Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 21. Perubahan Alan


__ADS_3

Keesokan harinya, Sahira dibuat terkejut saat ia membuka pintu dan hendak pergi ke kantor. Pasalnya di depan sana sudah berdiri sosok Alan yang mengenakan jas biru tua dengan satu buah bucket bunga di tangannya, Sahira pun terperangah melihat kehadiran sang bos yang tentu sangat sulit terjadi.


Bahkan, Sahira sampai mematung beberapa detik dengan kondisi tangan yang masih memegangi pintu dan mulut terbuka. Alan pun harus menegur gadis itu dengan cara mengipas-ngipas tangannya di depan wajah Sahira, barulah Sahira bisa sadar dan reflek tersenyum lebar.


"Eh pak Alan? Eee kok bapak bisa ada di rumah saya ya? Bapak tahu darimana alamat saya?" tanya Sahira gugup plus gemetar.


"Bang Saka kan sering antar kamu pulang, jadi dia tahu alamat kamu dong. Ya dia yang kasih tau ke saya dimana tempat kamu tinggal, makanya saya kesini deh sekarang," jawab Alan bohong.


"Ohh, terus bapak mau apa datang ke rumah saya? Gak mungkin kan cuma silaturahmi?" tanya Sahira.


"Emang enggak, saya niatnya mau ajak kamu berangkat bareng ke kantor. Kamu tapi jangan salah paham, saya begini itu biar kamu gak telat aja ke kantornya. Jadi, jangan ge'er dulu!" jawab Alan.


"Dih siapa juga yang ge'er? Terus itu bunga ngapain dibawa-bawa coba?" ujar Sahira.


"Ini buat pacar saya, nanti di jalan kita mampir dulu ke rumah dia sebelum ke kantor. Udah yuk kita jalan sekarang!" ucap Alan.


"Hah? Ih ogah banget, saya gak mau jadi nyamuk! Mending saya berangkat sendiri aja," ucap Sahira.


Alan menahan lengan Sahira dan mencegah gadis itu pergi, sontak Sahira menatap tajam ke wajah Alan dan mencoba berontak darinya. Tetapi cengkraman Alan sangat kuat sehingga Sahira hanya pasrah dan tak bisa berbuat banyak.


"Iya iya saya ngaku, bunga ini emang buat kamu. Jangan maksa buat berangkat sendiri ya, pokoknya kamu harus bareng saya!" tegas Alan.


Sahira terkejut, "Jadi bunga ini buat saya pak? Alasannya apa bapak kasih saya bunga sebagus ini?" tanyanya dengan kening mengernyit.


"Saya mau minta maaf ke kamu soal kemarin, saya udah salah paham sewaktu kamu ada di kantin. Kamu mau kan maafin saya?" jawab Alan.


"Loh, ini pak Alan bukan sih?" Sahira menatap heran, ia sampai menggerakkan tangannya dan menempelkan punggung tangannya pada dahi sang bos.


"Apaan sih? Ya saya Alan lah, bos kamu yang tegas dan dingin!" sentak Alan menyingkirkan tangan Sahira darinya.


"I-i-iya bos, maaf saya lancang!" gugup Sahira.


"Yasudah, cepat kita berangkat! Kamu udah sarapan kan?" ucap Alan.


"Belum sih pak," jawab Sahira lirih.


"Lah kenapa belum? Sebelum kerja itu harus sarapan dulu biar bertenaga, sudah nanti kita sarapan di luar aja!" ucap Alan.


Sahira mengangguk pelan, ia pun ikut bersama Alan bergerak menuju mobilnya. Meski Sahira masih tak menyangka jika Alan mampu bersikap baik padanya, padahal selama ini pria itu selalu saja cuek dan dingin. Bahkan, seringkali Alan juga memarahinya tanpa alasan yang jelas.




Saka tiba di kantornya, ia pun menemui Keira yang bertugas di meja resepsionis. Memang Keira selalu datang lebih awal daripada yang lain, sebab tugas dia adalah menyapa dan membantu para tamu yang hadir disana atau hendak mengurus sesuatu.


"Keira, adik saya udah datang apa belum?" tanya Saka pada gadis itu.


"Eee dari saya datang sampai sekarang, pak Alan belum datang sih pak," jawab Keira.


"Loh aneh, padahal tadi dia berangkat lebih dulu daripada saya. Kok bisa malah dia belum sampai?" heran Saka.


"Saya gak tahu pak," lirih Keira.


"Saya bicara sama diri saya sendiri, terus Sahira udah datang apa belum?" ujar Saka.


"Ohh, bilang aja kali bapak pengen tanyain Sahira, pake segala tanya-tanya soal pak Alan. Cie cie, kayaknya bapak makin dekat aja nih sama Sahira!" goda Keira.


"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh deh! Awas aja kalau sampai ada gosip gak bener di kantor ini tentang saya dan Sahira, kamu orang pertama yang saya salahkan!" ucap Saka.


"I-i-iya pak, saya minta maaf. Sahira juga belum datang kok pak, biasanya sih dia selalu datang pagi, tapi sekarang gak tahu," ucap Keira gugup.


"Yaudah, kamu lanjut kerja aja!" ucap Saka.

__ADS_1


"Baik pak!" Keira mengangguk setuju dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Saka memilih pergi dari sana, ia berjalan ke luar kantor seolah menunggu Sahira datang kesana. Entah kenapa Saka menjadi lebih perhatian pada Sahira, ia khawatir jika belum melihat Sahira sampai dengan selamat. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.


Apalagi saat ini Alan juga belum sampai ke kantor, pikiran Saka pun jadi lebih cemas memikirkan Sahira. Ia memiliki firasat kalau Alan tengah mencegat Sahira dan melakukan hal yang tidak-tidak, sebab pria itu dari kemarin tampak emosi dan terus memarahi Sahira.


"Hadeh, ini anak satu kemana ya? Masa berangkat duluan tapi belum datang juga? Malah gue dulu yang sampe kesini, aneh bener!" gumam Saka.


"Maaf pak, lagi nungguin siapa ya?" tegur Agus bertanya pada Saka, setelah ia melihat Saka mondar-mandir di depan sana.


"Ah kamu ini ngagetin saya aja, saya gak lagi nungguin siapa-siapa kok. Udah sana kamu balik kerja aja, tuh ada mobil yang mau lewat!" ujar Saka.


"Oh baik pak, saya permisi!" pamit Agus.


Saka menggeleng pelan, ia pun menetap disana menanti kehadiran Sahira maupun adiknya. Sedangkan Agus sudah pergi untuk kembali bekerja, ia tak mau jika Saka sampai marah dan malah memecatnya.




Sementara itu, Sahira tengah menikmati sarapan bersama Alan di sebuah warung makan. Ini merupakan kali pertama Alan makan di tempat seperti itu, awalnya tadi Alan hendak mengajak Sahira ke cafe, namun gadis itu menolak dan malah memilih makan disana.


"Kamu kenapa ajakin saya makan disini sih? Tempatnya aja buluk kayak gini, higienis gak nih?" ujar Alan.


"Udah deh pak, bapak makan aja dulu dan cobain rasa makanannya! Saya yakin bapak pasti suka kok, ini rasanya enak banget tau. Lagian tempatnya juga gak terlalu kotor kok," ucap Sahira.


"Gak terlalu kotor darimana? Lihat aja tuh banyak kotoran numpuk di lantai," ucap Alan.


"Bapak gausah lebay deh, itu tuh emang lantainya begitu pak. Makanya bapak cobain dulu makanannya baru komen!" ucap Sahira.


"Kamu udah berani ngatur saya? Saya gak mau ah makan disini, nanti saya sakit perut lagi!" ucap Alan.


"Katanya bapak mau minta maaf sama saya, ya bapak sarapannya disini aja dong!" ucap Sahira.


"Pak, ini bukan masalah uang. Tapi, saya lebih suka sarapan disini," ucap Sahira.


"Terus kamu udah berapa kali bolak-balik ke rumah sakit?" tanya Alan.


Sahira mengernyit heran, "Maksud bapak apa sih? Saya sehat-sehat aja kok walau makan disini, jangan lebay deh!" jawabnya.


"Saya gak lebay, tapi emang ini gak higienis. Kamu kok bisa sih lahap banget makannya? Saya aja ngeliatnya udah eneg, emang kamu tuh aneh banget ya?" ucap Alan keheranan.


"Bukan saya yang aneh pak, tapi bapak. Makan tinggal makan aja pake ribut soal higienis, disini semuanya higienis kok pak," ucap Sahira.


"Masa iya? Kalau saya sakit perut, kamu yang tanggung jawab ya!" ucap Alan.


Sahira menggeleng sambil tersenyum, "Iya iya, udah buruan bapak makan gih sampe habis! Tenang aja gak bakal kenapa-napa kok!" ujarnya.


"Yaudah, saya makan deh," singkat Alan.


Mereka kembali memakan makanan itu sampai habis, Sahira terkekeh saja melihat ekspresi Alan yang tampak enggan untuk makan.


"Gimana pak? Enak kan?" tanya Sahira di sela-sela aktivitas mereka.


Alan hanya mengangguk pelan, ia akui bahwa ia merasakan kenikmatan yang berbeda saat memakan makanan itu. Padahal awalnya Alan tidak yakin jika makanan tersebut lezat, tapi setelah masuk ke mulutnya Alan mengakui kalau Sahira benar.


"Tuh kan, saya bilang juga apa. Bapak gak percayaan banget sih jadi orang," ujar Sahira.


"Yaudah, kamu diam aja saya mau fokus makan!" sentak Alan.


Sahira pun tersenyum lebar, lalu keduanya kini fokus memakan makanan itu tanpa ada yang berbicara lagi. Sahira ingin segera menghabisi semua makanannya dan cepat-cepat pergi dari sana, sebab ia sudah tak tahan berduaan dengan pria itu.


__ADS_1



Sahira dan Alan tiba di kantor, mereka sama-sama turun dari mobil dengan senyum merekah di wajah masing-masing. Keduanya melangkah menuju pintu depan kantor, tempat dimana Saka berada dan menunggu mereka. Sontak saja Sahira terperangah melihat kehadiran Saka disana, apalagi saat Saka menatapnya sambil tersenyum.


"Duh duh, kalian kok datangnya bisa barengan sih? Perasaan kemarin-kemarin kalian ribut mulu doh, kenapa sekarang malah berangkat bareng?" ucap Saka terheran-heran.


Sahira terlihat bingung, "Loh emangnya pak Saka gak tahu kalau pak Alan jemput aku?" tanyanya pada pria di depannya itu.


Saka menggeleng, "Enggak tuh, Alan gak ada bilang apa-apa sama saya. Dia tadi cuma pamit buat berangkat ke kantor, eh begitu saya susul dia malah belum datang," jawabnya.


Sahira beralih menatap Alan, "Pak, tadi bukannya bapak bilang kalau bapak tahu alamat rumah saya dari pak Saka ya? Kok malah pak Saka sendiri gak tahu kalau bapak ke rumah saya?" tanyanya heran.


"Eee kita gausah bahas ini lagi ya? Lebih baik kita segera masuk dan bekerja, ingat Sahira kamu masih harus mengerjakan tugas-tugas kamu yang menumpuk itu!" elak Alan.


"Ya tinggal jawab aja apa susahnya sih pak? Saya penasaran tau," ucap Sahira.


Bukannya menjawab, namun Alan justru pergi begitu saja dari sana dan meninggalkan Sahira bersama Saka. Sontak Sahira pun hanya bisa ngedumel sambil menatap wajah Saka, ia sungguh heran bagaimana bisa Alan tahu alamat rumahnya jika bukan dari Saka.


"Sahira, kamu gak perlu bingung gitu. Alan pasti ngikutin kita waktu saya antar kamu pulang, jadi makanya dia bisa tahu alamat rumah kamu," ucap Saka mendekati Sahira.


"Hah? Kok bapak bisa tahu kalau pak Alan ngikutin kita?" tanya Sahira terkejut.


"Waktu itu saya gak sengaja ketemu sama dia di daerah sekitar rumah kamu, udah lah soal itu gausah dibahas lagi ya?" jawab Saka.


"Ohh, tapi saya tetap heran deh pak. Kenapa ya tiba-tiba sikap pak alan ke saya bisa berubah gitu? Kemarin padahal dia masih suka marah-marah sama saya, eh hari ini dia malah jemput saya terus kasih bunga juga buat saya," heran Sahira.


Saka langsung mengernyit heran mendengar ucapan Sahira, "Bunga? Alan kasih kamu bunga? Yang benar kamu Sahira?" tanyanya coba memastikan.


Sahira mengangguk pelan, "Iya pak, ini bunganya kan dari pak Alan," jawabnya seraya menunjukkan bucket bunga yang diberikan Alan tadi pada Saka.


"Sebenarnya ada rencana apa si Alan itu sama Sahira? Kenapa dia mendadak berubah jadi baik gini? Gue harus cari tahu," batin Saka.




Kini Sahira tengah berada di ruang pribadi Alan, ia memenuhi panggilan pria itu sembari menyerahkan berkas hasil kerjanya yang berisi rangkaian kegiatan Alan hari ini. Kebetulan jadwal Alan cukup padat, sehingga pria itu pun terlihat mengerutkan dahinya dan mengambil nafas panjang.


"Eee pak, bapak kelihatannya capek banget. Apa mau ada salah satu schedule bapak yang saya tunda atau batalkan?" tanya Sahira.


"Eh gak gak, gausah. Saya ini orangnya disiplin, jadi kalau sudah jadwalnya hari ini ya gak bisa ditunda tanpa alasan yang jelas dong. Makasih ya Sahira, jangan lupa persiapkan materi meeting kita hari ini juga!" ucap Alan.


"Baik pak, habis ini saya segera ke ruang meeting dan persiapkan semuanya. Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" ucap Sahira.


"Iya ada, kamu tolong buatkan saya kopi sama pisang goreng ya! Saya rindu dengan pisang goreng buatan ibu saya, kamu bisa kan buatkan untuk saya?" ucap Alan.


"Bisa sih pak, tapi apa enggak ambil yang udah jadi aja di bawah?" saran Sahira.


Alan menggeleng, "No no, saya maunya kamu yang buatkan. Kalau pisang goreng yang biasa itu mah bosenin, saya sudah sering makan," tolak Alan.


"Oh begitu, yasudah saya ke bawah dulu ya pak? Tapi kayaknya agak lama, gapapa kan?" ujar Sahira.


"It's okay, saya paham kok kalau goreng pisang itu butuh waktu yang lumayan. Lagipun, saya juga lagi gak buru-buru. Kamu bisa turun sekarang, lakukan tugas kamu dengan baik!" ucap Alan ramah.


"Iya pak, saya permisi ya?" pamit Sahira.


Alan hanya mengangguk, lalu Sahira pun beranjak dari kursinya dan melangkah ke luar ruangan dengan senyum di bibirnya. Entah kenapa Sahira menyukai sikap Alan yang saat ini, pria itu memang telah berubah drastis dari yang pemarah menjadi lebih ramah dan murah senyum.


"Uhh pak Alan yang sekarang beneran udah berubah, dia jadi lebih keren sih. Semoga aja deh dia bisa terus kayak gini, jadinya gue gak dimarahin terus sama dia!" gumam Sahira.


Tanpa sadar, ucapan Sahira barusan didengar oleh Saka yang tak sengaja mengintip dari jarak jauh.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2