Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 149. Minum susu


__ADS_3

Alan berniat pergi dari tempat Carol dan meninggalkan gadis itu dengan perasaan kesal. Ya pria itu baru saja mengurungkan niatnya untuk mengambil mahkota sang gadis, sebab ia merasa semuanya tidak pantas dilakukan olehnya karena itu adalah hal yang buruk. Akhirnya Alan justru bangkit dan memakai kembali pakaiannya, lalu berjalan kesal keluar dari kost tersebut.


Namun, Carol yang heran dengan sikap pria itu justru mengejarnya setelah memakai semula semua pakaiannya. Meski Carol senang Alan tidak jadi merebut apa yang menjadi haknya, tapi Carol sedikit bingung mengapa bisa Alan tiba-tiba pergi dan membatalkan semuanya. Padahal tadi Carol sudah pasrah jika memang Alan ingin melakukan semua itu, tapi nyatanya ia masih diselamatkan.


"Alan tunggu!" gadis itu berteriak keras berusaha menahan Alan yang hendak masuk ke mobilnya.


Carol pun berhasil mencegah pria itu sebelum memasuki mobil, ya Carol langsung menarik lengan Alan dari belakang dan membuat sang empu terpaksa menghentikan langkahnya. Alan menatap ke arah Carol dengan wajah penuh amarah, dari sorot matanya menandakan kalau pria itu benar-benar emosi padanya.


"Kamu ngapain susulin aku? Kalau aku khilaf dan hilang kesadaran lagi kayak tadi, bisa-bisa aku beneran lakuin itu loh Carol. Mending kamu balik sana, aku harus pergi!" ucap Alan tegas.


"Tapi Lan, kamu gak boleh pergi sendiri dalam keadaan begini. Aku telpon kak Saka dulu ya buat jemput kamu?" ucap Carol.


"Eh jangan! Aku gak butuh dia lagi, aku bisa urus hidup aku sendiri. Udah kamu gausah khawatir, toh kamu gak suka sama aku kan! Buktinya kamu tolak aku tadi di dalam," ucap Alan.


"Lan, please jangan kayak gitu! Aku tolak kamu karena memang aku gak merasa jatuh cinta sama kamu," ucap Carol.


"Yaudah, kalau kamu gak cinta sama aku, ngapain kamu perduliin aku coba? Mending kamu pergi deh, aku harus jauh-jauh dari kamu supaya aku gak khilaf lagi seperti sebelumnya!" ucap Alan.


"Kalau aku gak mau lepasin kamu gimana? Aku bakal terus cegah kamu, karena aku khawatir kamu celaka Alan!" ucap Carol kekeuh.


Akhirnya Alan melepas paksa tangan gadis itu dari lengannya, "Cukup Carol! Aku mohon kamu jangan tahan aku lagi, aku gak mau melukai kamu apalagi mengambil sesuatu yang berharga dari kamu!" ucapnya tegas.


Deg!


Carol terkejut, Alan tampaknya memang benar-benar tidak bisa lagi dicegah. Lalu, pria itu langsung masuk ke dalam mobil dan bergegas melaju pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa perduli dengan Carol yang masih setia berdiri menatapnya dari jauh. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi gadis itu, jujur ia menyesal telah menolak Alan sebelumnya. Tapi itu semua ia lakukan demi Nawal, sebab ia tidak bisa berbuat banyak apalagi melawan perintah wanita itu.


"Aku minta maaf Alan, sebenarnya aku juga cinta sama kamu. Tapi, rasanya aku gak mungkin bisa jadi pacar kamu. Kamu itu lebih cocok dengan mbak Nawal," gumam Carol.


Akhirnya setelah memastikan Alan sudah pergi jauh, Carol pun dengan berat hati kembali ke dalam kostnya dan menutup pintu rapat-rapat. Rasa cemasnya pada pria itu perlahan menghilang, ia yakin kalau Alan akan baik-baik saja dan tidak mungkin terluka hanya karena ditolak cinta olehnya yang memang tidak pantas untuk pria itu.




Sahira mengangguk sambil tersenyum, lalu karena rasa belas kasih yang besar Cat pun memeluk Sahira dengan erat sembari mengusap punggung gadis itu perlahan. Cat sangat tidak tega melihat sahabatnya tersakiti, dia juga berjanji untuk terus ada di sisi Sahira kapanpun dia dibutuhkan karena mereka memang sudah bersahabat lumayan lama.


"Hai semua!" tiba-tiba saja, suara seorang laki-laki mengejutkan keduanya.


Sontak Sahira serta Cat menoleh secara bersamaan ke arahnya, mereka terkejut melihat Bayu yang ternyata ikut berada disana dan tengah menatap mereka sambil tersenyum lebar. Akhirnya kedua gadis itu kompak berdiri dan masih terlihat kebingungan, sedangkan Bayu hanya diam tanpa beralih sedikitpun dari wajah Sahira.


"Loh Bay, lu kok bisa ada disini? Lu tahu darimana gue pergi kesini? Atau emang kita cuma gak sengaja aja ketemu?" tanya Sahira keheranan.


"Ahaha, tadi gue gak sengaja lihat lu dari luar. Makanya gue susulin aja," jawab Bayu.


"Ohh, pantas aja gue kaget lihat lu disini. Yaudah, duduk aja yuk!" ajak Sahira.


"Umm emang boleh? Nanti takutnya gue ganggu kalian lagi," tanya Bayu agak ragu.


"Boleh lah Bay, sini udah duduk sama kita gabung aja! Kalau lu mau pesan, ya silahkan aja pesan yang lu suka!" ucap Sahira.


"Iya Bay, lu kan temennya Sahira juga. Gue mah gak masalah kali," sahut Cat.


"Ah thanks ya, kalo gitu gue ikut deh sama kalian," ucap Bayu menurut.

__ADS_1


Akhirnya Bayu ikut terduduk disana sesuai permintaan Sahira tadi, mereka pun sama-sama berbincang riang menikmati waktu kebersamaan mereka. Terlihat Bayu cukup senang berada disana, terlebih ada di dekat Sahira amat membuatnya merasa sangat bahagia.


Awalnya Bayu merasa canggung karena di dekat dua wanita cantik sekaligus, tapi lama-kelamaan rasa canggung itu mulai hilang dan ia pun terbiasa berbincang dengan Sahira maupun Cat disana. Akan tetapi, ia juga bingung harus mengatakan apa di hadapan dua gadis itu karena memang ia belum mempersiapkan semuanya dengan matang. Akhirnya ia jadi lebih banyak diam kali ini.


"Btw lu lagi mau kemana, Bay? Sendirian aja nih, gak sama siapa gitu?" tanya Sahira memulai obrolan.


"Hahaha, maksud lu apa sih Ra? Lu kan tahu kalo gue ini masih single, jadi ya gue kemana-mana pasti sendiri. Untung aja sekarang gue ketemu kalian, jadinya gak sendirian lagi deh," jawab Bayu.


"Ah lu mah merendah aja, Bay. Gue yakin lu punya banyak cabang kan di luar sana?" goda Sahira.


Bayu terkekeh mendengar perkataan Sahira, "Ya enggak lah Ra, boro-boro punya cabang orang punya satu aja kagak. Lagian mana ada yang mau sama gue sih? Cewek sekarang itu kan mandang fisik semua tau," ucapnya.


"Yeh kata siapa? Gak semua kayak gitu, nih contoh gue sama Sahira. Kita berdua itu gak mandang fisik, tapi mandang harta," kekeh Cat.


"Ya itu mah sama aja bohong, malahan lebih parah daripada yang mandang fisik!" cibir Bayu.


"Ahaha, bercanda kok gue. Eh tapi kan lu tuh orang kaya ya kalo dilihat-lihat, masa sih lu gak bisa dapetin cewek yang lu mau?" heran Cat.


"Eee gue gak tahu juga, mungkin aja cewek jaman sekarang udah banyak yang kaya," ucap Bayu.


"Terus kalau lu sama Sahira gimana? Suka gak?" tanya Cat sambil menaikkan kedua alisnya.


"Hah??" sontak Sahira serta Bayu sama-sama terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan Cat, keduanya tampak saling pandang lalu kebingungan dengan mulut menganga.




Alan kini berada di sebuah warung pinggir jalan untuk sekedar membeli minuman, ia duduk sebentar disana sembari meminum segelas susu yang baru saja ia beli. Rasanya kepala Alan begitu terasa pening saat ini, sebab semua masalah yang sedang menimpanya belum ada satupun yang selesai. Mulai dari permasalahan keluarganya, sampai sekarang percintaan yang ia alami.


"Loh Alan, kamu ada disini? Pantas aja aku cari kamu kemana-mana gak ketemu, ternyata kamu malah lagi asyik minum disini," ujar Floryn.


"Flo, kenapa kamu bisa kesini? Kamu sengaja ya ngikutin aku?" tanya Alan keheranan.


"Hah? Gimana caranya aku bisa ikutin kamu, Alan? Aku aja baru tau sekarang kamu ada disini, tadi aku gak sengaja lihat mobil kamu disitu. Yaudah, aku langsung samperin aja kamu," jelas Floryn.


"Masa? Bukan karena Carol udah telpon kamu dan kasih tau soal aku?" tanya Alan lagi.


Floryn menggeleng penuh heran, "Bukan kok, emangnya kamu sama Carol kenapa sih? Kalian lagi berantem ya?" ujarnya.


"Eee gak kok, cuma lagi ada masalah sedikit aja. Ya syukurlah kalau dia gak hubungin kamu," ucap Alan sembari menenggak susunya.


Floryn tersenyum dan ikut duduk di sebelah pria itu, tak lupa ia juga memesan satu gelas es susu sama seperti yang dipesan oleh Alan. Sontak Alan menoleh ke arahnya dan tampak kebingungan, pasalnya dia baru tahu kalau Floryn juga suka minum di warung pinggir jalan seperti ini. Padahal warung itu merupakan tempat yang jarang didatangi oleh orang sekelas Floryn.


"Kamu kenapa pesan susu juga? Mau ngikutin aku ya?" tanya Alan bermaksud menggoda.


"Ah enggak, emang aku kepengen aja. Abisnya ngeliatin kamu minum tuh kayak enak banget gitu, yaudah aku ikutan pesan," jawab Floryn.


"Sama aja dong, artinya kamu pesan karena ngikutin aku. Emang ya cewek itu sukanya ngikut cowok mulu?" goda Alan.


"Dih gak juga sih, sok tahu banget sih kamu!" elak Floryn seraya mengembungkan pipinya.


"Eh eh, btw kamu abis darimana mau kemana ini? Atau emang kamu sengaja keliling-keliling buat cari aku, kangen ya?" ucap Alan.

__ADS_1


"Ya iya sih aku emang pengen cari kamu, tapi bukan berarti aku kangen sama kamu. Aku tuh mau bantuin bang Saka aja, karena dia kasihan banget tau kebingungan nyariin kamu," jawab Floryn pelan.


"Oh ya? Eh omong-omong, kamu sama bang Saka itu ada hubungan apa sih? Kayaknya kalian berdua dekat banget ya aku lihat-lihat?" tanya Alan.


"Maksud kamu? Ki-kita gak ada hubungan apa-apa kok," heran Floryn.


"Kamu jangan bohong, Flo! Aku tahu kamu dan bang Saka diam-diam menjalin hubungan, buktinya kamu tahu kalau dia sekarang lagi bingung cari aku. Itu tandanya kalian punya sesuatu, ya kan?" ucap Alan tegas.


Deg!


Floryn menggeleng pelan tak percaya dengan kata-kata yang diucapkan pria itu, sedangkan Alan masih terus menatap ke arah Floryn meminta wanita itu jujur padanya saat ini.




TOK TOK TOK...


Carol yang sedang berbaring di atas ranjang sembari memainkan ponselnya, terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar kostnya. Sontak gadis itu bangkit karena penasaran, ia coba mengecek lebih dulu melalui jendela agar tidak terjadi sesuatu yang buruk nantinya jika ia memilih langsung membuka pintu.


Dan begitu ia mengintipnya, Carol sangat kaget karena ternyata yang ada di luar sana adalah Saka. Ya Saka adalah kakak kandung dari Alan, tentu Carol tahu itu dan dia kini terlihat kebingungan harus membuka pintu atau tidak. Carol yakin sekali kalau kedatangan Saka kesana adalah untuk mencari Alan, namun saat ini Alan sudah tidak ada di tempatnya karena pria itu baru saja pergi.


Ceklek


Disaat Carol membuka pintu, dengan hati-hati ia coba mendekati Saka sembari menunduk karena bingung harus berkata apa kepada Saka kali ini. Tak mungkin jika Carol jujur pada Saka dan mengatakan apa yang terjadi sebelumnya diantara dirinya dengan Alan, karena pasti Saka akan sangat kecewa pada kelakuan adiknya yang hampir saja merenggut kesucian gadis orang.


"Umm bang Saka, halo! Ada apa ya abang datang ke kost saya?" gugup Carol.


"Huh, saya kesini mau ketemu sama Alan. Dia masih ada di dalam kan? Tolong kamu bilang ke dia kalau saya datang, saya mau bicara penting!" ucap Saka dingin.


"Eee ta-tapi Alan udah gak ada di kost aku, bang. Dia baru aja pergi beberapa waktu lalu, aku udah sempat tahan dia tapi tak bisa," ucap Carol.


"Oh ya? Saya gak percaya sama kamu, pasti dia ada di dalam. Biarkan saya masuk dan cek secara langsung, karena saya ingin memastikan!" ucap Saka tegas.


"Bang, tapi Alan emang udah gak ada. Abang juga gak bisa main masuk gitu aja dong, ini kost perempuan loh!" ucap Carol.


Saka mengernyit dibuatnya, "Itu kamu tahu kalau ini kost perempuan, lalu kenapa kamu biarkan Alan menginap disini waktu itu? Apa kamu suka sama dia, hm?" ujarnya.


Dengan cepat Carol menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku gak ada rasa kok sama dia. Tapi, dia yang maksa mau tidur disini waktu itu. Aku udah larang, cuma dia gak mau dengerin aku," elaknya.


"Masa? Terus kalian ngapain aja selama tinggal berdua disini? Gak mungkin kan cuma sekedar tidur bareng? Pasti ada something yang mungkin kalian lakuin," tanya Saka.


"Sumpah bang, aku sama Alan gak ngapa-ngapain! Kami cuma tidur dan bincang-bincang, dia juga banyak cerita ke aku soal masalahnya," jawab Carol terlihat panik.


"Yaudah, kalo gitu izinkan saya masuk ke dalam buat cek secara langsung!" pinta Saka.


"Jangan bang! Di dalam itu berantakan, aku belum sempat beres-beres tau. Abang percaya deh sama aku, aku gak mungkin bohong!" ucap Carol.


"Haish, bisa aja kan kamu sembunyikan dia di dalam?" tegas Saka.


"Enggak bang, beneran kok!" ucap Carol terus mencoba meyakinkan pria itu.


Namun, Saka tetap kekeuh ingin memeriksa sendiri di dalam sana apakah adiknya ada atau tidak. Saka pun menerobos begitu saja sembari sedikit mendorong tubuh Carol sampai nyaris terjatuh, pria itu benar-benar kesal dan langsung mencari-cari dimana Alan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2