Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 30. Gapapa kok


__ADS_3

"Royyan??" Alan sampai tercengang dibuatnya.


"Hah lo?" pria bernama Royyan itu juga ikut kaget melihat kehadiran Alan disana.


Seketika Alan menjadi emosi, melihat Nawal bersama lelaki lain di rumah itu tentu saja menandakan diantara mereka ada hubungan khusus. Kalau tidak, untuk apa Royyan bisa ada di rumah Nawal malam-malam begini.


Alan pun melepas tangan Nawal dan beralih mendekati Royyan, matanya menatap tajam seolah hendak membunuhnya. Sedangkan Nawal disana hanya bisa terdiam panik, ia bahkan menutup matanya tak berani melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hai bro! Gak nyangka kita bakal ketemu disini, apa kabar lu?" ucap Royyan dengan santai.


"Baik, lu gimana?" singkat Alan.


"Ya begini lah, makin baik." Royyan menjawab sambil terkekeh kecil.


"Setelah ini, kalau ada yang tanya kabar lu baik apa enggak, jawabannya gak baik-baik aja." mendengar kalimat yang dilontarkan Alan, membuat Royyan mendelik heran.


"Maksud lu?" tanya Royyan dengan heran.


Bugghhh


Bukan jawaban yang dia dapat, melainkan pukulan dari tangan Alan yang sangat kuat itu. Sontak Royyan langsung membungkuk memegangi perutnya sembari meringis kesakitan, Nawal pun terperangah tak percaya melihatnya.


"Akh! Lo apa-apaan sih bro? Kenapa lu mukul gue? Lo ada masalah apa sama gue?" heran Royyan.


"Banyak bacot lu!" Alan kembali memukul tubuh pria itu, kali ini di bagian wajahnya.


Bugghhh


Royyan yang tak kuat akhirnya terjatuh ke lantai, Nawal berteriak panik melihat mantan kekasihnya semakin brutal disana. Sedangkan Alan sendiri hanya tersenyum seringai menatap tubuh Royyan yang sudah tergeletak di depannya, ia coba mendekati Royyan lagi tapi ditahan oleh Nawal.


"Stop Alan! You don't do that again!" teriak Nawal dengan tangan direntangkan.


"Okay, aku gak akan pukul dia lagi. Tapi, kamu sekarang jelasin ke aku ini maksudnya apa! Kenapa laki-laki ini bisa ada di rumah kamu? Kalian selingkuh di belakang aku?" ucap Alan.


Nawal menggeleng, Royyan yang mendengarnya pun terkejut, dia sama sekali tidak tahu jika Alan dan Nawal ada hubungan. Selama ini gadis itu tak pernah cerita apapun tentang dia dengan Alan, sehingga Royyan sangat kebingungan saat ini dan tak tahu harus apa.

__ADS_1


"Kamu salah Alan, aku gak selingkuh. Kamu jangan asal tuduh dong! Kita itu kan udah gak ada hubungan apa-apa, jadi kamu gausah merasa terdzolimi deh disini!" ujar Nawal.


"Bisa-bisanya ya kamu bilang begitu ke aku? Kamu putusin aku cuma karena cowok ini? Apa sih yang bikin kamu suka sama dia, ha?" geram Alan.


"Enggak, kamu gak ngerti. Maaf Alan, tapi aku belum bisa jelasin semuanya ke kamu. Sekarang mending kamu pergi dan jangan bikin keributan di rumah aku!" ucap Nawal.


"Aku gak akan pergi, sebelum kamu jelasin ke aku. Sejak kapan kalian berhubungan? Apa disaat kita masih pacaran dulu?" ucap Alan.


Nawal memalingkan wajahnya, bukannya menjawab ia malah berteriak memanggil satpam penjaga di rumahnya. Sontak dua orang satpam itu muncul dan menghampiri Nawal, sedangkan Alan terkejut saat melihat kehadiran dua satpam di dekatnya.


"Pak, tolong usir dia dari sini! Dan kalau dia balik lagi kesini, jangan diterima!" suruh Nawal.


"Baik non!" ucap satpam.


Kedua satpam itu langsung memegangi tubuh Alan dan memaksanya pergi, namun Alan tak terima dan terus berontak dari pegangan mereka.


"Lepasin! Nawal, aku belum mau pergi. Kamu harus jelasin dulu semuanya ke aku!" teriak Alan.


Nawal tak perduli, ia pergi mendekati Royyan yang tergeletak di lantai dan menolongnya. Sementara Alan sudah diseret paksa oleh kedua satpam menuju ke luar rumah.




"Selamat pagi pak!" sapa Sahira sambil tersenyum dan mengusap rambutnya yang tertiup angin.


Alan sampai tercengang melihatnya, penampilan Sahira sangat berbeda dibanding biasanya. Kali ini gadis itu terlihat semakin cantik dan membuat Alan tidak bisa berkata-kata, sungguh Alan amat terpesona pada kecantikan Sahira yang berhasil membuatnya lupa akan masalah dirinya.


"Umm pak, kenapa bapak diam aja? Ada yang salah sama saya? Oh atau bapak gak suka ya disapa sama saya?" tanya Sahira kebingungan.


"Eh eee.." Alan tersadar dari lamunannya, ia langsung salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.


"Bukan begitu Sahira, saya diam tadi karena saya kaget sama penampilan kamu sekarang. Kamu jadi lebih anggun dan cantik dari biasanya, kamu luar biasa Sahira!" sambungnya.


Sahira terkejut mendengarnya, "Bapak barusan muji saya? Gak biasanya loh," ucapnya terheran-heran.

__ADS_1


"Iya, emangnya kenapa? Kamu gak suka dipuji sama saya?" tanya Alan.


"Eee gak gitu pak, saya suka dan malah saya senang banget dipuji sama bapak yang notabene adalah pemimpin di perusahaan ini. Makasih banyak ya pak," jawab Sahira.


"Yasudah, ayo masuk bareng! Kamu naik lift aja, gausah pake tangga. Sayang-sayang tampilan kamu udah kayak gini kalo harus naik tangga, nanti kamu kecapekan kan?" ucap Alan.


"I-i-iya deh pak," gugup Sahira.


"Yuk!" ajak Alan yang tanpa sadar malah meraih tangan Sahira dan menggandengnya, tentu Sahira terkejut bukan main dengan itu.


"Kenapa diam aja Sahira?" tanya Alan heran melihat Sahira sama sekali tidak bergerak.


"Eee pak, ini tangan saya kenapa digandeng?" ucap Sahira dengan gugup.


Alan mengarahkan matanya ke bawah menatap bagaimana tangannya menyentuh pergelangan tangan Sahira, ia tersenyum lalu beralih menatap wajah gadis di hadapannya yang kini masih kebingungan tak percaya.


"Emangnya kenapa? Ada yang salah kalau saya gandeng tangan kamu?" tanya Alan.


"Ya gak salah sih pak, saya cuma gak mau ada yang salah paham nantinya," jawab Sahira.


"Salah paham gimana? Semua disini kan tau kamu sekretaris saya, jadi gak akan ada yang mikir macam-macam tentang kita. Sudah yuk kita masuk aja ke dalam!" ucap Alan.


"Ta-tapi pak, saya—"


"Sahira, kamu mau nurut atau saya pecat?" sela Alan mengancam.


Sahira membelalakkan matanya, "Iya iya pak, saya nurut deh." ia pun terpaksa mengatakan itu karena tak ada pilihan lain.


"Bagus." Alan tersenyum dan mulai melangkah ke depan dengan menggandeng tangan Sahira.


Mereka berdua memasuki kantor bersama-sama, Sahira sungguh tak nyaman dan sangat malu karena saat ini tangannya digandeng erat oleh sang bos. Apalagi tatapan mata para karyawan disana saat menyapa mereka terlihat mencurigakan, Sahira pun tidak berani menatap ke depan dan lebih sering menunduk.


"Ah sial! Pak Alan berhasil bikin gue malu berat, untung bos kalo bukan udah gue jitak tuh kepalanya!" gumam Sahira dalam hati.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2