
Sontak Floryn tersenyum lebar mendengar ucapan mamanya barusan, ia kini tahu jika perjodohan antara dirinya dengan Rian dapat dibatalkan. Berbeda dengan reaksi Floryn yang terlihat gembira, Rian justru tampak murung dan syok mendengar perkataan Syila tadi.
"Tante kok bicaranya begitu sih? Saya ini tunangan Floryn loh, dan perjodohan ini tidak bisa dibatalkan begitu saja tante!" protes Rian.
"Kamu jangan berani bentak-bentak mama aku ya Rian, dasar kurang ajar!" sentak Floryn tak terima.
Alan yang tak ingin keributan terjadi, langsung mendekati Floryn dan menenangkan gadis itu agar tidak terpancing emosi. "Floryn, kamu sabar ya jangan emosi! Kamu gak perlu kepancing sama ucapan dia barusan," ucapnya pada Floryn.
Gadis itu menurut dan mengangguk kecil, "Iya sayang, emang cuma kamu yang bisa ngertiin aku dan perhatian sama aku," ucapnya manis.
Mendengarnya pun membuat Rian bertambah emosi kali ini, "Sayang cukup ya! Kamu gak boleh mengumbar kemesraan di depan aku, kamu itu tunangan aku loh sayang!" ucapnya tegas.
"Apa perduli aku? Kamu aja gak menghargai mama aku kok, mending kamu pergi deh dan lupain aku!" ucap Floryn.
Rian menggeleng dengan cepat, "Aku gak akan pernah lepasin kamu gitu aja sayang, kamu itu milik aku dan selamanya akan jadi milik aku!" ucapnya lantang.
"Cih, lancang banget kamu bicara begitu Rian! Aku bukan siapa-siapa kamu, jadi mending kamu pergi aja sebelum aku tambah emosi!" ucap Floryn.
"Sayang, kamu gak boleh begitu dong. Biar gimanapun, kan benar kalau Rian udah jadi tunangan kamu. Kamu sebagai perempuan yang baik, harus sopan sama dia!" sela Syila.
"Ma, mama kenapa malah bela dia sih? Aku ini anak mama loh, tadi dia udah berani bentak mama kayak gitu. Aku gak terima ma," ucap Floryn.
"Ya mama ngerti, tapi nak Rian mungkin cuma kebawa emosi aja karena lihat kamu datang bersama laki-laki lain. Kamu harus bisa ngertiin perasaan calon suami kamu dong," ucap Syila.
Kali ini giliran Floryn yang menggelengkan kepalanya, "Enggak ma, dia bukan calon suami aku. Aku cuma mau menikah sama Alan," ucapnya.
Alan dibuat melongok lebar mendengar ucapan Floryn barusan, ia tak menyangka gadis itu bisa sampai senekat itu di depan mama serta calon suaminya sendiri. Sungguh Alan benar-benar bingung harus berbicara apa kali ini, dia sudah tak tahu lagi apa yang akan terjadi nantinya.
Floryn sendiri beralih menatap Alan yang masih berdiri di depannya, gadis itu tersenyum kemudian kembali menggandeng tangan Alan di hadapan Syila serta Rian. Sontak saja hal itu menambah emosi Rian yang sedari tadi meluap, Rian sudah tak kuat lagi menahan dirinya akibat kelakuan Floryn yang sungguh memancing emosinya.
"Sayang, kamu mau kan nikah sama aku? Kamu tolongin aku ya dari si cowok gak tahu diri itu, aku gak mau nikah sama dia sayang!" pinta Floryn pada Alan yang membuat geger semuanya.
"Apa? Kamu sudah gila ya Floryn? Bisa-bisanya kamu minta dinikahin sama laki-laki lain, padahal ada aku loh disini!" sentak Rian penuh emosi.
Floryn menatap wajah Rian disertai senyum seringai, "Hah? Masih aja kamu bicara begitu ya Rian? Dasar cowok gak tahu diri, kamu itu sudah gak waras tau gak!" ucapnya tegas.
"Floryn!" Rian semakin emosi dan langsung mendekati Floryn berniat menamparnya.
Akan tetapi, dengan cekatan pula Alan berhasil menahan lengan pria itu dan mencengkeramnya kuat serta menatapnya tajam. Alan tentu tak akan terima jika sampai tangan kotor Rian menyentuh gadisnya, terlebih menamparnya. Itu sebabnya Alan tampak sangat emosi saat ini pada Rian.
"Jangan pernah berani lu bertindak kasar sama cewek gue! Lu itu bukan siapa-siapanya, jadi lu gak berhak lakuin itu ke Floryn!" sentak Alan.
"Hahaha, oh sekarang lu berani bilang begitu? Emang dasar perebut cewek orang!" geram Rian.
"Jaga bicara kamu! Saya tidak pernah merebut siapa-siapa, dari awal saya sudah menjalin hubungan dengan Floryn lebih dulu. Justru kamu lah yang menjadi perebut disini!" tegas Alan.
"Lu pikir gue bakal percaya gitu aja? Gue yakin, hubungan kalian pasti baru terjalin baru-baru ini kan? Udah deh ngaku aja lu!" ucap Rian.
Alan menggeleng sembari mengepalkan tangannya, "Emang susah bicara dengan orang keras kepala seperti kamu, jadi sebaiknya kamu menjauh saja dari Floryn sekarang juga!" ucapnya lantang.
"Hah? Lu pikir gue bakal nurut gitu? Enggak ya, gue akan terus perjuangin Floryn karena dia itu tunangan gue!" ucap Rian kekeuh.
Syila yang sedari tadi diam mengamati kejadian, kini mulai tergerak untuk berbicara dan menengahi kedua pria itu agar berhenti berdebat. Tentunya Syila tidak mau jika terjadi keributan di rumahnya, apalagi hanya karena masalah kecil yakni memperebutkan putrinya.
"Sudah sudah, kalian tidak perlu bertengkar seperti ini. Apa kalian tidak malu jika pertengkaran kalian didengar oleh orang-orang di sekitar sini?" ucap Syila menatap ke arah Alan dan Rian bergantian.
"Maaf tante, saya hanya tidak suka melihat Floryn berdekatan dengan pria lain di depan mata saya. Padahal Floryn itu sudah menjadi tunangan saya, tidak seharusnya dia bertindak seperti itu," ucap Rian.
"Ya tante ngerti, tapi gak seharusnya kamu bertengkar begitu dengan Alan. Ini bukan ring tinju, jadi kamu harus jaga sikap!" tegur Syila.
__ADS_1
"Baik tante, saya minta maaf!" ucap Rian dengan terpaksa mengalah.
Syila tersenyum saja menatap ke arahnya, lalu ia mengajak mereka semua masuk ke dalam untuk berbincang dengan suaminya atau papa Floryn yang sudah menunggu disana. Tentu saja Floryn menurut, dia pun sangat bersemangat membawa Alan masuk ke rumahnya.
Sementara Rian masih saja terus terlihat kesal dan jengah pada kelakuan Floryn, tapi ia pun tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti saja kemauan Syila dan ikut masuk ke dalam rumah bersama mereka. Rian juga tak mau Alan memanfaatkan kondisi dan merebut Floryn darinya.
"Awas saja kamu Alan, kamu tidak akan bisa mengambil apa yang menjadi hak milik saya!" gumam Rian dalam hati sembari melotot ke arah Alan dan mengepalkan tangannya.
•
•
Waktu demi waktu berlalu, tak terasa kini tiba saatnya menyambut hari kemenangan bagi seluruh umat muslim di dunia. Begitu pula dengan Sahira dan ibunya, mereka baru sama-sama usai melaksanakan shalat idul Fitri berjamaah di masjid bersama yang lainnya.
Saat ini mereka telah sampai di rumah dengan tampang gembira, entah mengapa Sahira merasa sikap Fatimeh berubah drastis sejak peristiwa Fatimeh melihat Syera di rumah Saka kala itu. Ya ibunya itu sekarang menjadi lebih perhatian dan sayang padanya, tentu sangat berbeda dengan apa yang dia lakukan sebelumnya.
"Bu, aku minta maaf ya kalau selama ini aku banyak salah sama ibu dan kadang aku suka gak nurut sama ibu?" ucap Sahira dengan tatapan mengarah ke ibunya dan tersenyum.
Fatimeh pun mengabaikan kunci pintunya dan beralih menatap putrinya, "Iya sayang, gue udah maafin lu kok. Gue juga minta maaf ya kalau gue selama ini punya salah sama lu, lu mau kan maafin gue?" ucapnya.
Sahira manggut-manggut cepat dan kemudian langsung memeluk ibunya dengan erat, ia menumpahkan segala air matanya pada pelukan sang ibu yang menandakan betapa senangnya ia bisa merasakan kasih sayang ibu dari orang yang selama ini sangat ia sayangi itu.
"Hiks hiks, aku sayang banget sama ibu! Aku nyesel banget udah pernah kecewa dan bertengkar sama ibu sebelumnya," ucap Sahira terisak.
"Udah udah lu gausah nangis gitu, cengeng banget sih jadi anak! Gue gak marah kok sama lu, karena emang sikap gue selama ini juga salah. Gue sadar kalau gue belum jadi ibu yang baik buat lu," ucap Fatimeh seraya mengusap punggung putrinya.
"Hiks hiks.." Sahira terus meneteskan air mata, tapi kali ini ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Fatimeh dengan penuh air mata.
Sontak Fatimeh reflek menangkup wajah putrinya itu dan menghapus air mata disana, "Udah ya, lu jangan nangis lagi Sahira sayang! Nanti cantiknya jadi hilang loh kalo nangis terus," bujuknya.
"I-i-iya Bu, aku cuma senang aja karena sekarang ibu udah mau perduli sama aku," ucap Sahira.
"Makasih ya Bu?" Sahira tersenyum dan kembali memeluk erat tubuh Fatimeh disana.
"Ehem ehem.." tanpa diduga, tiba-tiba saja seorang pria berdehem pelan hingga mengagetkan keduanya yang spontan melepas pelukannya.
Sahira dan Fatimeh kompak menatap ke asal suara, dan disana mereka menemukan sosok Alan tengah berdiri memandang mereka disertai senyum tipisnya. Sungguh Sahira amat kaget dapat bertemu dengan pria itu lagi, entah kenapa ia seolah sangat senang dengan kehadiran Alan kembali.
"Pak Alan? Ini beneran bapak?" tanya Sahira berupaya memastikan.
Alan mengangguk kecil, "Ya Sahira, saya Alan mantan bos kamu. Tapi, tolong jangan panggil saya pak karena saya kan bukan bos kamu lagi! Malahan saya akan jadi adik ipar kamu nanti," ucapnya.
"Ah iya, saya minta maaf pak. Eh maksud saya Alan," ucap Sahira terbata-bata.
"Nah, seperti itu lebih bagus didengarnya. Lagipun kamu kan lebih tua dibanding saya, jadi tidak pantas lah kalau kamu panggil saya pak," ucap Alan.
"I-i-iya.." lirih Sahira dengan wajah tertunduk.
Lalu, tiba-tiba Fatimeh bergerak dan berdiri tepat di depan Sahira seolah memasang badannya. Fatimeh kini tampak serius menatap tubuh Alan dari atas sampai bawah seperti hendak membunuhnya, hal itu membuat Alan harus meneguk ludah secara susah payah karena kebingungan.
"Mau ngapain lu kesini, ha? Lu gak punya rumah emangnya sampai lebaran begini datang ke tempat orang?" tegur Fatimeh.
"Eee sa-saya..." Alan yang mendengar itu langsung merasa gugup dan bingung seketika.
Sahira pun keheranan dengan sikap ibunya barusan, ia tak mengerti mengapa Fatimeh harus berkata seperti itu pada Alan. Akhirnya Sahira memutuskan melangkah ke depan sang ibu untuk coba bertanya sekaligus menegurnya, jujur saja Sahira sangat tidak enak pada Alan saat ini.
"Bu, kenapa ibu bicaranya begitu sih sama Alan? Dia kan datang kesini niatnya baik, harusnya ibu gak boleh begitu sama Alan! Apa ibu lupa kalau hari ini hari raya?" tegur Sahira.
"Udah deh Sahira, mending kita masuk aja yuk! Gue udah lapar nih pengen makan," ujar Fatimeh.
__ADS_1
"Sebentar Bu, aku—" belum sempat Sahira menyelesaikan ucapannya, Fatimeh sudah langsung menarik paksa lengan putrinya itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Braakk
Tak lupa Fatimeh juga menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk kesana. Alan pun tertunduk lesu di depan sana, ia sungguh bingung mengapa Fatimeh seolah sangat membencinya kali ini. Padahal Alan merasa kalau ia tak memiliki salah apapun.
"Sebenarnya bu Fatimeh kenapa ya? Kok dia kayak benci banget sama saya begitu? Apa yang terjadi ya selama saya pergi? Duh, semoga gak ada apa-apa deh!" gumam Alan lirih.
Akhirnya Alan memilih pergi dari rumah itu karena merasa sudah tidak ada yang bisa ia lakukan lagi disana, meskipun Alan sedikit merasa kecewa lantaran ia masih belum puas bertemu dengan Sahira yang sangat ia rindukan. Namun, Alan pun tak dapat berbuat apa-apa saat ini selain pergi.
•
•
Disisi lain, Saka dengan senyum sumringah bergerak menuju sofa ruang tamu tempat dimana kedua orangtuanya berada. Pria itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu untuk menikmati hari raya idul Fitri kali ini, tentu saja hal itu terlihat dari raut wajahnya yang begitu bahagia.
"Ma, pa, selamat lebaran ya! Aku minta maaf kalau ada salah sama mama papa," ucap Saka yang langsung berlutut di depan orangtuanya dan mencium tangan mereka.
"Iya Saka, papa maafin kamu kok. Papa senang kamu sudah bisa menerima mama Syera sebagai mama kamu sekarang, makasih ya?" ucap Alfian.
"Betul itu, mama juga senang banget karena sekarang kamu sudah mau mengakui mama sebagai mama kamu. Terimakasih banyak ya Saka sayang?" sahut Syera.
"Sama-sama ma, pa. Emang udah seharusnya aku gak egois dari dulu, aku tahu kalau papa butuh pendamping di hidupnya," ucap Saka.
"Baguslah, kamu memang sudah semakin dewasa Saka. Kamu sangat pantas menggantikan adik kamu sebagai pemimpin perusahaan kita," ucap Alfian.
Saka sontak membelalakkan matanya, "Apa? Yang bener pa? Aku bakal jadi pengganti Alan di perusahaan kita?" ujarnya agak terkejut.
Alfian hanya tersenyum disertai anggukan kecil, tentu saja Saka sangat bahagia mendengar itu dan ia pun tidak sabar untuk segera menjadi pemimpin di perusahaan keluarganya. Namun, tampak jelas raut ketidaksukaan di wajah Syera ketika mendengar suaminya mengatakan hal itu. Ya Syera seolah tak terima kalau putranya akan digantikan.
"Terimakasih ya pa, aku gak nyangka kalau hari ini aku dapat kabar yang sangat baik dan membahagiakan buat aku!" ucap Saka antusias.
"Sama-sama, tapi papa harap kamu bisa mengatur semuanya dengan baik dan benar ya Saka! Jangan sampai kejadian seperti yang dialami Alan terulang lagi! Mengerti?" ucap Alfian.
"Siap pa, aku mengerti sekali dengan semua yang papa katakan itu!" ucap Saka lantang.
"Bagus, dan jangan lupa juga kamu harus memberikan jabatan untuk adik kamu disana supaya dia tidak kecewa nantinya!" pinta Alfian.
"Iya pa," singkat Saka.
Saka tersenyum lebar sembari melirik wajah Syera yang terlihat tak menyukai keputusan papanya itu, tapi dengan cepat Syera pun mengubah raut wajahnya agar tak menimbulkan pertikaian disana. Syera berpura-pura senang dengan keputusan Alfian dan kini dia menaruh tangannya di pundak Saka seraya mengusapnya lembut.
"Selamat ya Saka, mama harap kamu bisa jadi pemimpin yang bijak dan baik!" ucap Syera.
"Aamiin ma, terimakasih!" ucap Saka.
Disaat Saka hendak bangkit, ia baru teringat pada niat awalnya datang menemui kedua orangtuanya itu. Ya Saka pun kembali bersimpuh disana dan mendongak menatap wajah papa serta mamanya dengan senyum merekah, sontak Alfian merasa heran sekaligus bingung.
"Oh ya pa, aku lupa kalau rencananya siang ini aku mau ajak papa sama mama ke rumah Sahira buat silaturahmi mumpung lebaran. Papa sama mama mau kan?" ucap Saka.
Deg!
Syera langsung melotot terkejut mendengar permintaan putranya, tentu saja tidak mungkin ia mendatangi rumah Sahira saat ini karena itu bisa menjadi bumerang baginya. Meskipun ia sangat merindukan Sahira yang merupakan putri kandungnya, tapi tetap saja Syera khawatir Fatimeh akan membongkar semua mengenai masa lalunya di depan keluarga barunya nanti.
"Duh, gimana ini ya cara nolaknya?" gumam Syera dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1