
Sahira terdiam sejenak, menundukkan wajahnya hingga tanpa sadar tetesan air mata mengalir di kedua pipinya. Lagi-lagi Alan dibuat penasaran mengapa Sahira menangis, pria itu memutuskan melipir sejenak untuk mengecek kondisi gadis di sebelahnya yang sedang terisak.
"Hey, kamu kenapa Sahira? Masalah kamu pasti berat banget ya? Kamu sampai nangis begini," tanya Alan dengan penuh simpati.
"Sebenarnya iya sih pak, saya emang lagi ada masalah yang menurut saya lumayan berat. Tapi, ini masalah saya dan ibu saya pak. Maaf ya saya gak bisa cerita ke bapak tentang masalah saya?" jawab Sahira sambil mengusap air matanya.
"No problem, yang penting kamu tenang dulu dan jangan nangis terus Sahira! Saya gak enak loh lihatnya kalau kamu nangis, rasanya saya jadi mau usap air mata kamu," ucap Alan.
Sahira tersenyum tipis dibuatnya, "Bapak bisa aja ah," ucapnya pelan.
"Nah gitu dong, kalau senyum kan kamu kelihatan lebih manis Sahira. Udah bisa dilanjut belum nih?" ucap Alan.
Sahira mengangguk pelan.
"Eh, tapi kayaknya itu air mata kamu harus dibersihin dulu. Sini deh biar saya lap ya?" ucap Alan menawarkan diri.
"Hah??" Sahira melongok tak percaya saat Alan mendekat ke arahnya dan perlahan menyentuh wajahnya.
Pria itu mengusap air mata di wajah Sahira dengan jari-jarinya, Sahira benar-benar dibuat tak berkutik oleh apa yang dilakukan Alan saat ini. Jantung gadis itu sudah berdetak sangat kencang dan nafasnya pun tak beratur, sedangkan Alan justru tersenyum melihat wajah Sahira dari jarak sangat dekat.
"Kamu cantik sekali Sahira! Andai saya bisa punya kekasih seperti kamu, pasti saya akan jadi lelaki yang paling beruntung di dunia," ucap Alan spontan.
"A-apa pak??" Sahira terkejut dan menganga tipis mendengarnya, wajahnya memerah seketika seolah tak percaya jika Alan mengatakan itu.
"Iya, lelaki mana sih yang gak merasa beruntung kalau bisa dapetin kamu Sahira?" ucap Alan.
"Umm, bapak terlalu lebay ah. Saya mah bukan wanita yang istimewa seperti yang bapak bilang, saya cuma perempuan biasa," ucap Sahira.
Alan tak menggubris perkataan Sahira, ia malah asyik membelai rambut Sahira dan mengusap wajahnya. Mereka sangat dekat kali ini, sampai Sahira semakin dibuat tak karuan dengan perlakuan Alan saat ini padanya. Alan benar-benar terpesona dengan wajah cantik Sahira, ia seakan tak mau berpaling dari sana.
__ADS_1
"Pak, udah pak air mata saya kan udah gak ada!" pinta Sahira.
"Eee maaf maaf, abisnya kamu cantik banget sih Sahira. Saya jadi gak bisa lepas dari wajah kamu," ucap Alan menggoda.
"Makasih pak, tapi ini udah mau masuk waktu kerja loh pak. Kalau bapak gak jalan sekarang, nanti kita bisa telat tau," ucap Sahira.
"Kamu pikir saya ini siapa? Saya yang pimpin kantor itu dan terserah saya dong mau datang kapan aja, kamu juga gak perlu takut karena saya akan lindungi kamu Sahira," ucap Alan.
"Itu gak bener pak, saya gak mau ah yang kayak gitu. Nanti yang ada orang-orang jadi pada iri sama saya dan gak suka sama saya," ucap Sahira.
"Gapapa, kamu nurut aja sama saya atau kamu akan saya pecat nanti!" ancam Alan.
"Ih kok bapak jadi kayak gitu lagi? Emangnya bapak bisa pecat saya? Paling juga nanti bapak bakal kesusahan sendiri," ujar Sahira.
"Hahaha, iya sih karena kamu kan selama ini kerjanya bagus banget dan saya suka itu," ucap Alan.
Sahira kembali terkejut, ia mencoba mencerna maksud dari kata suka yang baru saja disebutkan oleh Alan tadi.
•
•
Disaat Cat hendak berbalik, Yoshi justru terlebih dahulu melihatnya dan langsung saja pria itu mengejar serta menahan Cat. Akhirnya Cat tidak bisa kemana-mana, ia terpaksa berhadapan dengan Yoshi meskipun rasanya ia masih sangat malu untuk berbincang dengan pria itu secara empat mata.
"Kamu kok malah mau balik lagi si Cat? Ini tokonya dibuka dong, gimana kita bisa kerja coba?" tanya Yoshi terheran-heran.
"Eee iya Yos soalnya anu itu aku..." Cat jadi gugup sendiri dan tidak berani menatap wajah Yoshi.
Sontak Yoshi tersenyum, ia tarik kedua tangan Cat hingga memandang ke arahnya, lalu ia tangkup wajah gadis itu. "Kamu lucu banget sih, gemes!" ucapnya sambil mencubit pipi Cat.
__ADS_1
Jantung Cat makin berdetak tak karuan, pipinya memerah akibat perlakuan pria itu. Di dalam hatinya ia sangat berbunga-bunga karena merasa Yoshi telah memberi harapan padanya, namun meski begitu Cat tidak mau terlalu berharap karena ia khawatir akan kecewa nantinya.
"Kenapa diam aja? Ayo dibuka pintunya, abis itu aku bantu kamu bersih-bersih toko sebelum yang lainnya pada datang! Sekalian ada juga yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Yoshi.
Cat mengernyit penasaran, "Bicara soal apa ya Yos? Ka-kamu gak mau bahas yang kemarin itu kan? Ini jam kerja soalnya," ucapnya.
"Hubungannya apa Cat? Kerja sambil ngobrol gak masalah kan? Toh kita kan selama ini juga begitu, soalnya aku penasaran banget pengen tahu apa maksud kamu bilang gitu kemarin," ucap Yoshi.
"Gausah dibahas lagi lah Yos, aku rasa semuanya udah jelas kok," ucap Cat membuang muka.
"Gimana bisa jelas? Sehabis kamu ngomong kalau kamu orang yang suka sama aku, disitu Wati datang dan aku gak bisa bahas itu di depan Wati. Makanya sekarang aku minta kamu buat jelasin semuanya Cat!" ucap Yoshi.
"Iya Yos, yaudah yuk kita bicara di dalam aja! Banyak kerjaan yang harus kita beresin sekarang," ajak Cat.
"Okay, by the way hari ini kamu cantik banget Cat! Entah aku yang baru sadar, atau memang kamu dari kemarin juga udah secantik ini ya?" puji Yoshi.
Wajah Cat kembali memerah mendengar pujian dari Yoshi, apalagi saat pria itu terang-terangan mengusap wajahnya serta menyelipkan rambutnya ke sela-sela telinga. Cat menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang mencuat di dalam diri, ia benar-benar terbang saat ini.
"Ah Yos, kamu tuh kenapa jadi suka gombal gini sih? Perasaan sebelumnya kamu gak kayak gini deh, udah ah ayo kita kerja sebelum yang lainnya datang!" ucap Cat malu-malu.
"Kok muka kamu jadi merah sih? Malu ya aku bilang cantik? Gausah malu Cat, emang kamu cantik tau dan kamu pantas dipuji!" ucap Yoshi.
"Udah Yoshi, cukup!" pinta Cat.
Yoshi tersenyum dan menangkap wajah Cat, ia memajukan wajahnya seperti hendak mencium bibir wanita itu. Cat sudah memejamkan mata dan jantungnya berdebar kencang, apalagi ketika jarak mereka sudah semakin dekat.
"Kamu cantik Cat, aku.." Yoshi menggantung ucapannya karena matanya fokus ke bibir ranum gadis itu.
"Woi!" sebuah teriakan keras seorang wanita membuyarkan momen itu, keduanya sontak kaget lalu reflek menjauh.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...