
Sahira membulatkan matanya, "Bukan begitu pak, saya senang kok bapak datang kesini. Yaudah, bapak mau duduk disini apa di dalam?" ucapnya.
"Gausah, takutnya nanti ada yang salah paham. Lebih baik saya disini aja," ucap Saka.
"Ah iya pak, kalo gitu silahkan duduk! Bapak mau minum apa nih?" ucap Sahira lembut.
"Air putih aja, malam-malam gini lebih sehat kalau kita perbanyak minum air putih. By the way, ibu kamu kemana Sahira? Sudah tidur?" ucap Saka sambil berjalan ke tempat duduk.
Sahira menggeleng, "Enggak pak, ibu saya masih di luar. Saya juga gak tahu ibu kemana, tapi emang udah biasa sih ibu keluar malam," ucapnya.
"Ohh..." Saka manggut-manggut paham.
"Yaudah, saya tinggal sebentar ya pak?" pamit Sahira yang kembali diangguki Saka.
Setelahnya, Sahira pun masuk ke dalam rumahnya untuk membuatkan minum. Sedangkan Saka tetap di tempatnya memikirkan apa yang ia lihat sebelum sampai kesana.
"Duh, kira-kira saya kasih tau Sahira gak ya soal tadi? Saya takut Sahira syok kalau tau ibunya ternyata wanita malam," gumam Saka.
Tak lama kemudian, Sahira kembali dengan membawa segelas air putih di tangannya. Ia memberikan air itu kepada Saka dan meminta Saka meminumnya, Saka hanya mengangguk menurut lalu meminum seteguk air di gelas itu. Saka pun beralih menatap wajah Sahira dengan bingung.
"Ada apa sih pak? Kenapa bapak daritadi ngeliatin saya kayak gitu? Ada yang salah?" tanya Sahira.
"Eee gak kok Sahira, saya cuma kagum sama kamu. Sudah malam begini, tapi kamu masih tetap anggun dan cantik seperti siang tadi," jawab Saka.
"Ahaha, bapak bisa aja. Makasih atas pujiannya, tapi ini saya udah mau tidur kok jadi gak dandan. Cantiknya darimana coba?" ucap Sahira.
"Kamu itu cantik alami, Sahira. Saya aja sampai terpesona sama kecantikan kamu," ucap Saka.
Sahira menunduk sembari membelai rambutnya, ia mencoba menghindari tatapan mata Saka sebab rasa malunya. Namun, Saka malah meraih satu tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Sahira sontak mendongak, lalu heran saat Saka menatap tajam ke arahnya.
"Saya mau bicara sesuatu sama kamu Sahira," ucap Saka pelan.
Sahira tersentak kaget, matanya berkaca-kaca karena penasaran apa sebenarnya yang hendak dibicarakan Saka saat ini. Sahira trauma, terakhir kali ada lelaki yang ingin berbicara padanya adalah Yoshi namun berakhir mengenaskan karena rupanya Yoshi menyukai dirinya.
__ADS_1
"Bapak mau bicara apa?" tanya Sahira.
Saka menghela nafas sesaat, "Tadi saya lihat ibu kamu di jalan, gak sengaja sih waktu saya mau pulang ke rumah," ucapnya.
"I-i-iya pak, terus kenapa ya sama ibu saya?" tanya Sahira sangat penasaran.
"Eee tapi maaf sebelumnya ya Sahira, kamu jangan syok atau marah-marah dulu ya kalau saya kasih tau ke kamu nanti!" pinta Saka.
"Tenang aja pak, saya bisa tahan emosi kok! Emang apa yang dilakuin sama ibu saya pak?" ucap Sahira.
"Ya Sahira, saya lihat ibu kamu dengan pakaian seksinya masuk ke dalam mobil bersama seorang pria tua berkumis. Kalau dari yang saya lihat, sepertinya ibu kamu itu bekerja sebagai wanita malam Sahira," jelas Saka.
Sahira terkejut bukan main mendengarnya, ia bangkit lalu menatap wajah Saka seolah tak percaya. "Bapak bicara apa sih? Jangan main-main ya pak sama saya!" ucapnya kesal.
"Sahira, kamu tenang dulu! Itu kan baru dugaan saya berdasarkan apa yang saya lihat, belum tentu juga semuanya benar. Kamu jangan emosi dong Sahira!" ucap Saka berusaha membujuk Sahira.
Tapi terlambat, gadis itu sudah menangis deras sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
•
•
Saat ditatap seperti itu oleh Sahira, Fatimeh justru merasa biasa-biasa saja dan tidak mau ambil pusing. Ia berhenti tepat di hadapan Sahira, lalu menaruh tasnya di atas sofa. Fatimeh mencoba mencari topik agar Sahira tidak curiga padanya yang baru pulang pagi-pagi begini.
"Lo belum berangkat kerja? Gak takut tuh dimarahin sama bos lu yang galak itu? Sana gih lu berangkat cepat!" ujar Fatimeh.
"Enggak Bu, aku masih punya banyak waktu kok buat ngobrol sama ibu. Sekarang ibu bisa kan bicara berdua sama aku disini? Soalnya ada banyak yang mau aku tanyain ke ibu," pinta Sahira.
"Mau bicara apa sih lu? Gue capek pengen istirahat, gue males ngomong sama lu!" ketus Fatimeh.
"Bu, sebentar aja. Aku cuma mau mastiin sesuatu sama ibu, please ya!" bujuk Sahira.
"Mastiin apa? Lo paling cuma pengen tanya semalam gue abis ngapain dan darimana kan? Udah deh, lu gausah kepo jadi anak!" ujar Fatimeh.
__ADS_1
"Aku berhak tau dong Bu, aku kan anak ibu. Apalagi semalam pak Saka sempat lihat ibu masuk ke mobil om-om tua," ucap Sahira.
Fatimeh langsung kaget bukan main, "Apaan sih? Lo jangan ngada-ngada ya!" ucapnya.
"Pak Saka sendiri kok yang bilang sama aku, makanya sekarang ibu jelasin ke aku!" ucap Sahira.
"Si Saka itu gak bener, lu jangan percaya sama dia! Gini deh, masa lu lebih percaya sama orang lain dibanding ibu lu sendiri? Gue yang udah rawat lu loh, sedangkan dia?" ucap Fatimeh.
"Bu, tapi selama ini ibu kan sering keluar malam dan pulang pagi. Aku penasaran Bu, sebenarnya apa sih yang ibu lakuin di luar sana?" ucap Sahira.
"Halah lu gausah kepo sama urusan pribadi gue! Sebagai anak, tugas lu ya cuma kerja dan kasih uang ke gue. Jadi, udah sana lu berangkat kerja!" ucap Fatimeh.
"Gak mau Bu, sebelum ibu jelasin semuanya ke aku!" pinta Sahira.
"Hadeh, lu kenapa ngeyel banget sih? Gue udah bilang gue gak ngelakuin itu, si Saka tuh salah lihat!" ujar Fatimeh.
"Aku gapapa kok Bu, ibu jujur aja sama aku. Aku janji aku gak akan marah sama ibu," ucap Sahira.
"Jujur apanya? Emang bener gue gak pergi sama om-om seperti yang lu bilang, jangan ngaco deh lu!" elak Fatimeh.
"Tapi Bu, kenapa mulut ibu bau alkohol? Semalam ibu mabuk?" tanya Sahira.
Fatimeh langsung panik dan memalingkan wajahnya, ia mengecek mulutnya sendiri apakah memang bau alkohol itu tercium dari luar atau tidak. Sahira yang melihatnya sudah bisa menyimpulkan jika dugaannya benar, ia yakin Fatimeh juga menyembunyikan sesuatu darinya.
"Benar kan Bu yang aku bilang tadi? Ibu mabuk dan semalam ibu pergi sama cowok tua? Semalam ibu ngapain aja sama cowok itu, Bu?" tanya Sahira lagi.
"Lo masih aja ya curiga sama gue begitu? Udah ah gue malas ngomong sama lu!" kesal Fatimeh yang kemudian langsung pergi dari sana.
"Eh Bu, tunggu Bu!" Sahira hendak mengejar ibunya, namun ketukan pintu menghalanginya.
TOK TOK TOK...
Sahira pun tidak jadi mengejar Fatimeh, ia sedikit menggerutu kesal karena seseorang di luar sana datang di waktu yang tidak tepat, padahal Sahira baru ingin meminta penjelasan dari ibunya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...