Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 79. Salah terus


__ADS_3

Wati pun menunduk bingung, ia tak mengerti harus bagaimana lagi menjelaskannya pada Keira. Sedangkan Keira sendiri tampak terus terbakar emosi pada Wati, gadis itu tak berhenti menuduh Wati adalah wanita penggoda kekasihnya. Padahal Wati sama sekali tak pernah menggoda Ari, ya meski ia memiliki rasa terpendam pada lelaki itu.


"Kenapa diam kamu? Gak bisa bicara lagi kan sama saya? Makanya lain kali pikir-pikir dulu kalo mau godain cowok orang, saya bisa ya acak-acak lapak kamu ini kalau saya mau!" ujar Keira.


"Jangan mbak! Saya mohon jangan berantakin lapak saya mbak! Ini satu-satunya mata pencaharian saya mbak," mohon Wati.


"Kamu pikir saya perduli dan kasihan sama kamu? Kamu salah ya, karena saya justru makin jijik lihat kamu mohon-mohon kayak gitu di depan saya! Dasar wanita penggoda cowok orang!" ucap Keira.


"Saya minta maaf mbak, tapi saya beneran gak pernah godain mas Ari pacar mbak," ucap Wati.


"Bohong! Kalau kamu gak godain dia, terus ngapain dia tadi senyum-senyum sama kamu? Kalian berdua juga kelihatan akrab," ujar Keira.


"Eee mas Ari emang udah sering bantu saya mbak, termasuk dia juga yang suruh saya jualan disini dengan biaya sewa rendah. Tapi, diantara kami tidak ada hubungan apa-apa kok mbak," ucap Wati.


"Ah aku gak percaya sama kata-kata kamu ya perempuan murahan!" sentak Keira.


Wati tersentak dan mengeluarkan air mata saat Keira mengatakan itu, entah kenapa ia sedih sekali dan tidak terima dengan perkataan Keira. Tampaknya Keira juga semakin emosi dan hendak menampar wajah gadis itu, namun Ari lebih dulu datang lalu berteriak keras.


"KEIRA!!" teriak Ari dengan lantang.


Seketika kedua gadis itu menoleh ke asal suara, mereka melihat Ari yang tengah mendekat sembari membawa tentengan di tangannya. Wati sedikit lega karena Ari telah kembali dan ia berharap pria itu bisa menjelaskan semuanya pada Keira agar kesalahpahaman ini bisa selesai.


"Sayang, kamu kok bisa ada disini? Lagi ngapain kamu cantik?" tanya Ari mencoba merayu gadisnya.


"Gausah sok manis kamu Ari! Aku tuh kesini karena aku mau labrak si penggoda cowok orang ini, aku juga pengen kasih pelajaran ke dia supaya dia gak terus-terusan godain kamu!" jawab Keira.


Ari mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu apa sih? Dia ini namanya Mira, dan dia sama sekali gak godain aku sayang. Kamu tuh cuma salah paham!" ucapnya.


"Ah kamu bohong mas! Aku gak percaya lagi sama kamu, aku kecewa sama kamu!" ucap Keira.

__ADS_1


Keira yang hendak pergi, ditahan oleh Ari dengan cara mencekal lengan gadis itu. "Kamu mau kemana sih? Dengerin dulu penjelasan aku, kamu tuh cuma salah paham sayang! Aku bantu Mira karena aku kasihan sama dia, bukan berarti diantara kita ada hubungan!" ucapnya tegas.


"Itu betul mbak, saya sama sekali gak pernah berpikiran untuk memiliki hubungan dengan mas Ari, walaupun dia baik sama saya," sahut Wati.


"Diam kamu! Saya gak mau bicara sama kamu, dasar pelakor!" sentak Keira.


"Keira, kamu gak baik ngomong begitu sama Mira! Apalagi disini dekat jalanan, gimana nanti kalau ada yang dengar dan ngira Mira memang pelakor?" ucap Ari menegur gadisnya.


"Loh yang aku bilang itu emang bener kan? Dia itu pelakor, dia juga udah godain kamu!" ucap Keira.


"Jaga bicara kamu Keira! Mira gak seperti itu, dia orangnya baik dan dia gak pernah godain aku!" ucap Ari dengan tegas.


"Ohh, sekarang kamu belain dia? Aku gak ngerti lagi sama kamu Ari!" Keira emosi dan menghentak tangannya lalu pergi dari sana.




Perlahan Saka juga menyatukan tangan mereka dan mengusap-usap punggung tangan gadis itu, Saka sepertinya masih belum ikhlas berpisah dengan Sahira yang harus bekerja disana. Ia ingin sekali terus bersama Sahira selama dua puluh empat jam tanpa bolong sedikitpun.


"Sahira, saya gak mau pisah sama kamu. Saya pengen selalu ada di dekat kamu, rasanya saya gak rela kalau kamu masuk ke dalam dan bekerja dengan orang lain," ucap Saka.


"Kamu kenapa sih mas? Aku kan harus kerja, biasanya juga begitu. Tapi, nanti pulang ngantor kan kita bisa ketemuan lagi kayak biasa," ucap Sahira.


"Iya sih, tapi gak tahu kenapa saya gak pengen pisah dari kamu Sahira. Gimana kalau kamu ikut sama saya aja ke kantor saya? Kamu bisa kerja disana gantiin sekretaris saya yang sekarang, mau kan?" ucap Saka.


Sahira tersenyum dan melepaskan diri dari genggaman Saka, ia beralih menangkup wajah pria di hadapannya itu dan mengusapnya perlahan. "Aku gak bisa keluar gitu aja dari sini mas, kasihan pak Alan nanti dong!" ucapnya.


"Buat apa kamu perduli sama dia? Dia aja kasar kan sama kamu? Mending kamu sama saya," ucap Saka.

__ADS_1


"Pak Alan mungkin emang kasar, tapi gimanapun dia tetap bos aku dan aku harus loyal," ucap Sahira.


"Kamu itu susah sekali diberitahu ya Sahira? Padahal enak kerja sama saya loh, saya bisa beri kamu apapun yang kamu mau termasuk gaji tinggi," ucap Saka.


Sahira kembali tersenyum dan melepas tangannya dari wajah sang kekasih, "Aku masih ada kontrak kerja disini mas, aku gak mungkin keluar gitu aja. Aku harus menghargai kontrak dan belajar tanggung jawab," ucapnya.


"Yah okelah, saya gak akan maksa kamu buat keluar dari sini. Tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bilang saya aja ya cantik!" ucap Saka.


"Iya mas, yaudah ya aku masuk dulu? Sampai ketemu lagi nanti!" ucap Sahira pamitan.


Saka menganggukkan kepalanya, lalu Sahira pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam kantornya meninggalkan pria itu. Setelah dipastikan aman, Saka kini kembali ke mobilnya dan melaju pergi. Meskipun Saka masih belum bisa berjauhan dari kekasihnya itu.


Sahira yang berada di lobi, tak sengaja berpapasan dengan Alan saat pria itu terlihat sedang berjalan di depannya. Sahira langsung saja berlari mendekat ke arah bosnya itu sambil meneriaki namanya, tentu Alan terkejut dan menghentikan langkahnya saat mendengar Sahira menyapanya.


"Pak, pak Alan!" panggil Sahira dengan suara lantang.


Seketika Alan menoleh menatapnya dan memberikan tatapan dingin, "Kamu, baguslah kalau kamu sudah datang. Ayo kita ke depan dan langsung berangkat ke tempat meeting!" ujarnya.


"Ta-tapi pak, ini masih jam tujuh kurang. Apa gak terlalu cepat kalau kita berangkat sekarang?" tanya Sahira.


"Kamu tau kan ini dimana? Jakarta itu kota padat, jam-jam segini tuh jamnya macet. Mending kita sampai lebih awal daripada terlambat, paham kamu?!" ucap Alan.


"Paham pak, baik saya siap berangkat sekarang! Tapi, saya harus ke ruangan saya dulu buat ambil berkas yang masih disana," ucap Sahira.


Alan mendengus kesal seraya mengusap dahinya setelah mendengar perkataan sekretarisnya barusan, "Kamu kerja tuh gak pernah benar ya Sahira? Ngapain coba kamu tinggal berkasnya di ruangan kamu? Haish!" ucapnya.


Setelah itu, Alan langsung pergi ke luar begitu saja meninggalkan Sahira. Sontak Sahira bingung, ia tak tahu harus mengejar Alan atau pergi ke ruangannya mengambil berkas. Akhirnya Sahira memilih menyusul bosnya dan berteriak meminta pria itu berhenti sejenak.


"Pak, tunggu pak!" teriak Sahira sembari berlari mengejar Alan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2