
Bugghhh..
Justru preman itu malah ikut terjatuh seperti temannya saat mendapat pukulan balasan dari si pria, akibatnya temannya yang lain pun juga ikut emosi dan maju menyerang si pria. Namun, lagi-lagi dia juga tersungkur ke jalan seperti dua teman-temannya.
"Aaarrgghh payah lu semua! Masa lawan satu orang aja kalian kalah?" tegur si preman.
"Bawel lu! Lu aja udah jatuh duluan gara-gara dia!" balas temannya.
Lalu, si pria penolong itu pun melangkah mendekati ketiga preman yang sudah tersungkur di depannya. Ia tersenyum menyeringai dan mengulurkan tangan ke arah mereka, sontak saja ketiga preman itu pun dibuat bingung.
"Ngapain lu ulurin tangan segala? Lu mau ngeledek kita, ha?" tanya si preman.
"Ya ampun, kalian ini suudzon aja sama orang. Saya mau bantu kalian loh, tapi habis itu saya bawa kalian ke kantor polisi," jawab si pria.
"Kurang ajar! Kita gak mau masuk penjara, lu jangan sembarangan!" sentak si preman.
"Yaudah, mending kalian pergi sana dan jangan pernah ganggu cewek ini lagi!" usir si pria.
"I-i-iya, kita pergi deh. Ayo bro kita cabut aja daripada dibawa ke kantor polisi!" ucap si preman.
Ketiga preman bertato itu pun bangkit dan lari terbirit-birit menjauh dari sana, sedangkan si pria penolong beralih menatap Wati yang masih ketakutan.
"Hey! Kamu gak perlu takut lagi sekarang, mereka udah pergi kok," ucap si pria.
"Ma-makasih, tapi kamu siapa?" tanya Wati gugup.
"Saya Al-Saka Alfian, kamu bisa panggil saya Saka," jawab si pria itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Wati dan tersenyum lebar.
Sontak Wati menganga dengan jantung yang sudah berdegup tak karuan.
Melihat wanita di depannya hanya diam tanpa ekspresi, Saka tentu penasaran dan kembali menegurnya.
"Ada apa? Kamu gak dengar apa yang saya bilang barusan? Nama kamu siapa?" tanya Saka.
"Eh eee ma-maaf tadi aku masih trauma, aku dengar kok omongan kamu tadi," jawab Wati.
"Gapapa, wajar sih kamu trauma karena kamu kan hampir dilecehkan tadi. Terus kamu gak kenapa-napa kan? Ada yang luka gak? Biar saya bantu obati," ucap Saka.
"Aku gak luka kok, tadi kan keburu ada kamu. Oh ya, makasih karena udah tolongin aku! Kalau aja gak ada kamu, mungkin aku udah habis sama preman-preman tadi," ucap Wati.
"Sama-sama, kebetulan aja tadi saya lewat sini dan lihat kamu lagi dalam bahaya. Syukurlah kalau kamu gak kenapa-napa, tapi nama kamu siapa ya?" ujar Saka.
"Ah iya namaku Mirawati, biasa dipanggil Mira. Tapi, bisa juga kok dipanggil Wati. Tergantung kamu aja sih mau panggil apa," jawab Wati.
"Oh gitu, saya panggil Mira aja deh. Omong-omong kamu lagi ngapain sendirian disini? Ini udah malam loh, bahaya tau perempuan keluyuran sendiri di luar kayak gini," ucap Saka.
__ADS_1
"Aku sebenarnya mau pulang, tapi dagangan aku belum laku semua. Aku takut dimarahin sama yang punya karena gak laku," ucap Wati.
"Waduh, bos kamu galak banget ya? Gimana kalau saya bantu aja kamu biar dagangannya cepat laku?" tawar Saka.
"Gimana caranya mas?" tanya Wati bingung.
"Panggil aja saya Saka, gak perlu pake mas!" pinta Saka sambil tersenyum.
"Eee iya Saka," ucap Wati agak gugup.
Saka pun senang mendengarnya, "Gitu dong kan jadi lebih enak didengar. Oh ya, soal yang tadi itu saya mau beli semua bunga kamu yang tersisa ini. Kamu mau kan?" ucapnya.
"Hah? Kamu serius? Kamu mau beli semuanya?" tanya Wati sangat terkejut.
Saka mengangguk pelan sebagai jawaban.
•
•
Sahira terkejut saat menginjakkan kaki di teras rumahnya, pintu langsung terbuka dan memperlihatkan Fatimeh yang sudah sangat rapih seperti hendak pergi. Tentu saja Sahira penasaran ingin tahu kemana ibunya itu pergi, apalagi belakangan ini Fatimeh memang sering pergi tanpa alasan yang jelas.
Namun, Sahira mencoba bertanya secara baik-baik agar tak menimbulkan pertikaian dengan sang ibu. Apalagi Sahira tahu ibunya itu mudah sekali emosi jika ditanya mengenai apa yang dia lakukan di malam hari seperti ini, itu sebabnya Sahira memilih bersikap tenang dan tidak terlalu emosi.
"Ibu ada urusan dulu di luar, penting banget gak bisa ditunda. Lu kalo mau makan, udah gue siapin tuh di dalam," ucap Fatimeh.
"Ah iya makasih Bu, tapi ibu tuh sebenarnya ada urusan apa sih?" heran Sahira.
"Lo gausah banyak tanya deh Sahira, jangan kepo sama urusan orang tua! Sana mending lu masuk terus ajak tuh bos lu makan sekalian!" ucap Fatimeh.
"Hah? Ya gak mungkin lah Bu, masa nanti aku berduaan doang sama pak Alan? Kecuali kalau ibu gak pergi dan mau tetap disini," ucap Sahira.
"Gue kan udah bilang, gue ada urusan. Udah ah lu jangan halangi gue buat pergi, gue udah ditunggu nih sama teman gue!" ujar Fatimeh.
"Siapa Bu? Laki-laki?" tanya Sahira.
"Maksud lu apa? Lu masih curiga kalau gue ini sering jalan sama om-om gitu? Sialan banget sih lu!" geram Fatimeh.
"Aku kan cuma tanya Bu, kenapa ibu kelihatan sewot begitu? Kalau emang dugaan aku gak benar, seharusnya ibu gak perlu marah dong," ujar Sahira.
"Ah udah lah, gue males ngeladenin lu yang gak jelas itu! Gue mau pergi aja, bye!" ucap Fatimeh.
"Bu, tunggu Bu!" Sahira menahan ibunya dengan cara memegangi lengan wanita itu.
"Apaan lagi sih? Gue gak mau ngomong sama lu kalo lu masih aja curiga sama gue, anak macam apa sih lu?!" sentak Fatimeh.
__ADS_1
"Bu, aku kan cuma—"
"Halah bodoamat! Gue gak perduli dan gue mau pergi sekarang juga, sana lu jangan halangi gue!" sela Fatimeh.
Fatimeh pun pergi begitu saja dengan raut wajah kesal, sedangkan Sahira hanya bisa menangis dan ditenangkan oleh Alan yang berada di dekatnya. Meski Alan tak tahu masalah apa yang tengah terjadi diantara Sahira dan ibunya, namun Alan tetap berusaha menguatkan sekretarisnya itu.
"Sahira, udah ya kamu jangan nangis lagi! Emang ibu kamu tuh mau pergi kemana sih? Kok kamu bisa sampai curiga begitu dan kayak gak pengen ibu kamu pergi?" ujar Alan.
"Hiks hiks, saya juga gak tahu pak. Saya udah tanya berulang kali sama ibu, tapi ibu gak mau kasih tau. Saya kan jadi curiga pak, apalagi kemarin pak Saka gak sengaja lihat ibu lagi jalan sama om-om begitu," jelas Sahira sambil terisak.
"Serius kamu Sahira? Masa iya sih ibu kamu kayak gitu? Mungkin bang Saka salah lihat kali," ujar Alan tak percaya.
"Iya pak, awalnya saya juga mikir gitu. Tapi, pak Saka itu benar-benar yakin kalau yang dia lihat tuh ibu saya. Makanya saya makin curiga, terlebih setiap kali saya tanya ibu abis darimana pasti ibu selalu aja menghindar," ucap Sahira.
Alan pun terdiam, ia masih tak menyangka jika Fatimeh alias ibu dari Sahira ternyata bisa menjadi simpanan om-om tua kaya raya.
•
•
Hari telah berganti, Sahira pagi ini sudah bersiap untuk pergi ke kantor dan melanjutkan pekerjaan yang melelahkan. Meski begitu, Sahira sangat senang melakukan pekerjaan tersebut karena sang bos kini bukan lah yang dulu, ya sikap Alan memang sudah berubah 180 derajat kepadanya.
Saat di luar, Sahira tak sengaja berjumpa dengan Wati yang tengah mendorong sepedanya. Sontak Sahira merasa bingung, apalagi gadis di depannya itu terlihat sangat lelah dan terus mengusap seperti belum tidur. Sahira pun menyapanya, lalu menghampirinya untuk bertanya.
"Wati!" sapa Sahira sambil tersenyum renyah, yang membuat Wati menoleh.
"Eh Sahira, ya ada apa?" tanya Wati sembari mengucek matanya.
"Lu kenapa kelihatan lesu gitu Wat? Lu kurang tidur apa gimana?" heran Sahira.
"Eee gu-gue malahan belum sempat tidur sama sekali, Sahira. Dari semalam gue sibuk nemenin orang di bar," ucap Wati.
"Apa? Ngapain lu ke bar anjir? Terus orang yang lu temenin itu siapa? Lu kenal?" kaget Sahira.
"Sebenarnya gue sama dia baru kenal sih, semalam dia tolongin gue dari preman terus dia borong dagangan gue nih sampe habis. Eh tapi dia minta syarat kalau gue harus temenin dia sampe pagi di bar gitu," jelas Wati.
"Ya ampun, terus lu ngapain aja di bar sama dia? Eh bentar bentar, orang yang lu maksud ini cowok atau cewek Wat?" tanya Sahira penasaran.
"Cowok lah," jawab Wati dengan santai.
Sontak Sahira menganga lebar, ia sampai harus menutupi mulutnya mengenakan telapak tangan karena sangking terkejutnya mendengar apa yang disampaikan Wati barusan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1