
Setelah mengatakan itu, Nawal langsung melepas cengkeramannya dan pergi begitu saja tanpa perduli dengan kondisi Sahira yang masih terduduk di lantai. Sahira pun hanya bisa merutuki kelakuan Nawal di dalam hati, rasanya ingin sekali ia menjambak dan mengacak-acak rambut gadis itu jika saja ini bukan di kantor.
"Akh sialan emang pacarnya pak Alan itu! Cocok sih emang mereka, soalnya sama-sama galak dan kasar. Untung aja kaki gue gak terlalu luka," gumam Sahira mencoba bangkit.
Disaat ia hendak berdiri kembali, tiba-tiba rasa sakit yang amat sangat menjalar di pergelangan kakinya yang membuat ia tidak kuat untuk berdiri. Akibatnya, Sahira kembali terjatuh dan reflek berteriak sekeras mungkin sembari memegangi kakinya yang sakit itu.
Keira yang kebetulan baru selesai menyerahkan laporan pada HRD, tak sengaja melihat Sahira tergeletak di lantai seperti itu dengan meringis menahan sakit. Tentu saja Keira langsung mendekat dan coba menolong Sahira karena ia merasa tak tega pada gadis itu.
"Ya ampun, Sahira kamu kenapa? Kok bisa sampe jatuh kayak gini sih? Apa yang terjadi?" tanya Keira cemas.
"Eh Keira, duh kebetulan banget kamu ada disini. Tolongin aku dong Keira!" pinta Sahira.
"Iya iya Sahira, ini aku juga mau tolong kamu kok. Yuk kita berdiri!" ucap Keira.
Sahira manggut-manggut, Keira pun menyodorkan tangannya ke arah Sahira dan coba membantu gadis itu berdiri. Setelah bersusah payah, akhirnya Sahira berhasil bangkit walau kondisi kakinya masih terasa sangat sakit. Keira juga memapah Sahira menuju kursi di dekat sana lalu membantu Sahira duduk dengan hati-hati.
"Awhh, makasih banyak ya Keira! Kalau gak ada kamu, gak tahu deh bakal gimana," ucap Sahira.
"Sama-sama Sahira, tapi omong-omong kenapa kamu bisa kayak gini?" tanya Keira.
"Eee..." Sahira kelihatan bingung dan tak tahu harus menjawab apa pada Keira. Ia memang paling sulit menceritakan tentang keburukan seseorang.
"Ada apa Sahira? Kamu jelasin aja yang sebenarnya ke aku, mungkin aja aku bisa bantu!" pinta Keira.
"Gak ada kok, tadi aku cuma kesandung terus jatuh. Sshh kaki aku rasanya kekilir deh gara-gara itu," bohong Sahira.
"Duh, aku antar kamu ke klinik aja ya? Kayaknya kamu harus diperiksa deh," tawar Keira.
"Hah? Tapi, aku masih banyak kerjaan. Aku gak bisa ke klinik sekarang, nanti yang ada pak Alan bisa marah besar ke aku," ucap Sahira.
"Pak Alan gak akan marah kok, tadi aku lihat dia jalan keluar kantor gitu sama pak Alfian," ucap Keira.
Sahira sontak terbelalak, "Oh ya? Mereka kelihatan lagi marahan enggak?" tanyanya.
"Kamu kok bisa tahu kalau mereka marahan? Emangnya tadi kamu sempat ketemu juga ya sama mereka?" heran Keira.
"Eee i-i-iya sih sebenarnya tadi mereka awalnya ribut disini, tapi pak Alan pergi dan langsung dikejar deh sama pak Alfian," jelas Sahira.
"Oalah, pantas aja kamu tahu. Kalo gitu apa jatuhnya kamu tadi ada sangkut pautnya sama kejadian itu?" tanya Keira memastikan.
Sahira menggeleng, "Enggak lah, aku kan udah bilang tadi kesandung aja," ucapnya.
"Yaudah, terus sekarang kamu mau kemana? Biar aku bantu kamu kalau masih belum bisa jalan," ujar Keira.
"Boleh," Sahira mengangguk setuju dan perlahan mulai bangkit dengan bantuan Keira.
Mereka lalu pergi menuju ruangan Sahira, kedua tangan Sahira terus dipegangi oleh Keira yang menuntunnya dengan perlahan dan hati-hati agar Sahira tidak terluka. Tak lupa Keira juga membantu membawakan barang-barang Sahira sehingga gadis itu tak kesulitan lagi.
•
•
Tangan Alfian sudah terangkat ke atas bersiap memukul putranya, bahkan Alan juga telah pasrah dan menutup matanya bersiap menerima pukulan sang papa. Akan tetapi, suara teriakan Nawal menghentikan niat Alfian dan malah beralih menatap gadis itu.
"Cukup om! Jangan sakiti Alan!" teriak Nawal dengan lantang.
"Nawal, kamu kenapa halangi om buat hajar pria kurang ajar ini? Dia harus diberi pelajaran, dia sudah berani melawan papanya!" sentak Alfian.
"Enggak om, aku mohon om jangan lakukan itu! Aku gak mau Alan terluka, biar gimanapun aku masih sayang sama dia," bujuk Nawal.
"Ya Nawal, om gak akan pukul Alan demi kamu," ucap Alfian mengalah.
"Makasih om," Nawal tersenyum senang mendengar perkataan Alfian barusan.
Alfian pun kembali menatap putranya yang masih berdiri di dekat mobil, "Tuh kamu dengar kan yang dibilang Nawal? Dia masih perduli sama kamu, walaupun kamu sudah selingkuh dari dia. Harusnya kamu malu Alan!" ucapnya.
"Aku gak percaya pa, dia itu pandai berkamuflase. Papa jangan gampang percaya sama kata-kata yang keluar dari mulut dia karena semuanya itu dusta!" ucap Alan.
__ADS_1
Alfian menggeleng heran dengan sikap putranya, ia masih mencoba menahan emosinya karena tidak ingin membuat Nawal sedih. Alan pun berniat masuk ke mobil dan pergi, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya yang membuat Alan tidak jadi pergi dari sana.
Saka muncul dari dalam mobil tersebut, ia turun lalu melangkah mendekati Alan serta Alfian disana dengan senyum di wajahnya. Saka juga terlihat bingung ketika melihat ketegangan di wajah tiga orang itu, ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"Ini ada apa pa, Alan? Kok pada tegang banget kayak gini sih?" tanya Saka penasaran.
"Kebetulan kamu datang kesini Saka, sebaiknya kamu kasih tahu ke adik kamu ini supaya dia gak selingkuh di belakang Nawal! Bayangin aja, masa dia malah berhubungan sama sekretarisnya sendiri tanpa rasa malu?!" jelas Alfian.
Seketika wajah Saka berubah, pria itu seperti emosi mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alfian. Tentunya Saka tahu bahwa sekretaris Alan tiada lain tidak bukan adalah Sahira, ia pun tak suka jika memang benar Alan menjalin hubungan dengan Sahira tanpa sepengetahuannya.
"Apa? Ini beneran pa? Papa tahu darimana?" tanya Saka coba memastikan.
"Jelaslah bener, papa pergokin sendiri kok tadi sewaktu mereka lagi berduaan di ruangan. Bahkan mereka sampai pegangan tangan lagi," jawab Alfian dengan tegas.
"Wah itu keterlaluan banget sih pa, aku setuju kalau papa emang mau hukum si Alan ini! Papa mending ungsikan aja dia ke pulau kosong," ujar Saka.
Mendengar itu, sontak membuat Alan mencuat emosinya. "Heh! Lo gausah ikut campur, bilang aja lu cemburu kan karena gue dekat sama Sahira! Lu juga suka kan sama dia?" ucapnya.
"Kalau iya kenapa? Gue mah wajar suka sama Sahira, gue kan masih single. Lah lu gak nyadar diri, lu masih punya cewek bro!" ucap Saka.
"Gue udah gak ada hubungan lagi sama Nawal, kan lu sendiri juga tahu. Lagian gue gak naksir kali sama Sahira, selera gue tinggi!" ucap Alan.
Saka terdiam, lalu dengan cepat Alan masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja. Alfian serta Nawal berusaha mencegah pria itu, tetapi usaha mereka gagal karena Alan sudah menjauh dan tak mau berhenti walau sejenak.
•
•
Setelah perdebatan singkat dengan sang adik di bawah tadi, kini Saka memutuskan masuk ke dalam kantor untuk menemui Sahira. Ia ingin memastikan sendiri pada gadis itu apakah benar apa yang dikatakan papanya tadi mengenai hubungan Sahira dengan Alan.
Sesampainya di depan ruangan, Saka bergegas mengetuk pintu lalu membukanya begitu mendapat izin dari Sahira. Ia langsung masuk dan tak lupa menutup kembali pintunya, Sahira yang sedang sibuk di depan komputer pun tak menyadari jika yang datang kesana adalah Saka.
"Ada apa ya? Kamu ada perlu apa sama saya?" tanya Sahira dengan pandangan masih mengarah ke layar komputer.
"Ehem!" barulah saat Saka berdehem, gadis itu pun beralih menatap wajah pria itu dan langsung terkejut. Sahira bahkan reflek bangkit dari duduknya lalu meminta maaf.
"Hahaha, iya gak masalah kok. Kamu sibuk banget kelihatannya, lagi ngurusin apa sih?" ujar Saka sembari menarik kursi dan duduk disana.
"Eee biasalah pak saya ada kerjaan dari pak Alan," jawab Sahira yang sudah terduduk kembali.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal Alan saya ada satu pertanyaan deh buat kamu," ucap Saka.
"Apa itu pak?" Sahira terlihat penasaran dan ingin tahu apa yang hendak ditanyakan pria itu padanya.
"Saya tadi dengar dari papa, katanya kamu dan Alan kepergok lagi berduaan sambil pegangan tangan. Itu benar Sahira?" tanya Saka.
"Hah? E-enggak pak, itu gak bener. Itu cuma salah paham aja tadi," sangkal Sahira.
"Kamu yakin cuma salah paham? Kamu bukannya ada hubungan sama si Alan itu?" tanya Saka lagi.
"Loh bapak bicara apa sih? Saya dan pak Alan kan hubungannya sekretaris dan bos, berarti emang diantara kita ada hubungan dong," jawab Sahira.
"Ya maksud saya hubungan spesial gitu, kayak misalnya pacaran," ucap Saka.
"Kalau itu mah gak mungkin lah pak, masa iya pak Alan mau pacaran sama orang kayak saya? Apalah saya pak, saya kan cuma karyawan yang gak punya apa-apa," ucap Sahira.
"Kamu gausah merendah gitu, buktinya saya suka kok sama kamu," ucap Saka.
Mata Sahira terbelalak seketika mendengar apa yang diucapkan Saka barusan, "Bapak gak lagi bercanda kan?" tanyanya.
"Buat apa saya bercanda? Saya serius Sahira, saya suka sama kamu. Makanya tadi sewaktu saya dengar kabar itu, saya langsung marah besar dan berharap semuanya gak benar," jawab Saka.
"Ta-tapi pak, apa alasan bapak suka sama saya? Emangnya saya ini menarik ya buat bapak?" tanya Sahira penasaran.
"Jelas kamu menarik Sahira, kamu itu nyaris sempurna untuk ukuran wanita. Bisa jadi kamu adalah bidadari dunia yang diutus Tuhan untuk mendampingi saya," ucap Saka.
Sahira tersenyum malu-malu, "Ih bapak bisa aja, dasar gombal!" ujarnya.
__ADS_1
"Saya gak gombal, semua yang saya sampaikan itu fakta. Kamu memang cantik banget Sahira, saya suka sekali sama kamu!" ucap Saka.
"Makasih pak atas pujiannya," ucap Sahira.
Saka pun meraih dua tangan Sahira dari atas keyboard dan menggenggamnya erat, Sahira kembali melotot menatap wajah Saka dengan ekspresi bingung.
"Sahira, kamu mau kan jadi pacar saya?" tanya Saka yang langsung membuat Sahira berdegup kencang.
•
•
Sementara itu, Alan yang tengah melaju sendirian di jalanan kota tak sengaja melihat Wati berjualan di pinggir jalan dengan penuh semangat. Alan pun memutuskan berhenti sejenak untuk memastikan apa benar yang ia lihat itu Wati yang pernah ia temui sebelumnya.
"Itu kan Mira, dia ternyata jualan disini. Saya temuin aja deh, barangkali dia bisa hibur saya yang lagi sedih ini," gumam Alan.
Setelah berpikir sejenak, Alan langsung turun dari mobil dan berjalan mendekati Wati. Pandangannya terus mengarah ke wajah sang gadis yang terlihat sedang menjajakan dagangannya itu, tanpa sadar Alan tersenyum melihat kegigihan Wati dalam berjualan disana.
"Hai!" sapa Alan dengan ramah sambil melambaikan tangannya.
Sontak Wati terkejut dan reflek menoleh ke asal suara, "Hah? Ka-kamu.." ia tampak syok saat melihat keberadaan Alan disana.
"Iya Mira, ini saya Alan. Pria yang pernah kamu tabrak waktu itu," sela Alan.
"Eee ada apa ya kamu kesini? Bukannya urusan kita udah selesai kata kamu?" heran Wati.
"Ya memang, tadi saya juga gak sengaja lihat kamu lagi jualan disini. Karena saya mikir pernah kenal, jadi ya saya mampir aja buat lihat-lihat," ucap Alan.
"Ohh, saya kira kamu mau marahin saya lagi dan minta ganti rugi lagi ke saya," ucap Wati.
"Hahaha, gak mungkin lah. Saya ini orangnya amanah kok, kalau saya sudah katakan selesai ya artinya selesai. Saya kesini cuma mau mampir aja," ucap Alan sambil tertawa.
"Terimakasih pak, kalau gitu silahkan kamu duduk dulu! Oh ya, kamu mau minum apa?" tawar Wati.
Alan menggeleng, "Gausah, cukup tempat duduk aja udah pas kok. Makasih ya udah bolehin saya buat mampir sebentar disini," ucapnya.
"Sama-sama pak, tapi kelihatannya kamu lagi sedih. Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Wati penasaran.
Alan tersenyum sembari menarik kursi dan duduk di hadapan Wati, ia merasa nyaman berlama-lama disana karena suasana yang asri disertai terpaan angin kecil yang membuatnya semakin betah untuk ada di tempat itu. Wati pun juga senang dengan kehadiran Alan yang bisa menambah semangatnya dalam bekerja.
"Ya sebenarnya saya memang sedang ada masalah besar, saya juga butuh tempat untuk curhat," ucap Alan.
"Oh kalau gitu silahkan aja kamu cerita! Saya bakal dengerin kok sampai selesai, semoga aja saya juga bisa bantu meringankan masalah kamu!" ucap Wati.
"Kamu serius mau dengerin curhatan saya? Kamu gak akan bosan atau merasa terganggu gitu?" tanya Alan.
"Jelas enggak pak, saya bisa bantuin kamu supaya kamu gak terus pusing kayak gini. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya pak," jawab Wati.
"Kamu benar, tapi kayaknya masalah saya ini sulit deh buat diatasi. Soalnya sudah menyangkut ke urusan adu domba yang membuat saya terusir dari kantor saya sendiri," ujar Alan lirih.
Wati terkejut dan terbelalak lebar, "Adu domba? Siapa yang berani adu domba kamu? Terus kok bisa sampai kamu diusir gitu?" ujarnya heran.
"Iya Mira, mantan pacar saya itu benar-benar bikin saya emosi. Dia tuduh saya selingkuh dan coba mempengaruhi papa saya, padahal kenyataannya gak begitu. Tapi, papa saya yang mudah terpedaya itu malah lebih percaya sama dia," jelas Alan.
"Duh, kamu yang sabar ya! Sumpah deh denger cerita kamu aja aku jadi gak tega gini, kasihan banget sih kamu!" ucap Wati.
Alan tersenyum lebar, "Makasih atas perhatiannya, saya minta doa juga ya dari kamu untuk semua masalah ini supaya bisa terselesaikan!" ujarnya.
"Aamiin, intinya kamu sabar aja karena aku yakin kamu pasti bisa urus semuanya dengan baik!" ucap Wati sambil tersenyum.
"Terimakasih," singkat Alan.
Disaat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba datang cukup banyak orang yang langsung berkerumun disana dan ingin membeli bunga jualan Wati. Sontak Wati tampak senang, ia tak menyangka dagangannya bisa laris secara mendadak seperti ini.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1