Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 62. Kecemburuan


__ADS_3

Sahira tersenyum saja sambil menggelengkan kepala, ia pun lanjut memasukkan makanan itu ke dalam rantang.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum," tiba-tiba terdengar suara ketukan disertai ucapan salam dari arah luar rumah mereka.


"Waalaikumsallam, siapa itu ya Bu? Kok pagi-pagi udah ada yang datang aja? Perasaan biasanya enggak deh," heran Sahira.


"Mana gue tahu? Udah sana lu buka aja deh biar tau siapa yang datang!" suruh Fatimeh.


"Iya Bu." Sahira mengangguk saja menuruti perkataan ibunya, ia meninggalkan sejenak rantang berisi makanan itu di meja dan langsung melangkah ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang.


"Waalaikumsallam..." Sahira berteriak sambil membuka pintu agar orang di depan itu berhenti bersuara.


Ceklek


Betapa terkejutnya Sahira, yang ia lihat di depannya saat ini adalah Awan alias pria yang memang menyukainya sejak lama dan ingin memilikinya. Tapi, tentu Sahira tidak bisa membalas perasaan Awan sebab ia tak menyukai pria itu dan juga ia tidak memikirkan mengenai lelaki.


"Halo Sahira, selamat pagi!" sapa Awan sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Eee i-i-iya, pagi juga bang. Ada apa ya bang Awan kesini?" ucap Sahira gugup.


"Gak kok, aku cuma mau ketemu sama kamu aja. Mumpung kamu belum berangkat kerja," ucap Awan.


"Oh gitu, yah tapi ini sebentar lagi aku udah mau berangkat bang. Jadinya aku gak bisa temenin kamu lama-lama deh," ucap Sahira.


"Ah gapapa, malahan aku senang dengarnya. Kamu berangkat bareng aku aja ya? Biar aku antar kamu sampai depan kantor," usul Awan.


"Hah? Ja-jangan bang, gausah repot-repot!" tolak Sahira merasa tidak enak.


"Gapapa Sahira, kamu—"


"Siapa yang datang Sahira?" ucapan Awan terputus oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan Fatimeh dari dalam rumah itu.


Sontak keduanya menoleh ke asal suara, tampak Fatimeh sudah berada di dekat mereka dengan menenteng rantang Sahira di tangannya. Mata wanita itu mengarah pada Awan, seolah menunjukkan ia tidak suka padanya.


"Oh jadi lu yang datang Wan? Mau ngapain lagi sih lu kesini? Pengen deketin anak gue? Jangan ngarep deh, nih lihat Sahira aja udah siapin bekal buat Saka si bosnya!" ujar Fatimeh.


"Ibu!" Sahira langsung menegur ibunya dan terlihat sangat kesal karena ucapan sang ibu barusan.


"Apa sih Sahira? Yang kayak begini tuh emang kudu dikasih tau, biar dia gak berharap terus sama lu. Kan bener lu mau terima cintanya si Saka," ucap Fatimeh membela diri.


"Bu, cukup ya aku gak mau ibu bicara kayak gitu lagi sama bang Awan!" ujar Sahira.


"Kenapa lu belain dia sih Sahira? Lu kan katanya udah pilih si Saka, harusnya lu tegas ke dia supaya dia gak deketin lu lagi!" ucap Fatimeh.


"Biar aku yang urus kehidupan aku sendiri Bu, tolong ibu jangan ikut campur!" pinta Sahira.


Fatimeh memutar bola matanya, ia malas sekali ketika Sahira sudah berbicara seperti itu. Akhirnya Fatimeh menyerahkan rantang di tangannya itu pada Sahira dengan wajah jengkel.


"Yaudah, gue pergi deh ah. Nih rantangnya buat pak Saka jangan lupa dikasih!" ketus Fatimeh.


"Iya Bu, makasih." Sahira mengambil rantang tersebut dan membiarkan ibunya pergi ke dalam rumah walau dengan perasaan kesal.


Kini Sahira pun beralih menatap Awan yang masih berada di dekatnya, ia merasa tidak enak pada pria itu sebab perkataan ibunya tadi. Sahira langsung saja meminta maaf pada Awan agar Awan tidak lagi merasa kesal atau jengkel.


"Bang, maafin kata-kata ibu aku ya? Ibu emang suka gitu orangnya," ucap Sahira.


"Gapapa Sahira, tapi emangnya benar ya kamu suka juga sama bos kamu itu?" tanya Awan.


"Eee..."



__ADS_1


Cat turun dari motor Yoshi begitu sampai di depan toko roti tempat mereka bekerja, Cat tampak khawatir ada sang pemilik toko disana dan bisa saja memergoki mereka seperti kemarin. Untuk itu ia pun berniat langsung masuk ke dalam toko tanpa berlama-lama lagi, namun langkahnya itu dicegah oleh Yoshi yang terlihat penasaran.


"Kamu mau kemana sih Cat? Kok buru-buru banget kayak gitu? Kamu emang gak pengen ngobrol dulu sama aku disini?" tanya Yoshi.


"Duh gimana ya? Masalahnya aku takut ketahuan lagi sama pemilik toko, terus aku dimarahin deh sama dia. Aku kan gak mau kalau sampai dipecat dari toko roti ini," ucap Cat.


"Hah? Emangnya ketahuan apaan sih Cat? Kita kan cuma ngobrol-ngobrol biasa," heran Yoshi.


"Itu loh Yos, kemarin tuh pemilik toko ngeliat kita lagi mesra-mesraan disini," ucap Cat.


"Serius kamu? Terus apa yang dilakuin sama dia? Apa dia marahin kamu?" tanya Yoshi.


Cat mengangguk lesu, "Iya Yos, makanya aku gak mau itu kejadian lagi. Aku takut banget sumpah kalau sampai aku dipecat dari sini," jawabnya.


"Ya aku juga gak mau sayang, masa iya kamu dipecat sih? Terus aku kerja sendiri dong disini?" ucap Yoshi sambil tersenyum.


"Yaudah, berarti mulai sekarang kalau di tempat kerja kita jangan terlalu dekat-dekat ya?" ucap Cat.


"Of course, aku setuju sama kamu sayang. Tapi, tetap aja kamu gak boleh cuekin aku. Nanti yang ada aku jadi sedih dong sayang," ujar Yoshi.


"Iyalah Yoshi sayang, lagian mana bisa sih aku cuekin kamu?" ucap Cat.


Yoshi pun tersenyum dan mengusap wajah gadisnya dengan lembut, lalu tiba-tiba Ivan datang dengan mobilnya yang membunyikan klakson dengan keras. Sontak sepasang kekasih itu terkejut dan reflek menjauh, mereka menatap kesal ke arah Ivan yang keluar dari mobil sambil tertawa.


"Hahaha, lucu amat pasangan kekasih ini kagetnya barengan gitu. Kalian berdua tuh benar-benar serasi deh, emang cocok banget kalian pacaran deh gue dukung hubungan kalian!" kekeh Ivan.


"Sialan lu Van! Bisa gak sih datang biasa aja tanpa bunyiin klakson kenceng banget kayak gitu?" ucap Yoshi emosi.


"Yah elah gitu aja emosi lu, sabar dong bro gausah marah-marah gitu! Makanya lu beli mobil juga dong biar bisa klakson kayak gue nih," ucap Ivan dengan gaya sombongnya.


Yoshi benar-benar geram dengan tingkah tengil sahabatnya itu, namun ia hanya memutar bola mata dan memilih tidak meladeni pria tersebut karena pasti hanya akan membuang-buang waktu. Cat pun juga terus memegangi kekasihnya itu, ia tak mau Yoshi terpancing emosi karena ulah Ivan.


"Van, lu jangan sombong deh! Gue gak kenal Ivan yang sombong, lu bukan teman gue!" ujar Cat.


"Ish, gue gak mau naik mobil buluk lu! Mending gue naik motor berdua sama Yoshi, bisa puas peluk-peluk. Gak kayak lu yang naik mobil tapi sendirian terus," ucap Cat.


Jleb


Perkataan Cat barusan seolah menusuk jantung Ivan, pria itu sadar bahwa ia memang kesepian dan membutuhkan sosok pendamping.




Sahira tiba di kantor dengan taksi yang ia tumpangi, ia pun turun dari taksi tersebut masih sambil membawa rantang di tangannya yang akan ia berikan untuk Saka pagi ini. Setelah membayar, Sahira bergegas masuk ke area kantor dengan senyum yang terus merekah di pipinya. Sahira bertemu dan menyapa para karyawan yang tak sengaja berpapasan dengannya, termasuk pak Agus. Entah kenapa hari ini ia begitu bahagia dibanding hari-hari sebelumnya.


Dan kebetulan sekali, Saka juga sedang berada di lobi bersama seorang wanita yang tak dikenali oleh Sahira. Namun, Sahira tak mau ambil pusing dan memilih menghampiri Saka begitu saja dengan menyapa pria itu perlahan.


"Pak Saka!" sapa Sahira lembut. Saka yang terkejut sontak menoleh lalu tersenyum ke arahnya.


"Eh Sahira? Good morning, selamat datang ya!" balas Saka.


"Morning juga pak, itu siapa?" tanya Sahira sambil menunjuk ke arah wanita di samping Saka.


"Ohh, ini sekretaris papa saya yang lagi dapat tugas di kantor ini. Kamu sudah tahu kan kabar tentang papa saya yang kembali ke Indonesia?" jawab Saka.


"Ah iya iya, saya tahu kok pak. Berarti dia bakal kerja disini juga dong?" tebak Sahira.


"Gak juga, Fatma ini cuma sebentar disini. By the way, kalian kenalan dong biar akrab!" ucap Saka.


"Oh iya, hai nama saya Sahira!" ucap Sahira mengenalkan diri kepada Fatma, sekretaris papa Saka yang saat ini ada di depannya.


"Hai juga, saya Fatma!" balas gadis itu sambil meraih tangan Sahira.


Mereka salaman selama beberapa detik, sampai akhirnya Fatma melepas tangannya lalu pamit pada Saka serta Sahira karena ia harus pergi ke ruangan bosnya. Sedangkan Sahira tetap disana dan beralih menatap Saka, ia pun menyerahkan rantang di tangannya itu pada si pria.

__ADS_1


"Pak, ini buat bapak!" ucap Sahira disertai senyuman lebarnya.


Saka mengernyit heran, "Ini apa? Kok kamu kasih saya rantang kayak gini?" tanyanya.


"Iya pak, itu ada sandwich dari saya buat bapak sarapan. Anggap aja sebagai tanda makasih karena bapak selama ini selalu baik sama saya," jawab Sahira.


"Hah? Kamu serius kasih saya makanan buat sarapan?" kaget Saka.


Sahira mengangguk sambil tersenyum, "Iya pak, buktinya ini kan ada makanannya di depan bapak. Diterima ya pak? Cuma ini yang bisa saya kasih buat bapak, semoga bapak suka deh sama makanan buatan saya!" ucapnya.


"Ahaha, pasti saya suka kok. Saya juga yakin makanan kamu ini enak banget, makasih ya Sahira!" ucap Saka.


"Sama-sama, pak. Kalo gitu saya mau ke ruangan saya dulu ya pak?" pamit Sahira.


"Iya iya, selamat bekerja Sahira! Semangat ya!" ucap Saka tampak bahagia.


Sahira hanya mengangguk dan lalu berjalan melewati Saka, gadis itu menuju lift dengan perasaan aneh yang coba ia bendung. Entah kenapa wajahnya memerah mengingat saat dimana ia tadi memberikan rantang makanan itu pada Saka secara langsung.


Sementara Saka masih di tempatnya memandangi rantang pemberian Sahira, ia sangat senang dan menyangka kalau Sahira sudah mulai membuka hati untuknya. Tanpa sadar, dari kejauhan Alan menyaksikan semuanya dan perasaannya sangat sakit seolah diremukkan.


"Kenapa kamu harus kasih makanan itu ke Saka, Sahira? Apa kamu suka sama dia?" batin Alan.




Singkat cerita, Sahira ikut bersama Alan ke sebuah cafe di luar kantor untuk melaksanakan rapat bersama para klien. Namun, kali ini Sahira merasakan ada yang berbeda dari sikap Alan padanya. Pria itu seolah cuek dan dingin, tak seperti kemarin saat Alan sudah ramah dan tidak lagi marah-marah.


Sahira pun berpikir keras, mencoba mencari tahu apa penyebab sikap Alan kembali seperti itu. Sahira ingin sekali menegur bosnya itu, tapi apa daya ia tak memiliki keberanian karena khawatir Alan justru akan marah padanya. Akhirnya Sahira memilih diam walau suasana hatinya tidak baik-baik saja dan penuh penasaran.


Mereka berdua duduk di kursi yang sudah dipesan sebelumnya, meeting pun berlangsung setelah para klien datang. Tak lama mereka selesai melakukan rapat, lalu para klien itu pergi dan meninggalkan Alan berdua dengan Sahira. Alan kini menatap Sahira dengan dingin dan membuat gadis itu gugup, terlebih sedari tadi ia tak fokus ke rapat karena memikirkan sikap dingin Alan.


"Kamu sudah catat obrolan saya dengan pak Gonzalez kan, Sahira?" tanya Alan ketus.


Sahira hanya diam menunduk, ia menautkan dua tangannya dan detak jantungnya kini berdetak lebih keras seolah berada dalam bahaya. Alan yang kesal memilih menegakkan tubuhnya dan menghela nafas, ia langsung membentak Sahira dengan keras hingga gadis itu terkejut.


"Sahira!" sentak Alan.


"Hah? Iya pak, kenapa?" tanya Sahira terkejut.


"Kamu tuh bisa fokus gak sih kalau lagi kerja? Kamu sudah catat belum obrolan saya dan pak Gonzalez tadi?!" tegur Alan.


"Ma-maaf pak, tadi saya lupa catat. Ta-tapi, saya sudah catat sebagian kok pak," ucap Sahira gugup.


"Saya itu ajak kamu kesini buat catat semua obrolan saya dan pak Gonzalez, bukan buat diam dan bengong gak jelas! Kalau emang kamu gak niat kerja, saya bisa kok cari sekretaris baru buat gantiin posisi kamu!" ucap Alan.


Sahira sontak membelalakkan matanya, "Ja-jangan pak! Jangan pecat saya! Saya janji gak akan mengulangi kesalahan saya!" ucapnya memohon.


"Ah sudahlah!" Alan yang kesal langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja keluar dari cafe tersebut.


"Pak, tunggu pak!" Sahira panik saat Alan meninggalkannya, ia pun membereskan semua sisa-sisa meeting mereka tadi dan ikut pergi menyusul Alan ke luar cafe.


Di luar, tampak Alan sudah berada dekat mobilnya dan membuka pintu. Sahira pun berlari ke arahnya berupaya menahan pria itu, tapi justru berkas yang ia bawa malah berterbangan akibat diterpa angin. Sontak Sahira semakin panik, ia berusaha mengambil kembali kertas-kertas yang terbang di udara itu.


"Duh, sini dong jangan jauh-jauh terbangnya! Ah elah sial banget sih hidup gue hari ini! Udah kena marah, terus sekarang berkasnya jadi berantakan semua!" ucapnya mengeluh.


Tiba-tiba saja, seseorang menangkap semua kertas itu dengan satu tangan dan berjalan menghampiri Sahira. Gadis itu tersentak ketika menyadari yang datang itu adalah Saka, pasalnya sebelum ini hanya dirinya dan Alan lah yang hadir di meeting tersebut.


"Pak Saka?" lirih Sahira.


Alan yang melihat itu menjadi semakin tersulut, ia masuk begitu saja ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sahira disana berdua dengan Saka.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2