Sekretaris Cantik Milik Ceo

Sekretaris Cantik Milik Ceo
Bab 89. Heboh sendiri


__ADS_3

Sontak Sahira terkejut dengan perkataan bosnya itu, ia mengejar Alan yang sudah berbalik dan melangkah pergi karena ia tidak ingin tentu gajinya harus terpotong hanya karena ia tak mengikuti acara buka bersama disana. Sahira pun mencegat Alan, ia berhasil lalu segera bicara padanya.


"Maaf pak, tapi saya keberatan dengan kata-kata bapak barusan. Masa saya harus kena pemotongan gaji cuma karena saya gak ikut buka bersama?" ucap Sahira protes.


"Peraturan disini begitu, karyawan muslim harus menuruti aturan itu tanpa terkecuali!" ucap Alan.


"Tapi pak, saya juga gak bisa bilang ke pak Saka buat minta dia pulang duluan. Gini deh pak, besok baru saya bisa ikut bukber disini," ucap Sahira.


"Sahira, saya cuma adain bukber di hari ini karena ini hari pertama. Kalau kamu gak mau ikut, ya udah gak akan ada bukber lain-lain lagi. Makanya saya wajibkan semua karyawan yang muslim disini untuk ikut buka bersama," ucap Alan.


"Eee terus saya gimana dong pak? Saya bingung banget ini serius deh," tanya Sahira kebingungan.


"Ya terserah kamu, kamu lebih pilih potong gaji atau ikut bukber sama saya? Semua pilihan ada di kamu Sahira," ucap Alan.


"I-i-iya pak, kalo gitu saya mau coba bicara dulu deh sama pak Saka di bawah," ucap Sahira gugup.


Alan mengangguk, "Okay, saya tunggu kamu di ruang kerja saya. Kamu datang aja sesudah kamu bicara dengan bang Saka," ucapnya.


"Baik pak!" Sahira menurut sembari menganggukkan kepalanya.


Namun, tanpa diduga justru Saka lebih dulu muncul disana dan langsung menghampiri mereka dengan wajah penasaran. Ya Saka heran sebab melihat Sahira tampak bingung saat berhadapan dengan Alan, akhirnya pria itu memutuskan mendekat lalu bertanya secara langsung pada mereka.


"Ada apa ini?" tanya Saka yang sudah berdiri di dekat Alan dan Sahira.


Seketika baik Alan maupun Sahira sama-sama terkejut melihat kehadiran Saka disana, mereka tak mengira kalau Saka akan datang dan masuk ke dalam wilayah kantor. Alan pun mendengus kesal, ia bingung harus menjelaskan apa pada Saka mengenai peraturan yang ia buat baru-baru ini.


"Kenapa kalian pada diam? Alan, ada apa sih? Kok tadi saya lihat kalian serius banget bicaranya tadi?" ucap Saka kembali bertanya.


"Gak kok bang, saya cuma bahas urusan kerjaan sama Sahira. Ngapain kamu kesini? Kalau mau jemput karyawan yang bekerja disini, cukup tunggu di luar aja bang," ucap Alan ketus.


Saka tersenyum tipis, "Sekarang lu jadi larang gue buat masuk kesini, setelah Nawal?" ujarnya.


"Gausah bawa-bawa Nawal, kalau lu mau masuk sini seenggaknya yang sopan dong! Jangan main masuk gitu aja terus naik kesini!" ucap Alan.


"Cih, sok banget sih lu Lan! Gak inget lu ini kantor sebenarnya punya siapa?" ucap Saka terpancing.


Sahira yang merasa was-was lalu bergerak menengahi kedua saudara itu agar tidak terus berkelahi, tentu Sahira tak mau Alan dan Saka saling bertengkar hanya karena masalah sepele. Apalagi mereka adalah saudara yang seharusnya saling menyayangi dan bukan berkelahi seperti ini.


"Eh udah udah, pak tolong jangan ribut ya! Kalian itu kan saudara, kalian gak boleh berantem!" ucap Sahira dengan cemas.


"Saya juga gak mau ribut Sahira, tapi kamu lihat sendiri kan siapa yang mulai? Si Alan ini emang harus dikasih tau, supaya dia gak seenaknya aja disini!" geram Saka.


"Pak, saya mohon udah! Gak enak didengarnya sama karyawan lain," pinta Sahira menenangkan pria itu.


Saka terdiam, ia pun menuruti permintaan Sahira untuk tidak memperpanjang masalahnya. Meski begitu, tetap saja Saka belum bisa memaafkan Alan seutuhnya. Sedangkan Alan sendiri hanya memutar bola mata melihat Sahira memegang erat lengan Saka di hadapannya saat ini.


"Okay, kali ini saya nurut sama kamu. Tapi, kamu jelasin dong ada apa tadi!" ucap Saka pada gadisnya.


"Gak ada apa-apa kok pak, tadi pak Alan cuma mau ajak saya buka puasa bersama disini. Ya tapi saya bilang kalau saya gak bisa karena bapak sudah datang mau jemput saya," jawab Sahira.


"Terus si Alan ini maksa kamu buat ikut buka puasa bersama itu? Dia ancam kamu juga kan?" tanya Saka menebak.


Sahira mengangguk pelan, "I-i-iya pak, kata pak Alan kalau saya gak ikut buka bersama disini nanti gaji saya bisa dipotong pak karena katanya itu wajib," ucapnya.


"Apa??" Saka terkejut mendengarnya, ia reflek menatap wajah Alan dengan emosi seolah tak terima setelah mendengar penjelasan Sahira.


"Maksud lu apaan sih Alan? Kenapa lu begitu banget sama Sahira? Sejak kapan di kantor ini ada buka bersama dan hukumnya wajib?" geram Saka.


"Sejak gue jadi pimpinan disini, semua aturan itu gue yang buat. Kalau ada yang gak suka, silahkan aja mengundurkan diri!" ucap Alan singkat.

__ADS_1


"Sialan! Pasti lu sengaja kan lakuin ini ke Sahira supaya dia gak bisa dekat-dekat sama gue? Biadab banget lu tau gak!" umpat Saka.


"Jangan salah paham dulu bang! Lo gak punya bukti yang menyatakan kalau gue emang punya niat begitu, jadi lu tolong jangan berpikiran negatif dulu sama gue!" ucap Alan.


"Halah pake ngeles lagi lu, gue tau akal bulus lu Alan! Lu cemburu kan lihat gue dekat-dekat sama Sahira kayak gini?!" ucap Saka sembari merangkul Sahira untuk membuat adiknya makin cemburu.


"Terserah lu deh bang, gue lagi malas debat. Mending sekarang lu pergi deh sana! Sahira harus ikut sama gue buka bersama disini," ucap Alan.


Sahira menahan Saka yang hendak meluapkan emosinya, ia mengusap dada pria itu sembari menatapnya sambil tersenyum tipis untuk meyakinkan Saka untuk tidak melakukan itu. Saka akhirnya menurut, ia memang jadi lebih penurut pada Sahira sejak mereka berpacaran.


"Yaudah, gue izinin Sahira buka bersama disini. Tapi gue juga harus ikut," ucap Saka.


"Biar apa sih bang? Segitunya lu takut Sahira gue godain? Tenang aja kali, gue gak bakal apa-apain dia!" ucap Alan.


"Bukan begitu, tapi gue pengen menjamin aja kalau Sahira gak kenapa-napa. Lagian gak ada salahnya kan misal gue ikut nanti?" ucap Saka.


"Iya iya, lu boleh ikut. Kalo gitu gue ke bawah dulu, kalian datang pas menjelang berbuka aja!" ucap Alan.


"Oke." Saka mengangguk patuh dan membiarkan Alan pergi dari sana.


Setelah tubuh Alan tak terlihat lagi, barulah Saka kembali menatap wajah Sahira dan semakin merapatkan tubuh mereka. Saka tersenyum senang sebab emosinya yang tadi sempat meluap telah berhasil hilang karena pengaruh Sahira, mereka pun saling memandang satu sama lain.


"Kamu kok makin cantik aja sih dilihat-lihat? Bikin saya makin gak bisa jauh dari kamu," goda Saka.


Sahira hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya, ia tidak bisa lagi menyembunyikan wajah merahnya dari sang kekasih karena Saka yang terus saja menatap ke arahnya.




Alan kini berada di depan kantornya, ia menatap ke jalan dan sesekali mendongakkan kepalanya melihat langit sore yang indah. Entah kenapa Alan sulit sekali melupakan Sahira, rasanya ia juga tak terima karena Saka dan Sahira terlihat makin mesra. Alan pun hanya bisa menghela nafasnya untuk sekedar menenangkan diri, meskipun rasanya sangat sulit.


"Kamu lagi apa disini Alan? Acara buka bersama nya hari ini jadi?" tanya Alfian penasaran.


Alan mengangguk perlahan, "Jadi kok pa, tapi kan waktu berbuka masih lumayan lama. Makanya aku kesini dulu buat menikmati pemandangan sore," ucapnya santai.


"Oh gitu, tapi semuanya udah pada disiapin kan? Gak mungkin dong mendadak," tanya Alfian lagi.


"Udah kok pa, aku udah suruh Keira sama yang lainnya buat siapin semua sebelum berbuka," jawab Alan.


"Terus Sahira gimana? Dia gak ikut bantu-bantu?" tanya Alfian.


Alan menggeleng, "Entahlah pa, mungkin dia lagi asyik pacaran sama bang Saka. Sekarang kan mereka udah ada hubungan, tadi aja bang Saka langsung masuk ke dalam buat ajak Sahira pergi," ucapnya.


Alfian sontak mengernyit tak percaya, "Apa? Kok bisa sih Saka macarin sekretaris kamu itu?" ujarnya kaget.


"Aku juga bingung pa, selera bang Alan masa serendah itu ya?" ucap Alan.


"Lalu apa kamu cemburu karena mereka pacaran dan dekat sekarang?" tanya Alfian memancing.


"Apaan sih pa? Buat apa aku cemburu coba? Selera aku tuh tinggi, gak mungkin aku suka sama Sahira dan cemburu lihat dia dekat sama bang Saka. Papa ini ada-ada aja deh," ucap Alan.


"Bagus deh, jadi kamu bisa ada kesempatan untuk balikan sama Nawal. Dia itu wanita yang baik, jangan sampai kamu sia-siakan dia!" ucap Alfian.


"Papa gak tahu apa-apa soal Nawal, aku yang lebih kenal dia dibanding papa. Jadi, tolong papa jangan paksa aku buat balikan sama dia!" ucap Alan kesal.


"Ya ya ya, sudahlah ayo kita masuk ke dalam! Papa pengen lihat seperti apa gaya pacaran Saka dan Sahira itu sampai bikin kamu jadi jealous kayak gini," ucap Alfian terkekeh.


Alan menggeleng tak terima, "Enggak pa, aku gak jealous kok. Papa tuh aneh-aneh aja sih kalo bicara," ucapnya mengelak.

__ADS_1


"Hahaha, terserah kamu aja. Oh ya, papa ajak Fatma juga buat ikut buka bersama disini. Gapapa kan Alan walau dia bukan karyawan di kantor kamu?" ucap Alfian sambil menatap wajah sekretarisnya.


"Gapapa dong pa, Fatma kan karyawan papa. Artinya dia juga masih bagian dari perusahaan ini, jadi dia berhak buat ikut kok," ucap Alan.


"Terimakasih pak Alan," ucap Fatma.


Alan hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mereka bertiga pun berniat masuk ke dalam kantor untuk menanti waktu berbuka. Namun, tanpa diduga sebuah mobil berhenti di depannya dan seorang wanita turun dari sana. Alan terbelalak, wanita itu ialah Nawal sang mantan yang sangat ia tak sukai.


"Nawal?" lirih Alan dengan wajah terkejut.




Disisi lain, Cat yang masih berada di toko roti mulai merasa lemas akibat puasa yang sedang ia jalani. Ini merupakan waktu pertama kali Cat berpuasa dan entah kenapa ia merasa sangat lapar seolah tak kuat menjalani puasa pada hari pertama ini, ia pun terus memegangi perutnya berusaha menahan rasa lapar yang tengah ia rasakan.


Yoshi yang kebetulan juga ada disana tak sengaja melihat gadisnya seperti menahan sesuatu di depan sana dan memegangi perutnya, karena cemas Yoshi pun memilih mendekati Cat untuk bertanya secara langsung pada gadis itu. Sebagai seorang kekasih, tentunya Yoshi tidak ingin sesuatu terjadi pada gadisnya itu.


"Eh Cat, kamu kenapa? Sakit? Kok megangin perut terus kayak gitu?" tanya Yoshi cemas.


"Umm, aku gapapa Yos. Aku cuma ngerasa lapar aja, maklumlah kan lagi puasa. Mungkin karena hari pertama jadinya aku begini," jawab Cat.


"Ohh, ya ampun bikin cemas aja deh kamu!" kekeh Yoshi.


"Maaf ya kalau aku bikin kamu cemas? Aku juga gak tahu nih kenapa tiba-tiba begini, padahal dari dulu aku gak pernah ngerasa lapar atau haus tuh kalau puasa begini," ucap Cat.


"Gapapa, wajar aja karena kamu kan kerja keras daritadi. Mending kamu istirahat dulu deh, sebentar lagi juga waktu berbuka. Biar aku yang gantiin tugas kamu jaga disini," ucap Yoshi.


"Hah? Kamu yakin Yoshi? Emangnya kerjaan kamu udah beres semua?" tanya Cat.


"Iya udah kok, makanya aku kesini buat bantu kamu. Aku kasihan lah lihat kamu kecapekan kayak gini, udah ya istirahat aja?" ucap Yoshi.


Cat menggeleng, "Enggak deh, aku masih kuat kok terusin semuanya," ucapnya menolak.


"Haish, kamu yakin sayang? Aku gak mau loh kamu sampai pingsan karena kecapekan, jadi mending kamu istirahat aja dulu supaya tenaga kamu pulih dan kamu bisa bekerja lagi nanti! Nurut dong sama pacar kamu!" ucap Yoshi tegas.


"Kamu kenapa gitu banget sih sama aku? Aku gapapa Yoshi, aku gak mau kalau sampai nanti pemilik toko datang terus lihat aku gak kerja. Nanti dikiranya aku malas-malasan lagi," ucap Cat.


"Yaudah deh kalau kamu gak mau istirahat, sini biar aku bantuin aja kerjaan kamu!" ucap Yoshi.


"Makasih sayang," ucap Cat dengan lembut.


Disaat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba Wati muncul dari arah depan mengagetkan keduanya. Gadis itu terlihat ngos-ngosan dan menghampiri Cat serta Yoshi disana, tentu saja sepasang kekasih itu merasa heran melihat Wati datang dengan ekspresi seperti itu.


"Eh eh guys, ada informasi penting guys!" ucap Wati heboh sendiri sembari menggebrak meja kasir sehingga membuat Cat mengelus dadanya.


"Ya ampun Wati, lu kenapa sih datang-datang ngagetin aja? Lu pengen bikin kita jantungan ya? Atau lu malah mau hancurin toko roti ini? Sombong banget sih lu mentang-mentang udah punya kios sendiri, sampe mau rusak tempat lama lu kerja. Ingat Wati dulu lu juga cari uang disini tau!" ucap Cat menasehati sahabatnya.


"Yeh gak gitu kali, sorry kalo gue ngagetin! Gue cuma mau kasih tahu informasi penting ke kalian, pokoknya ini ajib banget deh dan kalian berdua harus tau!" ucap Wati.


"Soal apa sih emang?" tanya Cat penasaran.


"Tadi gue lihat tante Imeh pergi sama si laki-laki berkumis itu di depan," jawab Wati.


"Hah??" Cat dan Yoshi sama-sama terkejut mendengar cerita Wati barusan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2