
Saka dibuat kaget saat Silvi memberi kabar bahwa adanya surat pengunduran diri yang diajukan oleh Sahira kemarin pagi. Sungguh Saka tak menyangka dengan apa yang dilakukan gadis itu, padahal dia baru bekerja beberapa hari saja disana bersamanya. Saka pun terlihat emosi dan menggeram kesal, ia sampai mengacak-acak barangnya yang ada di meja saat ini.
Silvi yang melihat itu pun dibuat takut, namun ia hanya bisa diam menyaksikan amarah Saka yang begitu menakutkan. Tidak biasanya Saka sampai semarah itu, meski beberapa kali sempat ada kejadian yang bisa memancing emosinya. Ya Saka adalah tipe orang penyabar, tetapi jika sudah menyangkut Sahira maka Saka pun tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Aaarrgghh sial! Kenapa kamu lakuin ini Sahira? Kenapa?" geram Saka mengacak-acak rambutnya.
Perlahan Silvi mendekati bosnya untuk membantu menenangkannya, "Pak, yang sabar ya! Saya yakin bapak bisa dapat asisten yang lebih baik daripada Sahira kok," ucapnya pelan.
"Bukan masalah asisten penggantinya, tapi saya gak terima aja kalau Sahira mengundurkan diri secara tiba-tiba kayak gini!" ucap Saka.
"Lalu bapak inginnya bagaimana? Apa surat pengunduran diri ini saya tolak, pak? Supaya Sahira tetap harus bekerja di perusahaan ini sampai kontraknya selesai," tanya Silvi.
"Ya, tapi biar itu jadi urusan saya. Kamu kembali saja bekerja, urus semuanya!" ucap Saka.
"Baik pak!" ucap Silvi menurut.
Setelahnya, Silvi memutuskan keluar dari ruangan pria itu yang sudah teracak-acak. Sedangkan Saka kini terduduk di kursinya, bersandar dengan santai sambil menetralkan nafasnya. Ia lalu mengambil ponselnya, berusaha menghubungi nomor Sahira tetapi tidak bisa. Akhirnya Saka kembali menggeram kesal, ia melempar ponsel itu ke lantai sampai hancur berkeping-keping.
"Haaahhh! Kamu kemana sih Sahira? Kenapa telpon kamu selalu gak aktif? Apa kamu emang sengaja ingin menghindar dari saya? Tapi kenapa? Tolong jelaskan Sahira!" kesal Saka.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba saja, sebuah ketukan pintu terdengar dan membuyarkan amarah pria itu. Sontak Saka berusaha mengatur nafasnya, lalu mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk. Dan tak lama, pintu terbuka kemudian seorang wanita cantik tampak memasuki ruangan itu dengan gaya modisnya disertai senyuman singkat.
"Halo pak Saka yang terhormat! Apa kabar?" ucap wanita itu menegurnya.
Saka benar-benar terkejut dibuatnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah si gadis seolah tak percaya. Sedangkan wanita itu hanya diam memandang wajahnya sambil terus melangkah ke dekatnya, sampai kemudian dia berhenti tepat di hadapan Saka dan mengulurkan tangannya seolah mengajak bersalaman.
"Pak, kita salaman dulu sebagai tanda kalau diantara kita tidak ada masalah dan masih baik-baik aja!" ucap wanita itu.
"Nawal, mau apa kamu datang ke kantor saya? Jika kamu mencari Alan disini, maka kamu salah karena dia gak ada. Kamu bisa datangin dia ke kantornya aja," ucap Saka.
Ya wanita itu ialah Nawal yang tak lain adalah mantan kekasih Alan, alias adiknya sendiri. Entah karena apa Nawal sampai datang ke kantor Saka kali ini, padahal gadis itu belum pernah sebelumnya datang kesana. Bahkan terlihat dari reaksinya, Saka juga tak menyangka kalau gadis itu akan datang ke kantornya disaat seperti ini.
"Ah ayolah pak Saka, saya kesini bukan untuk itu. Saya justru mau membahas rencana kerjasama kita, apa bapak lupa kalau ada pihak yang ingin menjadi investor disini?" ucap Nawal.
Saka mengernyitkan dahinya, "Apa? Jadi, pihak itu tuh maksudnya kamu?" ucapnya kaget.
Nawal mengangguk pelan, "Iya pak, makanya sekarang saya datang kesini buat temuin bapak. Tapi, kok ini ruangan anda berantakan sekali ya? Ada apa?" ujarnya.
"Kamu tidak perlu banyak tanya, silahkan kamu duduk jika memang ingin bicara dengan saya!" ucap Saka meminta Nawal duduk.
"Baiklah, tapi saya harap anda mau mendengarkan semua yang saya sampaikan! Karena saya tidak akan mengulanginya dua kali," ucap Nawal.
Saka terkekeh saja, lalu kembali duduk di tempatnya tanpa mendengarkan ucapan Nawal barusan. Sedangkan gadis itu ikut terduduk tepat di hadapan Saka sembari menatap sekeliling, jujur Nawal sangat tidak menyukai kondisi ruangan yang berantakan seperti itu. Menurut Nawal, itu semua sama saja artinya Saka tidak bisa menghargai tamu yang juga akan menjadi investor disana.
"Pak Saka yang terhormat, apa anda tidak ada niatan untuk membersihkan semua ini dulu? Jujur saya ngerasa gak nyaman loh disini," ucap Nawal.
"Kalau kamu mau, silahkan bersihkan sendiri! Saya sedang tidak ingin melakukan apapun, lagipun saya nyaman-nyaman aja sekarang," ucap Saka.
"Oh ya ampun, saya gak nyangka ternyata begini sikap anda dalam memperlakukan investor! Apa anda tidak ingin menerima bantuan dari saya, hm?" ucap Nawal jengah.
__ADS_1
"Begini ya Nawal, eh maksudnya bu Nawal yang terhormat. Saya itu memang butuh bantuan dana, tetapi saya tidak pernah memintanya pada anda. Jadi jika anda memang tidak mau membantu saya, ya terserah. Saya bisa cari investor lain yang tidak seribet anda," ucap Saka ketus.
"Ahaha, anda yakin sekali ya sepertinya kalau akan ada investor lain yang mau membantu anda? Apa anda lupa seperti apa perusahaan ini sekarang? Sudah jauh menurun loh pak," kekeh Nawal.
Saka sudah semakin tidak senang dengan kehadiran Nawal disana, rasanya saat itu juga ia ingin mengusir Nawal dari tempatnya. Namun, biar bagaimanapun Saka sejujurnya amat butuh bantuan dana dari Nawal saat ini. Apalagi gadis itu menjanjikan uang cukup banyak untuk bisa membantu proyek barunya, tentu saja akan sangat rugi jika Saka menolak bantuan gadis itu.
•
•
Sahira pun mengernyitkan dahinya dan amat penasaran, "Gue jadi makin kepo deh, lu emang mau bicara apa sih Cat? Udah ah cepetan sekarang aja bicaranya!" ucapnya penuh penekanan.
"Hehe, iya deh iya gue bakal kasih tahu lu sekarang kok. Tapi, lu tenang dulu ya dan jangan terlalu tegang gitu!" ucap Cat tersenyum lebar.
"Iya ini gue santai, udah cepetan apa yang mau lu kasih tahu ke gue! Waktu gue gak lama, karena abis ini gue mau cari kerja buat nambah-nambah uang!" ucap Sahira.
"Hah cari kerja? Emangnya lu udah gak kerja di kantornya pak Saka lagi, Ra?" kaget Cat.
Sahira mengangguk perlahan, "Kemarin gue udah ajuin surat pengunduran diri, ya soalnya gue gak bisa kerja disana lagi," ucapnya.
"Loh kenapa? Kan enak tau kerja di kantor yang besar dan mewah kayak gitu," heran Cat.
"Hadeh, udah deh Cat jangan bahas yang lain terus! Buruan lu kasih tahu gue, apaan yang pengen lu bicarain tadi!" kesal Sahira.
"Eh iya iya, duh gue jadi lupa. Sebentar, nih fotonya ada di hp gue!" ucap Cat.
"Foto? Foto apa?" tanya Sahira penasaran.
"Apa? Jadi benar yang dibilang Alan, mas Saka emang selingkuh di belakang aku sama Floryn?" gumam Sahira dalam hati.
Sahira benar-benar kaget saat melihatnya, awalnya gadis itu memang tak percaya dengan apa yang dikatakan Alan kemarin kalau Saka dan Floryn tengah menjalin hubungan. Namun, kali ini semua itu seolah terbukti dengan adanya foto yang diberikan Cat padanya. Jelas sekali kalau Saka bersama Floryn terlihat sangat dekat, mereka bahkan saling bertatapan dan tersenyum lebar.
Cat pun menutup layar ponselnya, meletakkan kembali di atas meja dan menatap Sahira yang tengah bersedih. Cat meraih satu tangan sohibnya itu, menggenggam erat sembari berusaha menghiburnya agar tidak terlalu memikirkan hal itu. Sebenarnya Cat merasa bersalah karena sudah melihatkan foto itu pada Sahira, tetapi sebagai sahabat tentu Cat tidak ingin jika Sahira dikhianati oleh kekasih yang sangat dia cintai itu.
"Lu yang sabar ya, Ra! Gue tahu lu pasti kecewa dan sedih banget waktu lihat semua ini, tapi gue yakin lu bisa kuat kok!" ucap Cat.
Sahira mengangguk disertai isakan tangis, "Iya Cat, thanks ya! Gue makasih banget sama lu, karena berkat lu sekarang gue tahu apa yang mas Saka lakuin di belakang gue," ucapnya.
"Sama-sama, Ra. Jujur gue gak terima Saka berani giniin lu, lihat aja gue bakal kasih pelajaran buat dia!" geram Cat.
"Eh jangan Cat, gausah! Lu gak perlu lakuin itu, nanti yang ada masalahnya malah makin ribet! Biar gue aja yang selesaiin semuanya, gue bakal temuin mas Saka secara langsung," cegah Sahira.
"Apa? Lu mau ngapain ketemu dia, Ra? Dia udah nyakitin loh, nanti malah dia makin nyakitin lu lagi tau!" ujar Cat.
Sahira menggeleng kuat, "Enggak kok, gue bisa jaga diri. Lagian ini kan urusan gue, jadi gue gak enak lah kalau libatin lu terus. Pastinya lu kan juga punya urusan lain," ucapnya.
"Ya iya sih, tapi gue gak ngerasa direpotin sama lu kok. Gue siap bantu lu apapun itu!" ucap Cat.
"Sekali lagi makasih Cat, tapi gue kayaknya bakal urus semua ini sendiri. Gue tahu apa yang harus gue lakuin kok," ucap Sahira.
"Okay, gue gak akan paksa lu lagi. Ya tapi kalau lu butuh bantuan gue, bilang aja ya!" ujar Cat.
__ADS_1
Sahira mengangguk sambil tersenyum, lalu karena rasa belas kasih yang besar Cat pun memeluk Sahira dengan erat sembari mengusap punggung gadis itu perlahan. Cat sangat tidak tega melihat sahabatnya tersakiti, dia juga berjanji untuk terus ada di sisi Sahira kapanpun dia dibutuhkan karena mereka memang sudah bersahabat lumayan lama.
"Hai semua!" tiba-tiba saja, suara seorang laki-laki mengejutkan keduanya.
Sontak Sahira serta Cat menoleh secara bersamaan ke arahnya, mereka terkejut melihat Bayu yang ternyata ikut berada disana dan tengah menatap mereka sambil tersenyum lebar. Akhirnya kedua gadis itu kompak berdiri dan masih terlihat kebingungan, sedangkan Bayu hanya diam tanpa beralih sedikitpun dari wajah Sahira.
"Loh Bay, lu kok bisa ada disini? Lu tahu darimana gue pergi kesini? Atau emang kita cuma gak sengaja aja ketemu?" tanya Sahira keheranan.
"Ahaha, tadi gue gak sengaja lihat lu dari luar. Makanya gue susulin aja," jawab Bayu.
"Ohh, pantas aja gue kaget lihat lu disini. Yaudah, duduk aja yuk!" ajak Sahira.
"Umm emang boleh? Nanti takutnya gue ganggu kalian lagi," tanya Bayu agak ragu.
"Boleh lah Bay, sini udah duduk sama kita gabung aja! Kalau lu mau pesan, ya silahkan aja pesan yang lu suka!" ucap Sahira.
"Iya Bay, lu kan temennya Sahira juga. Gue mah gak masalah kali," sahut Cat.
"Ah thanks ya, kalo gitu gue ikut deh sama kalian," ucap Bayu menurut.
Akhirnya Bayu ikut terduduk disana sesuai permintaan Sahira tadi, mereka pun sama-sama berbincang riang menikmati waktu kebersamaan mereka. Terlihat Bayu cukup senang berada disana, terlebih ada di dekat Sahira amat membuatnya merasa sangat bahagia.
•
•
Disisi lain, Alan berniat pergi dari tempat Carol dan meninggalkan gadis itu dengan perasaan kesal. Ya pria itu baru saja mengurungkan niatnya untuk mengambil mahkota sang gadis, sebab ia merasa semuanya tidak pantas dilakukan olehnya karena itu adalah hal yang buruk. Akhirnya Alan justru bangkit dan memakai kembali pakaiannya, lalu berjalan kesal keluar dari kost tersebut.
Namun, Carol yang heran dengan sikap pria itu justru mengejarnya setelah memakai semula semua pakaiannya. Meski Carol senang Alan tidak jadi merebut apa yang menjadi haknya, tapi Carol sedikit bingung mengapa bisa Alan tiba-tiba pergi dan membatalkan semuanya. Padahal tadi Carol sudah pasrah jika memang Alan ingin melakukan semua itu, tapi nyatanya ia masih diselamatkan.
"Alan tunggu!" gadis itu berteriak keras berusaha menahan Alan yang hendak masuk ke mobilnya.
Carol pun berhasil mencegah pria itu sebelum memasuki mobil, ya Carol langsung menarik lengan Alan dari belakang dan membuat sang empu terpaksa menghentikan langkahnya. Alan menatap ke arah Carol dengan wajah penuh amarah, dari sorot matanya menandakan kalau pria itu benar-benar emosi padanya.
"Kamu ngapain susulin aku? Kalau aku khilaf dan hilang kesadaran lagi kayak tadi, bisa-bisa aku beneran lakuin itu loh Carol. Mending kamu balik sana, aku harus pergi!" ucap Alan tegas.
"Tapi Lan, kamu gak boleh pergi sendiri dalam keadaan begini. Aku telpon kak Saka dulu ya buat jemput kamu?" ucap Carol.
"Eh jangan! Aku gak butuh dia lagi, aku bisa urus hidup aku sendiri. Udah kamu gausah khawatir, toh kamu gak suka sama aku kan! Buktinya kamu tolak aku tadi di dalam," ucap Alan.
"Lan, please jangan kayak gitu! Aku tolak kamu karena memang aku gak merasa jatuh cinta sama kamu," ucap Carol.
"Yaudah, kalau kamu gak cinta sama aku, ngapain kamu perduliin aku coba? Mending kamu pergi deh, aku harus jauh-jauh dari kamu supaya aku gak khilaf lagi seperti sebelumnya!" ucap Alan.
"Kalau aku gak mau lepasin kamu gimana? Aku bakal terus cegah kamu, karena aku khawatir kamu celaka Alan!" ucap Carol kekeuh.
Akhirnya Alan melepas paksa tangan gadis itu dari lengannya, "Cukup Carol! Aku mohon kamu jangan tahan aku lagi, aku gak mau melukai kamu apalagi mengambil sesuatu yang berharga dari kamu!" ucapnya tegas.
Deg!
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...