Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 110. Kenalan baru


__ADS_3

Sahira manggut-manggut saja seolah siap mendengar semua keluhan pria itu, sedangkan Alan sendiri masih tampak ragu walaupun di dalam hatinya dia sudah sangat siap dan ingin segera menyampaikan rasa cintanya pada Sahira, ya Alan memang terlalu lemah dalam urusan itu.


"Saya cinta sama kamu Sahira, saya gak bisa ngelupain kamu!" ucap Alan tegas.


Deg!


Sahira tersentak kaget mendengar penuturan Alan, jantungnya seolah berhenti berdetak ketika tahu bahwa selama ini Alan alias bosnya itu mencintai dirinya. Sahira pun terdiam tak menyangka, sebab selama ini sikap Alan terlalu dingin dan ketus padanya, dan tak mungkin ada yang mengira jika Alan ternyata memendam rasa padanya.


"Ba-bapak serius bicara begitu? Sa-saya gak percaya kalau bapak cinta sama saya, bapak pasti lagi bercanda ya? Gak lucu tau pak, mending cerita yang bener aja!" ucap Sahira gugup.


Alan menggeleng, "Saya tidak sedang bercanda Sahira, itu kejujuran saya ke kamu," ucapnya.


Seketika Sahira terdiam, ia benar-benar tak habis pikir dengan pengakuan Alan barusan itu. Sahira pun memalingkan wajahnya, mencoba mencerna ucapan Alan yang sungguh membuatnya terkejut. Sedangkan Alan terlihat menyesali apa yang sudah ia katakan tadi, karena itu membuat Sahira sedih.


"Sahira, saya minta maaf. Harusnya saya gak bicara seperti itu, kamu jangan ambil pusing soal perkataan saya barusan ya!" ucap Alan gugup.


"Eee gapapa kok pak, bapak gak salah. Saya yang seharusnya minta maaf karena saya udah maksa bapak buat cerita ke saya," ucap Sahira.


"Kamu gausah khawatir, saya tidak akan mengganggu hubungan kamu dengan bang Saka kok," ucap Alan.


"Bu-bukan masalah itu pak, saya merasa bersalah karena tidak bisa membalas cinta bapak. Saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira.


Alan tersenyum seraya menganggukkan kepala, "Gapapa, saya terbiasa kok seperti itu. Oh ya, lebih baik kamu kembali ke rumah aja takut bang Saka udah nungguin!" ucapnya.


"Kita bareng aja yuk pak! Bapak pasti juga mau pulang kan?" ajak Sahira.


Alan menggeleng pelan, "Saya belum pengen pulang, jujur aja saya gak kuat lihat kamu mesra-mesraan sama bang Saka," ucapnya.


"Hah? Berarti selama ini..."


"Ya Sahira, saya cemburu sama kalian. Saya gak kuat terus-terusan begini," sela Alan.


"Sa-saya minta maaf ya pak?" ucap Sahira lirih.


"Kamu gausah minta maaf terus, bukan salah kamu kok. Saya aja yang kayaknya terlalu lebay, karena saya gak bisa tahan diri waktu lihat kamu dan bang Saka," ucap Alan.


Sahira menunduk bingung, ia sungguh merasa bersalah karena sudah membuat Alan tersakiti. Jika saja Sahira tahu Alan mencintainya sejak lama, maka mungkin Sahira tidak akan menerima cinta Saka. Ya karena Sahira juga merasakan perasaan yang sama dengan Alan.


"Sahira!" tiba-tiba saja seseorang memanggilnya dan membuat Sahira serta Alan menoleh bersamaan ke asal suara tersebut.


Mereka sontak terkejut ketika melihat pria itu, "Saka?" seru keduanya.


Saka langsung menghampiri Sahira serta Alan di depan sana, matanya memandang bingung ketika melihat gadisnya tengah bersama Alan disana. Tentu saja Saka menjadi curiga, ia khawatir Alan akan merebut Sahira darinya, karena Saka tahu seperti apa perasaan Alan kepada Sahira.


"Sahira, kenapa kamu gak kunjung kembali? Saya kira kamu ada masalah loh, eh ternyata kamu malah temuin Alan disini. Buat apa sih Sahira?" tanya Saka dengan jengkel.


"Umm, aku tadi gak sengaja aja ngeliat pak Alan ada disini. Karena aku khawatir, makanya aku samperin pak Alan buat tanya ke beliau sedang ada masalah apa," jawab Sahira.


"Oh gitu, terus kamu sudah tahu masalah apa yang sedang dihadapi Alan?" tanya Saka lagi.


"Eee.." Sahira terlihat kebingungan saat hendak menjawabnya, ia melirik ke arah Alan seolah meminta bantuan dari pria itu.


"Bang, lu gausah kepo deh sama masalah gue. Gue cuma lagi sedih aja," sela Alan.


"Gue bukan kepo, gue nanya aja. Kalau lu gak mau jawab, yaudah terserah!" ucap Saka kesal.


"Okay, mending sekarang lu balik deh. Sekalian tuh lu bawa cewek lu pulang," ucap Alan.


Saka yang geram akhirnya bergerak maju mendekati adiknya dengan tangan terkepal, seolah tahu akan terjadi keributan, Sahira pun bermaksud mencegah kedua pria itu. Sahira langsung menahan Saka agar tidak menghampiri Alan, karena terlihat kalau Saka cukup emosi.

__ADS_1


"Mas, cukup mas! Kamu mau ngapain deketin pak Alan sambil marah kayak gitu? Jangan ribut lagi ya mas, aku capek pisahinnya!" ucap Sahira.


"Gak Sahira, saya cuma mau ngobrol aja," elak Saka.


"Gue gak mau ngobrol sama lu, bang. Gue ini lagi pusing banget, jadi tolong lu jangan nambah beban gue deh!" ucap Alan memegangi pelipisnya.


Saka melotot tajam ke arah adiknya itu, "Maksud lu apa bilang begitu? Gue juga ogah kali ikut campur masalah lu, dasar aneh!" ucapnya kesal.


Sahira yang ada di sampingnya pun terus mencoba menenangkan kekasihnya, "Mas, udah ya jangan kayak gitu! Kita kembali ke rumah kamu aja yuk!" ucapnya memaksa.


"Sebentar sayang, kamu gak dengar apa tadi si Alan itu bicara apa?! Dia songong banget loh sama saya, saya gak terima digituin tau!" geram Saka.


"Iya mas, tapi udah gausah diperpanjang. Kalian itu kan saudara, gak baik tau kalau saling berantem kayak gini," ucap Sahira.


Alan yang tadinya memilih diam disana, langsung berbalik dan pergi. Sontak Sahira serta Saka dibuat kebingungan dengan kepergian Alan, gadis itu hendak menyusulnya dan menahannya, tetapi Saka malah merangkulnya seolah tak membiarkan gadisnya untuk mengejar Alan.


"Kamu mau kemana? Biarin aja dia pergi, kamu disini aja sama saya. Lagian kamu ngapain sih perduli banget sama dia?" ujar Saka.


"Ya aku cuma takut aja kalau pak Alan berbuat nekat, soalnya dia kelihatan lagi banyak masalah. Emang kamu gak perduli apa sama dia?" ucap Sahira.


"Buat apa? Dia aja songong kok sama saya, ngapain saya harus perduli sama dia?" geram Saka.


"Ih kamu kok gitu banget sih mas? Biar gimanapun pak Alan kan adik kamu, seharusnya kamu perduli dong sama dia," ucap Sahira.


"Ya ya ya, emang masalah si Alan itu apa sih? Tadi dia udah cerita kan sama kamu? Saya penasaran aja pengen tahu," tanya Saka.


Sahira langsung memalingkan wajahnya karena bingung harus menjawab apa, tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kalau Alan menyukai dirinya, tentu pasti Saka akan emosi nantinya. Untuk mengalihkan perhatian, Sahira akhirnya mengajak Saka pulang saja karena ia juga tak tahu harus menjawab apa apa pria itu.


Saka pun setuju, ia bergegas melangkah pulang bersama gadisnya dengan saling merangkul. Sahira tampak senang melihatnya, gadis itu turut menaruh tangannya di pinggang si pria. Tapi rupanya, Saka yang penasaran itu kembali bertanya pada Sahira mengenai masalah Alan.




Sahira pun tidak bisa tenang saat ini, ia terus saja bolak-balik di sekitar area pekarangan rumahnya sambil mencoba menghubungi nomor ibunya. Akan tetapi, usahanya sia-sia saja sebab Fatimeh tak dapat dihubungi dan itu membuat Sahira semakin cemas padanya.


"Duh, ibu ini kemana ya? Gak tahu apa kalau anaknya cemas nungguin disini?" gumam Sahira sembari menggigit jari.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Sahira terdiam ketika melihat Saka lah yang turun dari mobil tersebut, lalu dengan santainya pria itu melangkah menghampirinya disertai senyuman lebar. Sahira hanya bisa melupakan sejenak kecemasan yang ia alami saat ini, demi Saka tentunya.


"Hai Sahira, selamat pagi! Kamu pasti lagi nungguin saya ya? Segitunya kamu mau ketemu saya, sampai gak sabaran banget mondar-mandir terus disini," kekeh Saka.


"Eee saya minta maaf pak, tapi saya bukan lagi nungguin bapak," ucap Sahira gugup.


"Hm kebiasaan deh, kenapa kamu panggil saya bapak lagi? Kamu ini suka lupa atau emang udah pikun sih?" kesal Saka.


Sahira langsung menepuk dahinya sendiri, "Ma-maaf mas, tadi saya lagi kalut soalnya," ucapnya dengan panik.


"Loh emang kamu itu kenapa sih? Kok kayaknya panik banget begitu?" tanya Saka penasaran.


"I-i-iya mas, saya lagi cari ibu saya nih," jawab Sahira.


Saka pun mengernyit heran, "Loh emangnya ibu kamu kemana Sahira? Kenapa mesti dicariin?" tanyanya penasaran.


"Itu dia mas, saya gak tahu ibu saya dimana. Dari semalam ibu gak pulang, makanya saya khawatir banget mas," jawab Sahira.


"Waduh, emang ibu kamu gak kasih kabar sama sekali gitu ke kamu?" tanya Saka terkejut.


Sahira menggeleng pelan, "Enggak mas, saya telponin daritadi juga gak diangkat. Saya bingung deh harus cari ibu kemana lagi," jawabnya.

__ADS_1


"Eee yaudah kamu sabar aja ya Sahira! Mungkin ibu kamu lagi ada urusan di luar, kita tunggu aja sampai ibu kamu pulang," ucap Saka menenangkan.


"Kita mau tunggu sampai kapan mas? Aku khawatir banget sama ibu, apalagi kalau sampai ibu dibawa pergi sama om Bram itu," ucap Sahira.


"Ya kalau itu sih kemungkinan besar iya, soalnya kemarin kita terakhir ketemu ibu kamu kan pas lagi sama si om Bram. Kita berdoa aja supaya ibu kamu gak diapa-apain sama tuh orang," ucap Saka.


"Aamiin, tapi tetap aja aku khawatir mas. Aku harus cari ibu sekarang!" ucap Sahira kekeuh.


Saka pun mencekal lengan gadisnya itu, "Kamu mau cari kemana sayang? Emangnya kamu tahu kemana ibu kamu pergi? Enggak kan? Udah lah, kita tunggu disini aja dulu!" ucapnya.


"Emang aku gak tahu ibu kemana, tapi seenggaknya aku mau coba cari dulu ibu di sekitar sini. Kalau mas Saka gak mau nemenin, yaudah biar aku cari ibu sendiri," ucap Sahira.


"Eh eh, iya deh iya saya anterin ayo!" ucap Saka terpaksa menurut.


Disaat mereka hendak melangkah, tiba-tiba saja mobil milik Bram berhenti tepat di halaman rumahnya dan membuat langkah mereka terhenti.




Alan yang semalaman tak pulang ke rumah, kini berada di salah satu hotel yang ia sewa semalam. Alan memang memilih tidur disana, sebab ia masih merasa tidak nyaman dengan perasaan yang ia rasakan saat ini mengenai Sahira. Pria itu juga belum bisa bertemu kembali dengan Sahira dalam waktu dekat ini, ia khawatir perasaannya justru semakin sulit untuk dihilangkan.


Setelah selesai mandi dan beberes, Alan memutuskan keluar kamar untuk mencari udara segar di area sekitar hotel. Akan tetapi, pria itu malah tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang baru hendak masuk ke kamarnya. Mereka pun saling bertatapan karena Alan sangat penasaran dengan penghuni di samping kamarnya.


"Hey, halo! Kamu nginep disini juga ya? Kenalin, saya Alan yang sewa kamar hotel ini. Eee nama kamu siapa ya?" ucap Alan menyapanya.


Gadis itu malah menatap sinis ke arahnya, "Maksudnya apa ya?" ujarnya ketus.


"Hah? Saya cuma ajak kamu kenalan kok, saya gak ada maksud apa-apa. Ya kita ini kan sebelahan nih kamarnya, jadi gak ada salahnya dong kalau kita saling mengenal?" ucap Alan sambil tersenyum.


"Okay, sorry gue emang agak sinis orangnya. Gue heran aja karena tiba-tiba lu ajak gue kenalan," ucap wanita itu.


Alan menggeleng pelan, "Gapapa, kalau kamu gak mau kenalan sama saya juga gak masalah kok. Saya gak mungkin maksa kamu," ucapnya.


"Jangan sedih gitu! Nama gue Floryn, salam kenal ya Alan!" ucap gadis itu mengenalkan diri sembari mengulurkan tangannya ke arah Alan disertai senyuman lebar.


"Wah nama kamu indah banget, seperti orangnya! Salam kenal juga ya Floryn, semoga kita bisa teman nantinya!" ucap Alan.


Wanita bernama Floryn itu menganggukkan saja kepalanya, "Yaudah, maaf ya gue harus masuk sekarang? Gue belum mandi, gak enak kalo lama-lama ngobrol sama lu," ucapnya.


"Oh ya? Kok bisa kelihatan cantik gini sih walau belum mandi?" goda Alan.


Floryn pun terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, "Bisa aja lu, emang dasar laki-laki tuh tukang gombal semua!" cibirnya.


"Saya gak gombal kok, kenyataannya emang begitu. Kamu itu gak perlu merendah atau malu gitu, kamu cantik banget loh Floryn!" ucap Alan.


"Ya ya ya, makasih atas pujiannya. Kalo gitu gue masuk dulu ya? Nanti kapan-kapan kita lanjutin ngobrol lagi," ucap Floryn.


"Okay," singkat Alan sambil tersenyum.


Setelahnya, Floryn masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Alan dengan cepat untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Alan memilih kembali juga ke kamar untuk menunggu Floryn selesai mandi, entah mengapa Alan merasa ingin lebih mengenal gadis itu lebih jauh.


Tak lama kemudian, Alan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Floryn setelah menghitung waktu lamanya gadis itu mandi. Dan betul saja tebakannya, Floryn langsung keluar membuka pintu dengan dress merah muda miliknya disertai rambut yang tergerai basah.


"Eh Alan, ada apa lu ketuk-ketuk pintu kamar gue?" tanya Floryn penasaran.


Alan terdiam saja memandang wajah gadis itu sambil tersenyum, tentu Floryn tampak keheranan serta kebingungan dengan kehadiran pria itu di depan kamarnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2