
Alan membawa Carol alias wanita yang sebelumnya pernah ia selamatkan itu ke kantor tempatnya bekerja. Ya sesuai janjinya pada gadis itu, kini Alan berniat mengajak Carol bekerja disana untuk bisa menghidupi dirinya selama tinggal di kost yang lumayan mahal.
Hingga saat ini Alan memang masih belum mendapatkan pengganti Sahira setelah gadis itu memutuskan keluar dari kantornya, itu sebabnya Alan berniat mempekerjakan Carol sebagai sekretaris disana menggantikan Sahira. Meskipun Alan tahu bahwa Carol bukanlah lulusan S1 seperti yang diraih Sahira, namun ia yakin Carol bisa menjalankan semuanya dengan baik.
"Nah, ini dia kantor saya Carol. Di tempat ini saya mencari uang sekaligus menjalani hidup, nantinya kamu juga akan melakukan hal yang sama disini," ucap Alan pada gadis itu.
Carol cukup terpukau melihatnya, "Waw ini luar biasa! Tapi Lan, kamu yakin mau ajak aku kerja disini? Aku ini kan bukan siapa-siapa, aku juga sekolah cuma sampai D3. Mana mungkin aku bisa kerja disini, Lan?" ucapnya lesu.
Alan tersenyum seraya meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya, "Kamu gausah khawatir, saya yakin kamu punya potensi kok untuk itu!" ujarnya.
"Ta-tapi.." ucapan Carol terjeda karena Alan menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Cukup ya tapi tapi nya! Sekarang saya minta kamu masuk ke dalam dan saya akan perkenalkan kamu sebagai sekretaris saya yang baru," sela Alan.
Carol tersentak mendengar itu, "Apa? Sekretaris? Kamu yang bener aja Alan?" ucapnya terkejut.
"Lah iya benar kok, apa salahnya emang? Saya lagi butuh sekretaris, dan saya mau kamu yang ada di posisi itu!" ucap Alan tegas.
"Ih tapi Lan, aku beneran gak bisa. Gimana kalau nanti aku ngelakuin kesalahan?" ucap Carol.
"Udah tenang aja, saya yang akan bimbing kamu dari awal sampai akhir! Pokoknya kamu harus mau bekerja jadi sekretaris saya, kalau kamu nolak berarti kamu gak menghargai saya!" ucap Alan.
"I-i-iya deh, aku mau kok kerja disini jadi sekretaris kamu. Tapi, beneran ya kamu gak akan marahin aku nantinya?" ucap Carol.
Alan mengangguk sambil tersenyum, "Iya bener Carol, udah yuk kita masuk dan saya akan tunjukkan ke kamu suasana di dalam sana!" ucapnya.
"Okay." Carol terlihat cukup lemas dan mulai melangkahkan kakinya bersama Alan di sebelahnya.
Ya tentunya tangan mereka juga masih menyatu saat ini, Alan seolah sengaja tak ingin melepasnya dan Carol pun tidak menyadari itu karena sangking terharunya dengan kebaikan Alan padanya. Carol sungguh tak percaya kalau dia akan bertemu pria sebaik Alan, padahal mereka baru saling mengenal selama beberapa Minggu.
Mereka pun mulai memasuki kantor, tampak dua orang satpam yang bertugas di depan pintu juga terkejut melihat Alan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang mereka tak tahu siapa. Namun, tentunya kedua satpam itu hanya diam saja membiarkan bos mereka masuk tanpa mengusik mengenai wanita di dekatnya.
Disaat Alan hendak menemui para karyawannya di dalam sana, ia justru dibuat terkejut dengan keberanian Nawal di depannya yang seolah sudah menunggunya sedari tadi. Tampak Nawal langsung bangkit dari duduknya dan tersenyum ke arahnya, gadis itu juga berjalan menghampirinya dengan tatapan penuh menggoda.
"Wah wah wah, ada yang udah dapat gandengan baru nih!" ejek Nawal dengan sinis.
Seketika Alan terkejut dan baru sadar kalau ia memang masih menggandeng tangan Carol, sontak Alan segera melepas tangannya dan tampak gugup sendiri dibuatnya. Sedangkan Carol juga tampak menjauh dari Alan sembari menundukkan wajahnya karena malu menjadi pusat perhatian orang-orang disana.
"Kamu ngapain sih ada disini Nawal? Saya kan sudah bilang, kamu gak bisa seenaknya lagi datang kesini! Kenapa kamu sekarang malah datang lagi?" sentak Alan.
"Loh apa salahnya sih Alan? Kamu takut ya kalau aku bakal ganggu kamu dan cewek baru kamu ini? Btw dia siapa sih?" ujar Nawal.
"Iya jelas, saya gak mau kamu ganggu saya dan sekretaris baru saya ini. Lebih baik kamu pergi, karena saya tidak mengizinkan kamu berada disini!" ucap Alan geram.
Nawal tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Kamu tuh naif banget ya Alan? Bisa-bisanya kamu angkat pacar kamu jadi sekretaris, emangnya dia bisa apa?" ledeknya.
"Oh kamu nanya dia bisa apa? Saya pastikan kamu akan terkejut nanti melihat kemajuan dia, camkan itu!" tegas Alan.
Carol yang mendengar itu sontak terkejut, ia tak menyangka Alan akan berbicara seperti itu untuk membelanya. Sungguh Carol khawatir jika nantinya ia tidak akan bisa melakukan apa yang diminta Alan dan dibicarakan pria itu pada sang mantan, tetapi biar gimanapun Carol tentu harus bekerja keras demi mewujudkan keinginan Alan.
"Kamu yakin dia bisa memajukan perusahaan ini, Alan? Aku sih gak yakin kalau dia lebih baik daripada Sahira, tampangnya aja gak kelihatan seperti sarjana," cibir Nawal.
"Cukup Nawal! Jangan pernah kamu hina dan merendahkan Carol seperti itu!" tegur Alan.
__ADS_1
"Hahaha, gak perlu direndahkan juga dia emang udah rendah kok. Kamu aja yang gak bisa ngeliat itu karena ketutupan cinta," ucap Nawal.
"Masa sih? Bagi saya, Carol itu perempuan yang paling hebat kok. Kamu jangan asal bicara ya Nawal!" ujar Alan.
"Cih, hebat apanya? Udah deh Alan, kamu tuh emang lebih baik sama aku daripada sama cewek-cewek yang gak jelas kayak gini! Mending kita balikan aja sekarang," ucap Nawal genit.
"Hah? Kamu minta balikan sama saya setelah apa yang kamu lakukan dulu ke saya? Gak akan Nawal, itu gak akan terjadi!" ucap Alan tegas.
"Kenapa sih Alan? Kamu gak bisa buka mata hati kamu gitu? Aku ini lebih baik dari Carol, maupun Sahira yang gak jelas itu! Ayolah kita balikan, mumpung aku belum berubah pikiran!" ujar Nawal.
"Kamu gak perlu berharap begitu, lupakan saya dan pergi dari sini sekarang!" ucap Alan.
"Okay, kali ini aku akan pergi sayang. Tapi ingat, aku bakal terus berusaha untuk bisa mendapatkan kamu kembali!" ucap Nawal seraya berjalan mengelilingi Alan dan mengelus tubuhnya.
Alan yang geram pun menyingkirkan paksa tangan gadis itu darinya, ia bahkan mendorong kasar tubuh Nawal agar menjauh dan kembali mengusirnya. Nawal tak memiliki pilihan lain, dia terpaksa pergi dari sana meskipun sebenarnya dia masih ingin berada di tempat itu.
Setelah Nawal pergi, Alan beralih menatap Carol sembari mencoba menenangkan gadis itu. Ia taruh tangannya di kedua pundak sang gadis, satu jarinya juga menarik dagu Carol agar menatap ke arahnya sehingga mereka saling bertatapan. Tampak jelas raut kesedihan terpampang di wajah Carol saat ini, oleh karena itu Alan pun coba menghiburnya.
"Jangan sedih ya! Kamu gak perlu mikirin kata-kata cewek tadi, dia itu gak waras dan otaknya geser sedikit! Mending kita ke atas aja yuk!" ucap Alan.
Carol mengangguk saja menyetujui ucapan Alan, lalu setelahnya pria itu kembali membawa Carol pergi menuju ruangannya untuk diberitahu mengenai pekerjaannya. Namun, tentu saja Carol tak semudah itu melupakan kata-kata Nawal tadi yang begitu melukainya. Ya perkataan Nawal memang cukup menyakitkan dan masih membekas di dalam hatinya.
•
•
Saat tiba di ruangan pribadinya, Alan pun mempersilahkan Carol masuk ke dalam dan duduk disana bersamanya. Tampak Carol yang langsung terpukau begitu melihat luas dan indahnya ruangan milik Alan itu, ia sangat tidak menyangka bisa mengenal orang seperti Alan yang adalah sosok bos besar di kantornya itu. Apalagi jika ia nantinya bisa bekerja disana sebagai sekretaris pribadinya.
Alan tersenyum saja menyaksikan tingkah Carol yang begitu menggemaskan baginya, ia menarik kursi ke dekat Carol lalu duduk disana berdampingan sambil tersenyum. Tentu Carol yang melihat itu dibuat keheranan, ia bingung mengapa Alan malah susah-susah beralih mendekatinya, padahal Alan bisa saja tetap di tempatnya.
"Biarin, saya maunya duduk di samping kamu aja. Kalau kita hadap-hadapan, nanti kamu malah sungkan lagi sama saya. Padahal saya kan maunya ya biasa-biasa aja," jawab Alan santai.
"Ya kan emang kalau nanti kamu jadi bos aku, harusnya aku tuh sungkan dan hormat dong sama kamu," ucap Carol.
"Gak juga, saya gak mau tuh yang kayak gitu. Enakan kayak gini aja biasa, lebih asyik dan gak terlalu formal," ucap Alan.
"Umm, terserah kamu aja deh. Terus sekarang aku harus ngapain nih disini? Bahas kerjaan atau gimana?" tanya Carol penasaran.
"Gausah, gampang itu mah bisa nanti-nanti. Sekarang kamu coba nikmati aja dulu semua yang ada disini, resapi sampai kamu bisa nyaman di tempat ini!" jawab Alan.
"Duh, yang ada aku malah gak enak kalau cuma diam-diam aja. Takutnya nanti ganggu kamu kerja tau, mending aku pulang aja ya?" ucap Carol.
"Eh jangan! Iya deh iya, aku bakal kasih tau kerjaan kamu apa aja. Tapi sebelum itu, gimana kalau kita minum-minum dulu?" ucap Alan.
"Hah minum apa?" tanya Carol penasaran.
"Ya kamu maunya minum apa? Kopi, teh, susu, jus, atau yang lain?" ujar Alan menawarkan.
"Terserah kamu aja deh," ucap Carol.
Alan sontak menepuk jidatnya mendengar jawaban gadis itu, "Hadeh, kenapa ya cewek tuh kalo ditanya pasti selalu bilang terserah? Emang kamu gak punya jawaban sendiri apa?" ujarnya heran.
"Hehe, ya abis aku bingung sih. Jadinya aku ya ngikutin kamu aja Lan, eh btw kamu gak ketemuan lagi sama Floryn?" ucap Carol.
__ADS_1
Alan menggeleng pelan, "Belum nih, gak tahu kapan kita bakal ketemu lagi. Tapi, rencananya sih giliran saya yang mau bawa dia ke rumah orang tua saya," ucapnya.
"Ohh, yaudah sekalian jadiin aja kali! Mending kamu lamar dia beneran, jangan cuma pura-pura!" ucap Carol tersenyum.
"Ahaha, apa sih kamu Carol? Udah ah gausah bicara yang aneh-aneh, saya pesenin minuman aja ya langsung!" ucap Alan.
"Iya deh, aku minta jus mangga ya?" ucap Carol.
"Nah gitu dong jelas, okay sebentar ya?" ucap Alan sambil tersenyum dan beranjak untuk menghubungi pelayan disana.
Carol terus memandangi tubuh Alan dari posisinya saat ini, entah kenapa semakin lama ia dekat dengan pria itu, maka semakin besar pula rasa kagumnya pada sosok Alan yang memang sangat baik dan perhatian padanya.
"Alan, kamu itu tipe cowok idaman banget sih. Kalau aja aku bisa jadi pacar kamu, pasti aku bakal bahagia banget!" batin Carol.
•
•
Disisi lain, seorang karyawan wanita di kantor Saka yang bernama Silvia terlihat memasuki ruangan HRD dan menemui sang manager disana. Gadis itu terduduk di kursi berhadapan dengan pria berusia sekitar tiga puluhan tahun itu, Silvi sungguh gugup ketika ditatap dingin oleh sang manager di depannya. Apalagi ia tahu kalau kontrak kerjanya sekarang sudah akan berakhir.
Seperti biasa setiap karyawan pasti akan dipanggil menemui manager untuk membahas mengenai kontrak kerja mereka, dan kali ini giliran Silvia lah yang berhadapan dengan managernya itu. Meski sudah berulang kali bertemu, tetapi entah kenapa Silvia masih saja merasa gugup saat dihadapkan pada situasi seperti ini.
"Umm pak, saya harus gimana sekarang supaya kontrak saya bisa diperpanjang? Jujur saya butuh pekerjaan ini pak, saya gak mungkin bisa kehilangan posisi saya yang sekarang," ucap Silvia.
Sang manager yang biasa dipanggil pak Budi itu tersenyum seringai seraya memajukan tubuhnya dengan dua tangan ditaruh di meja, "Mudah saja, saya yakin kamu pasti tahu apa yang saya minta kan Silvi?" ucapnya pelan.
Gleekk
Silvia menelan saliva nya susah payah setelah mendengar ucapan pria itu, "I-i-iya pak, malam ini atau kapan?" tanyanya.
"Kalau bisa sih malam ini, soalnya saya ada jadwal besok," jawab Budi.
"Oh baik pak, yang penting saya bisa tetap terus bekerja di perusahaan ini. Karena saya sudah merasa nyaman disini pak," ucap Silvia.
"Bagus, saya akan segera urus semuanya. Asalkan kamu mau melakukan permulaan kali ini," ucap Budi disertai senyum penuh hasrat.
"Maksud bapak apa?" tanya Silvia tak mengerti.
"Ya kamu kayak gak tahu aja, lakuin dulu pakai mulut kamu sekarang!" jawab Budi seraya membuka resleting celananya.
"Hah?" Silvia melongok lebar saat Budi langsung melepas celananya tepat di hadapannya, pria itu juga bangkit dari tempat duduk dan memberi kode pada Silvia untuk mendekat.
"Ayo puaskan saya, Silvia!" pinta Budi yang sudah sangat bergairah.
Akhirnya Silvia mau tidak mau terpaksa melakukan apa yang diminta oleh Budi, meskipun ia sangat ragu dan jijik untuk melakukan itu. Silvia pun mendekat, lalu berlutut di hadapan Budi untuk melakukan tugasnya. Seketika Budi mengerang saat tangan serta mulut Silvia mulai memainkan miliknya yang sudah mengeras disana.
Beberapa menit berlalu, Silvia keluar dari ruangan Budi dengan keadaan yang sedikit berantakan. Ia coba memperbaiki pakaian serta rambutnya akibat ulah Budi tadi, tampak juga ia sesekali mengusap rahangnya yang terasa pegal karena permainan singkat tadi. Silvia pun berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Namun, tanpa sengaja Silvia justru berpapasan dengan Saka serta Sahira yang berjalan di dekat sana. Sontak saja Silvia tampak panik, gadis itu berusaha menutupi bekas permainan ia tadi dengan Budi dari hadapan kedua atasannya itu. Tentu Silvia tak ingin semua perbuatannya diketahui oleh Saka, maupun Sahira.
"Loh Silvi, kamu abis ngapain?" tanya Saka dengan wajah heran.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...