Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 60. Dicium kekasih


__ADS_3

Sahira langsung melongok dan terkejut bukan main mendengar pertanyaan Alan, jelas sekali ia tak menyangka jika Alan bisa berkata seperti itu padanya. Sedangkan Alan justru terkekeh kecil melihat ekspresi kaget Sahira saat ini, pria itu maju mendekat dan meraih satu tangan Sahira.


"Hahaha, kamu kok kaget banget kayak gitu sih Sahira? Kamu gak mau emangnya dilamar sama saya? Saya ini bos loh, kalau kamu nikah sama saya nanti banyak keuntungan buat kamu," ujar Alan.


"Bapak bicara apa sih? Mana mungkin bapak mau sama saya?" ucap Sahira.


"Loh kenapa gak mau? Kamu cantik kok, terus kamu juga bikin saya kagum," ucap Alan.


"Apa yang bapak kagumi dari saya? Perasaan saya cuma perempuan biasa, kalau dibandingkan sama mantan bapak mah saya jauh banget kali. Masa selera bapak turun?" ucap Sahira.


"Kata siapa kamu jauh dibanding Nawal? Kamu justru lebih dari segalanya daripada dia, kamu itu udah cantik, pintar terus lucu lagi. Saya makanya sampai gak bisa lepas dari kamu, saya selalu pengen dekat sama kamu," ucap Alan.


Wajah Sahira merona seketika mendengar ucapan Alan disertai cubitan pada pipinya, gadis itu menunduk bermaksud menutupi rasa malunya.


"Hey, jangan nunduk!" perintah Alan sembari menarik dagu Sahira agar menatap ke arahnya.


"Pak, tolong jangan pegang-pegang saya seenaknya ya! Saya juga punya hak untuk larang bapak, karena saya gak suka bapak kayak gitu. Tolong bapak hargai saya!" sentak Sahira sambil menyingkirkan tangan Alan dari dagunya.


Alan sedikit kaget dengan ucapan Sahira barusan, tak biasanya gadis itu berani berbicara tegas seperti itu padanya. Namun, Alan merasa wajar sebab ia memang sudah keterlaluan dan bertindak seenaknya pada Sahira. Alan pun tersenyum saja lalu bersandar pada kursi yang ia duduki.


"Santai Sahira, kamu gausah marah-marah begitu. Saya minta maaf karena sudah bertindak lancang ke kamu tadi ya?" ucap Alan.


Sahira hanya diam seolah emosi pada bosnya itu, tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar dan seseorang berdehem mengagetkan keduanya. Sahira reflek menoleh ke asal suara, begitu juga dengan Alan yang penasaran siapa perempuan yang berdehem dan masuk kesana begitu saja.


"Ehem ehem.." keduanya kompak menoleh dan menemukan Nawal berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan terlipat.


"Nawal? Kamu ngapain sih main masuk begitu aja? Ini ruangan pribadi Sahira, seharusnya kamu ketuk dulu atau minimal izin sebelum masuk. Kamu punya etika gak sih?" tegur Alan.


Nawal tersenyum dan melangkah mendekati mantan kekasihnya itu, "Kenapa Alan? Kamu marah karena aku ganggu kamu?" ujarnya.


"Lagian kalian tuh lagi ngapain sih emang? Kok muka kalian kelihatan kaget gitu waktu aku masuk kesini? Wah jangan-jangan kalian lagi mesra-mesraan ya disini?" sambungnya.


Alan benar-benar geram dengan kelakuan Nawal, ia bangkit dari duduknya dan menatap wajah mantan kekasihnya itu dengan tajam. Ia acungkan jari telunjuk ke arah Nawal pertanda ia sangat emosi pada gadis itu, tapi justru Nawal malah semakin yakin bahwa dugaannya tadi benar.


"Kamu jaga ya bicara kamu! Saya disini sedang mengawasi Sahira kerja, kamu kan tahu dia itu sekretaris saya. Lagian kamu kenapa coba masih ada disini? Mending kamu pergi deh dan jangan pernah datang lagi kesini!" geram Alan.


"Hahaha, semarah itu kamu sama aku Alan? Padahal aku cuma nanya loh," ucap Nawal.


Alan langsung mencengkram lengan Nawal dengan kuat dan berusaha menariknya, "Ayo kamu ikut saya!" ucapnya penuh emosi.


Alan pun membawa Nawal keluar dari ruangan itu, sedangkan Sahira tetap disana dan berusaha untuk tidak ikut campur pada urusan mereka.




Disisi lain, Ari dan Wati telah sampai di suatu tempat yang ingin didatangi oleh lelaki itu. Ari sengaja membawa Wati kesana untuk memberikan lapak alias tempat bagi Wati berjualan bunga dengan santai, sebab Ari merasa kasihan melihat Wati berjualan di lampu merah.


Wati pun merasa bingung dan heran mengapa Ari membawanya kesana, yang ia lihat di sekitarnya hanyalah jalan raya dan sebuah lapak kosong tak berpenghuni. Gadis itu sontak beralih menatap ke arah Ari, namun Ari justru tengah mencoba menelpon seseorang melalui teleponnya.


"Halo! Lu kesini sekarang ya, gue udah sampe nih!" ucap Ari di telpon.


Setelahnya, Ari menutup telpon dan memasukkan ponselnya ke saku celana. Pria itu tersenyum menatap Wati yang tengah berdiri keheranan di sebelahnya, ia akan menceritakan alasan mengapa ia membawa Wati kesana. Ari tentu tak mau jika Wati menaruh salah paham padanya.


"Kamu pasti penasaran ya kenapa aku bawa kamu kesini?" ucap Ari coba menebak isi pikiran Wati.


"I-i-iya mas, saya gak tahu kenapa kamu bawa saya kesini. Terus tadi yang kamu telpon dan suruh kesini itu siapa?" ujar Wati.


"Ahaha, kamu gausah takut ya? Tadi tuh saya telpon teman saya yang punya lapak ini, dia mau sewain lapaknya," jelas Ari.

__ADS_1


"Ohh, terus kenapa ya mas? Hubungannya sama saya apa?" tanya Wati keheranan.


"Ya saya mau minta kamu buat jualan disini, jadi kamu gak perlu capek-capek keliling lagi deh," jawab Ari.


"Hah? Tapi, saya gak punya uang buat bayar sewa tempat ini mas," ujar Wati.


"Kamu tenang aja Mira, saya kan yang bawa kamu kesini. Jadi, saya juga nanti yang bayar biaya sewa kamu buat dagang disini," ucap Ari.


"Kamu serius? Ini kan pasti mahal tau, saya gak enak ah kalo ngerepotin kamu," ucap Wati.


"Gapapa, biayanya gak terlalu mahal kok. Lagian ini kan lapak punya teman saya, jadi dia kasih harga murah ke saya. Udah ya kamu nurut aja dan gausah bawel!" ucap Ari.


"Ta-tapi..."


"Mira, saya ngelakuin ini buat bantu kamu loh. Harusnya kamu makasih sama saya!" sela Ari.


"I-i-iya, makasih ya mas?" ucap Wati gugup.


Ari hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, Wati pun tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti permintaan Ari. Lagipun, berdagang di tempat seperti itu juga sedikit menguntungkan Wati karena suasana disana sangat ramai dan ia pun tak perlu lagi berkeliling untuk menjajakan dagangannya.


Tak lama kemudian, orang yang ditunggu oleh mereka pun datang. Dia adalah sahabat lama Ari, yang tentu saja pemilik dari lapak tersebut. Ari serta Wati tampak bersalaman dengan pria itu dan mulai berbincang terkait rencana Ari yang ingin menyewa lapak untuk Wati, mereka lalu dibawa menuju tempat duduk yang ada disana.


"Jadi gitu deh Ari, gue bisa sewain ini lapak tapi bayarannya harus pertahun. Gue gak mau tuh kalau misal dicicil perbulan, soalnya kelamaan," ucap Danu, sahabat Ari.


"Oh gitu, yaudah gue setuju deh. Kita deal ya sama harganya segitu? Jangan dinaikin lagi!" ucap Ari.


"Sip bro!" ucap Danu setuju.


Akhirnya mereka sepakat pada harga yang diberikan Danu, langsung saja Ari membayarnya agar Wati bisa cepat berjualan disana.




Nawal pun langsung menepis tangan Alan darinya, ia juga mencegah Alan yang hendak menekan tombol lift dan menatap wajah pria itu dengan tajam sambil menekuk alisnya. Alan hanya diam mengamati wajah gadis di hadapannya, ia tak mengerti mengapa Nawal malah mencegahnya.


"Kamu kenapa cegah aku? Ayo kita ke bawah dan aku akan antar kamu pulang!" ujar Alan.


"Gak perlu Alan, aku bisa pulang sendiri kok. Lagian aku belum mau pulang sekarang, aku masih mau disini ngobrol sama kamu. Kamu jangan paksa aku buat pergi dong!" ucap Nawal.


"Apa lagi yang pengen kamu bicarakan sama aku? Aku rasa semuanya udah jelas, mending kamu pergi deh dan susul tuh pacar kamu!" ucap Alan.


"Sekali lagi aku bilang sama kamu, Royyan itu bukan pacar aku dan aku sama sekali gak cinta sama dia. Cuma kamu yang aku cintai sayang, gak ada orang lain," ucap Nawal tegas.


"Bullshit, aku gak percaya sama kata-kata perempuan kayak kamu!" ucap Alan.


"Kok kamu ngomong gitu sih? Aku beneran cinta sama kamu tau, kalau kamu gak percaya belah aja dada aku sekarang!" ucap Nawal.


"Gausah lebay, kalo aku belah dada kamu ya kamu mati lah!" ucap Alan.


"Yaudah, berarti kamu percaya ya sama aku?" ucap Nawal.


Alan menggeleng pelan, "Buat apa aku percaya kamu? Aku lebih percaya Lisa blackpink lahir di Cikarang daripada kata-kata kamu tadi," ucapnya.


Nawal mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang mantan barusan, "Ih apa sih? Aku serius tau Alan!" ujarnya.


"Kamu pikir aku bercanda? Udah deh, kamu keluar sekarang dan jangan balik lagi!" ucap Alan.


"Kalau aku gak mau gimana? Aku bakal tetap disini sampai kamu mau dengerin kata-kata aku tadi," ucap Nawal.

__ADS_1


"Yaudah, nanti aku telpon security buat seret kamu pergi dari sini," ancam Alan.


Nawal sontak kaget mendengarnya, "Apaan sih Alan? Kamu jangan gitu dong sama aku!" ucapnya sedikit panik.


"Suka-suka aku lah, ini kantor aku dan aku berhak melakukan apa yang ingin aku lakukan," ucap Alan.


"Okay okay, aku bakal pergi dari sini. Kamu gak perlu panggil security atau siapapun itu buat usir aku, tapi sekarang aku minta kamu buat maafin aku dan mau balikan sama aku lagi," ucap Nawal.


Alan mengusap wajahnya sambil menggeleng mendengar perkataan Nawal, "Kamu udah gak waras apa gimana sih? Gila aja kamu masih ngarep balikan sama aku disaat kamu udah mau nikah sama laki-laki lain!" ucapnya kesal.


"Ih kamu tuh susah banget dikasih tau ya? Aku gak mau nikah sama dia, aku tuh cuma cinta dan sayang sama kamu Alan," tegas Nawal.


"Udah deh aku gak tahan lagi sama kamu, ayo ikut aku sekarang!" kesal Alan.


Tanpa basa-basi lagi, Alan kembali menggenggam tangan Nawal dan memaksanya pergi. Nawal terus meronta-ronta, namun tak membuahkan hasil sebab tenaganya kalah jauh. Akan tetapi, tiba-tiba saja seseorang berteriak menahannya dan membuat lelaki itu terkejut.


"Alan berhenti!" teriak seorang lelaki dari kejauhan.




Cat membantu Yoshi membawakan roti-roti yang akan dijual oleh lelaki itu dengan berkeliling, mereka pun memasukkan roti tersebut ke dalam motor milik toko yang sudah disiapkan sebelumnya. Setelah semua dirasa cukup, Yoshi menutup kotak kaca yang ada di atas motor itu lalu beralih menatap sang kekasih sambil menangkup wajahnya.


Mereka berdua saling pandang sejenak, Yoshi melangkah lebih dekat ke arah Cat dan membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Cat bahkan sudah memejamkan mata, seolah bersiap menyambut kelanjutan aksi yang akan dilakukan Yoshi. Namun, pria itu justru terkekeh dan melepas tangannya dari wajah Cat.


"Hah? Kamu kenapa ketawa sayang? Ada yang lucu ya sama muka aku?" tanya Cat keheranan.


"Ahaha, gak kok sayang enggak. Aku lucu aja ngeliat reaksi kamu barusan, ngapain coba kamu pake merem segala hayo?" kekeh Yoshi.


Cat yang kesal langsung saja mencubit pinggang Yoshi sambil berkata, "Ih kamu mah nyebelin banget sih! Aku bete ah sama kamu!" setelahnya, ia pun berbalik dan mengerucutkan bibirnya tanda kesal.


Cup!


Tiba-tiba Yoshi malah mengecup pipinya dari arah samping, seketika Cat menganga tak menyangka dan memegangi pipinya yang terkena kecupan singkat itu. Ia masih terheran-heran seolah tak percaya jika barusan Yoshi mengecupnya, baru saja ia hendak menoleh dan berbicara, tapi lagi-lagi Yoshi mengecup pipinya.


"Yoshi, kamu apa-apaan sih? Kenapa coba kamu cium aku tapi gak bilang-bilang dulu? Gak boleh gitu tau!" protes Cat.


"Loh kok kamu malah marah? Bukannya itu ya yang kamu mau tadi? Buktinya kamu sampe merem kayak gitu, tandanya kamu kan emang kepengen aku cium," goda Yoshi.


"Sayang ih jangan gitu dong! Kamu mah bikin aku bete terus!" ujar Cat.


"Hahaha, iya iya gak lagi deh. Aku minta maaf ya cantik? Sekarang aku mau keliling dulu jualin roti-roti ini, kamu baik-baik ya disini?" ucap Yoshi.


"Iya sayang," singkat Cat.


Tanpa diduga, Yoshi menarik dan menahan tubuh Cat ke dekatnya. Lelaki itu mengecup lembut kening sang kekasih cukup lama, Cat hanya bisa diam pasrah menikmati kecupan hangat yang diberikan kekasihnya itu.


"Udah ya sayang, bye!" pamit Yoshi setelah melepas ciumannya sambil melambaikan tangan.


"Bye sayang!" balas Cat yang juga turut melambaikan tangannya dan tersenyum manis.


Yoshi pun berbalik dan naik ke atas motornya, ia memakai helm lalu bergegas menancap gas untuk pergi dari toko tersebut dan menjajakan roti yang ia bawa menggunakan motor. Sedangkan Cat berniat kembali ke dalam toko untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi ia malah melihat sosok pria tengah berdiri di depannya dengan tatapan tajam.


"Wah wah wah, sekarang kamu jadi kayak gini ya kerjanya Cat? Bukannya kerja makin bagus, malah makin parah. Bisa-bisanya kamu pacaran di tempat saya, mau jadi apa kamu ha?" tegur si pria.


Cat benar-benar gugup, ia menunduk tak berani menatap wajah pria di depannya yang sudah tentu adalah sang pemilik toko roti tersebut.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2