Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 147. Marah


__ADS_3

Setelah menemui Sahira kemarin dan mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini pada gadis itu, Alan pun kembali mendatangi Carol di kost tempat gadis itu berada. Ia turun dari mobilnya, lalu dengan segera melangkah menuju depan pintu kost sambil menenteng bunga di tangannya yang tadi ia beli saat di jalan.


Alan mulai mengetuk pintu dengan perlahan dan tak lupa memanggil nama Carol, berharap agar gadis cantik itu keluar menemuinya. Betul saja, tak butuh waktu lama akhirnya Carol keluar dengan senyum tipisnya menghadap pria itu. Jujur Carol terkejut dengan kehadiran Alan disana, apalagi sejak kemarin ia selalu mencari pria itu, namun tidak dapat ia temukan.


"Eh Alan, ada apa kamu balik ke kostan aku? Aku kira kamu udah gak mau kesini lagi loh," tanya Carol penasaran.


Alan tersenyum dan menyodorkan bunga di tangannya kepada gadis itu, "Aku kesini karena aku kangen sama kamu sayang, nih aku ada bunga loh buat kamu," jawabnya santai.


"Eee iya makasih, tapi ini dalam rangka apa ya kamu kasih aku bunga kayak gini? Gak biasanya kamu begini," ujar Carol keheranan.


"Gak ada kok, aku emang kepengen kasih bunga aja buat kamu sayang. Kita ini kan pacaran, jadi ya aku mau bikin kamu bahagia dong," ucap Alan menggoda gadis itu.


"Maaf, sejak kapan ya aku setuju kalau kita pacaran? Semuanya kan baru keputusan sepihak kamu, aku belum ada kasih jawaban apa-apa tuh," ucap Carol.


"Udah lah sayang, kamu gak perlu malu-malu kayak gitu! Aku tahu kok kalau kamu itu suka sama aku, ya kan sayang?" ucap Alan sensual.


Carol menggeleng pelan, "Enggak tuh, meski kamu udah ambil first kiss aku tapi bukan berarti aku suka sama kamu. Mending sekarang kamu pergi deh, temuin aja tuh si Floryn!" ucapnya ketus.


"Kok kamu jadi bawa-bawa Floryn sih? Apa kamu cemburu karena aku dekat sama dia?" tanya Alan.


"Apaan sih, siapa yang cemburu? Aku cuma gak mau jadi pengganggu di hubungan kalian aja, lagian kalian itu kelihatan cocok kok. Harusnya kamu pacaran beneran aja sama dia," jawab Carol.


"Sok tahu banget sih kamu, orang aku cocoknya sama kamu kok. Ayolah Carol, kamu terima ya aku jadi pacar kamu!" bujuk Alan.


"Kenapa kamu mau pacaran sama aku? Apa kamu itu sebenarnya cuma kepincut sama tubuh aku, iya?" tanya Carol.


Deg!


Alan tersentak kaget, rupanya Carol menyadari maksud dirinya mendekati gadis itu hanya karena ingin mencicipi tubuhnya. Alan memang sudah berhasil mencuri ciuman pertama Carol, tapi itu saja tentu tidak cukup dan Alan menginginkan seluruh tubuh Carol untuk ia nikmati. Ya hanya saja semuanya tidak akan mudah, karena Alan yakin kalau Carol tak mungkin mau memberikannya.


"Gak gitu sayang, aku beneran cinta kok sama kamu. Kalau emang aku incar tubuh kamu doang, kemarin waktu kita tidur bareng pasti aku udah lakuin sesuatu ke kamu. Tapi, buktinya enggak kan?" ucap Alan santai.


Carol terdiam memikirkan perkataan Alan, "Benar juga sih yang dibilang sama Alan, dia waktu itu emang gak apa-apain aku. Tapi, kok aku masih ragu ya sama dia?" gumamnya dalam hati.


Tiba-tiba, Alan mendekat dan menangkup wajah Carol. Tanpa memberi aba-aba, pria itu langsung mengecup bibir yang sudah menjadi candu baginya sembari mendorong tubuh Carol perlahan memasuki kamar kostnya. Alan terus mendorong Carol sampai menempel pada dinding, lalu dua tangannya menahan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.


"Mmppphhh mmppphhh..."


Gadis itu memukul-mukul dada bidang si pria berharap Alan mau melepaskan ciumannya, jujur ia terkejut dengan gerakan tiba-tiba Alan yang tadi menciumnya dan nafasnya kini juga sudah mulai hilang akibat perlakuan pria itu. Namun, Alan seolah tak perduli dan malah semakin memperdalam aksinya memanfaatkan mulut Carol yang terbuka. Pria itu langsung memasukkan lidahnya dan menari-nari di dalam sana.


"Aku suka sama tubuh kamu, Carol. Kalau kamu gak mau jadi pacar aku, ya minimal kamu harus serahkan tubuh kamu ke aku!" batin Alan.


Setelahnya, Alan melepas ciuman itu dan tersenyum ke arah si gadis. Sedangkan Carol tampak mengambil nafas sedalam mungkin untuk mengembalikan energinya, gadis itu benar-benar tak menyangka kalau Alan akan bertindak sekasar itu padanya. Bahkan, kali ini Alan kembali menarik tangan Carol dan melemparnya begitu saja ke ranjang tanpa belas kasihan.


Bruuukkk


"Awhh, kamu apa-apaan sih Alan? Kamu mau apa? Katanya kamu beneran cinta sama aku, kenapa kamu malah mau perkosa aku?" tanya Carol.


"Hahaha, mikirnya udah kemana-mana aja sih kamu. Siapa juga yang mau perkosa kamu, hm? Jangan kege'eran deh sayang, orang aku cuma pengen kamu tiduran disitu!" jawab Alan.


Carol menggeleng dan berusaha bangkit, namun Alan lebih dulu menahannya lalu menindih tubuh gadis itu disana. Tak lupa juga kedua tangan Carol yang kini dicengkeram erat dan ditaruh di atas kepalanya, Carol pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa terdiam pasrah dengan apa yang akan dilakukan pria itu saat ini.


"Lan, kamu mau apa? Tadi katanya kamu gak pengen ngapa-ngapain aku, kenapa sekarang kamu malah ikut tiduran di atas aku coba? Lepasin tangan aku deh, aku mohon!" rengek Carol.

__ADS_1


"Ntar dulu Carol, kamu bilang dulu kalau kamu mau jadi pacar aku! Baru deh aku bakal lepasin tangan kamu," pinta Alan.


Carol menggeleng penuh rasa takut, "Aku gak bisa Lan, aku gak mau nyakitin hati Floryn. Aku rasa dia itu beneran suka sama kamu, jadi kamu mending jadian sama dia aja ya?" ucapnya gugup.


"Hah? Kamu gausah sok tahu deh, mana mungkin dia bisa suka sama aku?" ujar Alan.


"Aku yakin Lan, coba aja dulu kamu tanya ke dia! Pasti dia bakal jawab iya kok, dan kalian bisa langsung jadian," ucap Carol.


"Kalau aku gak mau, gimana? Aku itu pengennya kamu yang jadi pacar aku Carol, bukan Floryn!" kekeuh Alan.


"Tapi Lan, aku gak bisa pacaran sama kamu. Ada mbak Nawal juga kok yang masih cinta sama kamu, silahkan kamu jadian sama dia!" ucap Carol.


Alan mengernyitkan dahinya keheranan, "Kenapa kamu jadi bawa-bawa Nawal? Apa yang dia udah bilang ke kamu, hm? Atau jangan-jangan kamu ini dicuci otaknya sama dia ya?" ucapnya curiga.


"Ih gak gitu Alan, aku tuh cuma kasihan sama mbak Nawal. Dia kayaknya tergila-gila banget tau sama kamu," ucap Carol.


"Terus kenapa?" tanya Alan heran.


"Eee ya kamu minimal balas perasaan dia lah, kasihan tahu kalau dia gak kamu hargai kayak gitu!" jawab Carol.


"Udah udah, jangan bahas siapapun lagi sekarang!" pinta Alan.


Carol benar-benar gugup dan cemas saat Alan semakin bergerak mendekati wajahnya, pria itu pun kembali membungkam bibirnya tak lama setelah itu. Ciuman panas mereka pun kembali terjadi disana, tentunya semakin panas karena posisi mereka saat ini sudah sangat mendukung untuk melakukan hal yang lebih dari pada sebelumnya.


"Saya akan rebut sesuatu yang paling berharga dari kamu, Carol!" batin Alan.




Kini mereka berdua duduk berhadapan pada kursi yang tersedia, Sahira sudah tampak sangat penasaran dengan apa yang ingin diberitahu oleh Cat padanya. Apalagi sejak semalam memang Sahira selalu memikirkan hal ini, sebab tak biasanya Cat mengajaknya bertemu di luar untuk membahas sesuatu. Biasanya Cat selalu datang ke rumahnya atau berbicara melalui telpon, itu artinya kali ini Cat benar-benar serius.


"Lo sebenarnya mau bicara apa Cat? Kenapa kita harus ketemuan disini dan cuma berdua? Wati gak sekalian lu ajak?" tanya Sahira penasaran.


Cat menggeleng sembari menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan di atas meja, "Gak Ra, soalnya ini menyangkut hubungan lu sama pak Saka. Lu sama dia bener kan masih pacaran sampe sekarang?" jawabnya.


Sahira manggut-manggut perlahan, "Eee iya bener, untuk sekarang sih belum ada kata putus diantar kita. Cuma gue udah lumayan lama gak berhubungan sama dia lagi," ucapnya.


"Nah itu dia, pas banget berarti gue temuin lu sekarang ini!" ucap Cat.


"Hah? Emang lu mau bahas soal apa sih Cat? Kelihatannya kayak serius banget, awas loh kalo gak penting!" heran Sahira.


"Ini penting kok buat lu, gue jamin lu bakal makasih banget sama gue nantinya!" ujar Cat.


Sahira pun mengernyitkan dahinya dan amat penasaran, "Gue jadi makin kepo deh, lu emang mau bicara apa sih Cat? Udah ah cepetan sekarang aja bicaranya!" ucapnya penuh penekanan.


"Hehe, iya deh iya gue bakal kasih tahu lu sekarang kok. Tapi, lu tenang dulu ya dan jangan terlalu tegang gitu!" ucap Cat tersenyum lebar.


"Iya ini gue santai, udah cepetan apa yang mau lu kasih tahu ke gue! Waktu gue gak lama, karena abis ini gue mau cari kerja buat nambah-nambah uang!" ucap Sahira.


"Hah cari kerja? Emangnya lu udah gak kerja di kantornya pak Saka lagi, Ra?" kaget Cat.


Sahira mengangguk perlahan, "Kemarin gue udah ajuin surat pengunduran diri, ya soalnya gue gak bisa kerja disana lagi," ucapnya.

__ADS_1


"Loh kenapa? Kan enak tau kerja di kantor yang besar dan mewah kayak gitu," heran Cat.


"Hadeh, udah deh Cat jangan bahas yang lain terus! Buruan lu kasih tahu gue, apaan yang pengen lu bicarain tadi!" kesal Sahira.


"Eh iya iya, duh gue jadi lupa. Sebentar, nih fotonya ada di hp gue!" ucap Cat.


"Foto? Foto apa?" tanya Sahira penasaran.


Tak lama kemudian, Cat mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan sebuah foto yang sebelumnya ia ambil. Seketika Sahira terbelalak melihat foto tersebut, gadis itu tampak tak menyangka kalau ternyata yang ada di foto itu adalah Saka, kekasihnya. Dan yang membuatnya tambah kaget adalah, disana juga ada sosok wanita yang tak lain ialah Floryn.


"Apa? Jadi benar yang dibilang Alan, mas Saka emang selingkuh di belakang aku sama Floryn?" gumam Sahira dalam hati.




Disisi lain, Saka dibuat kaget saat Silvi memberi kabar bahwa adanya surat pengunduran diri yang diajukan oleh Sahira kemarin pagi. Sungguh Saka tak menyangka dengan apa yang dilakukan gadis itu, padahal dia baru bekerja beberapa hari saja disana bersamanya. Saka pun terlihat emosi dan menggeram kesal, ia sampai mengacak-acak barangnya yang ada di meja saat ini.


Silvi yang melihat itu pun dibuat takut, namun ia hanya bisa diam menyaksikan amarah Saka yang begitu menakutkan. Tidak biasanya Saka sampai semarah itu, meski beberapa kali sempat ada kejadian yang bisa memancing emosinya. Ya Saka adalah tipe orang penyabar, tetapi jika sudah menyangkut Sahira maka Saka pun tidak bisa menahan dirinya lagi.


"Aaarrgghh sial! Kenapa kamu lakuin ini Sahira? Kenapa?" geram Saka mengacak-acak rambutnya.


Perlahan Silvi mendekati bosnya untuk membantu menenangkannya, "Pak, yang sabar ya! Saya yakin bapak bisa dapat asisten yang lebih baik daripada Sahira kok," ucapnya pelan.


"Bukan masalah asisten penggantinya, tapi saya gak terima aja kalau Sahira mengundurkan diri secara tiba-tiba kayak gini!" ucap Saka.


"Lalu bapak inginnya bagaimana? Apa surat pengunduran diri ini saya tolak, pak? Supaya Sahira tetap harus bekerja di perusahaan ini sampai kontraknya selesai," tanya Silvi.


"Ya, tapi biar itu jadi urusan saya. Kamu kembali saja bekerja, urus semuanya!" ucap Saka.


"Baik pak!" ucap Silvi menurut.


Setelahnya, Silvi memutuskan keluar dari ruangan pria itu yang sudah teracak-acak. Sedangkan Saka kini terduduk di kursinya, bersandar dengan santai sambil menetralkan nafasnya. Ia lalu mengambil ponselnya, berusaha menghubungi nomor Sahira tetapi tidak bisa. Akhirnya Saka kembali menggeram kesal, ia melempar ponsel itu ke lantai sampai hancur berkeping-keping.


"Haaahhh! Kamu kemana sih Sahira? Kenapa telpon kamu selalu gak aktif? Apa kamu emang sengaja ingin menghindar dari saya? Tapi kenapa? Tolong jelaskan Sahira!" kesal Saka.


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja, sebuah ketukan pintu terdengar dan membuyarkan amarah pria itu. Sontak Saka berusaha mengatur nafasnya, lalu mempersilahkan orang di luar sana untuk masuk. Dan tak lama, pintu terbuka kemudian seorang wanita cantik tampak memasuki ruangan itu dengan gaya modisnya disertai senyuman singkat.


"Halo pak Saka yang terhormat! Apa kabar?" ucap wanita itu menegurnya.


Saka benar-benar terkejut dibuatnya, ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah si gadis seolah tak percaya. Sedangkan wanita itu hanya diam memandang wajahnya sambil terus melangkah ke dekatnya, sampai kemudian dia berhenti tepat di hadapan Saka dan mengulurkan tangannya seolah mengajak bersalaman.


"Pak, kita salaman dulu sebagai tanda kalau diantara kita tidak ada masalah dan masih baik-baik aja!" ucap wanita itu.


"Nawal, mau apa kamu datang ke kantor saya? Jika kamu mencari Alan disini, maka kamu salah karena dia gak ada. Kamu bisa datangin dia ke kantornya aja," ucap Saka.


Ya wanita itu ialah Nawal yang tak lain adalah mantan kekasih Alan, alias adiknya sendiri.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2