
Keira tampak heran melihat Ari datang ke kantornya dengan wajah murung, sontak ia langsung menghampiri pria itu dan berdiri di dekatnya dengan penasaran. Sedangkan Ari terlihat belum menyadari keberadaan sang kekasih disana, sebab dia masih melamun saja memikirkan lelaki yang sedang bersama Awan di tempat tadi.
Keira langsung saja menepuk pundak Ari dari belakang dan membuat pria itu terkejut, ia tersenyum ketika Ari menoleh ke arahnya dan lalu menarik tangan kekasihnya itu serta membawanya menuju tempat duduk. Ari menurut saja dan ikut duduk bersama Keira di tempat yang tersedia, sembari terus saling bergandengan tangan.
"Sayang, kamu kenapa sih ngelamun aja kayak gitu? Lagi ada yang dipikirin ya pasti? Cerita dong sama aku sayang!" ucap Keira dengan lembut.
"Eee gak ada kok, aku cuma nungguin kamu tadi. Kamu kan lagi kerja ya, kenapa malah nyamperin aku? Harusnya kamu fokus kerja aja dulu sayang, nanti kamu dimarahin loh!" ucap Ari.
"Gapapa, sebentar lagi kan jamnya istirahat. Lagian juga lagi gak ada kerjaan nih," ucap Keira.
"Oh gitu, pantas aja aku dibolehin masuk tadi sama pak satpam. Omong-omong bos kamu ada di dalam gak sayang?" ucap Ari.
Keira menggeleng pelan, "Enggak tuh, pak Alan lagi ada urusan di luar katanya," ucapnya.
"Oalah, terus kamu bisa gak ikut aku sebentar ke luar? Ya dekat-dekat sini aja, aku mau ngobrol sama kamu sayang," tanya Ari.
"Umm, bisa bisa aja sih kan udah jam istirahat. Emang kamu mau ngobrolin apa?" ucap Keira.
"Nanti aja aku kasih tau begitu kita sampai di tempatnya," ucap Ari.
"Okay, yaudah yuk kita ke taman samping kantor aja! Kebetulan disana asri tau, ada air mancur nya juga lagi lucu banget deh. Terus bisa lihat kolam ikan disana," usul Keira.
"Iya iya, aku ngikut kamu aja sayangku," ujar Ari sembari mencubit pipi gemas kekasihnya.
Setelahnya, mereka berdua langsung pergi menuju tempat yang diinginkan oleh gadis itu dan keluar dari kantor. Namun, baru saja mereka melangkah tiba-tiba Leonil alias sepupu Alan datang kesana dan membuat sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya di halaman kantor.
"Selamat datang pak Leon!" Keira langsung menyambut pria itu dengan ramah.
"Terimakasih, ada Alan kan di dalam? Saya mau ketemu sama dia sekarang, ada urusan penting yang mau saya bicarakan ke dia," ucap Leonil.
"Yah maaf pak, tapi pak Alan kebetulan sedang pergi ke luar. Sedari pagi beliau tidak datang kesini pak," ucap Keira.
"Oalah, kok tumben sih dia gak datang? Perasaan dia setiap hari selalu kesini deh," heran Leonil.
"Entahlah pak, mungkin pak Alan sudah cuti duluan. Sebentar lagi kan hari raya," tebak Keira.
Leonil terkekeh kecil, "Yaudah, nanti biar saya cari dia. Omong-omong ini siapa Keira? Dia karyawan sini juga?" ujarnya melirik ke arah Ari.
"Eh bukan pak, kenalin ini teman saya namanya Ari!" jawab Keira.
Ari tersentak mendengarnya, ia tentu tak terima dengan jawaban Keira barusan yang mengatakan jika dirinya hanyalah seorang teman. Padahal hubungan mereka lebih daripada itu, ya hampir semua orang tahu jika mereka adalah sepasang kekasih yang saling cinta.
"Maaf pak, bukan teman doang kali. Lebih tepatnya saya ini kekasihnya Keira," sela Ari.
Leonil manggut-manggut paham, "Ya ya ya, saya mengerti. Kamu ini Keira, kenapa tidak jujur saja ke saya sih?" ujarnya.
__ADS_1
"Eee hehe.." Keira tersipu dan menundukkan wajahnya.
•
•
Hari telah berganti, Alan dibawa ke rumah Floryn untuk menjalankan tugas membantu wanita itu meyakini orangtuanya jika sudah memiliki kekasih dan tidak ingin dijodohkan dengan lelaki lain. Awalnya Alan agak ragu melakukan itu, tetapi ia merasa ini ada untungnya juga bagi ia karena Floryn juga mau membantunya nanti.
Kini mereka sama-sama turun dari mobil, saat melihat Floryn yang muncul bersama seorang lelaki, sontak sang satpam yang bertugas disana langsung menyambut kedatangan kembali majikan satpam itu. Floryn mengangguk ramah, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan tangan menggandeng lengan pria di sampingnya.
"Umm, apa kita harus gandengan kayak gini? Kita kan gak mau nyebrang Floryn," tanya Alan di sela-sela langkah mereka.
"Gapapa lah Alan, biar papa mama aku nanti percaya kalau kita ini pacaran. Oh ya, di dalam juga kamu panggil aku sayang ya supaya makin romantis?" ucap Floryn.
"Okay, aku bakal coba deh nanti. Ya walau rasanya agak canggung sih karena kita kan baru kenal," ucap Alan tersenyum lebar.
"Coba dulu dari sekarang sayang," pinta Floryn.
Deg!
Seketika Alan terkejut mendengar Floryn memanggilnya dengan sebutan sayang, perasaannya seperti tak karuan ketika Floryn menyebut kata itu untuknya. Namun, kali ini Alan tak mau terlalu mengambil serius karena ia tahu semua ini hanyalah permainan.
"Duh, aku kok jadi grogi gini ya pas dengar kamu panggil aku sayang? Padahal aku tahu kalau ini cuma pura-pura, tapi kenapa aku malah kayak gini ya?" ujar Alan.
"Waduh, kalau misal nanti aku baper beneran gimana? Kamu mau tanggung jawab?" tanya Alan.
"Umm, tergantung. Kalau emang kamu mau lanjut ke tahap yang lebih serius, aku sih ngikut kamu aja Alan," jawab Floryn sambil tersenyum.
"Kamu jangan bilang gitu dong, aku nanti jadi berharap lebih tau ke kamu!" pinta Alan.
"Ih gapapa, tapi emang kamu mau pacaran beda agama?" tanya Floryn.
Lagi-lagi Alan dibuat terdiam, benar saja tidak mungkin dirinya menjalin hubungan ke tahap yang lebih serius dengan Floryn, apalagi mereka berbeda agama dan akan sulit urusannya jika mereka nanti sama-sama saling mencintai. Maka dari itu, Alan berniat mengurungkan niatnya untuk berharap cinta dari gadis di depannya.
"Yaudah ya, kita lanjut ngobrolnya nanti aja ya di dalam? Mending sekarang kita masuk deh, disini panas juga tau!" ajak Floryn.
Alan mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah bersama-sama menuju ke dalam rumah gadis itu. Namun, baru saja mereka tiba di teras depan, tanpa diduga sosok lelaki muncul membuka pintu dan terkejut ketika melihat keberadaan Floryn disana.
"Loh Floryn, akhirnya kamu pulang juga sayang!" ujar lelaki itu terlihat sangat gembira.
Sedangkan Floryn justru membuang muka dan mengeratkan genggaman tangannya pada Alan, "Lo ngapain di rumah gue?" tanyanya sinis ke si lelaki.
"Ngapain lagi sayang? Jelaslah aku mau ketemu kamu, tapi barusan orang tua kamu bilang kalau kamu udah gak pulang tiga hari. Makanya aku panik dan langsung mau cari kamu, untungnya sekarang kamu udah pulang," jelas si lelaki.
Floryn terdiam, Alan yang mendengarkan obrolan itu pun dapat menebak jika lelaki di depannya adalah orang yang ingin dijodohkan dengan Floryn.
__ADS_1
•
•
Saka tiba di rumah Sahira dengan niat mengajak gadisnya itu datang menemui orangtuanya bersama Fatimeh, ya Saka hendak mengenalkan mereka pada keluarganya di rumah karena ia ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Sahira, yakni menikahi gadis itu.
Begitu hendak mengetuk pintu, Saka langsung disambut oleh Fatimeh yang ternyata sudah lebih dulu keluar. Ya wanita itu pun tersenyum lebar melihat keberadaan Saka di depan rumahnya, dia memang senang sekali jika Saka bisa menikah dengan putrinya, karena pasti dia akan terciprat harta kekayaan pria itu.
"Eh nak Saka, pagi-pagi begini udah datang aja. Pasti mau ketemu sama Sahira ya? Mau apelin anak tante lagi ya?" ujar Fatimeh.
"Hehe iya tante, oh ya assalamualaikum.." Saka menyapa dengan ramah dan mencium tangan calon mama mertuanya itu, tentu saja Fatimeh dengan senang hati menyambutnya.
"Waalaikumsallam, masuk aja yuk!" jawab Fatimeh.
"Iya tante, terimakasih." tanpa menunggu lama, Saka segera masuk ke dalam rumah bersama Fatimeh setelah pintu dilebarkan.
Saat ia melangkahkan kaki, tanpa diduga Sahira sudah berada di depannya dan tersenyum ketika melihat kehadiran pria tampan itu di rumahnya. Ya Sahira sebelumnya tak tahu menahu tentang Saka yang ingin datang kesana, sebab Saka sama sekali tidak memberitahu apapun padanya.
"Eh mas Saka, kok datang ke rumah aku gak kabarin dulu sih? Tau gitu kan tadi aku bangun lebih pagi supaya bisa dandan juga," ucap Sahira tampak malu-malu.
Saka tersenyum mendengarnya, "Kamu gausah dandan juga udah cantik kok Sahira," ucapnya.
"Bisa aja kamu mas, yaudah duduk dulu yuk mas!" ucap Sahira mengajak kekasihnya duduk.
Saka menurut saja dan melangkah menuju sofa sesuai perintah Sahira, mereka pun duduk bersebelahan disana. Sedangkan Fatimeh masih berdiri memandang ke arah mereka sambil tersenyum, ia pun berniat pamit untuk melanjutkan kerjaannya di dapur agar tak mengganggu mereka.
"Eee kalo gitu tante tinggal dulu ya, nak Saka? Kamu disini aja temenin Sahira," ucap Fatimeh.
"Eh jangan tante! Udah tante ikut duduk aja disini sama kita, kebetulan saya mau bicara juga sama tante," pinta Saka.
"Oh ya? Memangnya apa yang kamu mau bicarakan Saka?" tanya Fatimeh penasaran.
"Duduk aja dulu tante, gak enak ngobrolnya kalau sambil berdiri kayak gitu!" ucap Saka.
Fatimeh manggut-manggut sambil tersenyum, lalu ia pun melangkah mendekati pasangan kekasih itu dan ikut terduduk disana. Tampak Sahira pun juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Saka pada ibunya, ia langsung melirik ke arah sang kekasih seolah bertanya-tanya.
"Jadi begini tante, alasan saya datang kesini pagi ini karena saya ingin mengajak tante dan juga Sahira untuk datang ke rumah saya bertemu dengan kedua orang tua saya," jelas Saka.
Deg!
Sahira tersentak kaget mendengarnya, sedangkan Fatimeh justru tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan Saka barusan. Fatimeh sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan pihak keluarga Saka, karena dengan begitu maka hubungan Sahira dan Saka bisa semakin dekat.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1