Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 45. Berkelahi


__ADS_3

Bukannya menurut, Yoshi justru memutar tubuh Cat hingga menghadap ke arahnya dan menekan kedua pundak gadis itu. Yoshi menatap tajam ke arahnya dari jarak dekat, membuat jantung Cat berdebar tak karuan.


"Please Yos, udah ya gue mau lanjut kerja?" ucap Cat yang hendak berbalik.


"Eits, kamu pikir kamu bisa lepas dari aku? Gak bisa Cat, kamu harus jawab dulu pertanyaan aku yang tadi!" tegas Yoshi.


"Apaan sih Yos? Lu gak ngerti apa sama yang gue bilang barusan? Gue mau kerja dulu," ujar Cat.


"Aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu jawab pertanyaan aku!" ucap Yoshi.


"Gue mau kelarin cuci piring dulu Yos, nanti gue jawab kok dengan jelas," ucap Cat mulai kesal.


"Apa susahnya sih tinggal jawab sekarang? Iya atau enggak gitu, gampang kan?" ujar Yoshi.


"Gampang menurut lu, belum tentu gampang menurut gue juga Yos. Bagi gue itu susah tau, udah ah awas gue mau kerja!" ucap Cat.


"Cat, sekali lagi aku tanya ke kamu, apa benar kamu suka sama aku?" ucap Yoshi dengan tegas.


Tampaknya kali ini Yoshi benar-benar serius, ia memegang kedua bahu Cat dan menatap tajam wajahnya dari jarak dekat. Cat yang ditatap seperti itu sontak kagok, ia mencoba mengalihkan pandangannya karena tak berani terlalu lama bertatapan dengan lelaki itu.


"Cat, Yoshi!" suara wanita mengagetkan keduanya, sontak Yoshi serta Cat bergegas menoleh ke asal suara dan menemukan Wati berdiri disana.


Wati menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pemandangan yang jarang sekali ia lihat terjadi di dapur sana. Pantas saja sedari tadi mereka berdua tak kunjung keluar, rupanya mereka sedang asyik bercengkrama disana. Itulah yang ada di dalam pikiran Wati saat ini.


"Wati, ini gak seperti yang lu pikirin. Gue sama Yoshi cuma ngobrol biasa kok," ucap Cat sembari mendorong tubuh Yoshi agar terlepas dari pelukannya.


Namun, lelaki itu justru menarik pinggang ramping Cat dan merapatkan tubuh mereka. Sontak Cat melongok lebar, ia terus mendorong kuat tubuh Yoshi tapi tak digubris olehnya. Cat sungguh panik, apalagi Wati saat ini terus memberikan tatapan mencurigakan ke arah mereka.


"Ya ya ya, kalau emang kalian ada apa-apa juga gapapa kok. Buktinya tuh Yoshi aja gak mau lepas dari lu kok Cat," ujar Wati.


"Ish, enggak ya itu gak bener. Yos lepasin gue, lu kenapa sih jadi gak jelas kayak gini!" geram Cat.


"Kamu yang bikin aku begini, Cat. Tinggal jawab doang apa susahnya sih?" ucap Yoshi tegas.


"Cie cie, jawab apa tuh Cat? Kasih tahu dong ke gue, pasti kalian mau jadian ya? Pj dong pj, kita kan temenan udah dari lama tau," goda Wati.

__ADS_1


"Enggak Wati, siapa yang jadian coba? Udah deh Yos, lepasin gue dulu!" elak Cat.


Yoshi menggeleng, "Aku gak bakal lepasin kamu, sebelum kamu jawab pertanyaan aku tadi. Ayo jawab sekarang Cat!" ucapnya tegas.


"Iya iya, gue pasti jawab kok. Tapi gak disini Yos, gue malu lah ada Wati tuh," ujar Cat.


"Kenapa harus malu? Kamu sama Wati kan udah temenan dari lama, jadi gak boleh ada rahasia diantara kalian," ucap Yoshi.


"Nah, si Yoshi bener tuh Cat. Diantara kita jangan ada rahasia walau sedikit!" sahut Wati.


"Hadeh, kalian tuh sama-sama ngeselin ya! Gue bilang gak mau jawab malah digituin!" kesal Cat.


"Kalau kamu gak mau jawab, yaudah aku bakal terus peluk kamu kayak gini," ancam Yoshi.


Cat terdiam sejenak, tapi akhirnya ia memilih mengakui perasaannya yang selama ini ia pendam kepada Yoshi.


"Ish iya iya, gue ngaku gue suka sama lu Yos!" ucap Cat dengan lantang.


Seketika Wati menganga, pengakuan Cat barusan berhasil membuatnya kaget bukan main. Yoshi pun demikian, namun bedanya ia juga merasa sangat senang mendengar jawaban dari Cat.




Namun, saat hendak menaiki lift tiba-tiba saja mereka justru bertemu dengan Alan yang baru turun dan terlihat sangat marah. Sahira pun terkejut, ia was-was kalau Alan akan marah padanya lagi seperti dulu, apalagi wajah pria itu tampak memerah menahan emosi.


"Ohh, kalian berdua malah asyik-asyikan disini ya? Pantas aja saya cari kamu ke ruangan kamu, eh kamu gak ada Sahira," ujar Alan.


"Maaf pak, saya bukan mau bolos kerja atau apa seperti yang bapak tuduhkan. Tadi itu pak Saka ajak saya ke kantin karena katanya ada yang mau beliau obrolkan pak," jelas Sahira.


"Apapun alasannya, saya tetap kecewa sama kamu Sahira. Seharusnya kamu bisa menolak ajakan bang Saka, kalau memang kamu niat bekerja untuk saya di perusahaan ini," ucap Alan.


"Pak, saya gak enak aja kalau tolak ajakan pak Saka. Beliau kan udah banyak banget tolong saya selama ini," ucap Sahira.


"Saya gak perduli Sahira, intinya kamu harus dihukum sekarang!" ucap Alan.

__ADS_1


"Lan, cukup ya tolong jangan bicara yang enggak-enggak sama Sahira! Lu gak bisa hukum Sahira gitu aja!" ucap Saka.


Alan beralih menatap abangnya itu dengan seringaian kecil di bibirnya.


"Lagi-lagi lu belain dia bang, kenapa sih? Lu suka ya sama Sahira? Makanya selama ini lu selalu coba deketin dia dan belain dia, kasihan banget sih lu bang bisa-bisanya suka sama kaum rendahan kayak dia!" ucap Alan.


Saka tersulut emosi, ia melirik ke arah Sahira yang juga terlihat sakit hati mendengar perkataan Alan. Tubuhnya bergetar dengan kedua tangan mengepal kuat, ia sangat emosi saat ini.


"Jaga bicara lu ya Alan!" geram Saka.


"Apa? Lu gak terima gue bilang Sahira kaum rendahan? Emang itu faktanya kok, selera lu payah banget sih bang!" sentak Alan.


"Kurang ajar lu ya!" Saka emosi dan langsung maju menarik kerah kemeja adiknya dengan emosi.


Sahira yang menyaksikan itu sontak terkejut, ia menutup mulutnya dan mencoba melerai kedua kakak beradik itu agar tidak berkelahi. Namun, sepertinya Saka sudah sangat emosi sampai tidak mau mendengarkan perkataan Sahira dan malah terus mencengkram kerah kemeja Alan.


"Lo tarik kata-kata lu, atau gue bakal bikin lu masuk rumah sakit!" ancam Saka.


"Gue gak mau, lagian lu pikir gue takut gitu sama lu? Gue bisa lawan lu kapanpun gue mau bang," ucap Alan tersenyum lebar.


"Sial!" Saka mengumpat dan hendak memukul wajah adiknya.


"Jangan pak!" Sahira berteriak menahan Saka, ia bergerak maju lalu mencoba menarik tangan Saka lepas dari tubuh Alan.


"Pak, saya mohon sudah pak! Gak enak dilihat sama karyawan lain kalau kalian bertengkar disini," pinta Sahira.


"Diam kamu Sahira! Anak ini harus diberi pelajaran!" geram Saka.


"Stop pak! Udah!" Sahira memaksakan diri untuk melerai keduanya, sampai tanpa sengaja Saka justru mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.


Bruuukkk


"Awhh akh!" ringis Sahira memegangi pinggulnya yang terbentur lantai.


"Sahira?" kaget Saka dan Alan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2