Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 57. Cerita aja


__ADS_3

"Apapun itu, intinya tetap dia ada hubungan sama kamu kan? Jadi, stop berharap kalau kita akan balikan lagi!" ucap Alan.


"Kenapa sih Alan? Aku tuh masih sayang sama kamu, dan kamu juga bilang kan kalau kamu belum bisa lupain aku?" ujar Nawal.


"Emang iya Nawal, tapi aku sadar kita gak akan bisa seperti dulu lagi," ucap Alan.


"Alah bullshit! Kita masih bisa kok balikan kayak dulu, asalkan kamu nya mau aja!" ucap Nawal.


Alan menggeleng pelan sembari mengerutkan keningnya, ia menunduk dan menghela nafas karena harus menghadapi gadis seperti Nawal yang sulit sekali diberitahu baik pelan maupun keras.


"Kamu kenapa malah diam? Mau ya balikan sama aku?" tanya Nawal dengan menggoda.


"Nawal, mau sampai kapan sih kamu kayak gini terus? Udah deh, aku mau lanjut kerja dan kamu mending pulang sana!" ujar Alan.


"Aku gak mau pulang sebelum kamu mau balikan sama aku!" kekeuh Nawal.


"Harus berapa kali sih aku bilang? Aku tuh gak cinta sama kamu, Nawal. Tolong kamu ngerti dong dan jangan paksa aku!" ucap Alan.


"Masa sih? Tadi aja kamu bilang belum bisa lupain aku, gausah bohong deh!" ucap Nawal.


"Ya terserah kamu, udah ah aku mau kerja aja!" ucap Alan sambil langsung bangkit dari duduknya.


"Eh tunggu Alan, kamu jangan pergi dulu aku belum selesai bicara! Aku mau kita balikan sayang, please!" bujuk Nawal.


"Apa??" tiba-tiba saja suara seorang pria terdengar di telinga keduanya.


Sontak Nawal serta Alan langsung menoleh ke asal suara, dan disana lah mereka menemukan sosok Royyan berdiri menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam. Nawal pun panik dan kebingungan sendiri saat melihat Royyan disana, ia merunduk mencoba mencari alasan yang tepat.


"Maksud kamu bicara begitu ke dia apa Nawal? Kamu mau balikan lagi sama dia?" tanya Royyan pada Nawal.


"Eee kamu jangan salah paham dulu Roy! Balikan yang aku maksud disini itu sahabatan lagi gitu, kan sekarang aku sama Alan masih musuhan karena kita udah putus," jawab Nawal berbohong.


"Kamu masih bisa bohong sama aku Nawal? Padahal aku udah dengar dengan jelas yang kamu bilang ke Alan tadi," ujar Royyan.


"Apa yang kamu dengar itu gak seperti yang kamu pikirkan Roy, aku minta balikan sama Alan cuma untuk sekedar berteman kembali," ucap Nawal.


"Aku gak percaya sama kamu Nawal, aku yakin kamu minta balikan karena kamu masih cinta sama dia!" ucap Royyan menatap ke arah Alan.


"Gak gitu Roy, percaya dong sama aku!" ujar Nawal.


"Gimana caranya aku bisa percaya sama kamu? Kalau kamu aja berduaan sama Alan disini, pasti kamu emang masih cinta sama dia kan? Itu sebabnya kamu gak bolehin aku buat ikut masuk ke dalam tadi," ucap Royyan tegas.


Nawal terdiam, ia tak bisa berbicara apa-apa lagi untuk menjawab pertanyaan Royyan. Sedangkan Alan bangkit dari tempat duduknya dan menatap ke arah sepasang kekasih itu, tampaknya Alan sudah tak tahan mendengar perdebatan diantara Nawal dan Royyan itu.


"Sudah sudah, jangan pada ribut di kantin saya! Kalian kalau mau debat, sana pergi biar gak ganggu orang-orang disini!" ujar Alan.


"Heh! Kamu itu benar-benar kurang ajar ya! Kamu udah bikin saya sama tunangan saya ini ribut, tapi kamu malah gak mau tanggung jawab. Seharusnya kamu bantu jelaskan dulu ke saya!" sentak Royyan.


"Apaan sih? Hubungan kalian itu ya urusan kalian, saya gak mau ikut campur!" ucap Alan tegas.


Alan berniat pergi dari sana dengan perasaan jengkel, namun Royyan cepat mencekal lengan pria itu dan tak mengizinkan Alan pergi begitu saja.




Saka dan Sahira tiba di kantor tempat mereka bekerja, keduanya turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam kantor. Namun, Sahira yang masih penasaran memilih mengejar Saka sambil berusaha menahan pria itu untuk tidak pergi. Sahira ingin Saka menjelaskan tentang peristiwa di bar semalam.


"Pak, saya mohon jelaskan dulu tentang apa yang tadi bapak bilang ke saya! Apa benar bapak melihat ibu saya di bar semalam?" ucap Sahira.


"Saya kan sudah katakan tadi, saya lihat ibu kamu bersama seorang pria berkumis di bar itu semalam. Terserah kamu mau percaya atau enggak," ucap Saka.


"Tapi tadi kan bapak bilang bapak punya fotonya, coba dong bapak kasih lihat fotonya ke saya! Saya mau tahu pak," ucap Sahira.


"Ohh, iya sih saya punya fotonya. Tapi, saya gak mau tunjukin sekarang ke kamu Sahira," ucap Saka.


"Terus kapan pak? Saya udah penasaran banget, ayolah kasih tau ke saya sekarang fotonya itu!" pinta Sahira terus merengek.

__ADS_1


Saka justru tersenyum dan mengusap puncak kepala gadis di hadapannya itu dengan lembut, Sahira pun terus menatap wajah Saka dan meminta pria itu untuk segera menyerahkan foto ibunya dan juga pria tua yang Saka lihat di malam itu.


"Ih kok bapak malah diam aja? Buruan pak kasih lihat foto itu ke saya sekarang!" rengek Sahira.


"Kamu sabar dulu Sahira, nanti saya pasti akan tunjukkan foto itu ke kamu. Tapi, sekarang kamu masuk dulu ke dalam ya Sahira?" ucap Saka.


"Kok gitu sih pak? Ayolah, saya mau lihat sekarang foto itu!" bujuk Sahira.


"Kamu masuk dulu Sahira, nurut aja sama saya ya!" ucap Saka sambil tersenyum.


Sahira menghela nafasnya, ia benar-benar kacau saat ini dan ingin tahu apakah ibunya semalam memang berada di bar itu atau tidak. Akan tetapi, Saka justru terus mengulur-ulur seolah tak ingin menyerahkan foto itu padanya. Sahira pun kesal dan menyingkirkan tangan Saka dari wajahnya.


"Yaudah, saya mau kerja aja. Makasih udah antar saya kesini dan makasih juga udah bikin saya kesal!" ucap Sahira.


"Sahira, kamu jangan marah dong! Saya kan—"


"Udah deh pak, cukup bapak mainin saya! Kalau emang bapak gak mau kasih unjuk foto itu, buat apa bapak kasih tau ke saya tentang ibu yang ada di bar semalam?" sela Sahira emosi.


"Ya Sahira, kamu—"


Sahira menepis tangan Saka yang hendak menyentuhnya, ia bergegas masuk ke dalam kantor meninggalkan Saka dengan perasaan kesal. Saka pun terdiam di tempat sembari mengusap wajahnya kasar, ia menyesal karena sudah menunda-nunda untuk memberitahu foto itu pada Sahira.


"Aduh Sahira marah lagi! Saya harus segera temui Bu Fatimeh untuk tanyakan soal ini," gumam Saka.


Pria itu pun pergi dari sana dan kembali ke mobilnya, ia menancap gas dan pergi menuju rumah Sahira untuk menemui Fatimeh. Saka hendak bertanya pada Fatimeh agar bisa memastikan semua yang ia lihat semalam, itu sebabnya Saka juga belum mau memberitahu foto tersebut pada Sahira.




Sahira berjalan dengan kesal melewati Keira begitu saja sambil memikirkan mengenai perkataan Saka tentang ibunya, Sahira sangat tak menyangka jika ibunya datang ke club malam bersama seorang pria berkumis. Meski begitu, Sahira juga terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa ibunya tidak mungkin begitu.


"Mbak Sahira!" Keira memanggil Sahira dan menghampiri gadis itu karena penasaran.


Sahira terdiam dan menoleh ke arah Keira, "Eh iya kenapa Keira?" tanyanya.


"Eee aku gak ada apa-apa kok, aku cuma lagi banyak pikiran aja," jawab Sahira.


"Kamu gak mau duduk dulu terus cerita ke saya gitu Sahira? Siapa tahu saya bisa bantu kamu supaya pikiran kamu berkurang," tawar Keira.


Sahira tersenyum dan menaruh tangan di pundak Keira, "Gausah Keira, kamu kerja aja gih! Ini aku juga langsung mau ke ruangan saya kok," ucapnya.


"Ih gapapa Sahira, saya masih bisa bantu kamu tahu buat dengar cerita kamu. Udah ya duduk dulu disini?" ucap Keira.


"Gak perlu Keira, aku bisa selesaikan semuanya sendiri kok," tolak Sahira.


"Kamu yakin? Kelihatannya masalah kamu berat banget loh, mending kamu cerita ke aku biar nanti kamu bisa tenang kerjanya!" ucap Keira.


"Okay, aku mau deh cerita sama kamu. Tapi, nanti kamu jangan cerita ke siapa-siapa ya!" ucap Sahira.


"Pasti dong Sahira, gak mungkin juga aku bocorin masalah kamu ke orang lain," ucap Keira.


"Kalo gitu kita duduk disini aja, biar nanti aku bisa lebih cepat juga naik ke lift sebelum waktu kerja dimulai," ucap Sahira.


"Boleh," ucap Keira singkat yang langsung duduk di kursi bersama Sahira.


Keira pun kembali menatap wajah Sahira yang kini ada di dekatnya, ia sudah penasaran apa yang membuat gadis itu sampai terlihat sangat bersedih dan seperti memiliki masalah besar itu. Keira memang selalu tak bisa melihat orang dalam keadaan sedih dan ingin membantunya.


"Jadi, kamu itu sebenarnya ada masalah apa Sahira? Aku boleh kan tahu ceritanya?" tanya Keira.


"Iya iya Keira, aku bakal ceritain semua ke kamu. Jadi tuh aku lagi bingung dan mikirin tentang ucapan pak Saka sebelumnya, soalnya itu menyangkut ibu aku," jawab Sahira.


"Hah? Ibu kamu emangnya kenapa? Terus apa yang dibilang sama pak Saka?" tanya Keira penasaran.


"Umm maaf ya Keira, kayaknya aku gak bisa kasih tau ke kamu deh soal itu. Aku gak mau sebar aib keluarga aku ke orang lain," ucap Sahira.


"Oh gitu, ya gapapa kok Sahira wajarlah kamu gak mau cerita kalau menyangkut aib keluarga kamu," ucap Keira memaklumi.

__ADS_1


"Makasih ya udah mau ngertiin aku?" ucap Sahira.


"Sama-sama Sahira, yang penting kamu sabar aja dan jangan terlalu dipikirin soal itu! Aku yakin apapun masalah kamu, pasti kamu bisa lewati semua itu!" ucap Keira.


"Aamiin, makasih buat supportnya. Jujur aja aku emang butuh dukungan kayak gini dari orang-orang terdekat aku," ucap Sahira.


"Ya itu dia, makanya aku tadi cegat kamu karena aku tahu kamu tuh pasti butuh support buat bisa melewati semua masalah kamu sekarang ini," ucap Keira sambil tersenyum.


"Ahaha, kamu orangnya pengertian ya? Pasti pacar kamu senang banget bisa punya cewek kayak kamu," ujar Sahira.


"Apa sih Sahira ih?!" ucap Keira malu-malu.


Mereka saling tertawa dan lanjut berbincang ringan disana selama beberapa menit.




Awan kembali ke warungnya dan menemui Fatimeh yang memang ia tinggal disana tadi, ya Awan berniat pergi ke rumah Sahira dan bertemu gadis itu sebelumnya, tapi naas Awan terlambat sebab Sahira sudah tidak ada disana. Akhirnya Awan pun kecewa dan terpaksa kembali kesana.


Tampak Fatimeh tengah menikmati sarapannya disana yang sudah ia pesan, ia tak perduli dengan Awan yang muncul dengan perasaan kecewa. Baginya makanan adalah hal yang paling penting dan tidak ada siapapun yang bisa mengganggunya saat sedang makan seperti sekarang.


"Tante, kenapa tante diam aja sih? Tante gak tegur aku atau apa gitu? Aku kan baru balik lagi loh ini," ujar Awan keheranan.


"Oh iya ya, sorry gue gak lihat. Gimana si Sahira? Lu udah ketemu sama dia?" ucap Fatimeh.


Awan menggeleng, "Boro-boro tante, begitu aku sampe disana ternyata Sahira nya udah gak ada," ucapnya.


"Hah kok bisa? Kata lu dia belum kelihatan lewat, kenapa pas lu datangin rumahnya dia udah gak ada?" tanya Fatimeh keheranan.


"Mana saya tahu tante? Saya juga bingung tadi, padahal seingat saya mah Sahira emang belum lewat jalan itu," jawab Awan.


"Ah lu salah kira kali!" cibir Fatimeh.


"Gak tante, beneran kok saya belum lihat Sahira lewat. Masa tante meragukan penglihatan saya?" ucap Awan penuh yakin.


"Yaudah, gue percaya sama lu. Lagian gak penting juga si Sahira masih ada di rumah apa enggak, palingan kan dia udah berangkat kerja," ucap Fatimeh.


"Iya sih, cuma kan saya jadi gak bisa ketemu Sahira tante," ucap Awan.


"Yah elah begitu aja sedih lu, emang mau ngapain sih lu ketemu sama anak gue? Suka lu sama dia?" ucap Fatimeh.


"Begitu deh tante, dari dulu kan saya emang udah suka sama anak tante yang cantik itu," ucap Awan.


"Hadeh, makanya lu kalo suka tuh jangan dipendam bego! Lo ungkapin dong langsung ke Sahira, biar dia gak diambil orang duluan. Tuh lihat sekarang, si Sahira udah dekat sama bosnya! Gue mah yakin mereka ada hubungan spesial," ucap Fatimeh.


"Masa sih tante? Tapi, kata Sahira dia masih single kok," tanya Awan tak percaya.


"Ya gue kagak tahu dah, intinya si Sahira lagi dekat sama bosnya itu!" jawab Fatimeh.


Awan pun memalingkan wajahnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, jujur ia takut ucapan Fatimeh benar dan kesempatannya untuk mendekati Sahira akan gagal. Terlebih ia juga lihat sendiri kalau memang Sahira sering diantar pulang oleh bosnya.


Tin Tin...


Tak lama kemudian, sebuah mobil muncul dan berhenti di depan warung itu. Seketika Fatimeh serta Awan menoleh ke arah mobil tersebut saat klakson dibunyikan, mereka terus menatap sampai menemukan seorang lelaki turun dari mobil yang tak lain ialah Saka.


"Nah, itu dia tuh bosnya Sahira yang lagi dekat sama Sahira. Gue yakin lu juga udah pernah ketemu sama dia kan?" ucap Fatimeh menunjuk Saka.


Awan hanya diam tak menggubris, sedangkan Saka sudah mendekat ke arah mereka sambil tersenyum. Saka menyapa Fatimeh serta Awan dengan ramah, tak lupa ia juga mencium tangan wanita itu sebagai tanda hormatnya.


"Halo tante! Tadi saya lihat tante tunjuk-tunjuk saya, ada apa ya tan?" ucap Saka.


Fatimeh tersenyum lebar sembari melirik wajah Awan, membuat lelaki itu mendengus kesal dan tak mau bertatapan langsung.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2