
Begitu memasuki supermarket tempat dimana Sahira ingin melamar kerja, ia mulai merasa gugup dan bingung apakah mungkin ia bisa bekerja di tempat sebesar itu atau tidak. Apalagi terlihat kalau disana sangat ramai dan banyak sekali pelanggan yang datang, Sahira pun mulai ragu karena ia belum memiliki pengalaman apapun untuk bekerja sebagai pegawai di supermarket tersebut.
Perlahan gadis itu melangkah lebih dalam menyusuri supermarket, sampai kemudian ia bertemu dengan seorang wanita yang merupakan manager disana. Sontak Sahira agak kaget melihatnya, ia tersenyum saat manager bernama Anita itu menyapanya. Tak lupa mereka bersalaman sebentar sebelum Anita mengajak Sahira menuju ruangannya, ya tentu disana nanti Sahira akan melakukan interview bersamanya.
Saat tiba di ruangan sang manager, Sahira pun tampak semakin gugup. Ketegangan jelas terlihat di wajah gadis itu karena ia benar-benar khawatir kalau lamarannya kali ini akan ditolak, jujur saja Sahira sudah sangat sulit untuk mencari pekerjaan setelah memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan Saka. Maka dari itu, Sahira tidak ingin jika ia sampai kehilangan pekerjaan itu.
Menit demi menit berlalu, akhirnya Sahira berhasil menyelesaikan sesi wawancara itu dengan baik dan mendapat apresiasi dari Anita. Meski begitu, tetap saja Sahira masih gugup karena hasil dari wawancara itu belum diberitahukan. Anita sendiri merasa senang dapat mengenal Sahira, ia pun tak menyesal sudah melakukan perintah Alan untuk menerima gadis itu, sebab ia tahu kalau Sahira memiliki potensi besar disana.
"Baiklah, semuanya sudah selesai Sahira. Kamu bisa pulang sekarang dan saya akan mengabarkan hasilnya lebih lanjut, saya janji tidak akan lama dan paling lambat besok kamu sudah dapat mengetahui hasilnya," ucap Anita.
"Oh begitu, baik bu saya paham! Kalau gitu saya mohon pamit ya bu?" ucap Sahira tersenyum.
"Ya silahkan, hati-hati ya kamu dan jangan lupa selalu pantau email kamu karena saya akan mengabari kamu lewat itu!" ucap Anita.
"Siap bu!" ucap Sahira patuh sembari beranjak dari kursinya dan bersiap pergi.
Setelahnya, Sahira bergegas keluar dari ruangan itu dan tampak mengusap dadanya sembari mengambil nafas panjang untuk menenangkan diri selepas ketegangan yang tadi ia alami. Sungguh Sahira sangat berharap jika hasil wawancaranya kali ini akan berhasil, karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bekerja disana dan bisa memberikan uang pada ibunya.
"Huh semoga aja hasilnya positif dan gue bisa kerja di tempat ini!" ujar Sahira penuh harap.
Disaat Sahira membuka pintu dan keluar dari supermarket tersebut, ia terkejut karena tiba-tiba ada Alan di hadapannya yang ternyata memang masih berada disana menunggunya. Sahira pun sampai terdiam tak berkutik melihatnya, sedangkan Alan juga bergerak mendekati gadis itu sambil tersenyum lebar.
"Alan, loh kok kamu masih disini? Ngapain coba?" tanya Sahira terheran-heran dan tak percaya jika Alan masih berada di supermarket itu.
"Hehe, ya aku nungguin kamu dong Sahira. Aku gak tega ninggalin kamu sendirian disini, jadi aku mikir ya lebih baik aku tetap disini dan nanti kamu bisa pulang bareng aku," jawab Alan santai.
"Buat apa sih Lan? Kan aku gak minta kamu nungguin loh, lagian masalah pulang mah aku bisa naik taksi atau ojek kok," ujar Sahira.
"Udah gausah banyak omong, lu ikut aja sama gue dan jangan bantah! Lagian kan lumayan kalo lu bareng gue, bisa ngirit ongkos. Yuk kita pergi sekarang, gue pengen ajak lu makan siang deh!" ucap Alan sambil tersenyum.
Sahira menggeleng perlahan, "Aku belum lapar, kamu aja sana yang makan dan ajak orang lain! Aku mau pulang aja," ucapnya menolak.
"Sahira, kamu tuh kenapa susah banget sih diajak bicaranya? Ayo kamu ikut aku, atau aku bakal seret kamu secara paksa nih!" ucap Alan kesal.
"Seret aja, nanti aku tinggal teriak biar kamu digebukin sama satu warga di sekitar sini!" ucap Sahira menantang.
"Oh kamu nantangin aku? Sahira, mending kamu masuk deh ke mobil aku sebelum aku tambah marah! Aku gak mau banyak debat sama kamu, karena aku capek!" ucap Alan kesal.
"Ih kamu tuh nyebelin banget sih, bikin aku emosi aja deh!" geram Sahira.
Alan tak perduli dengan ocehan Sahira, ia tetap saja menggenggam tangan gadis itu dengan erat dan memaksanya masuk ke mobil. Sahira akhirnya menyerah karena tak mempunyai pilihan lain, gadis itu terpaksa masuk bersama Alan dan duduk di kursi mobil pria itu dengan perasaan jengkel. Wajahnya bahkan terus ditekuk dan tidak mau menatap ke arah pria di sampingnya itu.
"Ra, tadi wawancaranya gimana? Kamu berhasil apa enggak?" tanya Alan tiba-tiba.
"Gak tahu, orangnya belum ngasih tau hasilnya. Katanya dia mau email aku next day, kamu doain aja supaya hasilnya bagus!" jawab Sahira ketus.
"Ohh, iya deh aamiin. Tapi, kalau misal kamu gak keterima nih, kamu bisa kok masuk ke kantor aku lagi," ucap Alan terkekeh.
Sahira terkejut mendengar ucapan Alan, sontak ia reflek mencubit paha pria tersebut dengan kasar untuk melampiaskan emosinya. Alan yang tak siap hanya bisa mengaduh kesakitan sembari berusaha menahan tangan gadis itu, meski begitu tetap saja Alan merasa senang karena dengan begini maka dirinya bisa menjadi lebih dengan Sahira.
"Ish, maksudnya apa kamu ngomong gitu? Kamu mau aku gak diterima gitu di supermarket tadi? Sialan banget sih kamu!" kesal Sahira.
"Eh eh Sahira, dengerin aku dulu! Gak gitu maksud aku sayang, aku tuh bilang begitu buat jaga-jaga aja. Aku minta kamu buat gak sedih kalau semisal ditolak, bukan aku doain kamu," ucap Alan.
__ADS_1
"Ah alasan aja kamu, aku mau turun aja deh gak jadi bareng sama kamu!" sentak Sahira.
"Yeh jangan dong Sahira! Kamu udah naik, masa mau turun lagi? Iya deh aku minta maaf, aku doain semoga kamu keterima kerja disitu!" ucap Alan.
"Huft, yaudah makasih!" ketus Sahira.
Alan melebarkan senyumnya menatap wajah gadis itu, "Gitu dong Sahira, berarti kamu mau kan makan siang bareng sama aku?" ucapnya memelas.
"Ya mau gimana lagi? Kalau aku nolak sekalipun, pasti kamu gak akan terima!" ucap Sahira.
"Betul itu, keputusan yang tepat! Kalo gitu kamu pasang sabuk pengamannya, kita berangkat ke resto dekat-dekat sini aja!" ucap Alan.
"Hm."
Sahira hanya menjawab dengan deheman pelan, lalu ia menuruti kemauan Alan dan memasang sabuk pengaman di tubuhnya agar pria itu tidak banyak bicara. Meski sebenarnya Sahira masih jengkel dan tak ingin pergi dengan pria itu, sebab ia teringat pada perkataan Fatimeh yang meminta dirinya untuk menjauh dari Alan maupun Saka.
•
•
Singkat cerita, mereka tiba di restoran terdekat yang menurut Alan masakannya enak-enak. Alan pun beralih menatap Sahira sambil tersenyum, tangannya bergerak mengusap puncak kepala sang gadis dengan lembut. Namun, respon Sahira hanya biasa saja dan tak mengatakan apapun. Bahkan gadis itu langsung melepas sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun, beruntung Alan bisa cepat menahan tangannya kali ini.
"Mau kemana sih buru-buru amat? Kita masih punya waktu buat berduaan disini," ujar Alan.
"Ngapain? Toh di dalam juga kita berduaan kan?" ucap Sahira terheran-heran.
"Ya iya sih, tapi kalo disini kan sensasinya beda tau. Kita bisa bebas ngapain aja tanpa takut ketauan orang, ya kan?" goda Alan.
"Okay okay.." Alan menurut dan akhirnya melepas tangan Sahira serta menjauh darinya.
Setelahnya, Sahira pun membuka pintu dan bergegas turun dari mobil lebih dulu. Alan mengumpat kesal, memukul jok mobilnya untuk melampiaskan kekesalan akibat perkataan Sahira tadi yang seolah-olah tidak takut terhadap dirinya. Barulah Alan memutuskan ikut turun menyusul Sahira yang sudah menunggu di luar sana.
Pria itu berusaha menenangkan diri, tentu agar hubungannya dengan Sahira tidak semakin menjauh. Ya saat ini Alan sedang ingin berjuang untuk mendapatkan hati Sahira, baginya tak ada perempuan lain di dunia ini yang bisa menggantikan Sahira di hatinya. Untuk itu Alan terus berusaha, meski ia tahu Sahira selalu saja menolak kehadirannya.
"Ra, aku mau tanya deh sama kamu tentang satu hal. Kira-kira kamu udah nemu jawaban belum dari pertanyaan aku waktu itu?" ucap Alan.
"Hah? Pertanyaan yang mana coba? Emang kamu pernah tanya soal apa?" heran Sahira.
"Ah masa kamu lupa sih Sahira? Itu loh yang soal perasaan aku ke kamu, pasti kamu ingat dong sama pertanyaan aku itu," ucap Alan.
"Ohh yang itu.."
"Iya benar, jadi gimana apa kamu sudah tahu jawabannya sekarang? Aku masih nunggu loh, kamu mau kan jadi pacar aku?" ucap Alan.
"Eee bisa gak kita bahas yang lain aja? Kita kan kesini mau makan, mending kita masuk ke dalam terus gausah bahas soal itu! Soalnya aku malas banget tau," ucap Sahira kesal.
"Kenapa malas? Apa karena kamu gak suka aku dan lebih milih bang Saka yang tukang sekolah itu, iya?" tanya Alan tegas.
"Terserah kamu deh, udah ayo kita masuk aja!" ucap Sahira mengalihkan pembicaraan.
Mau tak mau Alan terpaksa mengiyakan permintaan Sahira, mereka pun melangkah ke dalam restoran tersebut secara bersama-sama. Namun, langkah mereka terhenti ketika tanpa diduga Syera justru keluar dari restoran itu dan berpapasan dengan mereka. Ya keduanya tak menyangka jika mereka akan bertemu dengan Syera disana, padahal tempat itu sangat jauh dari rumah Alan maupun kantornya.
"Loh Alan, Sahira? Kalian datang kesini juga? Mama gak nyangka banget bisa ketemu kalian berdua disini, mama bahagia loh! Terutama kamu Alan, kamu darimana aja sih? Kenapa kamu gak pulang-pulang?" ucap Syera.
__ADS_1
Sahira dan Alan kompak terdiam, mereka menatap tegang ke arah Syera dan masih tak percaya jika mereka akan bertemu wanita itu disana. Terutama Sahira, gadis itu masih heran mengapa bisa dirinya bertemu dengan ibu kandungnya di restoran yang sama. Jujur perasaan Sahira benar-benar bingung saat ini, ia tak tahu harus berbicara apa di hadapan ibunya yang sudah melahirkannya itu.
•
•
Saka masih tampak panik dan cemas lantaran ia belum berhasil menemukan adiknya sampai saat ini, padahal sudah berkali-kali ia berusaha mencari Alan dengan mengelilingi kota tetapi hingga kini pria itu masih belum ditemukan. Saka pun dibuat bingung dan tak tahu harus mencari kemana lagi saat ini, pasalnya semua tempat yang biasa didatangi adiknya itu sudah coba ia cek dan tetap saja Alan tidak berada disana.
Kini pria itu berhenti di pinggir jalan karena tak tahu lagi harus kemana, ia turun dari mobilnya dan memijat dahinya karena kebingungan. Lalu, ia memutuskan melangkah menuju warung di depan sana dan membeli minuman dalam botol. Ia terus berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa menemukan Alan, pasalnya hingga kini ia belum mengetahui dimana keberadaan pria itu.
"Duh Alan, kamu tuh kemana sih? Capek nih saya cariin kamu terus tiap hari, tapi gak ketemu juga! Emang dasar adik nyusahin!" geram Saka sembari meminum air di tangannya.
Tanpa diduga, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di dekat Saka dan membuat pria itu keheranan. Seorang wanita tampak keluar dari mobil itu dan melepas kacamatanya, Saka pun terbelalak karena sadar bahwa wanita itu adalah Floryn. Ya Floryn kini berhenti di depannya, ia tersenyum sambil menyapa Saka dan mengulurkan tangannya ke arah pria itu dengan lembut.
"Halo bang! Lagi ngapain berdiri disini aja? Capek banget kayaknya," ujar Floryn menegurnya.
Saka tersenyum seraya menyentuh tangan gadis itu, "Iya Flo, saya masih cari Alan nih. Kamu gimana, udah ketemu belum sama dia?" ucapnya.
"Umm, belum sih bang. Ya cuma sebenarnya kemarin itu aku sempat ketemu sama Alan dan bicara sebentar sama dia," ucap Floryn lirih.
"Apa? Terus terus, dia ada dimana sekarang? Kenapa kamu gak ngabarin saya?" panik Saka.
"Eee maafin aku bang, a-aku mau bilang ke abang tapi dilarang sama Alan. Dia ancam aku katanya aku gak boleh kasih tahu ke abang apapun soal dia," jelas Floryn.
Saka melepaskan tangan gadis itu dan memutar bola matanya kesal, "Okay, terus sekarang dia dimana? Kamu kasih tahu aku!" ujarnya tegas.
"A-aku gak tahu dia dimana,"
"Jangan bohong Floryn! Kamu bilang kemarin kamu ketemu dia kan, tolong kasih tahu saya sekarang dimana dia!" sentak Saka.
Floryn sampai memejamkan mata akibat bentakan pria itu, bahkan detak jantungnya bergerak cukup keras dan ia benar-benar ketakutan dibuatnya. Saka pun merasa bersalah, pria itu tak menyangka jika dia akan melakukan itu pada sosok wanita lugu seperti Floryn yang sebenarnya tak memiliki kesalahan. Akhirnya Saka mendekati Floryn, lalu memegang kedua bahu gadis itu dengan kuat.
"Eee Floryn, saya minta maaf ya? Sa-saya tadi kelepasan udah bentak kamu, saya cuma kebawa emosi karena Alan belum ditemukan!" ucap Saka.
"I-i-iya bang, gapapa kok. Aku juga cuma kaget aja tadi dengar abang bicara kasar begitu, soalnya aku baru kali ini dibentak sama orang. Tapi, aku beneran gapapa kok," ucap Floryn gugup.
"Okay, sekali lagi saya minta maaf. Tapi, tolong kamu kasih tahu saya dimana keberadaan Alan saat ini!" pinta Saka.
"Aku waktu itu ketemu Alan di warung pinggir jalan, terus aku gak tahu lagi dia dimana. Karena habis itu, dia pergi dan gak bilang mau kemana. Maaf ya bang?" ucap Floryn menjelaskan.
Saka menghela nafasnya, "Yaudah gapapa, kalo gitu kamu mau temani saya lagi gak untuk cari Alan?" ucapnya.
"Mau mau aja sih bang, tapi kita mau cari Alan kemana? Kita kan gak tahu dia ada dimana sekarang," ucap Floryn.
"Eee...."
TIN TIN TIN...
Mereka dibuat kaget saat tiba-tiba terdengar sebuah suara klakson mobil dari arah belakang, sontak mereka langsung menoleh dan melihat ke mobil tersebut untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang ada di dalam sana dan untuk apa dia menghentikan mobilnya di dekat sana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1