
"Makasih ya Bu?" Sahira tersenyum dan kembali memeluk erat tubuh Fatimeh disana.
"Ehem ehem.." tanpa diduga, tiba-tiba saja seorang pria berdehem pelan hingga mengagetkan keduanya yang spontan melepas pelukannya.
Sahira dan Fatimeh kompak menatap ke asal suara, dan disana mereka menemukan sosok Alan tengah berdiri memandang mereka disertai senyum tipisnya. Sungguh Sahira amat kaget dapat bertemu dengan pria itu lagi, entah kenapa ia seolah sangat senang dengan kehadiran Alan kembali.
"Pak Alan? Ini beneran bapak?" tanya Sahira berupaya memastikan.
Alan mengangguk kecil, "Ya Sahira, saya Alan mantan bos kamu. Tapi, tolong jangan panggil saya pak karena saya kan bukan bos kamu lagi! Malahan saya akan jadi adik ipar kamu nanti," ucapnya.
"Ah iya, saya minta maaf pak. Eh maksud saya Alan," ucap Sahira terbata-bata.
"Nah, seperti itu lebih bagus didengarnya. Lagipun kamu kan lebih tua dibanding saya, jadi tidak pantas lah kalau kamu panggil saya pak," ucap Alan.
"I-i-iya.." lirih Sahira dengan wajah tertunduk.
Lalu, tiba-tiba Fatimeh bergerak dan berdiri tepat di depan Sahira seolah memasang badannya. Fatimeh kini tampak serius menatap tubuh Alan dari atas sampai bawah seperti hendak membunuhnya, hal itu membuat Alan harus meneguk ludah secara susah payah karena kebingungan.
"Mau ngapain lu kesini, ha? Lu gak punya rumah emangnya sampai lebaran begini datang ke tempat orang?" tegur Fatimeh.
"Eee sa-saya..." Alan yang mendengar itu langsung merasa gugup dan bingung seketika.
Sahira pun keheranan dengan sikap ibunya barusan, ia tak mengerti mengapa Fatimeh harus berkata seperti itu pada Alan. Akhirnya Sahira memutuskan melangkah ke depan sang ibu untuk coba bertanya sekaligus menegurnya, jujur saja Sahira sangat tidak enak pada Alan saat ini.
"Bu, kenapa ibu bicaranya begitu sih sama Alan? Dia kan datang kesini niatnya baik, harusnya ibu gak boleh begitu sama Alan! Apa ibu lupa kalau hari ini hari raya?" tegur Sahira.
"Udah deh Sahira, mending kita masuk aja yuk! Gue udah lapar nih pengen makan," ujar Fatimeh.
"Sebentar Bu, aku—" belum sempat Sahira menyelesaikan ucapannya, Fatimeh sudah langsung menarik paksa lengan putrinya itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Braakk
Tak lupa Fatimeh juga menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk kesana. Alan pun tertunduk lesu di depan sana, ia sungguh bingung mengapa Fatimeh seolah sangat membencinya kali ini. Padahal Alan merasa kalau ia tak memiliki salah apapun.
"Sebenarnya bu Fatimeh kenapa ya? Kok dia kayak benci banget sama saya begitu? Apa yang terjadi ya selama saya pergi? Duh, semoga gak ada apa-apa deh!" gumam Alan lirih.
Akhirnya Alan memilih pergi dari rumah itu karena merasa sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi disana, meskipun Alan sedikit merasa kecewa lantaran ia masih belum puas bertemu dengan Sahira yang sangat ia rindukan. Namun, Alan pun tak dapat berbuat apa-apa saat ini selain pergi.
Sementara itu, Sahira kini dipaksa duduk di sofa dengan dua tangan yang terus digenggam erat oleh ibunya. Fatimeh pun menyusul duduk di samping gadis itu dan terus menatapnya dengan tajam, membuat Sahira kebingungan tak mengerti mengapa ibunya jadi seperti itu.
"Bu, ada apa sih? Kenapa ibu kayak gak suka gitu sama pak Alan? Dia kan gak ngelakuin kesalahan apa-apa ke kita," tanya Sahira keheranan.
"Si Alan itu juga anak Syera, jadi gue gak suka lu dekat-dekat sama dia!" jawab Fatimeh tegas.
Sahira membelalakkan matanya, tampak sekali kalau Fatimeh sangat tidak menyukai Syera termasuk anak-anaknya. Sahira pun dibuat bingung, sebab ia sendiri juga merupakan anak dari Syera. Tapi ia heran mengapa Fatimeh justru tidak membencinya, sungguh berbeda dengan sikapnya pada Saka maupun Alan.
•
•
Saka dengan senyum sumringah bergerak menuju sofa ruang tamu tempat dimana kedua orangtuanya berada. Pria itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk menikmati hari raya idul Fitri kali ini, tentu saja hal itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu bahagia.
"Ma, pa, selamat lebaran ya! Aku minta maaf kalau ada salah sama mama papa," ucap Saka yang langsung berlutut di depan orangtuanya dan mencium tangan mereka.
"Iya Saka, papa maafin kamu kok. Papa senang kamu sudah bisa menerima mama Syera sebagai mama kamu sekarang, makasih ya?" ucap Alfian.
"Betul itu, mama juga senang banget karena sekarang kamu sudah mau mengakui mama sebagai mama kamu. Terimakasih banyak ya Saka sayang?" sahut Syera.
"Sama-sama ma, pa. Emang udah seharusnya aku gak egois dari dulu, aku tahu kalau papa butuh pendamping di hidupnya," ucap Saka.
"Baguslah, kamu memang sudah semakin dewasa Saka. Kamu sangat pantas menggantikan adik kamu sebagai pemimpin perusahaan kita," ucap Alfian.
__ADS_1
Saka sontak membelalakkan matanya, "Apa? Yang bener pa? Aku bakal jadi pengganti Alan di perusahaan kita?" ujarnya agak terkejut.
Alfian hanya tersenyum disertai anggukan kecil, tentu saja Saka sangat bahagia mendengar itu dan ia pun tidak sabar untuk segera menjadi pemimpin di perusahaan keluarganya. Namun, tampak jelas raut ketidaksukaan di wajah Syera ketika mendengar suaminya mengatakan hal itu. Ya Syera seolah tak terima kalau putranya akan digantikan.
"Terimakasih ya pa, aku gak nyangka kalau hari ini aku dapat kabar yang sangat baik dan membahagiakan buat aku!" ucap Saka antusias.
"Sama-sama, tapi papa harap kamu bisa mengatur semuanya dengan baik dan benar ya Saka! Jangan sampai kejadian seperti yang dialami Alan terulang lagi! Mengerti?" ucap Alfian.
"Siap pa, aku mengerti sekali dengan semua yang papa katakan itu!" ucap Saka lantang.
"Bagus, dan jangan lupa juga kamu harus memberikan jabatan untuk adik kamu disana supaya dia tidak kecewa nantinya!" pinta Alfian.
"Iya pa," singkat Saka.
Saka tersenyum lebar sembari melirik wajah Syera yang terlihat tak menyukai keputusan papanya itu, tapi dengan cepat Syera pun mengubah raut wajahnya agar tak menimbulkan pertikaian disana. Syera berpura-pura senang dengan keputusan Alfian dan kini dia menaruh tangannya di pundak Saka seraya mengusapnya lembut.
"Selamat ya Saka, mama harap kamu bisa jadi pemimpin yang bijak dan baik!" ucap Syera.
"Aamiin ma, terimakasih!" ucap Saka.
Disaat Saka hendak bangkit, ia baru teringat pada niat awalnya datang menemui kedua orangtuanya itu. Ya Saka pun kembali bersimpuh disana dan mendongak menatap wajah papa serta mamanya dengan senyum merekah, sontak Alfian merasa heran sekaligus bingung.
"Oh ya pa, aku lupa kalau rencananya siang ini aku mau ajak papa sama mama ke rumah Sahira buat silaturahmi mumpung lebaran. Papa sama mama mau kan?" ucap Saka.
Deg!
Syera langsung melotot terkejut mendengar permintaan putranya, tentu saja tidak mungkin ia mendatangi rumah Sahira saat ini karena itu bisa menjadi bumerang baginya. Meskipun ia sangat merindukan Sahira yang merupakan putri kandungnya, tapi tetap saja Syera khawatir Fatimeh akan membongkar semua mengenai masa lalunya di depan keluarga barunya nanti.
"Duh, gimana ini ya cara nolaknya?" gumam Syera dalam hati.
"Gimana ma? Mama bisa kan?" tanya Saka lagi pada mamanya.
Syera sontak tersadar dari lamunannya dan beralih menatap Saka yang masih berada tepat di depannya, "Umm, mama sih tergantung papa kamu sayang. Kalau dia bisa ya mama bisa," jawabnya.
Tampak Alfian menghela nafasnya sekilas, "Huft, yasudah papa terserah kamu aja Saka. Walaupun papa sebenarnya pengen ke tempat saudara kita," ucapnya pelan.
"Beneran nih pa? Papa gak kepaksa kan buat ikut sama aku?" tanya Saka lagi.
"Iya, enggak kok. Udah kamu tenang aja Saka, gausah panik!" jawab Alfian.
"Bagus deh pa, kalo gitu sekarang aku mau ke kamar dulu ambil hp. Aku pengen kabarin Sahira kalau nanti aku mau datang ke rumahnya, supaya dia gak pergi kemana-mana," ucap Saka.
"Ya okay, kamu kabarin aja nanti ke kami kalau sudah mau berangkat ya!" ucap Alfian.
Saka mengangguk saja dan kemudian bangkit dari posisinya, ia pun bergegas pergi kembali ke kamarnya untuk menghubungi Sahira. Sedangkan Alfian serta Syera tetap berada disana, tampak jelas kalau Syera masih terlihat ragu untuk datang ke rumah Sahira nantinya dan itu membuat Alfian keheranan lalu sontak menatapnya.
"Sayang, kamu kenapa kok kayak gelisah gitu?" tanya Alfian penasaran.
"Eee gapapa mas, aku ragu aja kalau Saka nantinya bakal menikah dengan Sahira. Soalnya dari yang aku lihat, kayaknya mereka gak cocok deh mas," jawab Syera.
"Sebenarnya aku juga gak setuju sama hubungan mereka, tapi ya mau gimana lagi aku gak bisa paksa Saka untuk menyudahi semuanya," ucap Alfian.
"Tapi mas, apa kamu gak mau berusaha dulu buat bujuk Saka? Aku takut aja nanti dia malah nyesel setelah menikah dengan Sahira," ucap Syera.
"Maunya sih begitu, tapi aku belum tahu gimana caranya. Lagian emangnya kenapa sih kok kamu sampai gak setuju gitu kalau Saka menikah dengan Sahira?" ucap Alfian.
"Umm gapapa sih, aku cuma ngerasa ada yang gak beres aja dari sikap ibunya waktu datang kesini. Aku takut mereka cuma mau manfaatin kekayaan kita mas," ucap Syera.
"Iya sih kamu benar, aku juga mikirnya begitu. Si Saka itu emang belum bisa pilih calon yang benar, apa aku harus jodohin dia ya?" ujar Alfian.
Syera dengan cepat menggeleng dan menaruh tangannya di paha sang suami, "Jangan mas! Aku gak mau kejadiannya nanti seperti Alan, lebih baik kamu biarin dia cari calonnya sendiri!" ucapnya.
__ADS_1
"Tapi, katanya kamu gak setuju kalau Saka nikah sama Sahira. Gimana sih kamu?" heran Alfian.
"Iya mas, aku emang gak setuju. Tapi, aku kan gak bilang kalau kamu harus jodohin Saka dengan perempuan pilihan kamu. Nanti yang ada kita malah bertengkar lagi," ucap Syera.
"Yaudah, ada baiknya kita lihat dulu seperti apa hubungan mereka ke depannya. Baru deh kita mikir untuk selanjutnya nanti," ucap Alfian.
"Iya mas," singkat Syera lalu memeluk suaminya.
•
•
Alan yang baru saja diusir oleh Fatimeh, kini tengah berjalan seorang diri menyusuri jalanan kampung tempat tinggal Sahira. Ia merasa sangat kecewa karena gagal berbincang lama dengan Sahira, sebab ia lebih dulu diusir dan bahkan ia tak sempat mengucapkan selamat hari raya pada Sahira.
Pria itu pun terus berpikir mengapa Fatimeh sampai bisa mengusirnya tadi, padahal ia selama ini tak pernah berbuat salah apapun kepada Fatimeh maupun Sahira. Sungguh Alan tak mengerti ada apa sebenarnya, namun ia hanya bisa pasrah menerima keadaan dan pergi menjauh.
Disaat ia sedang asyik melamun, tanpa disengaja ia malah berpapasan dengan Wati serta Awan yang baru kembali dari melaksanakan shalat idul Fitri bersama keluarga gadis itu. Ya tampak keduanya cukup akrab dan dekat, sehingga Alan merasa bahwa mereka kini sudah menjalin hubungan.
"Assalamualaikum Mira, selamat hari raya ya! Mohon maaf lahir batin, saya minta maaf kalau ada salah sama kamu!" ucap Alan sambil tersenyum.
"Eh iya pak, waalaikumsallam. Maafin saya juga ya pak atas kesalahan saya?" ucap Wati.
"Sama-sama, oh ya ini.." Alan sengaja menjeda ucapannya seraya menatap ke arah Syifa serta Awan yang berdiri di sebelah Wati.
"Eee kenalin pak, ini ibu saya dan bang Awan. Bu, kenalin ini pak Alan orang yang baik banget sama aku dan suka tolong aku!" ucap Wati mengenalkan mereka pada Alan.
"Ah iya, salam kenal ya Alan?" ucap Syifa yang langsung bersalaman dengan Alan.
"Iya tante," singkat Alan.
Setelahnya, Alan menyadari jika sedari tadi Awan terus saja menatap ke arahnya seolah tak suka dengan kehadirannya disana. Sontak saja Alan yang merasa tidak enak pun hendak pamit pada Wati, ia juga tak ingin mengganggu hubungan mereka dan malah menjadi masalah nantinya.
"Eee yaudah, kalau gitu saya pamit dulu ya Mira? Sekali lagi selamat hari raya ya!" ucap Alan.
"Loh kok pamit sih pak? Emang urusan bapak di kampung ini udah selesai? Pasti bapak kesini mau temuin Sahira kan? Apa bapak udah berhasil ketemu sama dia?" tanya Wati.
Alan menggeleng pelan seraya menundukkan kepalanya, "Tadi saya udah ke rumahnya, tapi saya malah diusir sama ibunya," jawabnya.
"Hah kok gitu? Kenapa diusir?" tanya Wati kaget.
"Entahlah, tapi yasudah tidak usah dibahas lagi. Saya mau kembali pulang aja dan merayakan hari raya di rumah, permisi ya Mira, tante!" ucap Alan.
"Iya pak, hati-hati!" ucap Wati lirih.
Akhirnya Alan memutuskan melangkah pergi dari sana meninggalkan Wati dan keluarganya, jujur perasaan Alan saat ini masih belum tenang setelah ia diusir tadi oleh Fatimeh. Ia sendiri juga tak tahu harus pergi kemana sekarang, sebab ia masih ragu untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan Saka.
"Huft, saya harus kemana ya ini? Perasaan hidup saya kok jadi makin menderita aja ya? Gini amat deh hidup!" gumam Alan dalam hati.
Bruuukkk
Tiba-tiba saja, tanpa disengaja Alan bertabrakan dengan seorang wanita yang entah muncul darimana. Akibatnya, Alan langsung terjatuh dengan posisi telentang di atas aspal dan wanita juga ikut tertarik serta mendarat tepat di atas tubuh Alan. Mereka pun saling bertatapan selama beberapa detik seperti adegan di film-film.
"Eh, ma-maaf saya gak sengaja.." wanita itu spontan bangkit dan menjauh dari tubuh Alan, ia juga meraba-raba tubuhnya sendiri seolah tengah membersihkan kotoran.
Alan perlahan turut bangkit dan menatap wanita di hadapannya dengan kesal, "Hey, kalau jalan tuh lihat-lihat dong! Apa kamu tidak punya mata? Masa badan saya segede ini masih bisa kamu tabrak gitu aja?" ujarnya emosi.
"Maaf maaf, sekali lagi saya minta maaf. Saya tadi—" belum selesai ia berbicara, tiba-tiba sudah ada dua orang pria meneriakinya.
"Woi jangan lari!" teriak kedua pria itu.
"Hah??" sontak wanita itu panik dan kembali mendekati Alan untuk meminta bantuan.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...