
Alan bersama wanita yang tadi ditolongnya kini tiba di salah satu taman dekat perkampungan tempat tinggal Sahira. Mereka memang masih berada tak jauh dari tempat sebelumnya, sebab Alan hendak menanyakan perihal apa yang terjadi pada wanita itu tadi.
Wanita itu pun tampak terus mengamati wajah Alan dari samping tempatnya duduk, sepertinya ia mulai tertarik pada ketampanan sosok Alan serta sikapnya yang dingin tapi perhatian itu. Hal yang wajar memang, karena cukup banyak wanita seringkali tertarik pada lelaki itu.
"Eee jadi sebenarnya siapa nama kamu, gadis aneh? Daritadi saya kebingungan harus panggil kamu apa," tanya Alan pada si wanita.
"Panggil aja aku Carol! Aku cewek cantik yang tinggal di kampung sebelah," jawab wanita itu.
"Hm, pede juga ya kamu? Saya baru kali ini ketemu wanita sepede kamu, biasanya tiap perempuan itu kan selalu insecure sama dirinya sendiri," ujar Alan.
"Ya itu kan yang lain, aku mah beda pak. Aku itu tipe orang yang suka bersyukur," ucap Carol.
"Iya deh, tapi bagus loh dan saya suka dengan wanita yang mau mensyukuri apapun yang ada pada dirinya. Terus pertahankan itu ya, karena kamu memang cantik kok!" ucap Alan.
"Oke pak! By the way, aku sekarang yang belum tahu nama kamu. Boleh kan kita saling tukar nama?" ucap Carol.
Alan terkekeh kecil dan kemudian bergeser lebih dekat ke tubuh wanita itu, "Ya tentu, saya Alan dan kamu bisa panggil saya dengan nama itu. Usia saya masih sekitar 20 tahun, jadi jangan panggil pak ya!" ucapnya.
"Ohh, ahaha maaf maaf tadinya aku kira kamu tuh udah bapak-bapak. Soalnya style kamu mewah banget sih," ucap Carol sambil tersenyum.
"It's okay, saya juga sudah biasa dipanggil bapak kok kalau di kantor. Ya tapi sebenarnya agak risih juga sih, karena saya ini masih muda banget itungannya," ucap Alan.
"Ya bener sih Lan, kamu emang masih muda. Eh gapapa nih aku panggil nama aja?" ujar Carol.
"Gapapa Carol, anggap aja saya ini sahabat kamu dan kita sudah lama berteman. Kebetulan saya jarang loh punya sahabat perempuan, kamu mau kan jadi sahabat saya?" ucap Alan.
"Umm, aku sih mau mau aja. Tapi, emangnya kamu mau temenan sama aku yang berandalan ini? Kamu gak malu apa?" ucap Carol.
"Kenapa kamu sebut diri kamu berandalan? Emangnya kamu bener suka nyopet atau malah maling?" tanya Alan.
"Hah? Ih ya ampun gak gitu loh Lan, maksudnya tuh aku ini gayanya kan gak seperti wanita pada umumnya loh. Lihat aja nih aku agak tomboy, makanya sering disangka copet," jawab Carol.
"Oalah, ya kamu bener juga sih. Kebetulan saya belum pernah punya teman yang tomboy kayak kamu, jadi saya sepertinya tertarik untuk menjadikan kamu sahabat saya deh," ucap Alan.
"Ahaha, bisa aja kamu. Oh ya, selamat hari raya ya!" ucap Carol tiba-tiba menyodorkan tangannya.
Tentu saja Alan merasa bingung dan kikuk, tapi kemudian Carol menatap seolah meyakinkan Alan untuk bersalaman dengannya. Akhirnya dengan sedikit keberanian, Alan pun mulai menggerakkan tangannya dan meraih telapak tangan yang mulus milik Carol itu.
"Selamat hari raya juga Carol! Saya kira kamu gak ngerayain idul Fitri, maaf soalnya kamu gak kelihatan kayak habis shalat," ucap Alan.
"Ohh, hahaha iya emang aku gak shalat sih. Tadi aku cuma lihat dari luar aja," ucap Carol.
Alan mengernyit tanda tak mengerti, "Loh kenapa cuma ngeliat doang? Kenapa gak sekalian ikut shalat sama yang lain?" tanyanya heran.
"Umm, kebetulan aku lagi merah. Terus kata pak ustadz, aku tetap boleh ke depan masjid buat dengerin ceramahnya," jawab Carol.
"Oalah, maaf lagi ya tadi saya sempat salah paham sama kamu?" ujar Alan.
"Iya gapapa, omong-omong ini kapan ya tangan aku bisa dilepas?" kekeh Carol.
"Hah? Eh?" Alan pun reflek melepaskan tangan gadis itu dan terlihat salah tingkah sendiri, sedangkan Carol malah terkekeh menertawakan kelucuan sikap Alan saat ini.
"Maaf ya Carol? Gara-gara asyik ngobrol, saya sampai lupa buat lepasin tangan kamu," ucap Alan.
"Ahaha, iya gapapa kali Alan. Santai aja, lagian aku gak gigit kok!" ucap Carol sambil terkekeh.
"Yaudah, terus tadi gimana ceritanya kamu bisa dituduh sebagai copet? Emangnya beneran ada copet tadi di dekat masjid?" tanya Alan lagi.
"Gak tahu sih beneran apa enggak, tapi tadi dari sana mereka udah teriak copet gitu. Terus karena ngeliat aku yang kayak gini, mereka langsung tuduh aku," jawab Carol.
"Lah kok gitu sih? Bisa-bisanya mereka tuduh kamu copet, cuma karena pakaian kamu yang kayak gini? Aneh banget!" heran Alan.
"Entahlah, aku juga gak ngerti. Kayaknya mereka emang gak suka sama pakaian aku, padahal ini masih biasa-biasa aja loh. Gimana kalau aku pakai baju yang lebih berandal dari ini?" ujar Carol.
"Tapi maaf nih, kamu tinggal dimana ya terus orang tua kamu masih ada?" tanya Alan lagi.
Carol menggeleng pelan kali ini, "Enggak Lan, ibu sama ayah aku udah meninggal beberapa tahun lalu karena covid. Sekarang aku tinggal sendiri deh di kostan," jawabnya.
"Oh gitu, saya minta maaf ya? Saya jadi bikin kamu sedih dan keinget sama orang tua kamu lagi deh," ucap Alan merasa tidak enak.
"Ya ampun, udah berapa kali coba kamu minta maaf sama aku? Mentang-mentang masih lebaran, jadinya kamu minta maaf terus ih," kekeh Carol.
"Hehe, ya abisnya saya gak enak sama kamu Carol. Eee terus kamu ngekost dimana? Saya boleh tahu gak?" ujar Alan.
"Itu di dekat masjid sana, kamu mau tau? Kebetulan itu kost bebas, jadi campur ada cewek sama cowoknya. Kalau kamu mau mampir, boleh banget loh," ucap Carol menawarkan.
"Beneran nih boleh?" tanya Alan memastikan.
Carol manggut-manggut disertai senyuman, "Iyalah boleh, ayo kita kesana sekarang aja kalau kamu mau! Ya tapi disana gak ada apa-apa sih, makanan juga gak ada," ucapnya.
__ADS_1
"Hahaha, wajarlah kamu kan anak kost. Terus kamu kerja apa kalau boleh tahu sampai bisa bayar kost disana?" ujar Alan.
"Cie mulai penasaran sama hidup aku ya? Aku tuh gak kerja apa-apa, aku cuma ngandelin uang dari hasil live aku di salah satu aplikasi. Untungnya aku bisa dapat lumayan banyak dari sana," ucap Carol.
"Oh kamu itu streamer? Wow pantas aja muka kamu glowing kayak gini sih!" ucap Alan.
"Bisa aja kamu," Carol tampak tersipu dan memalingkan wajahnya.
"Eee kamu mau ikut saya gak? Kita ke hotel tempat saya tinggal, disana ada banyak makanan enak loh. Saya tahu kamu pasti lapar kan?" tawar Alan.
"Hah? Buset deh, baru kenal kamu langsung ajakin aku ke hotel?" kaget Carol.
Deg!
Alan pun dibuat kikuk oleh perkataannya sendiri, sungguh ia memang selalu sulit mengatur perasaannya ketika bersama seorang gadis.
•
•
Siang harinya, sesuai permintaan Saka kini Alfian bersama Syera turut datang ke rumah Sahira untuk menemani putra mereka itu dalam rangka silaturahmi pada hari raya. Meskipun sebenarnya Syera masih amat takut kalau Fatimeh akan membongkar semua kebusukannya nanti.
Begitu tiba di kediaman Sahira, tampak Saka langsung mengetuk pintu seraya mengucap salam dan berharap agar Sahira mau membukakan pintu untuknya. Lalu tak lama kemudian, pintu pun dibuka dan memperlihatkan sosok Sahira yang tengah mengenakan pakaian lebarannya.
Ceklek
Sontak saja Saka merasa bahagia ketika melihat gadisnya itu di hadapannya, tapi tak sama dengan apa yang dirasakan Sahira, sebab gadis itu justru terlihat gugup saat tahu yang datang ke rumahnya adalah Saka bersama kedua orangtuanya. Tentu Sahira khawatir ibunya tak akan menyukai hal itu.
"Assalamualaikum Sahira, selamat hari raya ya! Aku senang banget bisa lihat kamu lagi," ucap Saka sambil tersenyum.
"Eee i-i-iya waalaikumsallam, selamat hari raya juga mas! A-aku minta maaf kalau ada salah sama kamu selama ini, tapi kenapa kamu gak bilang dulu sih kalau mau datang kesini?" ujar Sahira gugup.
Saka tersenyum lebar, "Sengaja sayang, biar jadi kejutan buat kamu. Dan benar aja kan kamu terkejut, buktinya kamu jadi gugup gitu," ucapnya.
"Ah iya," lirih Sahira.
Tampak Syera yang terus memandangi wajah Sahira dari jarak tak jauh, wanita itu merasa sangat senang karena ternyata ia masih bisa melihat dan bertemu dengan putrinya setelah sekian lama. Meski Syera belum begitu yakin kalau Sahira adalah putrinya yang dibawa pergi sang suami.
"Sahira, apa kamu benar anak aku atau bukan nak? Jujur aku bingung, tapi aku merasa kalau kamu itu memang benar anak aku," batin Syera.
Disaat mereka sedang asyik saling memandang dan bersalaman satu sama lain, tiba-tiba Fatimeh justru muncul dari dalam rumahnya karena penasaran siapa yang datang. Ya kehadiran Fatimeh tentunya tak diduga oleh Sahira, sebab dia telah meminta ibunya untuk menunggu di dalam.
"Hah ibu??" Sahira tersentak kaget saat melihat ibunya, ia benar-benar kalut dan khawatir karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Sementara Fatimeh sendiri juga tampak syok melihat keberadaan Syera dan Alfian disana, tentu saja Fatimeh sangat tidak menyukai kehadiran wanita itu di rumahnya dan rasanya ia ingin sekali mengusir mereka semua dari sana, jika saja tidak ada Saka yang turut hadir.
"Eh ternyata kalian toh, duh kenapa gak disuruh masuk sih pacar kamu sama keluarganya, sayang?" ucap Fatimeh dengan ramah.
"Eee aku..." Sahira tampak gugup dan bingung saat ditanya seperti itu oleh ibunya.
"Yaudah, ayo kalian pada masuk aja! Kebetulan ini kami juga baru pulang dari salam-salaman sama orang kampung sini," ucap Fatimeh mengajak Saka dan keluarganya masuk.
"Ah iya tante, sebelumnya selamat hari raya dan saya minta maaf ya kalau ada salah?" ucap Saka seraya mencium tangan Fatimeh.
"Iya iya.." Fatimeh terlihat malas sekali saat bersalaman dengan Saka dan keluarganya, sontak Sahira pun semakin gugup dibuatnya.
Akhirnya mereka semua pun sama-sama masuk ke dalam rumah itu dan berkumpul disana.
•
•
Alan sampai di parkiran hotelnya bersama Carol yang ternyata justru menerima ajakan pria itu, sontak mereka langsung turun dari mobil dan berniat memasuki area hotel. Namun sebelum itu, Alan tampak menyukai momen dimana mereka berduaan saat ini dan tak ingin kehilangannya.
Carol pun sama halnya dengan Alan, gadis itu juga mulai merasa nyaman ketika Alan menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Bahkan tanpa sadar, tangannya itu perlahan menyentuh telapak tangan sang lelaki dan mengusapnya. Hal itu sontak membuat Alan terkejut lalu reflek melirik ke arah tangan mereka yang saling bertaut.
"Ehem, nakal ya kamu? Masa baru kenal udah langsung pegang-pegang tangan saya?" goda Alan disertai senyum mengejek.
"Eee anu itu aku gak sengaja.." Carol spontan melepas tangan Alan dan langsung berpaling.
"Hahaha, gapapa kali kalo emang sengaja mah. Saya malahan suka disentuh sama perempuan, apalagi kalau perempuannya secantik dan semanis kamu Carol," ujar Alan.
"Aduh, ternyata kamu tukang gombal juga ya? Aku sampe heran deh dengarnya," ujar Carol.
"Bukan gombal sih, lebih tepatnya itu pujian buat kamu karena yang saya katakan tuh benar dan sesuai kenyataan," ucap Alan.
"Ya ya ya, terserah kamu deh. Ini terus kita mau kemana nih?" ucap Carol.
"Sesuai ajakan saya tadi, kita ke tempat makan dulu biar kamu gak sakit. Saya tahu kamu pasti belum sempat makan kan?" ucap Alan.
__ADS_1
"Iya sih Lan, aku emang kebetulan lapar banget nih," jawab Carol sambil memegangi perutnya.
"Yaudah, kita masuk aja ke dalam! Biar cepat saya gandeng tangannya ya?" ucap Alan.
"Yeh bilang aja modus!" cibir Carol disertai bibir yang dimajukan.
Alan terkekeh sebentar sebelum langsung meraih tangan Carol dan menggenggamnya, lalu tanpa menunggu lama mereka pun mulai melangkah ke dalam hotel tersebut. Carol menurut saja karena memang ia sudah merasa lapar, meskipun ia sedikit risau karena ia baru mengenal pria itu.
Begitu sampai di restoran hotel, Alan dengan sikap jantannya membantu menarik kursi untuk Carol agar gadis itu mudah untuk duduk. Tentunya Carol dibuat meleleh dengan sikap manis Alan, padahal mereka baru saja saling mengenal beberapa jam yang lalu.
"Carol, kamu paling suka makan apa? Saya jamin disini semuanya enak-enak," tanya Alan.
"Eee aku kayaknya ngikut kamu aja deh Lan, soalnya jujur aku belum pernah makan di tempat mahal kayak gini. Jadinya aku gak tahu makanan apa aja yang aku suka," jawab Carol.
"Ohh, yaudah kamu tenang aja biar saya nanti yang pesenin makanan buat kamu. Terus kalau minumnya mau apa?" ucap Alan.
"Sama kayak tadi, aku ngikut kamu aja," ucap Carol.
Alan tersenyum lebar seraya menggelengkan kepalanya, lalu kemudian ia mengangkat tangan ke arah pelayan dan meminta sang pelayan untuk datang agar pesanannya bisa segera dicatat. Tanpa menunggu lama, Alan segera menyampaikan semua yang ingin ia pesan kali ini.
"Loh Alan?" keduanya kompak terkejut saat seorang wanita tiba-tiba datang dan menyebut nama pria tersebut.
Sontak Alan tampak panik ketika melihat Floryn ada disana, matanya terbelalak seolah tak percaya karena sebelumnya ia telah memastikan bahwa Floryn tidak kembali ke hotel itu. Tapi sungguh aneh, Floryn justru tiba-tiba muncul dan membuat dirinya sungguh terkejut.
•
•
"Cat!" gadis pemilik nama itu dibuat kaget saat ada seseorang yang memanggilnya.
Kebetulan saat ini Cat tengah berjalan seorang diri sehabis berkeliling kampung untuk menemui para tetangganya, disaat ia menoleh matanya membulat seketika karena ternyata yang memanggilnya tadi adalah Ivan alias mantan rekan kerjanya di toko roti waktu itu.
Tentu saja Cat terlihat bingung, ia tak mengerti mengapa Ivan memanggilnya seperti itu dan terlihat tersenyum ke arahnya. Jika saja Ivan bukan mantan sahabatnya, mungkin Cat sudah lari kocar-kacir karena takut dengan Ivan, sebab tingkah lelaki itu memang mengerikan.
"Hai Cat! Selamat hari raya ya, maafin gue kalo ada salah sama lu!" ucap Ivan sambil tersenyum.
"Eee iya Van, gue juga minta maaf ya sama lu? Gue sadar yang banyak salah itu lu, tapi sebagai formalitas gue juga ikut minta maaf deh," ucap Cat sambil terkekeh untuk mencairkan suasana.
"Yeh dia malah bercanda, jelas-jelas yang banyak salah itu lu bukan gue. Gue mah mana pernah buat salah sama lu?" elak Ivan.
"Hahaha, iya iya sorry Van.." Cat terkekeh dibuatnya.
"Oh ya, ini si Yoshi kemana dah? Kok ceweknya dibiarin keliaran sendiri? Emang gak takut digondol cowok lain apa?" tanya Ivan celingak-celinguk.
"Dia lagi lebaran sama keluarganya, maklum lah namanya juga hari raya," jawab Cat.
"Ohh, terus lu sendiri gimana? Gak lebaran sama keluarga juga? Masa hari raya malah keluyuran sendirian?" tanya Ivan heran.
"Udah tadi Van, ini gue mau balik. Lu ngapain sih manggil gue? Cuma mau ngeledekin gue?" ujar Cat mulai jengah.
"Gak ada, ya tadi gue cuma pengen lebaran sama lu. Lagian kenapa sih lu sewot amat sama gue? Gue kan gak ngapa-ngapain lu," ujar Ivan.
"Ya emang lu gak ngapa-ngapain gue, tapi lu itu nyebelin dan bikin gue bete!" ketus Cat.
"Yah elah segitunya lu, yaudah gue minta maaf dah kalo bikin lu bete. Sekarang lu mau kemana nih? Sebagai permintaan maaf, gue anterin lu ya sekalian temenin lu?" ucap Ivan.
"Umm, gue pengen pulang sih. Emang lu sendiri gak ada kegiatan apa?" ucap Cat.
"Kegiatan gue emang ngapain sih? Paling juga cuma gitu-gitu doang, mending gue anterin lu daripada gabut," ucap Ivan.
"Yaudah, boleh deh. Lumayan gue bisa ada teman ngobrol sembari jalan," ucap Cat setuju.
"Nah gitu dong, lu gak perlu takut sama gue mah. Lagian gue ini kan sahabat lu juga, masa iya lu malah takut?" ucap Ivan.
"Hehe, iya Van maaf. Abisnya lu sih nyebelin banget jadi orang," ucap Cat merengut.
Ivan tersenyum lebar dan tanpa diduga ia malah merangkul pundak gadis itu, sontak saja Cat melongok dibuatnya seolah tak percaya dengan apa yang dilakukan Ivan saat ini. Namun, Ivan tampak tenang-tenang saja merangkul Cat seolah tidak ada yang terjadi.
"Gue gak nyebelin kok sebenarnya, coba deh lu lebih lama lagi kenal sama gue," ujar Ivan.
"I-i-iya Van, tapi gak sampe rangkul gue segala kali. Gue gak mau ada yang salah paham, apalagi kalau si Yoshi nanti ngeliat," ucap Cat ketar-ketir.
"Emang salah, hm?" tanya Ivan.
Cat memutar bola matanya, lalu dengan kasar ia melepaskan rangkulan Ivan dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh darinya sembari menunjukkan ekspresi kesal.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1