Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 132. Teriakan pengganggu


__ADS_3

Hari telah berganti, dan malam ini Alan membawa Floryn ke rumahnya untuk menjalankan rencana mereka yang sudah disusun sejak lama. Ya Alan hendak mengenalkan Floryn pada orangtuanya sebagai kekasihnya, sekaligus membahas rencana pertunangan mereka agar Alan bisa terbebas dari perjodohan nya dengan Nawal.


Floryn sudah tampak cantik dan anggun dengan gaun biru muda yang dikenakannya, ya semua itu adalah pemberian Alan karena ingin membuat orangtuanya terkesan pada Floryn. Keduanya pun turun dari mobil bersamaan, tentunya Alan tak lupa menggandeng tangan Floryn sembari berjalan memasuki rumahnya dengan perlahan.


"Lan, kok aku tiba-tiba jadi gugup gini ya? Aku takut banget orang tua kamu gak suka sama aku dan gak percaya kalau kita pacaran," ucap Floryn.


"Hahaha, itu cuma perasaan kamu doang Floryn. Aku yakin mama sama papa aku pasti bakal terima kamu, mana bisa mereka tolak perempuan secantik kamu coba?" ucap Alan.


Floryn tersipu malu dibuatnya, "Ah kamu mah bisa aja Alan!" ucapnya seraya memukul lengan pria itu.


"Bisa dong, tapi emang beneran kok kamu cantik banget Flo. Aku yakin papa mama aku pasti bakalan terpesona sama kamu," ucap Alan.


"Ah udah lah, ayo kita masuk aja! Kalau kelamaan ngobrol disini, nanti kamu makin ngaco!" ujar Floryn.


"Ahaha, iya iya ayo!" ujar Alan terkekeh.


Disaat mereka hendak meneruskan langkahnya, tiba-tiba Syera sudah muncul terlebih dahulu dan tersenyum ketika melihat putranya ada disana bersama seorang wanita cantik. Sontak saja Syera langsung menyapa seraya menghampiri mereka, sedangkan Alan justru tampak grogi kali ini.


"Eh sayang, kamu sudah datang? Ini nak Floryn kan yang kamu ceritakan waktu itu?" ucap Syera.


Alan mendekat sembari mencium tangan mamanya itu, diikuti juga oleh Floryn yang melakukan hal sama. "Iya ma, kenalin ini Floryn si cantik yang berhasil mencuri hati aku!" ucap Alan.


"Oh oh oh, duh kamu ini romantis banget sih sayang! Mama senang deh lihat kamu bisa bahagia kayak gini sama perempuan pilihan kamu," ucap Syera tampak bahagia.


"Makasih ma, emang aku tuh pasti akan bahagia kalau bersama kekasih pilihan aku. Makanya mama tolong bilang ke papa supaya jangan jodohin aku sama Nawal!" ucap Alan.


"Iya iya, itu urusan nanti. Sekarang kalian masuk aja yuk ke dalam sekalian ketemu papa! Tuh papa udah nunggu," ajak Syera.


"Oke ma, yuk sayang!" Alan langsung mengangguk dan menatap gadisnya yang tepat berada di samping untuk mengajaknya masuk ke dalam.


Tentu saja Floryn manggut-manggut setuju, mereka bertiga lalu sama-sama melangkah ke dalam rumah dengan Syera yang berada di bagian depan. Namun, jantung Floryn masih berdegup kencang hingga kini dan gadis itu berusaha menguatkan diri dengan cara memejamkan mata.


"Sayang, kamu kenapa hm? Lagi mikirin apa cantik?" tanya Alan dengan godaannya.


Floryn menatap tajam ke arah Alan saat ini, "Ih kamu apaan sih pake sayang-sayangan segala?!" ujarnya penuh kekesalan.


"Sssttt, nanti didengar mama loh sayang! Kamu lupa ya, hm?" ujar Alan.


"Ih iya aku tau, tapi kan gausah sebut-sebut sayang begitu kalau gak di depan mama kamu!" ucap Floryn cemberut.


"Biarin, suka-suka aku dong!" goda Alan sembari mencubit hidung gadisnya.


Pria itu terkekeh melihat reaksi Floryn yang begitu menggemaskan, tapi kemudian mereka semua kompak terkejut ketika seseorang berdiri di hadapan mereka mencegat langkah mereka sambil menatap tajam dengan dua tangan dilipat dan membuat ketiganya tampak heran.


"Loh mas, kamu kenapa kesini? Tadi katanya mau tunggu di meja makan," tanya Syera pada suaminya.


Ya tentu seseorang yang muncul barusan adalah Alfian, suami dari Syera sekaligus ayah Alan serta Saka yang tampak tidak menyukai keinginan Alan untuk menikah dengan Floryn. Menurutnya, Alan memang lebih pantas dan cocok untuk bersama Nawal dibandingkan dengan perempuan lainnya.


"Aku mau tau aja, seperti apa sih gadis yang selalu diceritakan Alan hampir setiap malam ke kita. Jadi, ternyata ini orangnya?" ucap Alfian sembari melangkah maju mendekati mereka.


Deg!


Floryn terkejut saat Alfian menunjuk ke arahnya dan memberikan tatapan tajam seolah tak suka, sontak gadis itu menunduk berusaha menghindari tatapan mata Alfian yang menurutnya begitu menyeramkan. Baru kali ini Floryn dihadapkan pada momen seperti itu, sebab belum pernah ia bertemu dengan orang tua pacarnya sebelum ini.


"Ah iya pa, kenalin ini Floryn yang selalu aku ceritain ke papa dan mama!" ucap Alan.


"Iya mas, dia ternyata emang benar cantik ya? Terus kelihatannya dia anak baik-baik," sahut Syera.


Karena ingin membuktikan perkataan Syera, Floryn pun bergerak maju mendekati Alfian untuk mencium tangan lelaki itu. Alan yang melihat itu sontak tersenyum, ia senang karena Floryn mengerti apa yang harus dia lakukan saat ini untuk mengambil hati kedua orangtuanya.


"Halo om, assalamualaikum! Saya Floryn, pacarnya Alan yang baru. Sa-saya.." ucapan Floryn terhenti karena tiba-tiba ia bingung harus berbicara apa, ia malah melirik ke arah Alan seolah meminta bantuan.

__ADS_1


"Ya waalaikumsallam, sudah yuk kita masuk dan makan sama-sama!" ucap Alfian ketus.


Alan, Syera dan Floryn kompak mengangguk. Lalu, mereka pun sama-sama berjalan menuju meja makan sesuai ajakan Alfian tadi. Sesampainya disana, mereka langsung duduk di tempat masing-masing dan tentunya Alan berada di samping gadisnya sambil terus tersenyum.


"Pa, ma, sekarang papa sama mama udah tahu kan siapa Floryn yang aku maksud? Jadi gimana sekarang menurut pendapat papa dan mama?" tanya Alan pada orangtuanya.


"Umm, ada baiknya kita makan dulu sampai habis ya sayang? Gak enak lah kalau kita bicara sambil makan," ucap Syera.


"Iya sih ma, tapi kan ini kita belum mulai makan. Gapapa lah kalau papa sama mama jawab dulu pertanyaan aku yang tadi, soalnya aku penasaran banget pengen tahu," ucap Alan.


Syera melirik suaminya dengan bingung, "Mas, gimana tuh?" tanyanya.


Sontak Alfian langsung beralih menatap putranya sembari menghela nafas singkat, "Papa mau tanya satu hal dulu sama kamu Alan, dan papa harap kamu bisa jawab dengan jujur!" ucapnya.


"Hah? Tanya apaan tuh, pa?" ujar Alan penasaran.


"Sebenarnya Floryn itu beneran pacar kamu atau bukan sih? Papa kok gak yakin kalau kalian berdua ada hubungan?" tanya Alfian dengan serius.


"Loh kok papa nanyanya begitu sih? Ya jelas lah kita pacaran, masa iya aku bohongin papa? Lagian apa coba yang bikin papa gak yakin? Coba deh kasih tahu ke aku!" ucap Alan.


"Ya papa nebak aja, abisnya kalian gak kelihatan seperti sepasang kekasih. Mending kamu jujur deh sama papa, siapa Floryn ini!" ucap Alfian.


"Apaan sih pa? Floryn ya pacar aku, malahan rencananya aku mau nikahin dia secepat mungkin. Aku udah gak tahan pengen menikah sama Floryn, biar gak banyak dosa juga," ucap Alan.


"Iya om, benar yang dibilang sama Alan. Kita ini emang pacaran kok," timpal Floryn.


Alan tersenyum kemudian meraih tangan Floryn dan mengecupnya, "Tuh kan pa, masa papa masih gak percaya sih?" ucapnya.


"Tetap aja papa masih ragu, kecuali kalian ada bukti foto atau video gitu," ucap Alfian.


"Papa mau lihat video apa? Video kita lagi tidur bareng atau bikin cucu buat papa sama mama?" sarkas Alan.


Sontak Floryn langsung mencubit kasar lengan Alan karena kekesalannya, "Awhh aduh sakit!" Alan pun merintih memegangi lengannya yang dicubit itu dan terlihat terkekeh memandangi gadisnya.


"Eee enggak kok tante, Alan mah emang gak bener anaknya! Dia ngaco aja kalo ngomong, padahal dia aja selama pacaran tuh jarang sentuh-sentuh aku," jawab Floryn.


"Yeh kata siapa? Aku sering kok sentuh kamu, masa kamu lupa?" ucap Alan membela diri.


"Ih kapan? Palingan juga cuma pegangan tangan, mana pernah tuh kamu peluk atau elus-elus aku?" ucap Floryn.


"Flo, kamu gimana sih?!" ucap Alan penuh penekanan sembari melihat sekitar.


Floryn yang mendapat kode seperti itu dari mata Alan pun tampak kebingungan, ia juga melihat ke arah Alfian serta Syera dan masih belum mengerti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Alan. Namun, kemudian ia baru menyadari kalau tindakannya tadi akan membuat orang tua Alan semakin curiga kalau mereka hanya pura-pura saja.


"Umm, ya tapi aku tahu kok sayang. Walaupun kamu jarang peluk atau elus aku, tapi aku yakin kamu itu cinta banget sama aku. Benar begitu kan?" ucap Floryn dengan manja.


Alan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Iya benar dong sayang, dan setelah ini aku juga pastiin kalau aku akan lebih sering peluk kamu. Terlebih setelah kita menikah nanti, pasti bakal lebih sering banget," ucapnya.


"Ahaha, iya aku juga gak sabar sayang!" ucap Floryn sambil tersenyum lebar.


"Ehem ehem.." Alfian tiba-tiba berdehem kasar membuat sepasang kekasih itu menoleh ke arahnya dengan bingung.


"Ada apa, pa? Katanya papa minta bukti kalau kita emang pacaran, giliran aku sama Floryn mesra-mesraan eh papa malah gangguin," tanya Alan keheranan.


"Minimal tahu tempat lah, masa di depan orang tua sendiri malah kayak gitu? Kamu gak anggap papa sama mama disini?" ujar Alfian.


"Eee..." Alan terlihat kebingungan saat ini.


"Sudah sudah, yuk kita mulai makan aja! Kasihan loh itu makanannya dianggurin daritadi, nanti dia protes loh!" sela Syera.


Alan manggut-manggut saja menyetujui ucapan mamanya, sedangkan Floryn tampak mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi untuk diberikan pada Alan. Tentu saja hal itu Floryn lakukan agar bisa membuktikan pada orang tua Alan kalau mereka memang memiliki hubungan.

__ADS_1


"Nah, ini buat kamu sayang. Makan yang banyak ya biar makin kuat dan sehat!" ucap Floryn.


"Makasih sayang, kamu juga makannya yang banyak biar agak gedean dikit!" kekeh Alan.


"Ih kamu mah!" Floryn cemberut kesal, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri setelah mendapat persetujuan dari keluarga itu.


Disaat mereka hendak menikmati makanan masing-masing, tiba-tiba suara teriakan wanita dari arah luar membuat keempatnya terkejut dan mengurungkan niat untuk makan. Ya mereka kompak penasaran siapa sebenarnya yang datang ke rumah mereka dan berteriak memanggil-manggil nama Syera dengan keras.


"SYERA! KELUAR KAMU SYERA!"




Disisi lain, Sahira tiba di rumahnya bersama Saka yang tentu saja mengantarnya pulang setelah seharian bekerja. Gadis itu memang sudah berusaha menolak tawaran Saka, namun Saka selalu memaksa dan membuat Sahira tak mempunyai pilihan lain selain menurut saja.


Akhirnya kini mereka sampai pada tujuan, yakni rumah Sahira dan Fatimeh. Akan tetapi, Sahira begitu terkejut ketika ia mengetuk pintu sembari memanggil nama ibunya, dan ternyata sang ibu sedang tidak ada di rumah karena pintu yang terkunci serta tak ada jawaban dari dalam.


"Duh mas, ibu kayaknya lagi pergi deh. Gimana ya ini? Aku khawatir banget kalau ibu pergi sama om Bram lagi," ucap Sahira panik.


"Tenang sayang! Bukannya kamu pernah bilang ya kalau sekarang ibu kamu sudah janji gak akan temuin om Bram lagi? Kamu percaya aja sama ibu kamu, sayang!" ucap Saka menenangkan.


"Iya aku tahu mas, tapi tetap aja aku khawatir. Kemana coba ibu malam-malam begini?" ujar Sahira masih cemas.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu! Bisa aja ibu kamu cuma ke warung atau beli sesuatu kan? Kamu tunggu aja dulu, siapa tahu nanti ibu kamu pulang!" ucap Saka.


Sahira menggeleng cepat, "Enggak mas, aku harus cari ibu aku!" ucapnya tegas.


Disaat Sahira hendak pergi, dengan cepat Saka mencekal lengannya dan menahan gadis itu untuk tetap disana. "Eh tunggu Sahira! Kamu jangan gegabah, ini sudah malam loh!" ucapnya.


"Aku gak perduli, aku mau cari ibu dan bawa ibu pulang ke rumah! Apalagi kalau sampai ibu emang pergi sama om Bram, jelas aku gak terima!" ucap Sahira menyentak tangan kekasihnya.


"Aku ngerti kamu khawatir sayang, tapi jangan kayak gini dong! Yaudah, aku temenin kamu deh ya buat cari ibu kamu?" ucap Saka.


"Gausah mas, aku pergi sendiri aja. Kamu mending pulang aja deh sana, lagian ini udah malam dan takutnya kamu dicariin sama orang tua kamu!" ucap Sahira menolak.


"Hey, aku gak mungkin biarin kamu pergi sendirian. Ini terlalu bahaya buat kamu tau, jadi udah ya kamu biar aku antar aja?" bujuk Saka.


"Okay, terserah kamu!" ketus Sahira.


"Nah gitu dong, yaudah yuk kita ke mobil sekarang! Kita cari ibu kamu di sekitar sini dulu, siapa tahu ibu kamu emang ada disini. Jadi, kamu jangan panik ya sayang!" ucap Saka.


Sahira mengangguk saja, dan kemudian melangkah menuju mobil Saka bersama pria itu. Namun, tanpa diduga Cat justru muncul disana dan menyapa dirinya dengan antusias karena sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini. Tentunya Cat ingin melampiaskan kerinduannya pada Sahira yang merupakan sahabat lamanya itu.


"Halo Sahira! Ya ampun, gue kangen banget sama lu, my sahabat yang telah lama menghilang!" ujar Cat langsung memeluk sohibnya itu.


"I-i-iya Cat, tapi sorry ya gue gak bisa kangen-kangenan sama lu sekarang? Gue harus cari ibu gue dulu, gue khawatir ibu gue kenapa-napa!" ucap Sahira melepas pelukannya.


"Ih lu ngapain nyariin ibu lu? Emang tante Imeh gak bilang sama lu apa dia mau kemana?" tanya Cat.


Sahira menggeleng, "Ya enggak lah Cat, kalau ibu bilang pasti gue gak bakal sepanik ini. Lu gimana sih?" ucapnya.


"Oh iya ya, hehe.." Cat terkekeh saja sembari menggaruk kepalanya.


"Huft, yaudah ya gue pergi dulu? Maaf banget gue gak bisa lama-lama sama lu!" ucap Sahira.


"Eh tunggu dulu Sahira! Tadi tuh tante Imeh sempat ketemu sama gue dan dia bilang kalau dia mau ke rumah bos lu itu," ucap Cat.


"Apa??" Sahira tersentak kaget dibuatnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2