
"Apa??" Cat terkejut bukan main, ia menganga tak percaya mendengar jawaban pria itu.
"Lo serius kan Yos? Lo gak lagi bercanda atau bohongin gue?" tanya Cat memastikan.
"Iyalah Cat, buat apa gue bohong coba? Emang gue abis ditolak sama Sahira semalam, dia gak mau jadi pacar gue Cat," jawab Yoshi tegas.
"Kok bisa sih? Emangnya apa alasan si Sahira tolak lu Yos? Dia gak cinta sama lu?" tanya Cat.
"Pastinya begitu, cuma semalam dia bilang kalau dia itu gak mau pacaran. Dia pengen fokus ke karir dan pekerjaan baru dia itu," jawab Yoshi.
"Ah itu mah alasan doang pasti, gue yakin dia tolak lu karena dia gak suka sama lu!" ucap Cat.
"Iya Cat, gue juga tahu. Apalah gue ini Cat? Gue cuma seorang karyawan toko, mana mungkin Sahira bisa suka sama gue?" ucap Yoshi.
Cat mendekat dan menaruh tangannya di pundak Yoshi, "Lu yang sabar aja Yos! Gue bakal selalu ada buat hibur lu kok, tenang ya!" ucapnya.
"Thanks!" ucap Yoshi lirih.
"Sama-sama, udah yuk kita balik aja! Atau lu mau mampir dulu ke warung buat makan? Gue yakin lu pasti belum makan kan?" ujar Cat.
Yoshi menggeleng, "Gue gak selera makan, Cat. Di pikiran gue sekarang cuma ada Sahira, gue beneran masih gak nyangka kalau gue bakal ditolak sama dia," ucapnya.
"Yos, ditolak bukan berarti hidup lu berakhir. Kan masih banyak cewe di luaran sana," ucap Cat.
"Ya emang banyak, tapi yang mau sama gue mana ada? Gue ini cowok kampungan, jelek lagi!" ucap Yoshi merendah.
"Gak boleh gitu, ada kok yang suka sama lu tanpa memandang lu siapa dan kayak gimana," ucap Cat.
"Siapa? Coba lu sebutin ke gue, satu aja orangnya! Siapa tahu gue bisa lebih semangat," ucap Yoshi.
Cat justru terdiam dan memalingkan wajahnya, ia belum siap untuk mengaku kalau selama ini ia menyukai pria itu. Namun, setidaknya kini ia kembali memiliki harapan untuk bisa memiliki Yoshi dan bersama dengan pria itu setelah Sahira menolaknya.
"Tuh kan diam, berarti emang gak ada. Dah lah hidup gue tuh menyedihkan banget!" ucap Yoshi.
"Gak boleh gitu Yos, lu itu—"
"Ehem ehem.." deheman seorang pria dari kejauhan membuat ucapan Cat terhenti, mereka pun menoleh ke asal suara dan menemukan seseorang berdiri disana sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ivan, kok lu balik lagi sih? Bukannya tadi lu udah pulang ya?" tanya Cat keheranan.
"Hehe, emang kenapa? Takut ya gue ganggu kalian berdua disini?" kekeh Ivan.
"Gak gitu anjir, gue cuma heran aja kenapa lu malah balik lagi kesini," ucap Cat.
"Iya, ada barang gue yang ketinggalan di dalam. Boleh kan gue buka lagi pintunya Cat?" ucap Ivan.
"Yah elah lu ceroboh banget sih, untung gue masih disini. Yaudah, sana lu buka lagi gih, nih kuncinya!" ucap Cat menyerahkan kunci toko.
"Thanks Cat! Selamat senang-senang ya sama Yoshi!" kekeh Ivan.
Ivan langsung pergi begitu saja saat Cat menatapnya dengan tajam, sedangkan gadis itu sendiri masih berada disana bersama Yoshi yang hanya terdiam tanpa meladeni omongan Ivan tadi. Tampaknya Yoshi masih sangat sedih sampai tidak bisa diajak bercanda oleh siapapun.
"Yos, jangan dengerin Ivan ya! Sekarang lu curhat aja sama gue, pasti gue bakal dengerin kok ucapan lu!" ucap Cat.
"Nanti aja, tunggu sampai si Ivan pergi. Gue gak mau dia tahu dan nanti malah ngeledek gue," ucap Yoshi.
"Oh okay," Cat mengangguk setuju.
•
•
"Duh, Sahira tidur lagi. Jadi gak tega buat bangunin," gumam Alan.
Akhirnya Alan keluar dari mobil terlebih dulu, ia berniat menggendong tubuh Sahira dan membawanya ke rumah secara perlahan. Namun, disaat Alan menyentuh tubuh Sahira setelah melepaskan sabuk pengamannya, tiba-tiba saja gadis itu terbangun dan terkejut bukan main.
"Hah pak Alan? Bapak mau ngapain?" tanya Sahira.
"Eh, kamu jangan salah paham dulu Sahira! Tadi kamu itu kan tidur, saya niatnya mau gendong kamu biar kamu gak kebangun. Eh malah kamu udah bangun duluan," jawab Alan.
"Bapak mau gendong saya? Gak perlu lah pak, saya bisa jalan sendiri kok," ucap Sahira.
"Ya itu kan tadi Sahira, kalau sekarang mah iya jalan sendiri aja!" ucap Alan.
"Hehe, tapi bapak ternyata perhatian juga ya sama saya? Sampai gak mau bangunin saya terus pengen gendong saya, duh duh!" goda Sahira.
__ADS_1
"Kamu gausah ge'er, saya emang begini kalau sama cewek, suka gak tegaan," ucap Alan.
"Yaudah, bapak emang baik deh saya akui. Terus sekarang kita udah sampai dimana pak?" ucap Sahira terheran-heran.
"Ya di depan rumah kamu lah," jawab Alan.
"Ohh, kalo gitu saya pulang dulu ya pak? Sekali lagi makasih udah anterin saya, sama tadi mau gendong saya juga," ucap Sahira.
"Iya iya, gausah dibahas lagi lah yang itu mah!" kesal Alan.
Sahira tersenyum meledek, tapi entah kenapa itu malah membuat Alan merasa semakin terpesona pada gadis di hadapannya. Bahkan saat ini Alan hanya diam memandangi wajah Sahira yang tersenyum sembari duduk itu, belum pernah Alan merasa seperti itu sebelumnya.
"Pak, kenapa bengong aja dah? Awas saya mau turun jangan halangi pintunya dong!" ujar Sahira.
"Kamu nyuruh saya? Ini mobil saya loh, terus saya juga bos kamu. Harusnya kamu yang bisa saya suruh-suruh Sahira!" geram Alan.
"Apaan sih pak? Suruh siapa bapak berdiri disitu? Gimana saya bisa keluar coba?" ucap Sahira.
"Ya ayo keluarnya saya bantu sini!" ajak Alan.
Sahira menatap wajah Alan saat pria itu mengulurkan tangan ke arahnya, jujur saja ia bingung apakah harus menerima uluran tangan Alan atau tidak. Sedangkan Alan sendiri masih berada di posisinya sambil tersenyum ke arah Sahira dengan tangan terulur ke gadis itu.
"Ayo Sahira! Apa lagi yang kamu tunggu coba? Kita turun sekarang, atau kamu gak akan saya izinin buat pulang!" ucap Alan.
"Hah? Maksud bapak apa ya? Kalau saya gak boleh pulang, terus saya harus kemana?" tanya Sahira.
"Ya terserah kamu, mau kemana kek suka-suka kamu. Makanya udah ayo kita turun sebelum saya berubah pikiran!" jawab Alan.
"I-i-iya pak, tapi emang harus pegangan tangan apa?" tanya Sahira.
Alan mengangguk, "Iya Sahira, lagian apa salahnya sih kita pegangan tangan? Kamu gak mau saya tuntun?" ujarnya.
Sahira terdiam sejenak, tapi setelahnya ia memilih meraih tangan Alan dan keluar dari mobil dengan bantuan pria itu. Mereka pun mulai melangkah bersamaan menuju rumah Sahira dengan tangan saling menyatu, namun tiba-tiba seseorang muncul menghadang jalan mereka sambil tersenyum.
Sahira tersentak kaget melihatnya, "Bang Awan?" ucapnya dengan mulut menganga.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...