
Alan menggeleng pelan, "Buat apa aku percaya kamu? Aku lebih percaya Lisa blackpink lahir di Cikarang daripada kata-kata kamu tadi," ucapnya.
Nawal mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang mantan barusan, "Ih apa sih? Aku serius tau Alan!" ujarnya.
"Kamu pikir aku bercanda? Udah deh, kamu keluar sekarang dan jangan balik lagi!" ucap Alan.
"Kalau aku gak mau gimana? Aku bakal tetap disini sampai kamu mau dengerin kata-kata aku tadi," ucap Nawal.
"Yaudah, nanti aku telpon security buat seret kamu pergi dari sini," ancam Alan.
Nawal sontak kaget mendengarnya, "Apaan sih Alan? Kamu jangan gitu dong sama aku!" ucapnya sedikit panik.
"Suka-suka aku lah, ini kantor aku dan aku berhak melakukan apa yang ingin aku lakukan," ucap Alan.
"Okay okay, aku bakal pergi dari sini. Kamu gak perlu panggil security atau siapapun itu buat usir aku, tapi sekarang aku minta kamu buat maafin aku dan mau balikan sama aku lagi," ucap Nawal.
Alan mengusap wajahnya sambil menggeleng mendengar perkataan Nawal, "Kamu udah gak waras apa gimana sih? Gila aja kamu masih ngarep balikan sama aku disaat kamu udah mau nikah sama laki-laki lain!" ucapnya kesal.
"Ih kamu tuh susah banget dikasih tau ya? Aku gak mau nikah sama dia, aku tuh cuma cinta dan sayang sama kamu Alan," tegas Nawal.
"Udah deh aku gak tahan lagi sama kamu, ayo ikut aku sekarang!" kesal Alan.
Tanpa basa-basi lagi, Alan kembali menggenggam tangan Nawal dan memaksanya pergi. Nawal terus meronta-ronta, namun tak membuahkan hasil sebab tenaganya kalah jauh. Akan tetapi, tiba-tiba saja seseorang berteriak menahannya dan membuat lelaki itu terkejut.
"Alan berhenti!" teriak seorang lelaki dari kejauhan.
Sontak Alan menghentikan langkahnya, ia juga mengurungkan niat untuk menekan tombol lift setelah melihat papanya berdiri di depan sana dengan tangan terkepal. Alan sungguh tak mengerti bagaimana bisa papanya berada disana, karena setahu ia sang papa masih ada di luar negeri dan belum kembali ke Indonesia.
"Papa?" lirih Alan menyebut papanya, bibirnya' gemetar dan cengkeramannya pada tangan Nawal pun reflek terlepas.
"Om Alfian? Apa kabar om? Aku senang banget deh bisa ketemu om lagi," sapa Nawal yang langsung menghampiri lelaki di depannya dan mencium tangannya.
"Ahaha, om baik kok Nawal. Kamu sendiri gimana? Gak kenapa-napa kan?" ucap papanya Alan yang bernama Fajar sadboy, eh bukan Fajar Alfian.
"Aku juga baik dong om, ya walau ada sedikit masalah," ucap Nawal sambil melirik ke arah Alan.
Wajah Fajar seketika berubah penasaran, ia turut menatap wajah putranya seolah bertanya ada apa diantara mereka. Pasalnya yang Fajar tahu, hubungan Alan dan Nawal itu masih baik-baik saja dan tidak ada masalah. Ia tak tahu apa-apa mengenai kandasnya hubungan mereka.
"Hah? Ada apa Nawal? Kamu sama Alan sedang ada masalah? Kok kalian gak pernah cerita sama papa sih? Alan, kamu apain emangnya Nawal ini?" tanya Fajar sangat penasaran.
"Aku gak apa-apain dia kok pa, emang diantara kita udah gak ada hubungan aja," jawab Alan.
"Loh loh, maksud kamu apa Alan? Kenapa kamu bilang begitu? Bukannya kalian pacaran dan sebentar lagi akan menikah?" kaget Fajar.
"Iya pa, tapi tiba-tiba hubungan aku sama Nawal kandas di tengah jalan. Sejak Nawal bilang kalau dia mau putus dari aku," jelas Alan.
"Apa??" Fajar sangat terkejut mendengarnya, ia masih tak percaya jika hubungan putranya dengan Nawal telah usai.
•
•
Tiba-tiba Yoshi malah mengecup pipinya dari arah samping, seketika Cat menganga tak menyangka dan memegangi pipinya yang terkena kecupan singkat itu. Ia masih terheran-heran seolah tak percaya jika barusan Yoshi mengecupnya, baru saja ia hendak menoleh dan berbicara, tapi lagi-lagi Yoshi mengecup pipinya.
"Yoshi, kamu apa-apaan sih? Kenapa coba kamu cium aku tapi gak bilang-bilang dulu? Gak boleh gitu tau!" protes Cat.
"Loh kok kamu malah marah? Bukannya itu ya yang kamu mau tadi? Buktinya kamu sampe merem kayak gitu, tandanya kamu kan emang kepengen aku cium," goda Yoshi.
"Sayang ih jangan gitu dong! Kamu mah bikin aku bete terus!" ujar Cat.
"Hahaha, iya iya gak lagi deh. Aku minta maaf ya cantik? Sekarang aku mau keliling dulu jualin roti-roti ini, kamu baik-baik ya disini?" ucap Yoshi.
"Iya sayang," singkat Cat.
Tanpa diduga, Yoshi menarik dan menahan tubuh Cat ke dekatnya. Lelaki itu mengecup lembut kening sang kekasih cukup lama, Cat hanya bisa diam pasrah menikmati kecupan hangat yang diberikan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Udah ya sayang, bye!" pamit Yoshi setelah melepas ciumannya sambil melambaikan tangan.
"Bye sayang!" balas Cat yang juga turut melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
Yoshi pun berbalik dan naik ke atas motornya, ia memakai helm lalu bergegas menancap gas untuk pergi dari toko tersebut dan menjajakan roti yang ia bawa menggunakan motor. Sedangkan Cat berniat kembali ke dalam toko untuk melanjutkan pekerjaannya, tapi ia malah melihat sosok pria tengah berdiri di depannya dengan tatapan tajam.
"Wah wah wah, sekarang kamu jadi kayak gini ya kerjanya Cat? Bukannya kerja makin bagus, malah makin parah. Bisa-bisanya kamu pacaran di tempat saya, mau jadi apa kamu ha?" tegur si pria.
Cat benar-benar gugup, ia menunduk tak berani menatap wajah pria di depannya yang sudah tentu adalah sang pemilik toko roti tersebut. Ya memang pria itu jarang sekali datang kesana, hanya sesekali saja untuk memeriksa kondisi dan juga mengecek apa-apa saja yang dibutuhkan.
"Maaf pak, saya tapi sudah melakukan kerja saya dengan baik kok. Ya kalau bapak gak suka saya pacaran di tempat kerja, saya mohon maaf ya pak!" ucap Cat gugup.
"Iya jelas saya tidak suka, tindakan kamu itu gak benar dan bisa saja dicontoh sama karyawan yang lain nantinya! Mending kamu sama si Yoshi itu jauh-jauh aja deh selama di tempat kerja, saya gak mau kalian bikin saya rugi!" ucap si pria.
"Baik pak, nanti akan saya usahakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang tadi lagi. Sekali lagi saya mohon maaf ya pak?" ucap Cat.
"Okay gapapa, kali ini saya maafkan kamu. Tapi, kamu sekarang masuk dan kerja yang benar! Saya gak mau lihat kamu pacaran lagi di tempat kerja kayak tadi!" tegas si pria pemilik toko.
"I-i-iya, siap pak!" ucap Cat mematuhi perintah bosnya.
Setelahnya, Cat langsung masuk begitu saja melewati sang pemilik toko. Cat benar-benar malu sekaligus cemas karena kepergok oleh sang bos saat sedang asyik bermesraan dengan Yoshi, ia pun jadi merasa bersalah sebab sudah melakukan kelalaian dengan berpacaran di tempat kerja.
•
•
Hari sudah sore, Sahira pulang ke rumah seorang diri dan langsung membuka pintu sembari mengucap salam. Kali ini ia tidak diantar oleh Alan maupun Saka, sebab kedua pria itu sedang bersama orang tua mereka yang baru kembali dari luar negeri. Sahira pun merasa lega karena ia tidak harus berurusan lagi dengan mereka saat ini.
Ceklek
"Assalamualaikum, Bu." Fatimeh bergegas melangkah ke depan saat mendengar suara Sahira mengucap salam.
"Waalaikumsalam," jawab Fatimeh sambil berjalan ke arah anak gadisnya itu.
"Eh lu Sahira? Kok sendirian aja sih? Dua bos lu yang ganteng itu gak anterin lu lagi kayak biasanya?" sambungnya bertanya keheranan.
"Lah lu bego apa gimana sih Sahira? Bisa-bisanya lu malah senang pulang sendiri? Padahal kalo lu dianterin sama mereka kan lumayan, lu bisa irit ongkos tau Sahira," ucap Fatimeh.
"Itu gak penting buat dibahas Bu, sekarang ada sesuatu yang mau aku tanyain ke ibu," ucap Sahira.
"Yah elah lu mah selalu begitu deh, tiap kali gue bahas dua bos lu itu pasti lu selalu aja menghindar. Sebenarnya lu tuh mau punya pasangan apa kagak sih, ha?" ujar Fatimeh.
"Maksud ibu apa sih? Kenapa jadi nyambung ke pasangan coba? Kan ibu tadi lagi bahas soal pak Saka sama pak Alan," heran Sahira.
"Ya gue tahu mereka itu pada suka sama lu Sahira, ini kesempatan tau buat lu supaya lu bisa memperbaiki keturunan. Emangnya lu mau hidup miskin terus kayak gini?" ucap Fatimeh coba menjelaskan maksudnya pada sang putri.
Sahira tersenyum saja menanggapi ucapan ibunya, ia sungguh malas jika Fatimeh sudah membahas mengenai jodoh atau masa depannya. Padahal untuk saat ini Sahira sedang ingin fokus pada karir dan juga bagaimana caranya untuk menghidupi keluarganya yang sederhana itu.
"Lo kenapa malah diam aja? Pasti deh lu selalu begini kalo gue bahas soal jodoh, mau sampai kapan lu jomblo terus Sahira?" heran Fatimeh.
"Aku cuma lagi gak mau mikirin itu Bu, lagian kalau udah jodoh juga gak bakal kemana kok. Emang ibu kenapa kepengen banget aku nikah sama pak Saka atau pak Alan sih Bu?" ucap Sahira.
"Ya gapapa pengen aja, gak ada salahnya kan lu nikah sama mereka?" ujar Fatimeh.
"Ibu yang bener aja deh, masa iya aku nikah sama dua cowok sekaligus? Apalagi mereka adik-kakak, itu gak bener tau Bu," ucap Sahira.
"Siapa juga yang nyuruh lu nikahin mereka berdua langsung? Lu pilih lah salah satu, tapi kalau saran gue ya mending lu nikah sama pak Saka aja, soalnya dia orangnya baik banget tau!" ucap Fatimeh.
"Ah ibu ini, aku belum mau mikir soal nikah Bu. Udah ya ibu jangan bahas itu lagi!" ucap Sahira.
"Ya ampun Sahira, lu udah gede dan udah saatnya lu buat nikah!" ucap Fatimeh.
"Aku capek Bu, udah dulu ya aku mau istirahat ke kamar?" ucap Sahira.
Fatimeh mencekal lengan Sahira dan tak membiarkan wanita itu pergi dari sana, sontak Sahira kembali pasrah untuk tetap berada disana bersama ibunya.
__ADS_1
"Lu disini dulu, kalo lu maksa pergi nanti gue marah besar sama lu!" ancam Fatimeh.
"Iya Bu iya.." Sahira mengiyakan saja ucapan ibunya itu.
•
•
Keesokan harinya, Sahira telah menyiapkan makanan pada rantang yang ia pegang. Fatimeh yang baru datang pun terheran-heran melihat Sahira memasukkan makanan tersebut ke dalam rantang, sebab tak biasanya Sahira membawa bekal saat bekerja dan membuat Fatimeh berpikir keras.
"Heh! Ngapain lu masukin makanan ke rantang kayak gitu? Buat siapa tuh makanan, ha?" tanya Fatimeh pada putrinya.
Sahira menoleh dan tersenyum ke arah ibunya, "Buat siapa lagi kalau bukan pak Saka, Bu?" jawabnya dengan santai.
"Lah serius lu? Sejak kapan lu jadi perhatian gini sama tuh orang?" heran Fatimeh.
"Sejak semalam, kan ibu yang bilang kalau aku harus pilih pak Saka karena dia baik. Nah, sekarang aku mau kasih makanan ini buat dia sebagai tanda aku terima dia Bu," ucap Sahira.
"Yang bener lu Sahira? Kalau iya, gue senang banget nih dengarnya. Duh, gak sabar gue jadi orang kaya!" ujar Fatimeh.
"Iya Bu, ngapain juga aku bohong coba? Ini baru mau aku kasih ke pak Saka nanti kalau ketemu di kantor, makanya ibu doain ya semoga pak Saka suka sama masakan aku!" ucap Sahira.
"Aamiin, pasti itu mah Sahira. Gue kan pengen banget lu jadian sama dia," kekeh Fatimeh.
Sahira tersenyum saja sambil menggelengkan kepala, ia pun lanjut memasukkan makanan itu ke dalam rantang.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum," tiba-tiba terdengar suara ketukan disertai ucapan salam dari arah luar rumah mereka.
"Waalaikumsallam, siapa itu ya Bu? Kok pagi-pagi udah ada yang datang aja? Perasaan biasanya enggak deh," heran Sahira.
"Mana gue tahu? Udah sana lu buka aja deh biar tau siapa yang datang!" suruh Fatimeh.
"Iya Bu." Sahira mengangguk saja menuruti perkataan ibunya, ia meninggalkan sejenak rantang berisi makanan itu di meja dan langsung melangkah ke depan untuk mencari tahu siapa yang datang.
"Waalaikumsallam..." Sahira berteriak sambil membuka pintu agar orang di depan itu berhenti bersuara.
Ceklek
Betapa terkejutnya Sahira, yang ia lihat di depannya saat ini adalah Awan alias pria yang memang menyukainya sejak lama dan ingin memilikinya. Tapi, tentu Sahira tidak bisa membalas perasaan Awan sebab ia tak menyukai pria itu dan juga ia tidak memikirkan mengenai lelaki.
"Halo Sahira, selamat pagi!" sapa Awan sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Eee i-i-iya, pagi juga bang. Ada apa ya bang Awan kesini?" ucap Sahira gugup.
"Gak kok, aku cuma mau ketemu sama kamu aja. Mumpung kamu belum berangkat kerja," ucap Awan.
"Oh gitu, yah tapi ini sebentar lagi aku udah mau berangkat bang. Jadinya aku gak bisa temenin kamu lama-lama deh," ucap Sahira.
"Ah gapapa, malahan aku senang dengarnya. Kamu berangkat bareng aku aja ya? Biar aku antar kamu sampai depan kantor," usul Awan.
"Hah? Ja-jangan bang, gausah repot-repot!" tolak Sahira merasa tidak enak.
"Gapapa Sahira, kamu—"
"Siapa yang datang Sahira?" ucapan Awan terputus oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan Fatimeh dari dalam rumah itu.
Sontak keduanya menoleh ke asal suara, tampak Fatimeh sudah berada di dekat mereka dengan menenteng rantang Sahira di tangannya. Mata wanita itu mengarah pada Awan, seolah menunjukkan ia tidak suka padanya.
"Oh jadi lu yang datang Wan? Mau ngapain lagi sih lu kesini? Pengen deketin anak gue? Jangan ngarep deh, nih lihat Sahira aja udah siapin bekal buat Saka si bosnya!" ujar Fatimeh.
"Ibu!" Sahira langsung menegur ibunya dan terlihat sangat kesal karena ucapan sang ibu barusan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...MAU VOTE SAMA GIFT JUGA BOLEH, YANG PENTING MAH KOMEN BIAR SEMANGAT...