, siapa tau dia ada urusan sama kita!" ucap Nawal.
"Yaudah, tapi kamu disini aja! Aku takut dia orang yang punya niat jahat," ucap Alan.
Nawal tersenyum mendengar perkataan Alan, ia kini tahu bahwa ternyata Alan memang masih menaruh rasa perduli padanya. Setelahnya, Alan pun turun dari mobil dengan keadaan kesal dan berjalan menghampiri seseorang yang keluar dari mobil di depan sana.
"Heh! Lu siapa? Mau apa lu cegat mobil gue?" tanya Alan pada si pria itu dengan tegas.
Tampak pemilik mobil tersebut berbalik dan menunjukkan wajahnya, sontak Alan makin terkejut saat mengetahui bahwa pria di depannya itu adalah Royyan alias lelaki yang dijodohkan dengan Nawal. Alan menghela nafasnya dan mulai mengira kalau akan terjadi kesalahpahaman diantara mereka.
"Lo Royyan kan? Mau apa lu cegat mobil gue tadi?" tanya Alan lagi padanya.
"Pake nanya lagi, di dalam mobil lu itu pasti ada si Nawal kan? Gue mau ketemu sama dia, tolong lu panggilin dia supaya dia keluar dan gue bisa bicara sama dia!" jawab Royyan.
"Gak mau, gue sama Nawal lagi ada tugas buat jalan bareng. Siapapun termasuk lu, gak boleh ganggu kita!" ujar Alan.
"Maksudnya gimana? Lo pengen jadi perebut wanita orang? Nawal itu udah jadi milik gue bro!" ucap Royyan tegas.
"Gue gak bisa nolak kemauan bokap gue, makanya gue nurut dan ajak Nawal jalan-jalan. Lagian si Nawal nya juga mau kok, jadi gue pinjam dia dulu ya sebentar?" ucap Alan santai.
"Kurang ajar!" Royyan terpancing emosi dan langsung maju menarik kerah baju Alan dengan kasar disertai tatapan tajam.
"Lo jangan jadi perusak hubungan orang! Nawal itu calon istri gue, kita akan menikah sebentar lagi dan lu gak mungkin bisa bareng dia lagi!" sentak Royyan penuh emosi.
"Iya gue ngerti, tapi ini semua karena bokap gue. Tolong lu ngertiin juga dong perasaan gue!" ucap Alan.
Bukannya mengerti, Royyan justru memukul wajah Alan dengan kasar sampai pria itu nyaris terjatuh memegangi pipinya yang terluka. Tak puas sampai disitu, Royyan kembali mendekati Alan dan memukulnya dengan sangat keras hingga menimbulkan darah.
"Royyan cukup!!" Nawal berteriak keras seraya turun dari mobil dan berlari menghampiri kedua lelaki tersebut, ia sungguh khawatir dengan kondisi Alan setelah dipukul oleh Royyan.
•
•
Saka mengangguk, lalu mengarahkan mobilnya menuju tempat yang tadi ia tunjuk. Mereka pun turun dari mobil bersama-sama dan tampak tersenyum seraya melihat ke arah tempat tersebut, tak lupa pula Saka meraih tangan gadisnya untuk digenggam dengan erat sebelum berjalan.
"Umm mas, kayaknya gak perlu pake gandengan tangan segala deh. Aku ngerasa gimana gitu, apalagi dilihat banyak orang," ucap Sahira.
"Kenapa sih Sahira? Kamu malu karena kita dilihat sama banyak orang?" tanya Saka.
"Iya gitu deh mas, mending kita kayak biasa aja gak perlu gandengan kayak gini. Lagian ini kan bulan puasa, gak baik juga begini mas," jawab Sahira.
"Yaudah, saya nurut aja sama kamu. Kalo gitu kita masuk ke dalam yuk!" ajak Saka.
Sahira mengangguk sambil tersenyum, ia senang karena Saka mau menurut dan melepaskan tangannya. Mereka pun lanjut melangkah ke dalam tempat tersebut, tapi tanpa diduga mereka justru berpapasan dengan pasangan kekasih yang juga kebetulan berada disana.
__ADS_1
"Loh Sahira??" ujar si perempuan yang ternyata adalah Cat, sahabatnya.
"Cat, Yoshi? Kalian berdua disini juga?" ucap Sahira setelah menyadari keberadaan sahabatnya itu.
"Iya nih, kita baru aja nyampe sini. Rencananya gue sama Yoshi mau cari makanan buat buka, lu sendiri juga pengen ngabuburit disini kan?" ucap Cat sambil tersenyum.
Sahira mengangguk pelan, "Iya Cat, tadi kita lihat dari jauh disini ramai banget. Makanya kita milih buat mampir deh kesini, ya barangkali aja ada yang pengen kita beli," ucapnya.
"Bagus deh, gimana kalo kita bareng aja jalannya? Biar tambah seru dan asik," usul Cat.
"Ide bagus tuh, kamu setuju kan mas?" ucap Sahira seraya menatap kekasihnya.
"Saya ngikut aja," jawab Saka singkat.
Sahira dan Cat pun sama-sama tersenyum, sedangkan Yoshi terlihat menatap wajah Saka dengan dingin seolah tak menyukainya. Yoshi masih ingat betul bagaimana dirinya ditolak secara terang-terangan oleh Sahira saat ia menyatakan cintanya, itu sebabnya ia tak suka dengan Saka yang bisa dibilang adalah pesaingnya dulu.
"Bro, kenapa ngeliatin saya aja kayak gitu? Anda tidak usah mengingat-ingat kejadian masa lalu, saya sudah lupakan itu kok," ucap Saka.
"Santai aja, gue juga kan udah punya Cat yang bisa terima gue apa adanya," ucap Yoshi.
Sahira yang mendengar percakapan kedua pria itu hanya bisa terdiam kikuk, ia seolah dihadapkan pada situasi yang sangat sulit dan membuat dirinya bingung harus apa. Namun, Cat mencoba mencairkan suasana diantara mereka agar tidak terlalu tegang seperti sekarang.
"Udah udah, yang lalu biarlah berlalu! Dulu kalian mungkin emang saingan demi dapetin Sahira, tapi sekarang kalian harus bisa jadi sahabat dong!" ucap Cat sambil tersenyum.
"Gak masalah, saya orangnya memang senang bersahabat. Tapi, dari awal juga dia kok yang kelihatan gak suka sama saya," ucap Saka.
"Heh, jaga bicara lu ya! Gue bukan gak suka, gue cuma masih kesal aja kalau ngeliat muka lu yang sok polos itu!" ketus Yoshi.
"Yoshi, kamu gak boleh gitu ih!" ucap Cat menegur kekasihnya sembari memberikan cubitan kecil pada pinggang pria itu.
"Aw sakit sayang! Aku tuh cuma bilang apa yang aku rasain, emang dia bikin aku kesel kok!" ucap Yoshi menahan sakit.
Cat menggeleng heran, ia merasa tidak enak pada Saka serta Sahira atas perkataan Yoshi barusan.
•
•
Bukannya mengerti, Royyan justru memukul wajah Alan dengan kasar sampai pria itu nyaris terjatuh memegangi pipinya yang terluka. Tak puas sampai disitu, Royyan kembali mendekati Alan dan memukulnya dengan sangat keras hingga menimbulkan darah.
Alan tergeletak lemas dengan wajah berdarah akibat dua kali terkena pukulan Royyan, ia tampak kesakitan dan bersusah payah menahan luka yang ada di wajahnya itu. Meski begitu, Alan tidak akan pernah mau menyerah dan ia harus tetap bangkit sebagai seorang lelaki sejati.
"Royyan cukup!!" Nawal berteriak keras seraya turun dari mobil dan berlari menghampiri kedua lelaki tersebut, ia sungguh khawatir dengan kondisi Alan setelah dipukul oleh Royyan.
Sontak Royyan menoleh ke asal suara itu berada, ia menatap wajah Nawal yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan tajam. Ia tersenyum mengira Nawal akan mau mengikuti kemauannya, namun gadis itu justru terlihat sangat emosi padanya dan seolah hendak menghukumnya.
"Nawal? Sayang, ayo ikut aku!" ucap Royyan.
"Gak! Kamu jangan kira kalau aku bakal bela kamu dan mau ikut sama kamu, karena itu semua cuma mimpi!" sentak Nawal.
"Kamu kenapa bicara begitu sayang? Aku ini pacar kamu loh, seharusnya kamu nurut sama aku dan jangan bantah! Ayo kita pergi Nawal, gak pantas seorang wanita yang sudah memiliki kekasih berjalan dengan lelaki lain!" ucap Royyan.
"Aku bukan kekasih kamu, kita cuma dijodohkan oleh orang tua kita. Jadi, sampai kapanpun aku gak akan pernah anggap kamu sebagai kekasih apalagi calon suami aku!" ucap Nawal tegas.
Deg!
Ucapan yang dilontarkan Nawal itu sungguh membuat hati Royyan tersakiti, tampak Royyan langsung termenung dengan wajah menunduk mencoba menahan diri dari rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Sedangkan Nawal sama sekali tak perduli pada apa yang dirasakan pria itu.
Nawal justru kini beralih menatap Alan dan menghampirinya, ia membantu pria itu berdiri serta terlihat sangat cemas padanya. Tentu saja hati Royyan makin sakit melihat apa yang dilakukan Nawal itu, ia merasa hatinya seperti terkoyak dan terbelah menjadi dua.
"Alan sayang, kamu gapapa kan? Duh hidung kamu berdarah lagi sayang, ini harus cepat-cepat diobatin!" ucap Nawal cemas.
"Iya, kebetulan di mobil saya ada obatnya. Kamu tolong bantu saya buat kembali ke mobil! Kita pergi aja sekarang dari sini, saya gak ada waktu buat ribut sama dia!" ucap Alan.
"Iya Alan, yuk aku bantu kamu buat jalan!" ucap Nawal yang kini sudah merangkul pria itu.
__ADS_1
Namun, Royyan tak terima dan menahan langkah mereka dari depan. Pria itu menghadang Alan serta Nawal dengan berdiri tepat di hadapan mereka, matanya terus melirik ke arah tangan sang kekasih yang terlihat tengah merangkul pria lain tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kamu gak bisa pergi kemana-mana Nawal, kamu harus ikut sama aku!" ucap Royyan.
"Maaf Roy, bukan aku gak mau tapi aku harus antar Alan dan obatin lukanya. Lagian ini semua kan juga gara-gara kamu, jadi kamu harus tanggung jawab dong Roy!" ucap Nawal.
"Buat apa aku tanggung jawab? Aku hajar dia karena dia udah berani deketin kamu sayang, aku gak terima dong sebagai pacar sekaligus calon suami kamu!" ucap Royyan membela diri.
"Tetap aja kamu gak boleh kayak gitu Roy, sama aja kamu melakukan tindakan kriminal dan kamu bisa masuk penjara!" ucap Nawal.
"Aku gak perduli, intinya aku akan tetap berusaha untuk rebut kamu kembali sayang!" ucap Royyan.
Nawal tak memperdulikan ucapan Royyan barusan, ia memilih terus melangkah sembari memapah tubuh Alan dengan berhati-hati. Tetapi, Royyan yang masih tidak terima kembali menghalangi Nawal dengan cara mencekal lengan gadis itu seraya menahannya untuk tetap disana.
•
•
Malam telah tiba, Alan berniat pergi menemui Sahira ke rumahnya untuk sekedar berbincang. Kondisi wajahnya kini telah pulih walau ia masih merasa sedikit sakit akibat pukulan Royyan tadi, ya sebelumnya Nawal juga sudah mengobati luka di wajah Alan dengan perlahan-lahan.
"Mau kemana?" langkahnya terhenti saat Alfian sang ayah tiba-tiba muncul di depannya.
"Ada urusan sebentar di luar pa," jawab Alan singkat.
"Urusan apa? Kamu jangan pergi kemana-mana malam ini! Papa sudah undang orang tua Nawal untuk datang kesini," ucap Alfian.
"Hah? Buat apa papa undang orangtuanya Nawal kesini sih pa? Ada urusan apa coba?" tanya Alan.
"Ya tentu saja untuk membahas kelanjutan hubungan kalian berdua, papa mau bicara ke orang tua Nawal untuk membatalkan perjodohan Nawal dengan lelaki lain," jelas Alfian.
"Kenapa harus gitu pa? Udah lah gausah, aku udah gak ada rasa sama si Nawal. Mendingan aku pergi sekarang daripada ketemu dia," ucap Alan.
"Hey, kamu gak bisa pergi gitu aja! Papa gak akan kasih izin!" ucap Alfian tegas.
Alan menghela nafas seraya menggelengkan kepala, ia melangkah begitu saja melewati papanya untuk keluar dari rumah itu. Namun, Alfian tak membiarkannya begitu saja sebab ia masih ingin mencegah Alan agar tidak pergi dan tetap disana menunggu orang tua Nawal datang.
"Alan tunggu! Kamu jangan pergi dulu, tunggu sebentar aja sampai orang tua Nawal datang kesini! Kalau enggak, papa nanti akan cabut semua fasilitas kamu termasuk perusahaan!" ancam Alfian.
Alan terdiam, lagi-lagi ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Papanya itu memang pintar sekali dalam urusan mengancam, sehingga ia tidak memiliki pilihan selain menurut pada keinginan papanya, meskipun Alan merasa kesal sekali karena kelakuan papanya.
"Iya iya pa, aku tetap disini dan aku gak akan kemana-mana. Papa puas kan sekarang? Kalo gitu jangan halangi jalan aku!" ucap Alan.
"Kamu mau kemana lagi? Papa kan udah bilang kamu gak boleh pergi, kenapa malah mau pergi?" ujar Alfian keheranan.
"Gak pergi kok pa, cuma pengen keluar cari angin. Sambil nunggu mama papanya Nawal datang, gapapa kan?" ucap Alan.
"Ohh, tapi beneran kan gak pergi?" tanya Alfian memastikan.
"Iya benar pa, ngapain juga aku bohongin papa? Yaudah ya aku mau ke depan dulu, permisi pa?" ucap Alan pamit.
"Okay," lirih Alfian.
Setelahnya, Alan pun pergi ke luar sesuai perkataannya tadi. Sedangkan Alfian berdiam diri pada tempatnya sembari menatap punggung putranya yang perlahan menghilang, Alfian sedikit cemas dan berpikir jika Alan bisa saja berbohong lalu pergi tanpa seizin dirinya.
"Pa!" saat Alfian hendak menyusul Alan, justru Saka muncul dan menyapanya sehingga Alfian mengurungkan niatnya.
"Iya Saka, ada apa?" tanya Alfian sambil sesekali menoleh kesana-kemari.
"Katanya orang tua Nawal pada mau kesini ya, pa? Apa prosesi lamaran Alan sama Nawal bakal berlangsung nanti pa?" ujar Saka.
Alfian terdiam beberapa saat, sedangkan Saka terlihat menanti jawaban yang hendak diberikan oleh papanya itu. Sungguh Saka sangat penasaran, ia akan merasa senang sekali jika memang adiknya itu menikah dengan Nawal, itu artinya hubungan ia dengan Sahira akan semakin mudah dan tidak ada rintangan lagi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1