
"Carol!" Alan menyapa sekretaris barunya itu dengan ramah sambil tersenyum dan mendekatinya.
Sontak wanita bernama Carol itu menoleh, ia ikut tersenyum lebar dan merasa lega setelah ia melihat Alan telah kembali kesana. Tadinya ia kira Alan melarikan diri dari restoran tersebut dan sengaja menjebaknya, tapi ternyata pria itu masih ada dan kini kembali menemuinya.
Alan pun duduk di sebelah gadis itu, meraih satu tangannya dan mengusapnya lembut. Carol yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa diam memandangi wajah Alan dengan gugup, ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Alan, tetapi Alan malah menguatkan pegangannya dan tak membiarkan Carol lepas.
"Alan, kamu—"
"Sssttt diem dulu! Saya mau bicara sama kamu, tadi saya lihat dari jauh kamu kayak panik gitu sambil celingak-celinguk. Kamu cariin siapa sih, hm? Saya ya?" Alan memotong ucapan Carol dan menggodanya sambil terkekeh kecil.
"Hah? I-i-iya sih aku emang cariin kamu, tapi itu karena aku khawatir aja kamu kabur dari sini," ucap Carol gugup.
"Hahaha, takut ya saya tinggalin sendirian? Tenang aja kali Carol, mana mungkin saya pergi gitu aja dan biarin kamu disini? Nanti yang ada kamu digodain lagi sama orang," kekeh Alan.
"Siapa coba yang mau godain aku? Paling cowok yang lihat langsung lari nanti," ucap Carol.
"Heh sembarangan! Kamu cantik begini pasti banyak yang datang lah, makanya tadi saya aja cemas pas tinggalin kamu ke toilet," ucap Alan.
"Apa sih? Lebay kamu ah! Tadi kamu darimana aja sih, Lan? Kok lama?" ujar Carol.
"Iya saya ketemu orang dulu tadi, makanya lama. Maaf ya kalau saya bikin kamu panik? Yang penting kan saya sudah disini sekarang sama kamu," ucap Alan sembari mencubit pipi Carol.
"Iya Lan, tuh makan gih makanan kamu! Aku tadi mau makan tapi takut kamu gak balik, jadinya aku tungguin dulu deh," ucap Carol.
"Loh emang kenapa coba?" tanya Alan heran.
"Ya kalau kamu gak balik lagi, terus aku bayar makanan ini gimana coba? Makanya aku gak berani makan sebelum kamu balik," jawab Carol.
Alan tersenyum gemas melihat ekspresi Carol saat ini, pria itu pun terus mencubit kedua pipi gadisnya secara bersamaan sampai membuat sang empu merasa risih dan protes. Namun, Alan justru terkekeh geli dan bertambah gemas dengan reaksi Carol yang terlihat imut di matanya.
"Duh, kamu imut banget sih! Saya tuh gak bisa kalau lihat perempuan imut kayak gini, bawaannya pengen cubitin terus pipinya!" ujar Alan.
"Lan, apaan sih? Malu ah dilihat banyak orang! Lepasin Lan!" protes Carol.
"Hey cantik! Buat apa sih pake malu segala? Biarin aja mereka mah, lagian mereka juga gak perduli kok sama kita. Mereka itu punya urusan sendiri kali," ucap Alan.
"Tetap aja aku malu, cukup ya Alan!" pinta Carol.
"Enggak mau, kamu sebagai sekretaris itu harus nurut dong dan jangan bantah perintah saya! Mulai sekarang kan saya atasan kamu, gimana sih?!" sentak Alan.
"Ya tapi kan—"
"Udah udah, kamu diam aja dan gausah banyak protes! Saya lagi suka cubitin pipi kamu tau," sela Alan kembali memotong ucapan Carol.
Carol akhirnya terdiam dengan wajah cemberut, jujur ia semakin risih akibat perbuatan lelaki itu. Tapi Carol bisa apa, ia tidak mampu melawan Alan yang memang sekarang sudah menjadi atasannya. Walaupun dirinya juga belum tahu apakah ia akan bekerja di perusahaan Alan atau tidak, sebab ia masih ragu dengan itu.
"Ehem ehem!" tiba-tiba saja, suara deheman seorang wanita mengagetkan keduanya yang tengah asyik bercanda disana.
Alan serta Carol pun menoleh secara bersamaan ke asal suara tersebut, mereka kompak terkejut saat melihat keberadaan Floryn disana yang tengah menatap mereka sambil tersenyum meledek. Tentu saja Alan tak menyangka jika ia akan kembali bertemu dengan gadis itu saat ini.
"Floryn?" lirih Alan sembari beranjak dari kursinya dan tersenyum lebar.
"Ahaha, cie cie ternyata kalian romantis banget ya? Pake segala cubit-cubit pipi kayak gitu, duh jadi gemes lihatnya!" goda Floryn.
"Flo, kamu jangan salah paham dulu! Saya tadi cuma mau hibur Carol aja kok," elak Alan.
"I-i-iya Flo, kamu jangan cemburu ya! Aku sama Alan gak ada apa-apa kok, kami juga cuma mau makan siang disini," sahut Carol.
Floryn tersenyum seraya menutupi mulutnya, "Aduh, kalian ini lucu banget sih!" ucapnya.
"Lucu apanya coba? Emang kita kenapa? Udah ayo kamu ikut duduk aja sama kita sini!" ujar Alan.
"Enggak enggak, aku ngerasa lucu aja ngeliat kalian. Coba deh kalo kalian itu jadian, beuh pasti bakal lucu banget deh!" ucap Floryn.
"Kamu itu kenapa sih, Flo? Kita bertiga ini kan sahabat, masa iya saya malah jadian sama salah satu dari kalian?" ujar Alan.
__ADS_1
"Ih gapapa kali, kalau emang kamu suka sama Carol mah gak ada salahnya," goda Floryn.
"Ayolah Flo, kamu stop dong bahas soal itu! Jangan bilang malah kamu sendiri ya yang mau jadian sama Alan!" ucap Carol kesal.
"Loh heh, ngaco aja kamu ah! Yakali aku mau jadian sama Alan, yang bener aja dong kamu!" bantah Floryn.
"Kenapa ngaco sih, Flo? Kalau kalian saling suka ya gapapa kali," ujar Carol.
"Eh eh, ini kenapa jadi bahas begitu terus sih? Udah ayo kita duduk terus makan bareng, jangan bahas soal jadian mulu!" tegur Alan.
"Enggak ah, aku udah makan kok tadi. Aku mau pulang aja, kalian nikmati ya waktu berdua biar bisa jadian juga!" ucap Floryn.
Alan menggeleng pelan, "Apaan sih kamu?" ujarnya lirih.
Pria itu malah menarik lengan Floryn dan membawanya duduk di kursi yang tersedia, meski Floryn menolak tetapi Alan terus memaksa dan membuat Floryn mau tidak mau terpaksa mengikuti kemauan Alan. Akhirnya mereka bertiga sama-sama duduk disana, Carol pun tersenyum karena Floryn mau ikut bersama mereka.
"Haish, kamu tuh hobi banget maksa aku ya Lan? Udah bilang aku gak mau, kenapa kamu malah paksa aku sih?" protes Floryn.
"Hahaha, biarin aja suka-suka saya. Suruh siapa kamu malah nyamperin kita? Yaudah saya paksa kamu aja buat duduk sama kita disini, ayo kamu pesan makanan gih!" ucap Alan.
Floryn menggeleng pelan sambil tersenyum, "Ih kamu itu ya emang susah buat ditolak? Kalau aku gak mau gimana hayo?" ujarnya.
"Ya kamu harus mau lah, buruan pesan yang kamu mau biar saya traktir! Mumpung saya lagi baik nih loh," ucap Alan.
"Iya Flo, pesan aja!" sahut Carol.
"Hadeh, iya deh iya!" Floryn terpaksa mengiyakan perkataan Alan dan memesan makanan serta minuman untuknya.
Sementara Alan tersenyum puas sembari mengambil salah satu makanan pembuka di mejanya, tanpa diduga ia langsung menyuapi Carol dan meminta gadis itu membuka mulutnya. Tentu Carol terkejut, tapi kemudian ia menurut saja karena tidak ada pilihan lain.
•
•
Entah mengapa saat Sahira menyaksikan momen itu, perasaannya seolah tidak suka dan seperti orang yang sedang merasakan cemburu. Apalagi Alan terlihat mesra sekali dengan gadis-gadis tersebut, tetapi Sahira berusaha menghilangkan pikiran aneh itu dan tetap tenang menghadapi semuanya agar tak membuat Saka curiga.
"Si Alan itu benar-benar playboy ya? Lihat aja tuh, dia bawa cewek sampe dua kayak gitu terus diajak makan satu meja. Apa gak sakit hati salah satu ceweknya ya?" kekeh Saka.
"Eee entahlah mas, mungkin mereka cuma teman Alan. Lagian tadi kan Alan bilang kalau yang satu itu sekretaris barunya," ucap Sahira.
"Iya sih, tapi gak tahu kenapa aku kayak gak yakin gitu deh sama kata-kata si Alan. Bisa aja kan dia bohong, terus ternyata cewek itu semuanya pacar dia. Beuh kacau emang tuh anak!" ucap Saka.
"Jangan suudzon mas! Apalagi sama adik sendiri, kamu harus positif thinking dong!" ucap Sahira.
"Hehe, iya maaf sayang. Yaudah, kamu habisin dong makanannya! Abis itu nanti kita samperin mereka dan tanya langsung ke dua cewek itu, mereka tuh siapanya Alan sih," ucap Saka.
"Kamu kenapa kayak penasaran banget begitu sih, mas?" tanya Sahira keheranan.
"Ya penasaran aja, abisnya si Alan itu gak kelihatan kayak playboy loh dari gerak-geriknya. Eh ternyata dia bisa bawa dua cewek begitu," jawab Saka.
"Wajar aja mas, Alan kan bos besar dan dia juga ganteng kok. Perempuan mana coba yang bisa nolak dia?" ucap Sahira.
"Ohh, berarti kamu juga tertarik ya sama dia?" tanya Saka menggoda.
Deg!
Seketika Sahira terdiam dan memalingkan wajahnya, suasana jantungnya kini seolah tidak normal setelah pertanyaan Saka tadi. Namun, berikutnya Saka malah mendekat lalu mencubit pipi gadis itu bermaksud menghiburnya agar tidak terlalu serius.
"Ahaha, santai aja kali sayang! Kamu mah apa-apa dibawa serius deh," goda Saka.
Sahira tersenyum saja saat Saka mencolek dagunya, ia langsung menatap wajah pria itu sembari menenangkan diri agar tidak terlalu tegang. Saka yang melihatnya turut tersenyum lalu mengusap lembut wajah sang kekasih, ia benar-benar bahagia siang ini.
"Yaudah, buruan diabisin makanannya! Kalau kurang, kamu boleh pesan lagi kok sesuka kamu. Nikmati aja semua makanan disini, biar saya nanti yang bayar semuanya," ucap Saka.
"Gausah mas, segini aja udah cukup kok. Makasih ya udah mau ajakin aku makan bareng?" ucap Sahira dengan lembut.
__ADS_1
"Sama-sama sayang, namanya pacar ya wajib ajak pacarnya makan bareng dong," ucap Saka santai.
Sahira bergegas menghabiskan seluruh makanannya sesuai permintaan sang kekasih, tapi pikirannya masih tetap mengarah ke sosok Alan yang kini tengah bersama dua orang wanita cantik sekaligus. Sahira tahu jika perasaan yang saat ini ia rasakan adalah cemburu, ya gadis itu cemburu ketika melihat Alan bersama wanita lain disana.
"Sebenarnya siapa dua perempuan itu, Alan? Apa mereka kekasih kamu?" batin Sahira.
•
•
Hari telah berganti, dan malam ini Alan membawa Floryn ke rumahnya untuk menjalankan rencana mereka yang sudah disusun sejak lama. Ya Alan hendak mengenalkan Floryn pada orangtuanya sebagai kekasihnya, sekaligus membahas rencana pertunangan mereka agar Alan bisa terbebas dari perjodohan nya dengan Nawal.
Floryn sudah tampak cantik dan anggun dengan gaun biru muda yang dikenakannya, ya semua itu adalah pemberian Alan karena ingin membuat orangtuanya terkesan pada Floryn. Keduanya pun turun dari mobil bersamaan, tentunya Alan tak lupa menggandeng tangan Floryn sembari berjalan memasuki rumahnya dengan perlahan.
"Lan, kok aku tiba-tiba jadi gugup gini ya? Aku takut banget orang tua kamu gak suka sama aku dan gak percaya kalau kita pacaran," ucap Floryn.
"Hahaha, itu cuma perasaan kamu doang Floryn. Aku yakin mama sama papa aku pasti bakal terima kamu, mana bisa mereka tolak perempuan secantik kamu coba?" ucap Alan.
Floryn tersipu malu dibuatnya, "Ah kamu mah bisa aja Alan!" ucapnya seraya memukul lengan pria itu.
"Bisa dong, tapi emang beneran kok kamu cantik banget Flo. Aku yakin papa mama aku pasti bakalan terpesona sama kamu," ucap Alan.
"Ah udah lah, ayo kita masuk aja! Kalau kelamaan ngobrol disini, nanti kamu makin ngaco!" ujar Floryn.
"Ahaha, iya iya ayo!" ujar Alan terkekeh.
Disaat mereka hendak meneruskan langkahnya, tiba-tiba Syera sudah muncul terlebih dahulu dan tersenyum ketika melihat putranya ada disana bersama seorang wanita cantik. Sontak saja Syera langsung menyapa seraya menghampiri mereka, sedangkan Alan justru tampak grogi kali ini.
"Eh sayang, kamu sudah datang? Ini nak Floryn kan yang kamu ceritakan waktu itu?" ucap Syera.
Alan mendekat sembari mencium tangan mamanya itu, diikuti juga oleh Floryn yang melakukan hal sama. "Iya ma, kenalin ini Floryn si cantik yang berhasil mencuri hati aku!" ucap Alan.
"Oh oh oh, duh kamu ini romantis banget sih sayang! Mama senang deh lihat kamu bisa bahagia kayak gini sama perempuan pilihan kamu," ucap Syera tampak bahagia.
"Makasih ma, emang aku tuh pasti akan bahagia kalau bersama kekasih pilihan aku. Makanya mama tolong bilang ke papa supaya jangan jodohin aku sama Nawal!" ucap Alan.
"Iya iya, itu urusan nanti. Sekarang kalian masuk aja yuk ke dalam sekalian ketemu papa! Tuh papa udah nunggu," ajak Syera.
"Oke ma, yuk sayang!" Alan langsung mengangguk dan menatap gadisnya yang tepat berada di samping untuk mengajaknya masuk ke dalam.
Tentu saja Floryn manggut-manggut setuju, mereka bertiga lalu sama-sama melangkah ke dalam rumah dengan Syera yang berada di bagian depan. Namun, jantung Floryn masih berdegup kencang hingga kini dan gadis itu berusaha menguatkan diri dengan cara memejamkan mata.
"Sayang, kamu kenapa hm? Lagi mikirin apa cantik?" tanya Alan dengan godaannya.
Floryn menatap tajam ke arah Alan saat ini, "Ih kamu apaan sih pake sayang-sayangan segala?!" ujarnya penuh kekesalan.
"Sssttt, nanti didengar mama loh sayang! Kamu lupa ya, hm?" ujar Alan.
"Ih iya aku tau, tapi kan gausah sebut-sebut sayang begitu kalau gak di depan mama kamu!" ucap Floryn cemberut.
"Biarin, suka-suka aku dong!" goda Alan sembari mencubit hidung gadisnya.
Pria itu terkekeh melihat reaksi Floryn yang begitu menggemaskan, tapi kemudian mereka semua kompak terkejut ketika seseorang berdiri di hadapan mereka mencegat langkah mereka sambil menatap tajam dengan dua tangan dilipat dan membuat ketiganya tampak heran.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...•...
...AW ROMANTIS KAN ALAN SAMA FLORYN? ...
...SIAPA YANG DUKUNG MEREKA JADIAN HAYO?...
__ADS_1