
Gadis itu terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Jika ingin jujur, maka Sahira memang juga mencintai pria di hadapannya itu. Tetapi, Sahira pun perlahan-lahan sudah mulai mencintai Saka yang statusnya kini adalah kekasihnya. Lagipula, tak mungkin jika Sahira akan meninggalkan Saka begitu saja.
"Bukan begitu Alan, tapi emang kita gak mungkin bisa saling memiliki. Kamu mending lupain itu deh, dan cari perempuan lain!" ucap Sahira.
"Gimana bisa aku cari yang lain Sahira? Sedangkan yang ada di dalam pikiran aku itu cuma kamu, gak ada yang bisa menggantikan kamu di hati aku!" ucap Alan dengan tegas.
"Kamu gausah lebay, buktinya kemarin kamu bisa dekat sama dua wanita sekaligus. Kenapa sekarang kamu malah balik ke aku?" ucap Sahira.
Alan menghela nafasnya sesaat, "Ya justru itu Sahira, aku balik kesini karena aku gak bisa lupain kamu dari pikiran aku," ucapnya.
"Kenapa bisa gitu? Udah deh Alan, kamu gausah akting di depan aku! Aku tahu kamu gak mungkin jatuh cinta sama aku, mending sekarang kamu pulang sana!" ucap Sahira ketus.
"Hey Sahira! Buat apa aku bohong sama kamu? Aku emang serius cinta sama kamu dan belum bisa lupain kamu, percaya dong!" ujar Alan.
Gadis itu menggeleng cepat dan melepas paksa genggaman tangan Alan darinya, ia berbalik memalingkan wajah serta melipat kedua tangannya di depan. Alan terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu, dirinya tampak bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Sahira agar gadis itu mau percaya padanya kalau memang selama ini dia mencintainya.
"Kalau memang begitu, kamu berarti harus ikhlas melepas aku ke lelaki lain, Alan!" pinta Sahira.
Alan mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu gimana? Kenapa aku justru harus melepas kamu? Aku ini cinta sama kamu, mana bisa aku lepasin kamu gitu aja!" ujarnya heran.
"Itu artinya kamu belum paham makna cinta yang sebenarnya, Alan. Sebaiknya kamu pergi dan cari tahu dulu semua tentang itu!" ucap Sahira.
"Enggak, intinya aku gak akan ikhlasin kamu sama siapapun itu, termasuk bang Saka! Kamu itu milik aku, Sahira. Dan selamanya akan terus begitu!" tegas Alan.
"Terserah kamu, tapi aku gak bisa jawab sekarang. Aku ini statusnya masih kekasih dari abang kamu, jadi kamu harus tahu diri!" ucap Sahira.
"Aku tahu diri kok, buktinya kemarin-kemarin aku gak gangguin kalian kan. Tapi, sekarang hubungan kalian itu lagi meredup dan ini kesempatan aku buat dapetin kamu seutuhnya!" ucap Alan.
"Kamu gila Alan! Gimana nasib dua perempuan yang kamu dekati itu nanti?" ujar Sahira.
"Aku gak perduli sama mereka, terutama Floryn. Dia itu sudah asyik dengan bang Saka, dan harusnya kamu percaya sama aku!" ucap Alan.
"Gimana aku bisa percaya? Kamu aja gak ada buktinya tuh," tanya Sahira.
Alan terdiam, membuat Sahira yakin kalau pria itu hanya asal bicara tanpa memiliki bukti apa-apa. Dan Sahira juga tidak ingin mempercayai ucapan Alan begitu saja, sebab ia tahu kalau Saka tidak akan mungkin berkhianat darinya. Sahira juga tahu Saka sangat mencintai dirinya, dan ia lebih percaya pada lelaki itu dibanding Alan.
"Kenapa diam? Gak ada buktinya kan? Udah deh, kalau cuma asal bicara lebih baik kamu pergi aja sana!" ketus Sahira mengusirnya.
"Okay, aku akan pergi dari sini sekarang juga. Asal kamu mau terima cinta aku dan jadi pacar aku," ucap Alan.
Deg!
Sahira sungguh bingung saat ini, apa yang diminta Alan tentunya tidak mungkin bisa ia turuti karena saat ini ia masih merupakan kekasih dari Saka yang tak lain ialah kakak dari pria itu sendiri. Namun, Alan seolah tak perduli dengan hal tersebut dan tetap memaksa Sahira untuk menerima cintanya.
"Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku, Alan? Apa yang bikin kamu pengen aku jadi pacar kamu?" tanya Sahira terlihat keheranan.
Perlahan Alan mendekati Sahira dan menyentuh dua pundaknya, "Gak tahu, cinta aku ini tak beralasan. Mungkin aku bisa tahu jawabannya setelah kamu mau terima aku," ucapnya.
Sahira terdiam kembali, ia memalingkan wajahnya lalu menyingkirkan kedua tangan Alan dari pundaknya. Ia menatap Alan secara singkat, sebelum kemudian berlari pergi begitu saja meninggalkan pria itu dan menuju rumahnya. Sontak Alan terkejut sekaligus heran, pria itu berusaha mengejarnya tetapi gagal karena Sahira sudah lebih dulu masuk ke dalam rumahnya.
•
__ADS_1
•
Braakkk
Sahira berlari masuk ke dalam rumah dan langsung menutup serta mengunci pintu dengan cepat agar Alan tak bisa mengejarnya, ia pun bersandar di belakang pintu dan air mata yang sedari tadi ia tahan kini mulai keluar membasahi kedua pipinya. Gadis itu juga perlahan terduduk disana dengan posisi meringkuk, ia masih tak percaya pada apa yang terjadi kali ini.
Sejak lama Sahira sudah berusaha menghilangkan perasaannya pada Alan, tapi justru pria itu sendiri yang kali ini mengejarnya dan malah meminta dirinya untuk menjadi kekasihnya. Sungguh Sahira tak mengerti apa yang diinginkan Alan kali ini, sebab ia masih tidak yakin jika pria itu benar-benar mencintainya. Selain itu, Sahira juga tak mungkin berkhianat dari Saka yang sudah sangat baik padanya selama ini dan selalu membantunya.
"Hiks hiks hiks, kenapa sih semuanya malah jadi kayak gini? Satu masalah belum selesai, sekarang justru muncul masalah yang lain. Apa coba maksud semua ini?" ujar Sahira sambil terisak.
Tanpa diduga, Fatimeh yang sebelumnya tengah menikmati sarapan pagi tak sengaja mendengar suara pintu tertutup dari arah luar. Karena penasaran dan ingin tahu, wanita itu beranjak dari meja makan lalu menuju ke depan untuk memastikan siapa yang datang. Dan begitu sampai disana, betapa terkejutnya ia saat melihat putrinya sedang terduduk di belakang pintu sambil menangis deras entah kenapa.
"Loh loh Sahira??" dengan panik, Fatimeh berjalan menghampiri putrinya itu lalu ikut terduduk di sebelahnya karena penasaran.
"Eh, lu kenapa Sahira? Kok lu nangis begini sih? Apa yang terjadi sama lu, si Alan itu nyakitin lu ya? Ayo bilang sama gue Ra, biar gue hajar tuh anak!" ucap Fatimeh bertanya penuh kecemasan.
Sahira menggeleng sembari mengusap air matanya, "Gapapa bu, aku cuma kecewa aja dan sedih dengan semua yang terjadi," ucapnya.
"Maksud lu?" tanya Fatimeh lagi keheranan.
"Ya yang sekarang terjadi ke kita, bu. Aku gak ngerti kenapa banyak banget masalah di hidup kita sekarang ini," jawab Sahira.
"Lu yang sabar aja, udah gausah pake nangis kayak gitu! Sekarang mending lu makan dulu, biar lu bisa tenang dan gak cemas terus!" ucap Fatimeh berusaha membujuk putrinya itu.
"Tapi bu, kayaknya aku perlu ketemu sama mas Saka deh. Aku harus bicara sama dia buat lurusin semuanya," ucap Sahira.
"Hah? Buat apa sih lu pengen ketemu sama tuh anak? Hadeh, ini aja adiknya itu udah bikin lu nangis. Gimana nanti kalau lu ketemu dia? Yang ada air mata lu tambah banyak," ujar Fatimeh.
"Terserah lu aja deh, tapi sekarang lu makan dulu biar perut lu gak kosong!" ucap Fatimeh.
"I-i-iya bu.." Sahira mengangguk perlahan masih dengan air mata membasahi pipinya.
Fatimeh pun bergerak memeluk tubuh sang putri dengan erat dan juga mengusap rambutnya perlahan, sedangkan Sahira hanya bisa terisak diam menikmati pelukan ibunya yang jarang sekali ia dapatkan itu. Awalnya Sahira memang tidak menyukai sikap Fatimeh kepada Alan tadi, namun disaat seperti ini ia sangat mengharapkan kehangatan yang diberikan ibunya itu padanya.
"Udah udah, gausah nangis lagi ya!" ucap Fatimeh sembari mengusap air mata di pipi putrinya.
"Iya bu, makasih ya? Kalo gitu ayo kita makan sama-sama, bu! Maaf ya tadi aku bikin ibu jadi telat makan deh," ucap Sahira sambil tersenyum.
"Gapapa, gue juga pengennya makan bareng sama lu kok," ucap Fatimeh singkat.
Akhirnya mereka berdua pun bangkit dan saling merangkul satu sama lain, lalu keduanya melangkah menuju meja makan untuk menikmati makanan yang sudah disediakan sedari tadi. Sahira mengikuti saja permintaan ibunya, karena memang ia sendiri juga lapar dan ingin menyantap nasi uduk yang tadi ia beli dari luar.
"Nih udah gue siapin semuanya, lu tinggal makan aja!" ucap Fatimeh.
"Iya bu, makasih ya?" singkat Sahira sembari menarik kursi dan terduduk disana bersama ibunya.
•
•
Setelah menemui Sahira kemarin dan mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini pada gadis itu, Alan pun kembali mendatangi Carol di kost tempat gadis itu berada. Ia turun dari mobilnya, lalu dengan segera melangkah menuju depan pintu kost sambil menenteng bunga di tangannya yang tadi ia beli saat di jalan.
__ADS_1
Alan mulai mengetuk pintu dengan perlahan dan tak lupa memanggil nama Carol, berharap agar gadis cantik itu keluar menemuinya. Betul saja, tak butuh waktu lama akhirnya Carol keluar dengan senyum tipisnya menghadap pria itu. Jujur Carol terkejut dengan kehadiran Alan disana, apalagi sejak kemarin ia selalu mencari pria itu, namun tidak dapat ia temukan.
"Eh Alan, ada apa kamu balik ke kostan aku? Aku kira kamu udah gak mau kesini lagi loh," tanya Carol penasaran.
Alan tersenyum dan menyodorkan bunga di tangannya kepada gadis itu, "Aku kesini karena aku kangen sama kamu sayang, nih aku ada bunga loh buat kamu," jawabnya santai.
"Eee iya makasih, tapi ini dalam rangka apa ya kamu kasih aku bunga kayak gini? Gak biasanya kamu begini," ujar Carol keheranan.
"Gak ada kok, aku emang kepengen kasih bunga aja buat kamu sayang. Kita ini kan pacaran, jadi ya aku mau bikin kamu bahagia dong," ucap Alan menggoda gadis itu.
"Maaf, sejak kapan ya aku setuju kalau kita pacaran? Semuanya kan baru keputusan sepihak kamu, aku belum ada kasih jawaban apa-apa tuh," ucap Carol.
"Udah lah sayang, kamu gak perlu malu-malu kayak gitu! Aku tahu kok kalau kamu itu suka sama aku, ya kan sayang?" ucap Alan sensual.
Carol menggeleng pelan, "Enggak tuh, meski kamu udah ambil first kiss aku tapi bukan berarti aku suka sama kamu. Mending sekarang kamu pergi deh, temuin aja tuh si Floryn!" ucapnya ketus.
"Kok kamu jadi bawa-bawa Floryn sih? Apa kamu cemburu karena aku dekat sama dia?" tanya Alan.
"Apaan sih, siapa yang cemburu? Aku cuma gak mau jadi pengganggu di hubungan kalian aja, lagian kalian itu kelihatan cocok kok. Harusnya kamu pacaran beneran aja sama dia," jawab Carol.
"Sok tahu banget sih kamu, orang aku cocoknya sama kamu kok. Ayolah Carol, kamu terima ya aku jadi pacar kamu!" bujuk Alan.
"Kenapa kamu mau pacaran sama aku? Apa kamu itu sebenarnya cuma kepincut sama tubuh aku, iya?" tanya Carol.
Deg!
Alan tersentak kaget, rupanya Carol menyadari maksud dirinya mendekati gadis itu hanya karena ingin mencicipi tubuhnya. Alan memang sudah berhasil mencuri ciuman pertama Carol, tapi itu saja tentu tidak cukup dan Alan menginginkan seluruh tubuh Carol untuk ia nikmati. Ya hanya saja semuanya tidak akan mudah, karena Alan yakin kalau Carol tak mungkin mau memberikannya.
"Gak gitu sayang, aku beneran cinta kok sama kamu. Kalau emang aku incar tubuh kamu doang, kemarin waktu kita tidur bareng pasti aku udah lakuin sesuatu ke kamu. Tapi, buktinya enggak kan?" ucap Alan santai.
Carol terdiam memikirkan perkataan Alan, "Benar juga sih yang dibilang sama Alan, dia waktu itu emang gak apa-apain aku. Tapi, kok aku masih ragu ya sama dia?" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, Alan mendekat dan menangkup wajah Carol. Tanpa memberi aba-aba, pria itu langsung mengecup bibir yang sudah menjadi candu baginya sembari mendorong tubuh Carol perlahan memasuki kamar kostnya. Alan terus mendorong Carol sampai menempel pada dinding, lalu dua tangannya menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.
"Mmppphhh mmppphhh..."
Gadis itu memukul-mukul dada bidang si pria berharap Alan mau melepaskan ciumannya, jujur ia terkejut dengan gerakan tiba-tiba Alan yang tadi menciumnya dan nafasnya kini juga sudah mulai hilang akibat perlakuan pria itu. Namun, Alan seolah tak perduli dan malah semakin memperdalam aksinya memanfaatkan mulut Carol yang terbuka. Pria itu langsung memasukkan lidahnya dan menari-nari di dalam sana.
"Aku suka sama tubuh kamu, Carol. Kalau kamu gak mau jadi pacar aku, ya minimal kamu harus serahkan tubuh kamu ke aku!" batin Alan.
Setelahnya, Alan melepas ciuman itu dan tersenyum ke arah si gadis. Sedangkan Carol tampak mengambil nafas sedalam mungkin untuk mengembalikan energinya, gadis itu benar-benar tak menyangka kalau Alan akan bertindak sekasar itu padanya. Bahkan, kali ini Alan kembali menarik tangan Carol dan melemparnya begitu saja ke ranjang tanpa belas kasihan.
Bruuukkk.
"Awhh, kamu apa-apaan sih Alan? Kamu mau apa? Katanya kamu beneran cinta sama aku, kenapa kamu malah mau perkosa aku?" tanya Carol.
"Hahaha, mikirnya udah kemana-mana aja sih kamu. Siapa juga yang mau perkosa kamu, hm? Jangan kege'eran deh sayang, orang aku cuma pengen kamu tiduran disitu!" jawab Alan.
Carol menggeleng dan berusaha bangkit, namun Alan lebih dulu menahannya lalu menindih tubuh gadis itu disana. Tak lupa juga kedua tangan Carol yang kini dicengkeram erat dan ditaruh di atas kepalanya, Carol pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa terdiam pasrah dengan apa yang akan dilakukan pria itu saat ini.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...