
Deg!
Seketika Alan terkejut mendengar Floryn memanggilnya dengan sebutan sayang, perasaannya seperti tak karuan ketika Floryn menyebut kata itu untuknya. Namun, kali ini Alan tak mau terlalu mengambil serius karena ia tahu semua ini hanyalah permainan.
"Duh, aku kok jadi grogi gini ya pas dengar kamu panggil aku sayang? Padahal aku tahu kalau ini cuma pura-pura, tapi kenapa aku malah kayak gini ya?" ujar Alan.
"Hahaha, untuk sekarang kamu jangan anggap kalau ini semua cuma pura-pura! Anggap aja seperti kita lagi pacaran sungguhan dan sekarang aku mau kenalin kamu ke orang tua aku," usul Floryn.
"Waduh, kalau misal nanti aku baper beneran gimana? Kamu mau tanggung jawab?" tanya Alan.
"Umm, tergantung. Kalau emang kamu mau lanjut ke tahap yang lebih serius, aku sih ngikut kamu aja Alan," jawab Floryn sambil tersenyum.
"Kamu jangan bilang gitu dong, aku nanti jadi berharap lebih tau ke kamu!" pinta Alan.
"Ih gapapa, tapi emang kamu mau pacaran beda agama?" tanya Floryn.
Lagi-lagi Alan dibuat terdiam, benar saja tidak mungkin dirinya menjalin hubungan ke tahap yang lebih serius dengan Floryn, apalagi mereka berbeda agama dan akan sulit urusannya jika mereka nanti sama-sama saling mencintai. Maka dari itu, Alan berniat mengurungkan niatnya untuk berharap cinta dari gadis di depannya.
"Yaudah ya, kita lanjut ngobrolnya nanti aja ya di dalam? Mending sekarang kita masuk deh, disini panas juga tau!" ajak Floryn.
Alan mengangguk setuju, lalu mereka pun melangkah bersama-sama menuju ke dalam rumah gadis itu. Namun, baru saja mereka tiba di teras depan, tanpa diduga sosok lelaki muncul membuka pintu dan terkejut ketika melihat keberadaan Floryn disana.
"Loh Floryn, akhirnya kamu pulang juga sayang!" ujar lelaki itu terlihat sangat gembira.
Sedangkan Floryn justru membuang muka dan mengeratkan genggaman tangannya pada Alan, "Lo ngapain di rumah gue?" tanyanya sinis ke si lelaki.
"Ngapain lagi sayang? Jelaslah aku mau ketemu kamu, tapi barusan orang tua kamu bilang kalau kamu udah gak pulang tiga hari. Makanya aku panik dan langsung mau cari kamu, untungnya sekarang kamu udah pulang," jelas si lelaki.
Floryn terdiam, Alan yang mendengarkan obrolan itu pun dapat menebak jika lelaki di depannya adalah orang yang ingin dijodohkan dengan Floryn. Sontak Alan merasa tidak senang ketika ada lelaki lain yang menyebut Floryn dengan panggilan sayang, meski ia sendiri juga sadar kalau dirinya bukan siapa-siapa Floryn.
"Sayang, kamu jangan cemburu ya sama cowok itu! Dia bukan pacar aku kok, dia orang yang mau dijodohin sama aku," ucap Floryn.
Seketika mata lelaki di depan mereka itu melotot tajam mendengar perkataan Floryn, ia jelas tak menyukai apa yang dikatakan Floryn karena itu sungguh membuatnya kesal. Lelaki bernama Rian itu bergegas maju mendekati keduanya dan menatap tajam ke arah Alan.
"Kamu panggil dia apa tadi sayang? Kenapa kamu begitu di depan aku? Apa kamu lupa status kita saat ini sudah bertunangan? Bisa-bisanya kamu memanggil lelaki lain dengan sebutan sayang!" ujar Rian tampak emosi.
"Hadeh, apa urusannya sama kamu sih Rian? Kita itu bukan siapa-siapa," ucap Floryn.
"Kamu bilang kita bukan siapa-siapa? Kita ini tunangan loh sayang, kamu jangan bicara begitu dong mentang-mentang di depan laki-laki lain!" ucap Rian tegas.
"Aku gak perduli, udah deh kamu minggir karena aku sama pacar aku mau masuk!" ucap Floryn.
Mata Rian semakin melotot lebar, terlebih ketika Floryn bergerak maju dengan menggandeng tangan Alan di depannya. Tapi kemudian, dua orang tua gadis itu muncul dari dalam rumah berniat mengecek kondisi, mereka tak menyangka jika ternyata Floryn sudah pulang ke rumah.
"Loh Floryn, kamu sudah pulang sayang? Mama senang banget bisa lihat kamu lagi!" ibu dari gadis itu pun langsung memeluknya erat.
•
•
Saka tiba di rumah Sahira dengan niat mengajak gadisnya itu datang menemui orangtuanya bersama Fatimeh, ya Saka hendak mengenalkan mereka pada keluarganya di rumah karena ia ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Sahira, yakni menikahi gadis itu.
Begitu hendak mengetuk pintu, Saka langsung disambut oleh Fatimeh yang ternyata sudah lebih dulu keluar. Ya wanita itu pun tersenyum lebar melihat keberadaan Saka di depan rumahnya, dia memang senang sekali jika Saka bisa menikah dengan putrinya, karena pasti dia akan terciprat harta kekayaan pria itu.
"Eh nak Saka, pagi-pagi begini udah datang aja. Pasti mau ketemu sama Sahira ya? Mau apelin anak tante lagi ya?" ujar Fatimeh.
"Hehe iya tante, oh ya assalamualaikum.." Saka menyapa dengan ramah dan mencium tangan calon mama mertuanya itu, tentu saja Fatimeh dengan senang hati menyambutnya.
"Waalaikumsallam, masuk aja yuk!" jawab Fatimeh.
"Iya tante, terimakasih." tanpa menunggu lama, Saka segera masuk ke dalam rumah bersama Fatimeh setelah pintu dilebarkan.
__ADS_1
Saat ia melangkahkan kaki, tanpa diduga Sahira sudah berada di depannya dan tersenyum ketika melihat kehadiran pria tampan itu di rumahnya. Ya Sahira sebelumnya tak tahu menahu tentang Saka yang ingin datang kesana, sebab Saka sama sekali tidak memberitahu apapun padanya.
"Eh mas Saka, kok datang ke rumah aku gak kabarin dulu sih? Tau gitu kan tadi aku bangun lebih pagi supaya bisa dandan juga," ucap Sahira tampak malu-malu.
Saka tersenyum mendengarnya, "Kamu gausah dandan juga udah cantik kok Sahira," ucapnya.
"Bisa aja kamu mas, yaudah duduk dulu yuk mas!" ucap Sahira mengajak kekasihnya duduk.
Saka menurut saja dan melangkah menuju sofa sesuai perintah Sahira, mereka pun duduk bersebelahan disana. Sedangkan Fatimeh masih berdiri memandang ke arah mereka sambil tersenyum, ia pun berniat pamit untuk melanjutkan kerjaannya di dapur agar tak mengganggu mereka.
"Eee kalo gitu tante tinggal dulu ya, nak Saka? Kamu disini aja temenin Sahira," ucap Fatimeh.
"Eh jangan tante! Udah tante ikut duduk aja disini sama kita, kebetulan saya mau bicara juga sama tante," pinta Saka.
"Oh ya? Memangnya apa yang kamu mau bicarakan Saka?" tanya Fatimeh penasaran.
"Duduk aja dulu tante, gak enak ngobrolnya kalau sambil berdiri kayak gitu!" ucap Saka.
Fatimeh manggut-manggut sambil tersenyum, lalu ia pun melangkah mendekati pasangan kekasih itu dan ikut terduduk disana. Tampak Sahira pun juga penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Saka pada ibunya, ia langsung melirik ke arah sang kekasih seolah bertanya-tanya.
"Jadi begini tante, alasan saya datang kesini pagi ini karena saya ingin mengajak tante dan juga Sahira untuk datang ke rumah saya bertemu dengan kedua orang tua saya," jelas Saka.
Deg!
Sahira tersentak kaget mendengarnya, sedangkan Fatimeh justru tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan Saka barusan. Fatimeh sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan pihak keluarga Saka, karena dengan begitu maka hubungan Sahira dan Saka bisa semakin dekat.
"Bagaimana tante? Apa tante bersedia untuk ikut dengan saya dan Sahira ke rumah? Kebetulan saya sudah meminta orang tua saya untuk stay di rumah hari ini," tanya Saka lagi.
"Ah gue mah bersedia aja kok," jawab Fatimeh tampak antusias.
"Tapi mas, kenapa dadakan gini ya? Kamu kok gak ada bilang apa-apa kemarin sama aku?" tanya Sahira pada kekasihnya itu.
"Iya sayang, soalnya aku pengen kasih kejutan buat kamu. Rencananya aku mau bahas pernikahan kita nanti," ucap Saka sambil tersenyum.
"Apa sih Bu? Aku belum siap buat nikah tau, aku masih pengen meniti karir," ucap Sahira.
"It's okay Sahira, aku gak akan paksa kamu kok. Tapi, aku tetap minta kamu dan ibu kamu buat ikut sama aku ke rumah hari ini. Kamu bisa kan sayang?" ucap Saka.
"Eee.." Sahira menimang sejenak pertanyaan itu sebelum menjawabnya.
Fatimeh yang tepat berada di sebelahnya pun terus meyakinkan putrinya itu untuk menerima saja ajakan Saka, menurutnya sekarang memang saatnya bagi mereka untuk pergi ke rumah Saka dan berkenalan dengan orangtuanya. Namun, entah mengapa rasanya Sahira sulit sekali berkata 'ya' pada Saka dan malah terus terdiam.
"Udah lah Sahira, lu iyain aja ajakan nak Saka! Ini semua kan juga demi kebaikan lu," usul Fatimeh.
"I-i-iya bu, sebentar aku mau pikir-pikir dulu," ucap Sahira ragu.
"Apa lagi yang mau lu pikirin Sahira? Si Saka ini niatnya udah bagus loh, dia mau nikahin lu supaya gak terjadi hal-hal buruk nantinya," ucap Fatimeh.
"Ya aku tahu Bu, tapi aku masih belum siap kalau harus nikah secepat ini," ucap Sahira.
Saka pun tersenyum ke arah gadisnya, ia paham dengan alasan mengapa Sahira terlihat ragu untuk menikah dengannya. Namun, tentunya Saka akan terus berupaya agar Sahira mau menerima ajakannya datang ke rumah menemui orangtuanya, meski Sahira terus saja tampak ragu.
"Sahira, kalau kamu memang belum siap ya gapapa. Yang penting kamu dan ibu kamu datang aja dulu ke rumah aku," ucap Saka.
"Nah betul itu, yang penting kita ketemu dulu sama orang tua nak Saka. Nanti baru deh kalau lu udah siap, giliran orang tua nak Saka yang datang kesini buat ngelamar lu," sahut Fatimeh.
"Yang dibilang tante Imeh benar, kamu mau kan kayak gitu Sahira?" ucap Saka lagi.
"Umm, yaudah boleh deh mas. Toh kamu juga udah datang kesini, gak mungkin kalau aku tolak ajakan kamu," ucap Sahira menurut.
Saka langsung mengembangkan senyumnya, "Syukur deh, berarti kamu mau kan?" ucapnya.
__ADS_1
Sahira mengangguk perlahan, "Mau mas, tapi sebentar ya aku siap-siap dulu sebelum kita berangkat?" ucapnya.
"Iya, aku akan selalu tunggu kamu," lirih Saka.
Setelahnya, Sahira pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya bersiap untuk berangkat ke rumah Saka sesuai permintaan pria itu. Meski ia sempat ragu, namun akhirnya Sahira tak memiliki pilihan lain karena tak mungkin ia menolak dan mengecewakan kekasihnya.
•
•
Singkat cerita, mereka bertiga tiba di halaman rumah Saka yang megah dan luas itu. Begitu turun dari mobil, Fatimeh pun tampak terpukau melihat betapa luasnya rumah Saka yang lebih mirip istana itu. Fatimeh sampai tak berhenti menganga dan membulatkan matanya, ia sungguh kagum dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
Sementara Saka dan Sahira sendiri tampak saling bergandengan tangan satu sama lain, keduanya tersenyum dengan tatapan mengarah ke wajah masing-masing. Ada rasa gugup di hati Sahira ketika menginjakkan kakinya disana, tapi Saka langsung memeluknya erat sembari mengusap bahu gadis itu dengan lembut.
"Jangan gugup ya sayang! Ini kan bukan pertama kali kamu datang kesini," ucap Saka.
"I-i-iya mas, tapi tetap aja rasanya aku grogi mau ketemu orang tua kamu. Apalagi kalau di dalam ada pak Alan juga, yang ada aku bisa makin tambah grogi," ucap Sahira.
"Kamu gak perlu takut, Alan kebetulan lagi gak ada di rumah kok," ucap Saka.
"Oh ya? Emang pak Alan kemana?" tanya Sahira penasaran.
Saka menggeleng pelan, "Gak tahu deh, dia gak pulang udah lumayan lama juga. Bilangnya sih nginep di rumah teman, tapi gak tahu teman dia yang mana," jawabnya.
"Eee kalo gitu apa kita sekarang langsung masuk aja ke dalam nih, mas?" tanya Sahira masih ragu.
"Iya dong, yuk lah!" jawab Saka antusias.
Sahira pun beralih menatap ibunya, "Bu, ayo kita masuk!" ucapnya.
"Eh iya iya.." Fatimeh terkejut dan ikut melangkah menyusul putrinya menuju rumah Saka.
Sesampainya di teras rumah, ketiganya berhenti sejenak untuk mengetuk pintu sembari menguatkan diri bagi Sahira yang masih gugup. Saka kembali menatap Sahira dan mencoba meyakinkan gadis itu untuk tidak grogi atau gugup saat masuk ke dalam rumahnya.
"Sayang, udah ya kamu jangan gugup terus! Ada aku kan disini, aku bakal jagain kamu dan bikin kamu senyaman mungkin di dalam nanti," ucap Saka seraya mengusap pundak gadisnya.
"Iya mas, makasih. Gak tahu kenapa susah banget buat ngilangin rasa grogi aku, maafin aku ya mas?" ucap Sahira lirih.
"Gapapa cantik, yaudah kalo gitu aku ketuk pintu dulu ya?" ucap Saka yang kemudian diangguki oleh Sahira.
Disaat pria itu hendak mengetuk pintu, tanpa diduga ternyata pintu sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan sosok Syera disana. Sontak ketiganya terkejut, mereka kompak mundur agar tidak bertabrakan dengan Syera dan tersenyum ke arah wanita yang merupakan mama Saka itu.
"Eh mama, udah keluar aja padahal aku baru mau ketuk pintunya," ujar Saka sambil tersenyum.
"Iya, kamu kenapa balik lagi sayang? Kok bawa Sahira juga? Terus itu siapa yang di belakang celingak-celinguk begitu?" tanya Syera keheranan.
"Eee itu ibu saya tante," jawab Sahira.
"Iya ma, aku sengaja bawa tante Imeh kesini buat kenalan sama mama dan papa. Bisa kan ma?" timpal Saka.
"Jelas bisa dong, suruh dia masuk aja yuk!" ucap Syera.
"Iya ma," singkat Saka yang kemudian menatap Fatimeh di belakangnya.
"Tante, kita masuk yuk! Nih ada mama aku yang mau kenalan sama tante," ucap Saka pada Fatimeh.
"Eh iya iya.." perlahan Fatimeh membalikkan tubuhnya seperti adegan sinetron di televisi.
Fatimeh begitu kaget saat melihat sosok wanita yang ada di depannya, ia tak percaya jika Syera ternyata adalah mama dari Saka dan merupakan calon besannya. Bukan hanya Fatimeh, bahkan Syera sendiri juga merasa kaget ketika Fatimeh berbalik badan menampakkan wajahnya.
"Syera, iya itu kan Syera. Kenapa dia bisa ada disini dan jadi mamanya nak Saka?" gumam Fatimeh dalam hati yang masih tampak terkejut.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...