
Lagi-lagi Alan dibuat terdiam, benar saja tidak mungkin dirinya menjalin hubungan ke tahap yang lebih serius dengan Floryn, apalagi mereka berbeda agama dan akan sulit urusannya jika mereka nanti sama-sama saling mencintai. Maka dari itu, Alan berniat mengurungkan niatnya untuk berharap cinta dari gadis di depannya.
"Yaudah ya, kita lanjut ngobrolnya nanti aja ya di dalam? Mending sekarang kita masuk deh, disini panas juga tau!" ajak Floryn.
Alan mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah bersama-sama menuju ke dalam rumah gadis itu. Namun, baru saja mereka tiba di teras depan, tanpa diduga sosok lelaki muncul membuka pintu dan terkejut ketika melihat keberadaan Floryn disana.
"Loh Floryn, akhirnya kamu pulang juga sayang!" ujar lelaki itu terlihat sangat gembira.
Sedangkan Floryn justru membuang muka dan mengeratkan genggaman tangannya pada Alan, "Lo ngapain di rumah gue?" tanyanya sinis ke si lelaki.
"Ngapain lagi sayang? Jelaslah aku mau ketemu kamu, tapi barusan orang tua kamu bilang kalau kamu udah gak pulang tiga hari. Makanya aku panik dan langsung mau cari kamu, untungnya sekarang kamu udah pulang," jelas si lelaki.
Floryn terdiam, Alan yang mendengarkan obrolan itu pun dapat menebak jika lelaki di depannya adalah orang yang ingin dijodohkan dengan Floryn. Sontak Alan merasa tidak senang ketika ada lelaki lain yang menyebut Floryn dengan panggilan sayang, meski ia sendiri juga sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Floryn.
"Sayang, kamu jangan cemburu ya sama cowok itu! Dia bukan pacar aku kok, dia orang yang mau dijodohin sama aku," ucap Floryn.
Seketika mata lelaki di depan mereka itu melotot tajam mendengar perkataan Floryn, ia jelas tak menyukai apa yang dikatakan Floryn karena itu sungguh membuatnya kesal. Lelaki bernama Rian itu bergegas maju mendekati keduanya dan menatap tajam ke arah Alan.
"Kamu panggil dia apa tadi sayang? Kenapa kamu begitu di depan aku? Apa kamu lupa status kita saat ini sudah bertunangan? Bisa-bisanya kamu memanggil lelaki lain dengan sebutan sayang!" ujar Rian tampak emosi.
"Hadeh, apa urusannya sama kamu sih Rian? Kita itu bukan siapa-siapa," ucap Floryn.
"Kamu bilang kita bukan siapa-siapa? Kita ini tunangan loh sayang, kamu jangan bicara begitu dong mentang-mentang di depan laki-laki lain!" ucap Rian tegas.
"Aku gak perduli, udah deh kamu minggir karena aku sama pacar aku mau masuk!" ucap Floryn.
Mata Rian semakin melotot lebar, terlebih ketika Floryn bergerak maju dengan menggandeng tangan Alan di depannya. Tapi kemudian, dua orang tua gadis itu muncul dari dalam rumah berniat mengecek kondisi, mereka tak menyangka jika ternyata Floryn sudah pulang ke rumah.
"Loh Floryn, kamu sudah pulang sayang? Mama senang banget bisa lihat kamu lagi!" ibu dari gadis itu pun langsung memeluknya erat.
"Iya ma, aku pulang sekalian bawa calon mantu buat mama," ucap Floryn melepas pelukannya.
Wanita yang merupakan ibunya itu mengernyit penuh heran dan menatap ke arah Alan, "Apa? Calon mantu? Maksud kamu laki-laki ini?" ujarnya.
"Halo tante! Senang sekali saya bisa bertemu tante hari ini, salam kenal ya tante?" ucap Alan menyodorkan tangannya.
"Iya iya, siapa nama kamu anak muda? Lalu, apa benar kamu kekasih Floryn?" tanya wanita itu.
Alan tersenyum lebar dan menundukkan kepalanya sembari berpikir harus menjawab bagaimana, ia sempat melirik sejenak ke arah Floryn seolah meminta jawaban, tetapi gadis itu malah memalingkan wajahnya sehingga membuat Alan makin kikuk dan tak tahu harus apa.
"Eee ya tante, saya Alan dan saya kekasih Floryn anak tante," jawab Alan tegas.
•
•
Sesampainya di teras rumah, ketiganya berhenti sejenak untuk mengetuk pintu sembari menguatkan diri bagi Sahira yang masih gugup. Saka kembali menatap Sahira dan mencoba meyakinkan gadis itu untuk tidak grogi atau gugup saat masuk ke dalam rumahnya.
"Sayang, udah ya kamu jangan gugup terus! Ada aku kan disini, aku bakal jagain kamu dan bikin kamu senyaman mungkin di dalam nanti," ucap Saka seraya mengusap pundak gadisnya.
"Iya mas, makasih. Gak tahu kenapa susah banget buat ngilangin rasa grogi aku, maafin aku ya mas?" ucap Sahira lirih.
"Gapapa cantik, yaudah kalo gitu aku ketuk pintu dulu ya?" ucap Saka yang kemudian diangguki oleh Sahira.
Disaat pria itu hendak mengetuk pintu, tanpa diduga ternyata pintu sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan sosok Syera disana. Sontak ketiganya terkejut, mereka kompak mundur agar tidak bertabrakan dengan Syera dan tersenyum ke arah wanita yang merupakan mama Saka itu.
"Eh mama, udah keluar aja padahal aku baru mau ketuk pintunya," ujar Saka sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, kamu kenapa balik lagi sayang? Kok bawa Sahira juga? Terus itu siapa yang di belakang celingak-celinguk begitu?" tanya Syera keheranan.
"Eee itu ibu saya tante," jawab Sahira.
"Iya ma, aku sengaja bawa tante Imeh kesini buat kenalan sama mama dan papa. Bisa kan ma?" timpal Saka.
"Jelas bisa dong, suruh dia masuk aja yuk!" ucap Syera.
"Iya ma," singkat Saka yang kemudian menatap Fatimeh di belakangnya.
"Tante, kita masuk yuk! Nih ada mama aku yang mau kenalan sama tante," ucap Saka pada Fatimeh.
"Eh iya iya.." perlahan Fatimeh membalikkan tubuhnya seperti adegan sinetron di televisi.
Fatimeh begitu kaget saat melihat sosok wanita yang ada di depannya, ia tak percaya jika Syera ternyata adalah mama dari Saka dan merupakan calon besannya. Bukan hanya Fatimeh, bahkan Syera sendiri juga merasa kaget ketika Fatimeh berbalik badan menampakkan wajahnya.
"Syera, iya itu kan Syera. Kenapa dia bisa ada disini dan jadi mamanya nak Saka?" gumam Fatimeh dalam hati yang masih tampak terkejut.
Syera sendiri juga masih terus melongok tak percaya begitu melihat Fatimeh di depan matanya, sungguh Syera amat tak percaya jika ia kembali dipertemukan dengan istri dari mantan suaminya dahulu yang telah membawa kabur anaknya dan entah dimana keberadaannya saat ini.
"Bu, kenapa ibu diam aja? Salaman dong sama tante Syera, kenalan!" tegur Sahira.
"Hah? Eee iya iya maaf," Fatimeh langsung mendekat ke arah Syera dengan tatapan tajam yang tak dapat dihentikan, perlahan ia juga mengulurkan tangannya yang mungil itu.
"Halo! Saya Fatimeh, salam kenal ya ibunya nak Saka!" ucap Fatimeh memulai obrolan.
Melihat Syera hanya diam tak menjawab, Saka pun terlihat heran dan coba menegur mamanya agar mau berkenalan dengan Fatimeh. Sungguh Saka tak mengerti mengapa Syera jadi seperti itu setelah melihat Fatimeh, padahal biasanya Syera selalu ramah pada siapapun.
"Ma, itu tante Imeh udah ulurin tangannya. Mama jangan diam aja dong ma, minimal mama sapa dong tante Imeh nya!" ujar Saka.
"Halo juga Bu Imeh! Saya senang bisa bertemu dengan orang tua Sahira, saya juga gak nyangka kalau kita bisa bertemu secepat ini," ucap Syera yang kini sudah berjabatan tangan dengan Fatimeh.
"Betul sekali, saya juga gak nyangka hal ini bisa terjadi begitu cepat," balas Fatimeh.
Saka dan Sahira merasa heran melihat perubahan sikap dari kedua orang tua mereka itu, sungguh mereka dibuat penasaran apa yang terjadi sebenarnya diantara Fatimeh dan Syera. Tak biasanya dua wanita itu terlihat cukup kesal, apalagi kepada orang yang baru dikenalnya.
"Eee yaudah ma, kita sama-sama masuk aja yuk! Aku juga sekalian mau kenalin tante Imeh ke papa," sela Saka menyudahi aksi tatap-tatapan itu.
"Oh iya, kalo gitu ayo kita masuk ke dalam! Bu Fatimeh, semoga anda suka ya dengan jamuan yang keluarga kami sediakan!" ucap Syera.
"Ya semoga, terimakasih ya atas sambutannya yang hangat dan manis ini," ucap Fatimeh.
Syera tersenyum saja tanpa berbicara apapun, lalu mereka berempat melangkah masuk ke dalam rumah setelah pintu dibuka lebar. Sahira mendekati ibunya dan merengkuh pinggang sang ibu saat berjalan, Sahira juga masih penasaran apa yang sedang ada di dalam pikiran ibunya saat ini.
Setibanya di dalam, mereka langsung disambut oleh Alfian yang kebetulan berada disana. Terlihat Syera juga mendekat ke arah suaminya dan berusaha menghindari bertatapan dengan Fatimeh, tampaknya Syera masih ketakutan dan khawatir kalau Fatimeh akan membongkar semuanya.
"Eh ada kamu Sahira, duh kok gak bilang dulu sih Saka kalau kamu mau bawa pacar kamu ke rumah? Papa kan jadi kaget nih," ujar Alfian.
"Iya pa, maaf ya? Aku emang pengen kenalin papa dan mama dengan tante Fatimeh, beliau ini ibunya Sahira. Aku minta maaf kalau aku belum bilang ke papa sebelumnya," ucap Saka.
Alfian lalu beralih melirik ke arah Fatimeh dan Sahira, "Oalah, jadi ini ibunya Sahira?" ujarnya.
Fatimeh tersenyum seraya menganggukkan kepala, "Iya betul pak, saya Imeh ibunya Sahira. Salam kenal ya?" ucapnya.
"Ah iya iya.." Alfian mendekat dan berjabatan tangan dengan Fatimeh selama beberapa detik.
"Om, maaf ya kalau kedatangan kami ini cukup mendadak?" ucap Sahira.
__ADS_1
"Gapapa Sahira, sudah yuk kalian duduk dulu sambil ngobrol disana!" ajak Alfian.
Sahira dan Fatimeh menurut saja dengan ajakan Alfian itu, mereka lalu melangkah bersama-sama menuju sofa ruang tamu dan terduduk sesuai arahan sang pemilik rumah. Tapi, pandangan Fatimeh masih tak lepas dari sosok Syera, sepertinya wanita itu masih menyimpan dendam atas peristiwa yang terjadi di masa lalu antara mereka berdua.
•
•
Singkat cerita, Sahira kembali ke rumahnya bersama sang ibu setelah menemui orang tua Saka selama beberapa jam tadi. Kini Sahira diminta untuk duduk sejenak pada sofa oleh ibunya, terlihat kalau Fatimeh seolah hendak menceritakan sesuatu pada putrinya itu yang membuat Sahira amat penasaran.
Ya kebetulan kali ini Saka telah pulang sesudah mengantar mereka pulang, sehingga Fatimeh memiliki waktu berdua dengan putrinya untuk menceritakan semua yang dia ketahui. Sontak Fatimeh langsung menggenggam dua tangan Sahira dengan erat, hal itu semakin membuat Sahira gugup dan juga penasaran tentunya.
"Bu, sebenarnya ibu mau ngomong apa sih sama aku? Kenapa ibu sampai sepanik ini? Memangnya tadi ibu lihat apa?" tanya Sahira keheranan.
"Jelas banget ini harus lu ketahui Sahira, gue gak pengen lu dekat-dekat lagi sama nak Saka meskipun dia terlahir dari keluarga yang kaya raya! Lu harus jauhi dia!" jawab Fatimeh.
"Apa? Kenapa ibu bicara begitu? Memangnya ada apa sama mas Saka?" tanya Sahira lagi.
"Udah lu gausah banyak tanya dan pengen tahu, pokoknya lu nurut aja sama gue kalau lu masih anggap gue sebagai ibu lu!" pinta Fatimeh.
"Buat apa? Ibu larang aku dekat sama mas Saka, padahal dulu ibu sendiri yang jodohin aku sama dia. Ibu ini sebenarnya kenapa sih? Apa yang lagi ibu sembunyiin dari aku?" ucap Sahira.
"Gue belum bisa cerita sekarang Sahira, gue gak mau lu malah sedih dan kecewa nantinya. Udah lah lu nurut aja sama gue ya!" ucap Fatimeh.
"Gak bisa Bu, aku gak mau nurut sama ibu sebelum ibu ceritain semuanya dengan jelas!" kekeuh Sahira.
"Lo itu susah banget ya dikasih taunya? Gue ini ibu lu, gue tau yang terbaik buat lu Sahira. Kalau gue minta lu jauhin dia, yaudah lu nurut aja dan gausah banyak tanya!" sentak Fatimeh.
"Mana bisa aku jauhin mas Saka gitu aja, Bu? Aku udah terlanjur sayang sama dia," ucap Sahira.
"Halah sayang sayang, bullshit tau gak! Lu pokoknya harus lupain dia secepat mungkin, daripada lu kecewa pas diakhir nanti!" ujar Fatimeh.
"Maksud ibu tuh apa sih? Tolong jelasin dong ke aku!" ucap Sahira memelas.
Fatimeh terdiam sejenak, ia berpikir apakah mungkin ia harus menceritakan semuanya pada Sahira bahwa tadi ia baru mengetahui jikalau mama dari Saka adalah Syera, alias ibu kandung Sahira sendiri. Tentunya tak mungkin jika nanti Sahira menikah dengan Saka.
"Belum waktunya buat lu tau hal itu, Sahira. Gue janji bakal ceritain itu nanti, asalkan lu mau nurut dan jauhin si Saka!" ucap Fatimeh.
Namun, Sahira tetap menggeleng dan kekeuh untuk bersama Saka. Bahkan Sahira juga beranjak dari sofa dan berniat pergi, rupanya memang Sahira tidak mungkin bisa melupakan Saka karena hubungan mereka yang sudah sejauh ini dan berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Itu sulit buat aku lakuin Bu, aku gak bisa menjauh dari mas Saka," ucap Sahira terisak.
Fatimeh pun ikut bangkit dan menatap tajam ke arah Sahira, "Lo itu bisa nurut gak sih sama orang tua?! Gue cuma minta lu menjauh dari Saka, gitu aja kok repot?" ucapnya menyentak.
"Aku gak bisa lakuin itu Bu, aku harap ibu bisa ngerti kondisi aku. Seperti ketika aku ngertiin ibu yang gak bisa jauhin om Bram," ucap Sahira.
Deg!
Mata Fatimeh kini berkaca-kaca dan kedua tangannya sudah terkepal hebat seperti menahan emosi, akhirnya ia tak memiliki pilihan lain karena memang Sahira sudah sulit dibilangin. Setelah berpikir panjang, Fatimeh terpaksa menceritakan semua yang ia lihat tadi di rumah Saka.
"Lo gak akan bisa bersatu sama si Saka, karena ibunya dia itu ibu kandung lu juga Sahira!" ucap Fatimeh dengan tegas dan lantang.
Seketika Sahira terbelalak dengan mulut menganga, ia syok berat mendengar perkataan ibunya barusan yang mengatakan jika Syera adalah ibu kandungnya. Sahira reflek menaruh tangan di dadanya, tak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan terus memandang ke arah sang ibu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1