Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 129. Dibuat tersipu


__ADS_3

Ting


Akhirnya pintu lift terbuka, tanpa basa-basi lagi Alan langsung menggandeng tangan Carol dan membawa gadis itu keluar. Carol hanya terdiam membisu tak dapat mencerna apa yang terjadi, dia benar-benar gugup dan tak percaya dengan apa yang dilakukan pria itu padanya saat ini.


"Lan, ka-kamu ngapain sih gandeng tangan aku terus? Lepasin dong, gak enak dilihat sama orang-orang tau!" ucap Carol panik.


"Kamu itu kenapa sih Carol? Saya cuma gandeng tangan kamu loh, apa salahnya?" heran Alan.


"Ya jelas salah dong Alan, aku gak mau ada karyawan kamu yang salah paham sama kita. Aku minta kamu lepasin aku sekarang, please ya!" ucap Carol memohon.


"Kamu diam aja, nanti begitu sampai di resto baru saya bakal lepasin kamu. Ini biar cepat aja, abisnya kamu jalannya lelet banget sih!" ucap Alan.


"Ish, sialan ya kamu! Mana ada aku lelet? Aku tuh jalannya cepet tau, udah deh kamu gausah alasan bilang aja kamu mau modus pegang-pegang tangan aku kan!" sentak Carol.


Alan terkekeh dibuatnya, "Oh ya? Kepedean banget sih kamu Carol!" ujarnya.


"Bukan gitu, tapi emang semuanya sesuai kenyataan. Kamu aja yang gak mau ngaku, ya kan?" ucap Carol.


Alan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Udah lah Carol, kamu gausah bahas yang kayak gitu terus ya!" ucapnya.


"Iya iya, omong-omong kita mau makan dimana sih? Kenapa pake keluar kantor segala?" tanya Carol penasaran.


"Eee saya mau ajak kamu makan di luar, kalau disini tuh menunya bosenin," jawab Alan.


"Ohh, parah ih kamu masa kantor sendiri dibilang bosenin!" kekeh Carol.


"Hahaha.." Alan tertawa lebar begitu juga dengan Carol, mereka lalu sama-sama bergerak menuju mobil yang terparkir di luar.


Namun, langkah mereka terhenti lantaran Nawal kembali muncul di hadapan mereka. Kali ini gadis itu tampak tersenyum lebar sembari membawa kotak makan di tangannya, Nawal terlihat mencegat mereka seolah tak membiarkan Alan serta Carol untuk pergi dari sana.


"Hai Alan! Mau kemana sih kamu buru-buru amat? Nih aku udah bawain makan siang buat kamu, makan dulu yuk!" ucap Nawal.


"Kamu lagi kamu lagi, beneran ya kamu itu bikin saya emosi terus! Kamu tuh mau apa sih Nawal? Gak bosan-bosan apa kamu begini terus, ha?" geram Alan.


"Hahaha, kenapa kamu marah begitu Alan? Apa karena aku udah ganggu kamu sama pacar baru kamu ini, iya?" ujar Nawal.


"Cukup Nawal! Saya sudah gak bisa menahan diri lagi sama kamu, sekarang kamu pergi atau saya akan minta satpam buat usir kamu!" tegas Alan.

__ADS_1


Nawal menggeleng disertai senyuman, "Kamu gak bisa usir aku, Alan. Asalkan kamu tahu, aku udah pegang rahasia kamu soal wanita yang kamu bawa ke rumah saat itu. Dia bukan pacar kamu kan? Dia cuma pacar pura-pura kamu," ucapnya.


Deg!


Alan melotot tajam mendengar perkataan Nawal, ia sungguh heran mengapa Nawal bisa mengetahui semuanya secepat itu. Sedangkan Nawal hanya tersenyum sendiri dengan dua tangan terlipat di depan, membuat Alan yang melihatnya semakin geram dan ingin segera mengusirnya paksa.


"Benar kan yang aku bilang tadi, Alan? Soalnya gak mungkin kalau dia emang pacar kamu, terus kenapa kamu bisa berduaan sama wanita lain?" ucap Nawal lagi.


"Itu bukan urusan kamu, Nawal. Intinya Floryn itu memang calon tunangan aku, dan Carol ini cuma sekretaris baru aku. Sisanya terserah kamu mau percaya atau enggak, kamu juga bebas mau berspekulasi seperti apa!" ucap Alan tegas.


Alan langsung berniat melanjutkan langkahnya bersama Carol, akan tetapi lagi-lagi Nawal dengan sigap menahannya dan berdiri di depannya.


"Tunggu dulu Alan! Kamu mau ngapain sih buru-buru amat?" ucap Nawal tersenyum.


"Udah minggir kamu Nawal, jangan halangi jalan aku! Aku dan Carol mau pergi makan siang, paham?" geram Alan.


Nawal tersenyum dibuatnya, "Ah okay, kamu boleh pergi deh Alan. Tapi, makanan buatan aku ini dibawa ya?" ucapnya.


"Maaf, aku gak suka sama masakan kamu. Mending kamu kasih ke yang lain aja, pak Agus contohnya!" ucap Alan menolak.


"Hah? Masa kamu tega sih kasih makanan aku ke pak Agus?" kesal Nawal.


"Ish, sialan emang tuh orang! Lihat aja, aku gak akan nyerah buat dapetin kamu Alan!" geram Nawal sembari mengepalkan tangannya.


Setelah Alan dan Carol pergi menjauh dengan mobil, akhirnya Nawal tak memiliki pilihan lain selain ikut pergi juga dari sana karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Tapi tentu Nawal akan terus berusaha demi bisa mendapatkan cinta Alan kembali dan memiliki pria itu seutuhnya.




Kini Alan beserta Carol telah berada di dalam mobil, mereka tampak saling terdiam satu sama lain karena perasaan canggung yang dirasakan keduanya. Apalagi baru saja Alan tadi mendengar ucapan Nawal yang ternyata telah mengetahui segala rencana palsunya, Alan pun khawatir Nawal akan menceritakan itu semua pada orangtuanya.


Sementara Carol terlihat ragu untuk mulai berbicara, ia khawatir akan mengganggu fokus Alan dalam menyetir nantinya. Walau tampak juga kalau gadis itu ingin sekali menghibur Alan, ia tahu saat ini Alan sedang galau dan bingung setelah bertemu dengan Nawal di kantor tadi. Carol pun terus memandangi wajah Alan dari samping tempatnya duduk sambil berpikir keras.


"Ada apa Carol? Kenapa kamu lihat wajah saya terus seperti itu?" tanya Alan yang ternyata menyadari apa yang dilakukan Carol.


"Hah? Eee..." Carol langsung dibuat gugup dan bingung harus menjawab apa saat ini.

__ADS_1


"Ahaha, cie kamu kayaknya mulai tertarik ya sama saya? Sampai kamu ngeliatin saya terus kayak gitu, udah lah kamu jujur aja Carol!" kekeh Alan.


"Apaan sih Lan? Aku cuma khawatir sama kamu, aku pengen hibur kamu tadinya," ucap Carol.


"Cie yang khawatir, pasti kamu cemas banget ya sampai kayak gitu? Udah tenang aja Carol, saya mah udah biasa ngadepin cewek kayak yang tadi," ucap Alan sambil tersenyum.


"Oh yaudah, berarti aku gak perlu susah-susah mikir cara buat hibur kamu. Kalo gitu kamu bisa fokus nyetir lagi sekarang," ucap Carol.


"Eits, jangan buang muka dong!" Alan malah menarik wajah Carol agar menatap ke arahnya lagi dengan satu tangannya.


"Eh apa-apaan sih kamu?!" protes Carol.


"Gak ada, saya cuma mau kamu begini aja terus sampai kita tiba di restoran nanti. Soalnya saya suka lihat wajah kamu yang bening ini," ucap Alan.


"Apaan sih kamu, Lan? Kayaknya kamu hobi banget deh gombalin cewek ya?" ucap Carol tersipu.


"Enggak tuh, jarang saya mah gombal begitu. Paling yang saya katakan itu fakta, termasuk yang barusan," ucap Alan.


"Masa sih? Perasaan aku lihat-lihat kamu itu suka banget merayu wanita," ujar Carol.


"Kenapa? Kamu cemburu kalau saya gombalin perempuan lain?" tanya Alan menggoda.


Carol sontak menganga terkejut, "Ngaco aja kamu ah! Ngapain juga aku cemburu? Udah deh jangan bahas soal itu terus!" ucapnya mengelak.


Alan terkekeh puas melihat ekspresi gadis itu saat ini, menurutnya Carol benar-benar menggemaskan dan membuatnya sulit untuk berpaling dari wajah gadis itu saat ini. Sedangkan Carol yang tersipu tampak memalingkan wajahnya, ia tahu kalau sekarang pasti wajahnya sudah memerah bagai udang direbus.


"Hey! Kamu kok malah buang muka sih? Saya ini lagi nyaman loh lihat wajah kamu, eh kamu malah buang muka," tegur Alan.


"Haish, kamu diam deh Alan! Kamu gak tahu apa kalau aku lagi salting sekarang ini? Itu gara-gara kamu tahu!" geram Carol.


"Hahaha..." Alan tertawa terbahak-bahak dibuatnya, lagi-lagi satu tangannya bergerak menarik wajah Carol dan membuat gadis itu terpaksa menatap ke arahnya kembali.


"Begini aja terus ya? Saya kan sudah bilang, saya suka lihat wajah kamu Carol," pinta Alan.


"Eee.." Carol tampak tersipu malu dan gugup dibuatnya, ia pun terdiam saja saat ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2