
Tin tin...
Tiba-tiba saja, suara klakson mobil mengejutkan ketiganya. Sontak Alan serta yang lainnya kompak menoleh ke asal suara, mereka sama-sama melongok melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah itu. Tak butuh waktu lama, mereka juga melihat Saka bersama Sahira turun dari mobil itu dan bergegas melangkah menghampiri mereka.
"Ibu!" Sahira berteriak memanggil ibunya, ia benar-benar panik melihat kondisi Fatimeh yang tampak begitu emosi.
"Bu, ibu ngapain kesini? Terus kenapa gak bilang dulu sama aku?" tanya Sahira cemas.
Fatimeh tersenyum singkat seraya menghela nafasnya, "Gue cuma pengen ungkap semua kebenarannya, gue gak suka lihat Syera ini hidup bahagia sementara gue menderita!" ucapnya.
"Maksud tante gimana ya? Kenapa tante gak suka lihat mama saya bahagia?" tanya Saka keheranan.
"Nah, kebetulan lu juga datang kesini Saka. Jadi gue bisa kasih tahu ke lu siapa sebenarnya Sahira ini dan apa hubungan dia sama ibu lu," ucap Fatimeh tampak bahagia.
"Imeh, saya mohon kamu hentikan semuanya! Saya tidak mau ada keributan disini!" pinta Syera.
"Lo diam Syera! Gue gak akan lakuin ini, kalau seandainya dulu lu gak bikin gue menderita!" sentak Fatimeh.
"Saya mengerti yang kamu rasakan, tapi gak kayak gini juga Imeh!" tegas Syera.
"Hahaha, lu marah sekarang karena gue bongkar semuanya di depan anak-anak lu? Kenapa Syera? Emang semuanya benar kok, yang gue bilang itu gak ada yang salah sama sekali!" ujar Fatimeh.
"Bu, udah Bu tenang! Ibu gak boleh kayak gini, apalagi ini di rumah orang!" tegur Sahira.
"Lu diem dulu Sahira, harusnya lu dukung gue dan bukan malah belain dia! Gue tahu dia itu ibu kandung lu, tapi dia selama ini gak pernah ngurus lu. Malahan gue yang selalu ada buat lu, ngerti?" ucap Fatimeh.
Semuanya kompak terdiam, terutama Saka yang masih belum mencerna apa maksud dari perkataan Fatimeh barusan. Ia tak mengerti mengapa Fatimeh menyebut jika Syera adalah ibu kandung Sahira, lantas ia juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Fatimeh begitu emosi pada Syera saat ini.
"Hah? Maksud tante apa? Kok tante bilang kalau mama Syera itu ibu kandungnya Sahira?" tanya Saka penasaran.
"Ya memang begitu yang sebenarnya, lu sama Sahira itu saudara, si Alan juga. Kalian bertiga tuh saudara, jadi gak sepantasnya kalian punya hubungan spesial!" jawab Fatimeh.
Saka menggeleng tak percaya, "Enggak, itu gak bener. Tante pasti bohong kan?" ucapnya.
"Buat apa gue bohong? Kalau lu gak percaya, tanya aja tuh sama si Syera alias ibu lu yang pelakor itu!" ucap Fatimeh tegas.
"Pelakor??" Saka kembali terkejut dibuatnya.
"Iyalah Saka, emang apa coba sebutannya kalau bukan pelakor? Dia ini udah merebut suami gue, bahkan dia nikah sama suami gue sampai punya si Sahira ini," ucap Fatimeh.
Syera benar-benar dibuat terpukul oleh ucapan Fatimeh, wanita itu meneteskan air mata dan terus menggelengkan kepalanya. Sahira sungguh tidak tega melihatnya, biar bagaimanapun Syera tetaplah ibu kandungnya dan ia tidak bisa melihat sang ibu menangis seperti itu.
"Eee ibu, aku mohon cukup Bu! Aku gak mau ada keributan kayak gini, lebih baik kita pulang ya Bu?" bujuk Sahira.
"Lu tuh kenapa sih Sahira? Disini gue lagi perjuangin hak lu loh, harusnya lu bela gue! Kalau mereka semua udah tahu lu saudara mereka, bisa aja kan lu boleh tinggal disini," ucap Fatimeh.
Sahira menggeleng heran dengan ucapan ibunya, "Aku gak butuh itu semua Bu, ayo Bu kita pulang sekarang!" ucapnya memohon.
"Ish, lu bego apa gimana sih Sahira? Masa diajak hidup mewah gak mau? Emangnya lu pengen hidup susah terus, ha?" ujar Fatimeh.
Sahira terdiam, ia sungguh malu mendengar semua perkataan ibunya barusan. Di lain sisi, Sahira juga sangat merasa tidak enak pada keluarga Syera yang saat ini dibuat kaget oleh tindakan ibunya. Apalagi mereka semua sudah tahu kalau dirinya adalah anak kandung Syera, dan Syera juga merupakan perebut suami orang.
Disaat mereka semua sedang terdiam karena ucapan Fatimeh, justru Saka kali ini menatap wajah Syera dengan tajam dan penuh pertanyaan. Rupanya Saka masih belum percaya dengan itu semua, ia juga tak terima kalau Sahira adalah saudaranya dan ia tidak mungkin bisa menikahi gadis itu karena mereka saudara.
"Ma, semua itu gak benar kan? Sahira bukan anak mama, iya kan?" tanya Saka pada mamanya.
"Iya ma, tolong jawab pertanyaan kami! Sebenarnya Sahira itu anak mama atau bukan?" sahut Alan yang ikut penasaran.
"Kalian tenang dulu, mama akan jelaskan ke kalian secara perlahan! Sekarang kita semua masuk yuk! Gak enak sama papa dan Floryn yang udah nunggu di dalam," ucap Syera mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Mama jangan alihin pembicaraan, ma! Aku disini tanya sama mama soal Sahira, jadi tolong mama jawab sekarang juga!" pinta Saka.
"Saka, kamu gak perlu cemas begitu! Sahira memang anak mama, tapi kamu itu kan bukan. Jadi, kamu dan Sahira tetap bisa bersama bahkan sampai menikah," ucap Syera tegas.
Deg!
Semua disana kembali terkejut, terutama Alan yang baru mengetahui informasi tersebut kalau Saka ternyata bukanlah anak Syera. Ia pun juga bertanya-tanya, apakah sebenarnya dirinya juga bukan anak kandung mamanya itu. Sedangkan Syera sendiri tampak menyesal karena sudah membongkar semua itu di hadapan mereka.
"Apa ma? Bang Saka bukan anak kandung mama? Kok bisa sih? Terus gimana sama aku, ma? Apa aku juga bukan anak kandung mama?" tanya Alan yang langsung sangat syok.
"Eee gak gitu sayang, tadi mama salah bicara. Ka-kamu jangan salah arti dulu ya!" ucap Syera gugup.
"Sudahlah ma, emang kita seharusnya gak tutupi ini semua lagi dari Alan. Toh dia sudah besar, dia berhak tau kalau mama emang cuma ibu sambung kita berdua," ucap Saka.
"Apa? Ibu sambung??" Alan tersentak kaget dan tak percaya dengan perkataan abangnya barusan.
Fatimeh yang merasa malas dengan semua drama itu, malah berbalik dan melangkah pergi begitu saja tanpa berkata apapun. Sontak Sahira merasa panik, ia pun bergerak cepat menyusul ibunya karena tidak ingin sang ibu melakukan tindakan yang di luar dugaan lagi.
"Bu, tunggu Bu! Ibu mau kemana?" tanya Sahira pada ibunya sembari terus berjalan cepat.
"Gue males dengerin drama mereka, mending gue pulang. Lu kalo masih mau disini sama emak lu, terserah!" jawab Fatimeh ketus.
Sahira menggeleng dan menggenggam tangan ibunya, "Enggak Bu, aku mau pulang aja sama ibu!" ucapnya tegas.
"Yaudah," singkat Fatimeh.
Melihat Fatimeh dan Sahira pergi, Syera yang masih syok berusaha mengejar mereka juga. Namun, tiba-tiba Alan menahan tangannya dan mencegah mamanya itu untuk pergi. Syera menatap wajah Alan, tampak pria itu berkaca-kaca menahan sedihnya setelah tahu kalau Syera bukanlah ibu kandungnya.
"Ma, tolong jangan pergi! Aku masih belum percaya kalau mama ini bukan mama kandung aku, mama jelasin semuanya dulu sama aku!" ucap Alan.
"Sayang, mama minta maaf ya sama kamu? Selama ini mama terpaksa menyembunyikan semuanya dari kalian, supaya kamu gak sedih kalau tahu semua ini," ucap Syera terisak.
Syera benar-benar tidak bisa menahan air matanya, ia menangis saat itu juga dan tak kuasa menahan kesedihannya. Bahkan Saka pun turut prihatin melihat itu, tak ada yang menyangka kalau hari ini semuanya harus terbongkar dengan begitu cepat mengenai masa lalu mereka.
"Maafin mama ya sayang? Mama harap, kamu gak akan benci sama mama setelah ini!" ucap Syera.
"Iya Lan, biar gimanapun mama yang udah rawat kita dari kecil. Meskipun gue juga sempat gak mau akuin mama Syera itu mama gue," sahut Saka.
"Ohh, jadi ini alasan lu selalu ketus sama mama ya bang?" tanya Alan memastikan.
Saka menjawab dengan anggukan kecil, lalu tanpa diduga Alan pergi begitu saja menuju mobilnya dan meninggalkan mereka berdua disana. Sontak Syera tampak panik, ia berusaha mengejar pria itu dan menahannya agar tidak pergi, tetapi Alan tak mau mendengar dan malah masuk ke mobilnya serta langsung menyalakan mesin.
"Alan, kamu mau kemana sayang? Jangan pergi, jangan tinggalin mama! Mama nyesel udah bohongin kamu, maafin mama!" rengek Syera.
"Ma, udah ma jangan! Biarin aja Alan pergi, mungkin dia mau tenangin dirinya! Mama sabar ya!" ucap Saka menghalangi.
"Tapi sayang, mama khawatir Alan kenapa-napa kalau dia pergi dalam keadaan emosi! Kita harus kejar dia sayang!" ucap Syera panik.
"Iya ma, tapi mama tenang dulu ya! Aku yakin Alan akan baik-baik saja, dia gak bakal kenapa-napa. Mama percaya sama aku, Alan pasti bisa jaga dirimu sendiri!" ucap Saka.
Akhirnya Syera menuruti perkataan putranya itu, meski di dalam hatinya ia masih merasa khawatir pada Alan saat ini. Terlebih mobil Alan sudah melaju cukup kencang meninggalkan rumah itu, membuat Syera makin was-was dan cemas pada Alan yang berada di dalam mobil tersebut.
"Saka, kira-kira Alan mau kemana ya? Dia bawa mobilnya ngebut begitu," ucap Syera cemas.
"Entahlah ma, mungkin aja dia pengen cari tempat untuk menyendiri. Kita biarin aja dia buat tenangin diri dulu ma, jangan dikejar ya!" ucap Saka santai.
Syera manggut-manggut perlahan mengikuti permintaan putranya, sedangkan Saka merangkul pundaknya bermaksud menenangkan wanita itu agar tidak terlalu panik. Barulah Saka juga mengajak mamanya masuk ke dalam rumah untuk membuatnya lebih tenang, meski Syera masih saja menangis karena memikirkan Alan.
"Ma, udah ya ma? Mama jangan nangis terus! Nanti kalau papa curiga gimana? Emang mama bisa jelasin ke papa semuanya?" bujuk Saka.
__ADS_1
"Jelasin apa maksudnya, Saka?" tiba-tiba saja yang sedang mereka bicarakan malah muncul di hadapan mereka dan terlihat kebingungan.
Sontak baik Syera maupun Saka sama-sama terkejut dibuatnya, mereka tak menyangka jika Alfian akan muncul dan mendengar apa yang dibicarakan Saka. Maka Syera pun terlihat panik dan tak tahu harus menjelaskan apa, ia khawatir suaminya itu akan marah padanya nanti.
•
•
Alan kini tiba di lokasi tempat Carol berada, ya pria itu mendatangi kost-kostan Carol yang memang sudah pernah ia datangi sebelumnya. Alan sengaja pergi kesana karena menurutnya, hanya Carol lah yang bisa membuatnya tenang untuk saat ini agar tidak terus memikirkan mamanya.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung turun dari mobil dan mengetuk pintu kamar kost itu sembari memanggil nama Carol. Kebetulan suasana disana sedang sepi, sehingga Alan bisa tenang datang kesana dan berbicara berdua dengan Carol. Tak seperti ketika ia pertama kali datang, karena saat itu ada banyak teman Carol yang menggodanya.
TOK TOK TOK...
"Assalamualaikum, Carol bisa kamu buka pintunya? Kamu ada di dalam kan? Ini saya Alan, teman kamu yang paling tampan!" ucap Alan dengan lantang.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki disertai balasan dari dalam kamar itu. Ya tentunya itu adalah Carol, sebab Alan dapat mengenal betul suara tersebut. Setelahnya, Carol langsung membuka pintu dan syok melihat keberadaan Alan di depan matanya.
Ceklek
"Hah Alan??" gadis itu menutupi mulutnya dengan kedua tangan, ia tak menyangka kalau Alan akan datang ke kamar kostnya disaat ia hanya mengenakan celana pendek.
"Kamu kenapa gak bilang dulu kalau mau kesini?" tanya Carol yang kini berusaha menutupi bagian bawahnya.
Alan tersenyum melihat tingkah gadis itu, "Santai aja, saya kesini gak pengen ganggu kamu kok! Saya cuma mau cari hiburan, karena saya lagi ada masalah nih," jawabnya lirih.
"Hiburan? Malam-malam begini? Dengar ya Alan, gak enak tau kalau dilihat sama teman kost aku nantinya! Masa iya ada cowok datang kesini malam-malam lagi?" ucap Carol cemas.
"Eee ya gapapa kali, kan saya cuma mau ngobrol sama kamu. Lagian saya pengennya ajak kamu bicara di luar kok bukan disini," ucap Alan santai.
"Oh gitu, tapi ini udah malam, Lan. A-aku gak biasa pergi selarut ini, dan aku juga udah ngantuk banget sih. Kamu mending cari aja orang lain gitu, misal Floryn," ucap Carol gugup.
"Yah berarti kamu gak mau nih nemenin saya? Parah banget sih kamu, teman macam apa itu?" ucap Alan kecewa.
"Gak gitu Alan, aku cuma malas aja kalau harus pergi-pergian malam begini. Lagian kamu gak bilang dulu sih sama aku sebelum datang kesini," ucap Carol.
Alan tersenyum dan melangkah mendekati gadis itu sembari menarik dagunya, "Yaudah, saya bicaranya di dalam aja gimana? Biar kamu gausah repot-repot keluar, ya kan?" ucapnya santai.
"Hah? Ih gak boleh lah, nanti malah jadi salah paham tau!" ucap Carol.
"Loh kenapa? Ini kost bebas kan? Berarti gak ada salahnya kalau saya masuk ke dalam kamar kamu, sebentar aja kok," ucap Alan.
"I-i-iya sih, tapi kan..."
"Udah jangan banyak tapi tapi! Saya lagi butuh banget kehadiran kamu tau, saya tuh gak tahu harus ke siapa lagi saat ini!" sela Alan.
"Umm.." Carol benar-benar dibuat gugup, tapi sesaat kemudian Alan langsung menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Bahkan, Alan juga menutup dan mengunci pintu kamar itu dari dalam. Barulah ia mengajak Carol duduk disana berdua dengannya, yang membuat Carol hanya pasrah menurut tanpa melakukan pemberontakan apapun itu, karena menurutnya itu sia-sia saja sebab tenaganya kalah kuat.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...•...
...•...
...ALAN MAU UNBOXING CAROL NIH🤣...
__ADS_1