Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 152. Wawancara


__ADS_3

Hari berganti, begitu Sahira membuka pintu dirinya langsung berhadapan dengan sosok Alan yang ternyata sudah berdiri di depan sana menunggunya sambil tersenyum. Tentu saja Sahira amat tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini, ia tak percaya jika ternyata Alan dapat datang ke rumahnya pagi-pagi seperti ini disaat ia hendak pergi mencari lowongan pekerjaan.


Melihat Sahira berpenampilan seperti itu, sontak Alan sedikit terkejut dibuatnya. Alan yakin kalau Sahira saat ini sedang membutuhkan pekerjaan, sebab tampilan gadis itu menunjukkan kalau dia tengah berusaha melamar pekerjaan di suatu tempat. Alan pun tak ingin membiarkan gadis itu bekerja di tempat lain, karena ia selalu ingin Sahira lah yang menjadi sekretarisnya.


"Eh Ra, kamu mau kemana rapih banget kayak gini? Terus itu berkas apa yang kamu bawa? Oh aku tahu nih, pasti kamu lagi pengen cari kerja ya? Atau malah udah dapat dan sekarang kamu mau pergi interview?" tanya Alan.


Sahira memalingkan wajahnya, "Itu bukan urusan kamu, lagipula ngapain coba kamu kesini sekarang?" ucapnya ketus.


"Aku kesini karena aku kangen sama kamu, aku gak bisa hidup tanpa kamu sayang!" ucap Alan.


"Hah? Ya ampun, kamu gak perlu lebay deh Alan! Sekarang tolong minggir, karena aku harus pergi dan gak punya banyak waktu lagi buat ladenin kamu!" ucap Sahira.


Alan menahan Sahira dan memegang tangan gadis itu dengan kuat, "Kamu mau kemana sih? Kalau kamu mau pergi, yaudah aku antar ya? Aku masih pengen ngobrol sama kamu, mau ya sayang!" ucapnya membujuk gadis itu.


"Apaan sih? Gausah sayang-sayang bisa gak? Lagian aku bisa naik ojek, aku gak butuh kamu!" sentak Sahira dengan kesal.


"Ayolah Sahira, aku mau kamu bareng sama aku! Kali ini aja aku butuh bicara sama kamu, please!" ucap Alan memelas.


"Kenapa kamu jadi maksa banget sih? Daripada kamu maksa buat anterin aku, mendingan kamu pulang deh ke rumah sana!" ujar Sahira.


"Hah? Ngapain jadi bawa-bawa aku pulang sih? Itu urusan aku sayang, kamu gak perlu ikut campur! Sekarang kamu ikut aku, biar aku yang antar kamu pergi!" ucap Alan tegas.


"Kalau aku gak mau gimana? Lagian ini urusan aku, jadi sebaiknya kamu jangan ikut campur deh!" ucap Sahira menolaknya.


Alan malah tersenyum dan mendekap erat tubuh Sahira dari samping, ia tetap kekeuh memaksa agar Sahira mau ikut bersamanya karena ia ingin berada selalu di dekat gadis itu. Karena paksaan dari Alan yang tak kunjung berhenti, akhirnya Sahira menyerah dan mengiyakan saja ajakan Alan untuk masuk ke mobilnya meski sesungguhnya Sahira malas sekali berduaan dengan Alan.


Di dalam mobil, Sahira pun lebih banyak diam dan tak ingin berbicara apapun pada pria itu. Ia tampak fokus menatap ke jalan dan berusaha menenangkan dirinya sebelum sampai di toko tempat ia akan melakukan wawancara nantinya, ya sebelumnya Sahira sudah menaruh surat lamaran disana dan kini ia dipanggil oleh pihak toko untuk diwawancarai sebelum mulai bekerja.


"Ra, kamu yakin nih mau kerja di tempat baru? Kenapa kamu gak balik aja jadi sekretaris di kantor aku? Dengan begitu, aku juga bisa pulang ke rumah loh sayang," ucap Alan.


Sahira menggeleng pelan, "Gak mau, aku udah kapok jadi sekretaris kamu. Orang kamu aja galakin aku terus kok, lagian waktu itu kan kamu udah pecat aku. Ngapain coba kamu malah minta aku balik kesana?" ucapnya.

__ADS_1


"Oh gitu, yaudah deh terserah kamu. Semoga kamu betah ya kerja di tempat baru kamu!" ucap Alan.


Sahira manggut-manggut saja mengiyakan ucapan pria itu, setelahnya ia kembali diam tanpa bicara apapun pada Alan lagi. Menurutnya, tak ada gunanya ia berbicara dengan pria yang sudah sangat dibenci olehnya. Sedangkan Alan tampak tersenyum seringai dan sesekali melirik ke arah gadis itu tanpa diketahui.


"Kamu gak tahu aja Sahira, kalau tempat yang mau kamu tuju itu adalah milik saya. Dan saya sengaja pasang plang lowongan disana, supaya kamu bisa lihat," gumam Alan dalam hati.




Singkat cerita, mereka pun tiba di tempat itu dan Sahira langsung berpamitan pada Alan serta mengucap terima kasih karena sudah mengantarnya sampai ke tempat tersebut. Alan mengangguk paham, kemudian Sahira pun membuka pintu dan turun ke luar membawa berkas lamaran yang sudah ia persiapkan dari semalam untuk diberikan kesana.


Setelah Sahira turun, tampak Alan yang belum puas bertemu Sahira malah ikut menyusul turun dan mencekal lengan gadis itu dari belakang. Sontak Sahira terkejut, lalu terpaksa berhenti melangkah tepat di depan toko supermarket tersebut. Ia menoleh dan menatap Alan dengan bingung, matanya menyipit serta dahinya mengernyit tanda heran karena Alan malah menyusulnya turun kesana kali ini.


"Ra, tunggu! Aku ada kelupaan sesuatu sama kamu, sebentar ya!" pinta Alan.


"Hah apa?" tanya Sahira singkat.


"Ini buat kamu sayang, aku sengaja beli coklat ini tadi sebelum jemput kamu. Semoga kamu suka dan mau terima ini ya Sahira!" ucap Alan.


"Hadeh Lan, buat apa sih kamu pake repot-repot bawain aku coklat segala? Aku tuh mau interview, masa aku harus bawa-bawa coklat ke dalam? Apa kata orang coba?" ujar Sahira keheranan.


"Udah gapapa, kan bisa kamu simpan dulu di tas kamu. Ayolah, terima ya!" bujuk Alan.


"Eee iya deh aku terima, makasih ya Alan! Yaudah, kamu boleh pulang kok! Aku juga kebetulan mau langsung masuk ke dalam karena udah ditunggu," ucap Sahira.


"Okay, semoga interview nya lancar ya sayang! Dan semoga juga kamu bisa keterima buat kerja di supermarket ini!" ucap Alan sambil tersenyum.


Sahira menganggukkan kepalanya dan ikut membalas senyuman pria itu, lalu setelahnya Sahira langsung berbalik dan melangkah masuk ke dalam supermarket tersebut. Sedangkan Alan tetap berada di luar sana memandanginya, barulah saat dia sudah memastikan Sahira tak terlihat lagi, dia bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi manajer supermarket yang dia pekerjakan untuk meminta Sahira diterima.


📞"Halo! Lakukan semua sesuai perintah, jangan sampai kamu salah langkah!" ucap Alan di telpon.

__ADS_1




Begitu memasuki supermarket tempat dimana Sahira ingin melamar kerja, ia mulai merasa gugup dan bingung apakah mungkin ia bisa bekerja di tempat sebesar itu atau tidak. Apalagi terlihat kalau disana sangat ramai dan banyak sekali pelanggan yang datang, Sahira pun mulai ragu karena ia belum memiliki pengalaman apapun untuk bekerja sebagai pegawai di supermarket tersebut.


Perlahan gadis itu melangkah lebih dalam menyusuri supermarket, sampai kemudian ia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan manager disana. Sontak Sahira agak kaget melihatnya, ia tersenyum saat manager bernama Anita itu menyapanya. Tak lupa mereka bersalaman sebentar sebelum Anita mengajak Sahira menuju ruangannya, ya tentu disana nanti Sahira akan melakukan interview bersamanya.


Saat tiba di ruangan sang manager, Sahira pun tampak semakin gugup. Ketegangan jelas terlihat di wajah gadis itu karena ia benar-benar khawatir kalau lamarannya kali ini akan ditolak, jujur saja Sahira sudah sangat sulit untuk mencari pekerjaan setelah memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan Saka. Maka dari itu, Sahira tidak ingin jika ia sampai kehilangan pekerjaan itu.


Menit demi menit berlalu, akhirnya Sahira berhasil menyelesaikan sesi wawancara itu dengan baik dan mendapat apresiasi dari Anita. Meski begitu, tetap saja Sahira masih gugup karena hasil dari wawancara itu belum diberitahukan. Anita sendiri merasa senang dapat mengenal Sahira, ia pun tak menyesal sudah melakukan perintah Alan untuk menerima gadis itu, sebab ia tahu kalau Sahira memiliki potensi besar disana.


"Baiklah, semuanya sudah selesai Sahira. Kamu bisa pulang sekarang dan saya akan mengabarkan hasilnya lebih lanjut, saya janji tidak akan lama dan paling lambat besok kamu sudah dapat mengetahui hasilnya," ucap Anita.


"Oh begitu, baik bu saya paham! Kalau gitu saya mohon pamit ya bu?" ucap Sahira tersenyum.


"Ya silahkan, hati-hati ya kamu dan jangan lupa selalu pantau email kamu karena saya akan mengabari kamu lewat itu!" ucap Anita.


"Siap bu!" ucap Sahira patuh sembari beranjak dari kursinya dan bersiap pergi.


Setelahnya, Sahira bergegas keluar dari ruangan itu dan tampak mengusap dadanya sembari mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri selepas ketegangan yang tadi ia alami. Sungguh Sahira sangat berharap jika hasil wawancaranya kali ini akan berhasil, karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bekerja disana dan bisa memberikan uang pada ibunya.


"Huh semoga aja hasilnya positif dan gue bisa kerja di tempat ini!" ujar Sahira penuh harap.


Disaat Sahira membuka pintu dan keluar dari supermarket tersebut, ia terkejut karena tiba-tiba ada Alan di hadapannya yang ternyata memang masih berada disana menunggunya. Sahira pun sampai terdiam tak berkutik melihatnya, sedangkan Alan juga bergerak mendekati gadis itu sambil tersenyum lebar.


"Alan, loh kok kamu masih disini? Ngapain coba?" tanya Sahira terheran-heran dan tak percaya jika Alan masih berada di supermarket itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2